
Farhan mempertegas hubunganmya dengan Asma. Tatapan Ihsan yang masih menghakiminya. Tatapan kecurigaan dan penuh dengan tanya. Dengan yakin, Farhan melayangkan tangannya untuk meraih jemari Asma. Disentuhnya perlahan dan digenggamnya dengan erat.
"sayang... ayo." Perintahnya.
Asma terkejut dan menatapnya, saat kata sayang terucap dari mulut Farhan. Genggaman erat nan hangat dijemarinya masih terasa. Dengan tatapan yang tajam, Ihsan memperlihatkan kemarahannya. Tangannya menggenggam lengan Farhan seolah menyuruh untuk melepasanya.
"kamu... berani sekali menyentuhnya." Ucap Ihsan.
Farhan terus membalas tatapan Ihsan. Asma yang sedari tadi memperhatikan merasa takut akan terjadi pertengkaran diantara keduanya.
"bang ihsan, mohon lepaskan." Ucap Asma.
Ihsan terkejut, menatapnya.
"bahkan menciumnya pun dihadapanmu, aku berhak untuk itu." Balas Farhan.
Ihsan kembali menatap Farhan dengan kemarahan.
"kamu..."
"bang ihsan, cukup. Lepaskan tangan mas farhan." Ucap Asma dengan nada suara yang bergetar.
Air mata mulai menggenang. Ihsan pun menurutinya.
"mas farhan adalah suami asma, bang." Ungkapnya.
Seperti disambar petir, rasanya sangat sakit dan mengejutkan. Harapan yang telah disusunnya kembali runtuh. Cinta yang masih ingin diperjuangkannya telah jadi milik orang. Hanya tinggal penyesalan dan luka hati yang mendalam.
"sudah larut, bang ihsan. Asma pamit. Assalamu'alaikum."
"wa'alaikumussalam warahmatullah." Jawabnya sambil tertunduk.
Para pengajar yang sedari tadi memperhatikan mulai kembali berhamburan. Tak ingin diri mereka tertangkap karena sedang memperhatikan.
"ayo, mas kita pulang." Ajak Liya.
"sebentar. Mas temui ihsan dulu, kamu tunggu dimotor dulu." Balas Asyam.
Asyam melangkahkan kaki mendekati Ihsan yang masih mematung ditempatnya. Tangannya melayang, menepuk bahu Ihsan.
"kamu tidak apa-apa, san ? mau aku temani malam ini ?" Tanya Asyam.
"tidak usah, aku ingin sendiri. Terima kasih." Jawab Ihsan lalu meninggalkan Asyam ditempatnya.
Asyam kembali pada Liya dan melajukan motornya menuju rumah. Dihalaman rumah, Liya turun dan membuka helm yang dikenakannya.
"mas."
__ADS_1
"ya ?" Sahut Asyam yang masih duduk di motor sambil memeluk helm.
"bang ihsan pasti terpukul sekali ya, mengetahui kalau asma sudah menikah." Ucap Liya.
"sepertinya. Ya mau bagaimana lagi jika takdir sudah bekerja. Sama seperti mas saat itu, hanya bisa menerima dengan lapang dada." Jelas Asyam.
Farhan masih tampak kesal dengan kejadian tadi. Dalam perjalanan hingga sampai dirumah, ia tak banyak berbicara. Masuk kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk meredam panasnya hati.
Asma yang merasa perubahan sikap dan menangkap kekesalan pada raut wajah Farhan, tak dapat berbuat apa-apa. Laki-laki yang baru saja dikenalnya, yang tak tahu bagaimana sifatnya, tak tahu bagaimana harus menenangkannya.
Asma memilih meninggalkan kamar dan menuju dapur. Tak disangka menghindar dari sang anak malah bertemu dengan ibunya. Mama Fara sedang membuat secangkir teh.
"mama.." Sapa Asma.
"hey.. kamu belum tidur ? baru pulang?" Tanya Mama sambil mengaduk teh.
"iya, ma. Baru pulang." Jawab Asma.
"mau bikin teh ? temani mama ngobrol ?" Ucap Mama menawarkan.
"iya." Jawab Asma.
Mereka pun berbincang di dapur, sambil duduk dikursi yang tersedia.
"Jadi kenapa ? ada masalah apa ? Mama gini-gini jago loh baca raut wajah seseorang." Ucap Mama sambil tersenyum.
Asma pun ikut tertawa kecil melihat tingkah laku mama mertuanya.
"lalu ? dimana permasalahannya ?" Tanya Mama sambil menikmati teh.
