KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 44 - Kembali


__ADS_3

Pagi menyambut kembali di hari ini. Cuaca yang cerah juga angin yang sejuk menyapa kedua sahabat yang kembali berbincang diteras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.


Luka mungkin saja masih membekas, perih juga mungkin masih terasa. Namun hidup harus tetap berjalan meski luka telah menyapa. Patah hati tak selalu menjadi akhir dari cerita cinta.


Meski belum sepenuhnya sembuh, tapi setidaknya hati menjadi lebih baik. Tak ada yang lebih dari memiliki sahabat yang begitu peduli seperti dirinya. Asma selalu menghadiahkan ketenangan ditengah resah dan kegelisahan. Rasanya nyaman bersama dengannya membuat teman-teman ingin berlama bersamanya.


"kamu tau, aku pernah gagal untuk menikah. Terluka, itu pasti. Meskipun aku belum terlalu mencintai, setidaknya aku pasti telah menyiapkan hati untuk belajar mencintai, pada saat itu." Ucap Asma.


"bagaimana kamu bisa menerima semua itu ?" Tanya Salwa.


"Aku percaya akan takdir Allah. Aku belajar untuk ikhlas pada semua ketetapannya. Aku sadar, aku hanyalah perencana. Dan aku percaya apapun yang Allah takdirkan untukku, itu adalah yang terbaik menurut-Nya. Aku hanya perlu ikhlas agar aku dapat melihat seberapa baik takdir itu untukku." Jelas Asma.


"rasanya itu begitu mudah untukmu, asma." Balas Salwa.


Asma tersenyum, mendengarnya.


"aku pun pernah merasa kecewa, pernah merasa gagal, pernah merasa.... kenapa bukan dia, kenapa malah yang lain. Kita pasti pernah merasakannya, salwa. Meskipun dalam cerita yang berbeda." Ucapnya.


"boleh aku jujur ?" Tanya Asma.


"ya.."


"dulu, aku pun pernah menaruh hati pada bang asyam. Aku merasa ada yang berbeda saat bertemu ataupun berinteraksi dengan dia."


"serius ? terus ?" Tanya Salwa penasaran.


"sampai suatu hari, ada laki-laki yang datang melamar ku. Tapi bukan dia. Dan sampai akhirnya aku menyadari kamu pun menyukai dia dan sampai akhirnya tanpa sengaja aku bertemu dengan dia yang sedang berbincang dengan seseorang dimasalalunya." Jelas Asma.


"semua berjalan seperti itu saja, mengalir seperti air. Allah bukakan jalan untukku yakin menerima lamaran bang ihsan." Lanjutnya.


"salwa. Orang ngga akan bisa melihat betapa baik rencana Allah untuk kita, ketika seseorang itu tidak bisa menerima takdir Allah dengan Ikhlas. Dia ngga akan bisa mengambil pelajaran dari kejadian yang menimpa dirinya, ngga akan bisa merasakan betapa baiknya ketetapan saat ini untuknya." Jelas Asma.


Salwa terlihat murung, masih terlihat kesedihan diwajahnya.


"kamu hanya butuh waktu, sal. Asal kamu mau berusaha, tidak hanyut dalam kesedihanmu." Ucap Asma dengan senyuman sambil mengelus lengan Salwa.


"akan aku coba, asma." Balasnya.


Asma kembali kerumah Farhan dengan mengendarai mobil sendiri. Dengan hati yang senang, ia bawakan buah untuk kedua mertuanya. Asma ingin berdekatan dan lebih mengenal mertuanya yang kini sedang libur dari tugasnya.


Papa Hanif yang sedang membaca buku diruang tamu ditemani Mama Fara, senang menyambut menantunya pulang. Ditutupnya buku dan diberikannya senyuman kepada Asma. Mama Fara pun langsung berdiri dan menghampiri Asma.


"assalamu'alaikum, ma, pa." Ucap Asma.


"wa'alaikumussalam."


"repot-repot bawa buahan." Ucap Mama Fara sambil merangkul Asma.

__ADS_1


"ngga apa-apa, mah. Buat cemilan." Sahut Asma.


"Asma taro didapur ya." Ucap Asma yang langsung melangkah ke dapur.


Asma kembali dengan piring berisikan buah apel dan pisau untuk memotong. Asma duduk disamping Mama Fara yang berseberangan dengan Papa Hanif.


"tugas-tugas kamu sudah selesai disana ?" Tanya Mama Fara.


"alhamdulillah, sudah sebagian, ma." Jawabnya sambil memotong apel.


"papa libur sampai kapan ?" Tanya Asma.


