
Sejak pertemuan siang tadi dengan keluarga Ustadz Rehan, Asma terus mengurung diri dikamar. Dengan air mata yang masih mengalir di pipi dan rasa sesak didada, Asma hanya bisa memendamnya. Bagaimana bisa Ia mengabaikan perasaannya terhadap seorang lelaki yang sangat diharapkannya untuk datang sebagai orang pertama yang mengkhitbahnya. Ketika cinta berkembang dalam jiwa , tiba-tiba hati merasakan sebuah dorongan yang tak terbendung untuk menyatakannya. Bahkan sorot mata yang tiap kali bertemu , tak sanggup menyatakannya. Lantas, harus berbuat apa ? seorang gadis yang telah dipinang seseorang ! hanya bisa terdiam dan memikirkan. Bahkan terbesit sebuah harapan agar tiap rindu yang dititipakan dalam setiap doa akan mengetuk-ngetuk pintu hatinya untuk tersadar akan adanya sebuah cinta yang telah lama menantinya, menunggunya dan mengharapkan kehiadirannya.
“sesungguhnya apa yang sedang aku rasakan, kebenaran cinta-kah atau hanya sekedar nafsu. Tapi disisi lain , kenapa aku seperti tidak ingin kehilangan sosok lelaki yang telah menjadi kaka sebagai teman bermainku diwaktu kecil. Kebersamaan itu … aku seperti tidak ingin kehilangan semua itu. Tapi, perasaan hatiku saat ini …. Yaa Allah, berilah petunjuk kebenaran dari-Mu.” (Batin Asma , yang kini duduk diatas kasur sambil memeluk bantal.)
“dalam kondisi seperti ini aku tak dapat memutuskan apapun. Tapi mereka semua pasti menantikan jawaban dariku. Allahu Akbar .. Allahu Akbar .. Allahu Akbar .. sesungguhnya Engkau selalu ada bersama dengan hamba-hamba yang meminta dengan sabar dan shalat.” Lanjutnya.
Kini Ihsan sedang bersama adiknya dipinggir lapangan luas di komplek perumahannya, sambil menatap anak-anak kecil yang sedang bermain bola kaki. Raina yang sedaritadi bersama, tak tega melihat kakanya menanggung beban sendiri. Raina memulai pembicaraan dengan maksud hati agar sang kaka mau berbagi cerita tentang apa yang menjadi beban hatinya.
“abang ini kenapa ? sejak tadi raina perhatikan, abang diam saja. Bahkan sampai dirumahpun, abang tidak menanggapi percakapan ummi dan abi. Apa abang tidak menyetujui perjodohan ini, bang ?” Tanya Raina sambil menatap sang kaka dari sebelah kanannya.
Sorot mata Ihsan masih terpanah kepada anak-anak kecil yang dengan riang dan kegembiraannya bermain bola bersama teman-teman sebayanya.
“rasanya aku ingin kembali saja kemasa dimana aku hanya memikirkan kesenangan ku untuk bermain dengan teman-temanku. Tanpa harus memikirkan hal serumit ini yang aku sendiripun tidak tau bagaimana menyelesaikannya.” Ungkap Ihsan yang cukup tertekan dengan keputusan ayahnya yang diambil tanpa membicarakan dengan dirinya.
“apanya yang rumit, bang dan apa yang harus abang selesaikan ? bahkan yang seharusnya memikirkan hal ini adalah asma, dia yang harus memikirkan dengan baik untuk menerima atau tidaknya lamaran abi untuk abang.” Jelas Raina.
“itu yang jadi permasalahannya. Abang tau , asma dan asyam saling suka. Yang telah jelas abang tahu adalah asyam yang benar-benar menyukai asma dan ingin melamarnya. Yang menjadi beban untukku adalah ketidak enakanku terhadap asyam, sahabatku. Dan yang lebih menjadi beban asma adalah hati yang telah lebih dulu
mencintai orang lain.” Jelas Ihsan.
“serumit itukah , bang ? lalu bagaimana ? apa abang sendiri tidak mengingikan pernikahan ini terjadi ?” tanya Raina.