"memang sudah cukup larut dan bang ihsan masih mengajak asma berbicara setelah rapat selesai. Mungkin mas farhan lelah, sudah menunggu asma dari sore, jadi mas farhan kesal." Jelas Asma.
"ooh. Ngga apa-apa, itu hal yang biasa nanti juga dia baik sendiri. Lagi pula kamu kan juga jadi bisa menilai seberapa besar cinta farhan untuk kamu, bisa jadi dia juga cemburu melihat kamu dengan ihsan." Ucap Mama menahan tawa.
"asma ngga meragukan mas farhan ko, ma. Dengan mas farhan menikahi asma, asma yakin mas farhan memiliki cinta yang besar untuk asma." Ucap Asma.
"lalu bagaimana dengan kamu ?" Tanya Mama.
Asma terdiam memegangi cangkir sambil tertunduk.
"asma sudah menemukannya, ma. Ketika mas farhan membuat jarak diantara kita." Jawab Asma sambil menatap Mama dengan senyuman.
"syukurlah, mama ikut senang. Semoga kalian selalu bahagia ya, sayang." Ucap Mama sambil mengelus Asma.
"ma, asma buatkan susu untuk mas farhan ya. Asma mau berbincang sebentar sebelum tidur, supaya tidak terjadi salah faham dengan kejadian tadi." Jelas Asma.
"oke. Mama juga sudah. Mama duluan ya, nanti papa nungguin." Ucap Mama Fara.
__ADS_1
Asma membuat segelas susu untuk Farhan. Dia berharap malam ibu dapat tidur tenang dengan rasa bahagia. Tak ingin ada yang mengganjal dihati dan membuat kerenggangan antara dirinya dan Farhan.
Cinta yang baru saja hadir dalam hatinya kini mendapat ujian lagi. bukan hanya takut tersakiti tapi juga takut kehilangan lagi. Kecemburuannya terhadap Ihsan, kehadiran Xena, semua masih menjadi ujian cinta bagi keduanya.
Asma membuka pintu kamar dan tak mendapati Farhan didalamnya. Diletakkanya segelas susu beralaskan piring kecil di meja lampu samping tempat tidurnya. Asma melihat pintu balkon yang terbuka, mungkin Farhan sedang ada disana menikmati dinginnya angin malam.
Benar saja dia menemukannya. Asma menghampiri dan berdiri disebelahnya.
"mas.."
Farhan hanya meliriknya dan kembali mengalihkan pandangannya.
"kita hidup dibumi yang kecil, orang dari penjuru mana pun dapat bertemu meski tanpa sengaja. Apalagi kamu dan dia yang masih memiliki ikatan keluarga, begitupun saya yang memiliki tempat tugas yang sama. Seberapa keras kita menghindar suatu saat tetap akan berhadapan, hanya tinggal menunggu waktu." Jelas Asma.
"kalau memang saya melakukan kesalahan dan membuat kamu marah, saya minta maaf." Ucapnya.
"tapi coba beritahu saya, bagian mana saya membuat kesalahan yang membuat kamu marah ?" Tanyanya sambil menatapnya.
Farhan menatapnya, masih dengan wajah yang kesal.
"saya mau tidur." Ucapnya dan hendak meninggalkan Asma.
Asma menarik lengannya untuk menahannya.
"saya ngga mau tidur dengan perasaan yang tidak tenang, selesaikan kesalahfahaman ini sebelum kita tidur." Pintanya.
"saya ngga marah sama kamu. Kamu ngga berbuat salah apapun." Ucapnya sambil menghadap Asma.
"terus kenapa sikap kamu seolah marah kepada saya ?" Tanya Asma.
"kenapa kamu ngga kasih tau dia kalau kita sudah menikah ?" Tanya Farhan.
"kamu marah hanya karena itu ?" Tanya Asma tersenyum.
"saya ngga marah."
"bohong. Terus kalo ngga marah apa ? cemburu ?" Ledek Asma yang mulai mendekat dihadapan Farhan.
Farhan memalingkan wajahnya dan menatap keluar. Asma masih tersenyum dan menggenggam kedua tangan Farhan.
"bukan saya ngga mau memberitahu tentang pernikahan kita. Hanya saja dia tidak menanyakan kepada saya. Dan lagi, saya juga menyiapkan hati untuk berhadapan lagi dan berinteraksi dengannya." Jelas Asma.
"jangan marah lagi ya. Saya kan pernah bilang, kalau saya meridukan kamu. Kamu percaya itu kan ? kamu percaya kan saya sudah mulai belajar untuk mencintai kamu ? dan rindu adalah salah satunya." Ucap Asma sambil tersenyum dihadapan Farhan.
.
.
__ADS_1
.
.... . . Bersambung . . ....