"lusa sudah masuk lagi." Jawabnya.


"besok kita jalan-jalan yuk, kita makan diluar." Ajak Papa dengan gembira.


Asma tersenyum senang.


"boleh." Sahutnya.


"yuk, mama juga kangen udah lama ngga jalan-jalan sama papa." Ucap Mama Fara.


"asma ganggu dong ?" Ledek Asma.


"ngga dong, sayang. Sama kamu biar makin seru jalan-jalannya. Soalnya papa ngga asik kalo diajak belanja." Ledek Mama Fara.


Asma hanya tertawa mendengarnya.


Sore menjadi waktu yang dinanti para santri untuk mengaji. Bertemu dengan teman dan para pengajar yang mereka sayangi. Diwaktu orang-orang lelah setelah bekerja, sore hari menjadi waktu bersemangat bagi mereka untuk dapat bertemu dengan teman-teman, bukan hanya untuk bermain namun untuk menikmati waktu bahagia saat belajar bersama.


Beberapa santri menikmati jajanan disore hari sebelum masuk waktu mengaji. Ada juga yang asik bercerita atau bermain bersama. Laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan. Mereka tau batasan yang harus mereka jaga.


Asma memperhatikan dari balkon ruang sekretariat. Para santri yang masih menikmati masa kanak-kanak dan remajanya, masih terbebas dari rumitnya permasalahan hati.


Tiba-tiba saja, sebuah mobil yang dikenalnya memasuki halaman. Pintu terbuka mengeluarkan kaki bersandal gunung, khas milik seseorang. Hatinya terasa sesak, matanya berkaca saat menemukan sosoknya yang terlihat jelas saat keluar dari dalam mobil.


Nafasnya tertarik panjang saat dirinya tersenyum bahagia saat para santri putra-putri menyambut kehadirannya. Dadanya semakin sesak, berat untuk bernafas. Air mata mulai menetes tiba-tiba, jatuh mengalir dipipi. Dirinya terjatuh dilantai sambil menekan dadanya. Ditariknya kembali nafas, perlahan sambil berusaha menemukan gagang pintu untuk dibuka.


Berhasil dirinya masuk, sambil berusaha menuju mejanya dan mengumpat dibawah meja. Tangannya meraih keatas meja untuk menemukan tissu. Tangisnya makin menjadi, air mata yang membendung tak dapat ditahannya, mengalir begitu saja. Berkali-kali disekanya dengan tissu, sebelum ada orang yang memasuki ruangan dan menemukan dirinya. Asma berusaha mengendalikan dirinya untuk tenang.


Tok.. tok.. tok...


Suara pintu membuatnya terkejut, semakin jelas gagang pintu bergerak bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"assalamu'alaikum.." Suara seorang gadis terdengar jelas.


Asma mengenal suaranya dan langsung, menampakkan dirinya.

__ADS_1


"astaghfirullah. Asma, kamu bikin kaget saja." Ucapnya.


"wa'alaikumussalam."


"kamu kenapa ?" Tanya Nadia yang langsung menghampirinya dan menaruh berkas yang dibawanya.


Asma memeluk Nadia yang mengetahui lika-liku kisah cintanya.


"istighfar, asma." Ucap Nadia, air matanya kembali mengalir tak tertahan.


"aku harus pergi, nad. Aku belum siap bertemu dengannya." Jelas Asma.


"terlambat, asma. Sekalipun kamu pergi sekarang, kamu tetap akan bertemu dengannya." Ucap Nadia.


Syahrul memasuki ruang sekretariat dengan gembira, disusul dengan Zidan yang mendampingi seseorang.


"asma.. nadia.. lihat siapa yang datang." Ucap Syahrul dengan bahagia.


Mimik wajahnya berubah saat menemukan kesedihan diwajah Asma. Syahrul tiba-tiba teringat banyak hal yang menimpa Asma.


"maaf, asma." Ucapnya.


Zidan dan Ihsan hanya mematung menemukan Asma yang masih berusaha menahan air matanya. Kembali ia rasakan sesak didadanya. Rasa sakit yang lama disimpannya dirasakan kembali, seperti kembali ke masa itu.


.


.


.


...rasanya sulit untukku bernafas...


...banyak hal yang ingin kujelaskan...


...meski dengan keterbatasan kata.....


...berbekal tekad dan kestabilan jiwa.....


...dapatkah semua kembali seperti sedia kala.....


...saat canda dan tawa yang bergema...


...menjadi penghias ruang diantara kita......


.


.

__ADS_1


.


........Bersambung........


__ADS_2