“raina, kalau saja pernikahan ini sampai terjadi. Aku menganggap ini adalah takdir dari Allah, bahwa asma-lah jodohku. Tapi kalaupun tidak, aku tak sakit hati. Karena sejak awal aku mengenal dia saat kecil, dia sama seperti mu yang menjadi adikku.” Jelas Ihsan.
“apa abang ngga mau membicarakan ini dengan asma ?” Tanyanya lagi.
“tadinya abang ingin melakukan itu. Tapi saat mendengar ucapan ustadz hasan, kalau sepenuhnya keputusan diserahkan pada asma. Aku mengurunkan niatku itu. Karena, ayahnya saja tidak mau ikut campur dalam mengambil keputusan ini apalagi aku, rai.” Ungkap Ihsan.
__ADS_1
“aku benar-benar memikirkan persahabatanku dengan asyam. Jangan sampai hal ini mengganggu persahabatanku dengannya.” Lanjut Ihsan.
“insya allah tidaklah , bang. Kalian sudah sama-sama dewasa. Semoga saja bisa berfikir yang baik dalam hal ini.” Sahut Raina.
“ aamiin , insya allah.” Ucap Ihsan.
Malam semakin larut untuk mata yang tak mau mengantuk. Hatinya masih berdebar, nafasnyapun sesak, dadanya terasa seperti terhimpit. Entah sebuah anugrah atau beban bagi dirinya. Keputusan ini sangatlah sulit untuk ditentukan yang terbaik. Waktu malam ini pun tak cukup baginya untuk berfikir, menyatukan pemikiran dan perasaan dalam hatinya. Keduanya sangatlah berbeda. Asma kini membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit atap kamarnya. Tiba-tiba saja ponselnya bordering menandakan panggilan masuk, tertulis dilayarnya “Ihsan Safaraz”.
Percakapan via telephone :
Asma : assalamu’alaikum, bang ..
Ihsan : wa’alaikumussalam .. asma belum tidur ?
Asma : belum .
Ihsan : abang , boleh minta untuk asma meluangkan waktu besok pagi setelah dhuha dimasjid. Sekitar pukul Sembilan atau sepuluh.
Ihsan : baiklah kalau begitu, assalamu’alaikum.
Asma : wa’alaikumussalam ..
Asma langsung menaruh handphonenya di meja kecil dan mematikan lampu yang berada disampingya. Sementara Ihsan, didalam kamarnya masih berdiri melangkah ke kanan dan kekiri dengan perasaan yang tak karuan. Resah , gelisah, bimbang. Ia merasakan perbedaan Asma saat menanggapi panggilan darinya. Nampaknya dia seperti marah ataupun malas berbicara dengannya.
“sebenarnya apa yang sedang asma fikirkan tentangku ? apa dia mengira bahwa ini adalah kehendak dan keinginan ku ?. astaghfirullahal’adziim .” ucapnya sambil mengumpatkan kepalanya di balik lengan dan tersungkur dilantai.
Tenang dan hening. Sunyi dan senyap. Semua sudut terlihat gelap hingga diruangan yang luas. Saat – saat inilah yang dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan dan menyerap energi kehidupan dalam jiwa. Saat inilah dimana diri untuk kembali kedalam dirinya sendiri. Menemui ruhnya, menyapa jiwanya, berdialog dengan akalnya dan mencurahkan kepada yang menciptakannya. Dimalam yang tenang inilah , untuk menyatukan kembali bagian-bagian diri yang berserakan dalam lelah atau tercabik dalam keseharian yang panjang.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan bagi para remaja yang tergabung dalam ikatan ReMas (remaja masjid) Ar Rahman untuk bangun disepertiga malam, meski kesibukan dan penuh beban yang menumpuk dalam hari-hari yang membuat mereka lelah. Namun tak sedikitpun terbesit dalam hati masing-masing untuk meninggalkan sunnah yang dari waktu ke waktu telah diperjuangkan semangat dan keistiqomahan- nya. Asyam, Ihsan, Syahrul dan Zidan yang bermalam dimasjid, melaksanakan sholat malam bersama. Sedangkan Asma masih tertidur dengan selimut tebalnya. Dan Raina yang tenang dalam sujud di kamarnya.
