KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 72 - Kembali


__ADS_3

Sejak saat itu, Asyam selalu mengecek akun sosial medianya sambil menunggu balasan dari Salwa. Sepertinya hari yang indah akan berpihak padanya. Matahari yang cerah menyapa dengan cahaya yang teduh. Angin berhembus dengan kesejukan aroma dedaunan. Asyam mengendarai motor dengan hati yang bahagia dan penuh senyuman diwajahnya.


-malam hari setelah bertemu dengan Asma-


Salwa menenangkan hati untuk melihat namanya dilayar handphonenya. Syamabdullah92 , itulah nama yang berhasil memporak porandakan hatinya. Membuat kapal yang tenang bertemu dengan badai. Hari yang cerah seakan mendung tanda akan hujan. Dengan keyakinan dihatinya, jari yang menuruti perintah untuk menerima pertemanan Asyam dan juga mengikutinya. Hati yang sejak tadi gelisah, tiba-tiba saja luluh dengan senyuman.


...~ ~ ~~~...


Dengan wajah bahagianya Asyam menyapa teman-teman dikantor sepanjang jalan menuju ruang kerjanya. Dan lagi-lagi Asyam mengecek layar ponselnya, dibukanya akun bernama KanisaSalwa11. Tak banyak foto wajah yang di unggahnya, hanya foto-foto pemandangan, bagian belakang dirinya dan foto bersama teman-temannya. Asyam semakin dibuat penasaran tentang diri Salwa yang sesungguhnya.


Salwa dengan suasana baru dihatinya, menjadikan hari-harinya lebih baik dan indah. Siang ini Salwa menemui Nadia di ruang sekretariat.


"assalamu'alaikum.. " Ucap Salwa saat membuka pintu.


"wa'alaikumussalam."


"loh, ada Asma juga ? kamu kapan dateng ?" Tanya Salwa yang langsung duduk disamping Asma.


"baru, belum lama." Jawab Asma.


"jadi kita mau bahas untuk liburan para santri kan ?" Tanya Salwa.


"iya. dua minggu lagi acaranya. Tanggal sudah ditetapkan oleh bang ihsan. Malam ini kita sosialisasi, supaya orang tua santri juga bisa menyiapkan apa yang dibutuhkan." Jelas Nadia.


"jadi bukan hanya jalan-jalan ya ? tapi kita juga menginap satu malam ?" Tanya Asma.


"iya, bang ihsan ingin supaya para santri juga bisa menikmati alam." Jawab Nadia.


"yang terpenting kita semua siap untuk mendampingi kan ?" Tanya Asma.


"iya.. " Jawab Salwa.


"ini tanggung jawab besar, karena mereka adalah amanah untuk kita. Bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi juga kita menjaga keamanan dan keselamatan hingga kembali lagi kerumah." Jelas Asma.


"iya, itu pasti. Dan itu adalah tugasnya syahrul dan zidan. hahaha.." Canda Salwa.


"Bagaimana kamu dengan syahrul, nad ?" Tanya Asma.


"bagaimana apanya ?" Nadia bertanya kepada Asma.


"yaa.. kali ajah sudah ada kemajuan." Jawab Asma sambil menyenggol lengan Salwa.


"iya. Ayo dong selangkah lebih maju gitu biar cepet dihalalin kaya asma." Ledek Salwa.


"Aku itu wanita yang cuma bisa menunggu." Ucap Nadia sambil menulis.


"udah ngga zaman nunggu laki-laki maju duluan." Ledek Salwa.


"kamu serius dengan syahrul, nad ?" Tanya Asma.


"aku percaya takdir Allah, ma. Jika dia jodohku, aku pasti menerimanya." Jawab Nadia.


"kalau kamu butuh bantuan ku, katakanya. Ayah sama bunda juga pasti mau jadi perantara untuk kamu dengan dia." Ucap Asma sambil menggenggam tangan Nadia.


"aku keluar sebentar ya." Ucap Asma.


Tak disangka Asma bertemu dengan seseorang saat menutup pintu. Seseorang yang berdiri sambil bersandar di tembok, seperti sedang menunggu.


"syahrul." Bisik Asma yang sangat terkejut menemukannya.

__ADS_1


"kamu... "


"aku dengar semuanya." Ungkap Syahrul, tertunduk.


Asma memutuskan untuk berbincang dengan Syahrul dihalaman belakang.


"makasih, ya. Sudah memperjelas semua. Aku jadi tahu pasti perasaannya." Ucap Syahrul yang berdiri berhadapan dengan Asma.


"lalu ?" Tanyanya.


"aku.. masih butuh waktu, ma. Aku baru dapat panggilan kerja." Jawabnya.


"semoga Allah permudah semua." Ucap Asma dengan senyuman.


"ma, kalau dalam persiapanku, kamu mendapat kabar tentang nadia. Beritahu aku, ya. Apapun itu." Pinta Syahrul.