“ya allah, sang pemilik cinta dalam hati ini. Tetapkanlah satu nama atas kebenaranMu untuk dicintai. Sebuah nama
yang telah benar tertulis untuk saling mencintai. Ya allah , hapuslah kegelisahan dalam hati kami, dan cerahkanlah fikiran kami untuk bertindak dalam kebaikan. Ya Allah, berikanlah kemudahan bagi asma, sahabatku untuk memberi keputusan dan jawaban terbaik untuk dirinya, keluarganya, keluargaku dan juga masyarakat yang menjadi ladang dakwanya. Allahumma laasahla illaamaaja- ’altahusahla wa antaataj’alulhazna idzasyi’tasahla (Yaa Allah tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau menjadikan kesusahan itu mudah apabila Engkau menghendakinya.) Aamiin yaa robbal’alaamiin.” Ucap Raina dalam doanya.
Sambil membereskan mukenahnya, Raina teringat dengan sahabat- nya dan berniat untuk menelfonnya. Ia pun mengembalikan mukenah kedalam lemari pakaiannya dan mengambil handphone yang ditaruh di laci meja lampu, disamping tempat tidurnya. Satu kali panggilan tak terjawab dan yang keduanya terangkat namun dengan suara Asma yang masih serak-serak.
Percakapan via telefon :
Raina : asma kamu baru bangun ?
Asma : emang ini jam berapa ?
Raina : jam empat kurang seperempat, asma.
Asma : astaghfirullah .. aku sholat dulu ya. Nanti aku hubungi lagi . assalamu’alaikum.
Raina : wa’alaikumussalam warohmatullah .
Asma terbangun, melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi dan dilanjutkan dengan berwudhu untuk melaksanakan sholat tahajud. Dalam kesunyian dan ketenangan malam, doa dipanjatkannya kepada Allah. Segala keinginan dan harapan dicurahkannya juga tak lupa memohon petunjuk untuk suatu hal yang sedang dihadapinya.
“yaa Allah , yang maha mengetahui segala isi hati meski tak kucurahkan dengan lisanku. Sesungguhnya Engkau pun bisa mengetahui apa yang sedang kurasakan dan Engkau lebih mengetahui perasaan yang benar dan baik untukku. Ya Allah, Engkau telah mengetahui siapa lelaki yang namanya selalu kusebut dalam doaku. Berilah aku keyakinan dalam hatiku atas kedua perasaan ini. Ya Allah, apabila lamaran ini baik untukku dan jika kelak aku bisa mencintainya dengan setulus hatiku mencintai dan apabila begitu banya kebaikan yang bisa kami lakukan bersama, maka kuatkanlah aku dan permudahlah aku untuk menerima lamaran ini.” Ucapnya dalam doa dan melanjutkan dengan doa yang tertulis dalam Al-Qur’an yang pernah dibaca oleh Nabi Musa as : Robbisy rohlii shodrii wayassrlii amrii wahlul’uqdatammillisaani yafqohuu qoulii “Yaa Rabbku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkan -lah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuanku dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, …” (QS. Thoha (20) : 25-28)
Setelah selesai sholat dan berdo’a, Asma melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an. Hatinya terasa damai dan penuh ketenangan, air matanya mulai menetes. Sesaknya terasa lapang, air matanya tumpah seperti melepas semua beban yang menyesakkan. Hingga adzan subuh menyadarkannya. Wajah yang tertunduk mulai terangkat, tangannya bergerak untuk menghapus air mata yang membasahi kedua pipi.
Dirinya kembali bangkit untuk berwudhu dan bergegas ke ruang sholat untuk berjama’ah dengan kedua orang tuanya. Langkah kakinya mengayun menuruni tangga dan melangkah hingga sampai di ruangan yang didesign oleh sang ayah untuk beribadah.
__ADS_1
Ruangannya terbuka dan terhias dengan lampu yang berwarna kuning dan satu lemari besar untuk menaruh beberapa Al-Qur’an dan buku-buku bacaan dengan cover tebal. Sesampainya disana, Asma langsung mendapatkan senyuman dari Bundanya dan rangkulan hangat untuk merapatkan shaf.
Bersambung .....