Asma hanya menganggukkan kepalanya. Asma melanjutkan niatnya untuk membeli beberapa minuman botol diwarung dan kembali ke ruangan.


"nih, aku beliin minuman." Ucap Asma dan membagikannya kepada Nadia dan Salwa.


"Syahrul, nih aku beliin buat kamu juga." Ucap Asma sambil mengulurkan tangan yang menggenggam botol.


"makasih." Ucapnya.


"kamu mau kemana ?" Tanya Asma.


"mau balik kerja." Jawabnya.


"syahrul udah dapet kerja ?" Teriak Salwa.


"ini kabar yang menggembirakan. Pokoknya gaji pertama harus teraktir kita ya. Janji ya janji ya janji.." Ucap Salwa.


"alhamdulillah, dia sudah dapat pekerjaan." Batin Nadia yang tanpa sengaja melukiskan senyum dibibirnya.


"cieeee... senyum senyuumm.. ciee.. seneng." Ledek Salwa.


"udah ayuk dilanjut, surat edarannya diprint terus kita fotocopy. Supaya nanti malam bisa dibagikan." Jelas Asma.


Salwa melanjutkan mengetik dan Nadia mencatat didalam bukunya. Asma berpindah ke mejanya untuk menerima laporan Salwa dan mengerjakan tugas lainnya.


"ma, sholat yuk udah adzan tuh." Ajak Nadia.


"oh iya, yuk."


"kamu ngga sholat, sal ?" Tanya Nadia.


"lagi halangan." Jawabnya yang tetap fokus pada layar monitor.


"yasudah, aku sama nadia sholat dulu ya." Ucap Asma.


Saat diruang berwudhu, Asma teringat tanggalan dan masa haidnya.


"nad, sekarang tanggal berapa ya ?" Tanya Asma sambil merapihkan kerdungnya.


"tanggal 25." Jawabnya sambil memakai kerudung disamping Asma.


"25 ?" Ucap Asma sambil berfikir.


"kenapa ?" Nadia bertanya.

__ADS_1


"mhh..? Ngga, ngga apa-apa." Jawabnya sambil mengenakan kaos kaki.


Setelah menunaikan shalat ashar, Asma berjalan ke halaman masjid untuk menunggu para santri datang. Tak disangka, Asma bertemu dengan Asyam yang baru saja pulang dari kerjanya.


"asma, ko diluar ?" Tanya Asyam.


Belum menjawab pertanyaan Asyam, Asma mendapati perutnya yang mual dan tenggorokan yang menginginkan mengeluarkan sesuatu.


"huekk.."


Sambil menutup hidungnya Asma berbalik hendak meninggalkan Asyam. Namun tiba-tiba kepalanya pusing dan pandangannya kabur, apa yang ada dihadapannya buram, beberapa kali ia kedipkan matanya namun tak merubah apapun. Tanpa disadari tubuhnya ambruk dihadapan Asyam.


"Asma.. " Teriak Asyam.


"Asma.. " Ihsan yang baru datang ikut menghampiri.


"kenapa, syam ? ada apa dengan Asma ?" Tanya Ihsan.


"san ? apa aku bau ?" Tanyanya sambil mencium kearah kanan dan kirinya.


"bau apa ? wangi parfummu saja masih tercium." Jelas Ihsan.


"diruangan ada siapa ?" Tanya Asyam.


"aku lihat dulu." Asyam langsung berlari menuju ruang sekretariat.


"ya allah, mba asma. Mba asma kenapa bang ihsan ?" Tanya Liya yang baru saja tiba.


Tak lama, Salwa, Nadia dan Syahrul menghampiri.


"ayuk yang perempuan tolong diangkat, bawa keruangan dilantai bawah saja." Perintah Ihsan.


Ihsan langsung menghubungi Farhan dan memintanya datang menjemput Asma.


"dek, memang mas bau ya ?" Tanya Asyam saat Liya keluar dari ruangan.


"ngga." Jawabnya.


"ko asma sampai pingsan ya." Ucap Asyam.


"asma pingsan karena bau ?" Tanya Nadia sambil menutup pintu.


"sepertinya. Tadi aku datang, menyapa. Belum dia bicara apa-apa, dia langsung mual dan mau lari, tapi keburu pingsan." Jelas Asyam.


Nadia mengingat pertanyaan Asma saat berwudhu bersamanya tadi. Semua kembali keruangan untuk melihat keadaan Asma. Salwa yang sejak tadi memijat kening Asma dengan minyak sambil menebar aroma dari minyak tersebut agar Asma segera sadar.


"Biar Salwa dan Nadia yang jaga Asma disini. Yang lain kondisikan santri di aula." Jelas Ihsan.


"nad, nanti dokter farhan datang menjemput Asma." Ucap Ihsan.


"oh.. oke." Balasnya.


.


.


.


......~Bersambung~......

__ADS_1


__ADS_2