KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 86 - Izinkan saya...


__ADS_3

"awal mula pertemuan saya dengan ainun, karena ayahnya ingin menjodohkan dengan saya. Dipertemuan pertama, kami sepakat untuk berteman karena ainun sendiri belum mau menikah dan kalau pun ingin, laki-laki itu juga bukan saya yang dia inginkan." Jelasnya.


"saya ngga tau, sejak kapan dia merubah pertemanan itu menjadi perasaan yang lebih. Saya sendiri, sejak kesepakatan itu tidak pernah merubah dan berharap lebih dari sekedar teman dengannya."


"Dan lagi, saat itu hati saya sudah tergerak kepada kamu. Jadi bagaimanapun usaha dia, itu tidak akan merubah keputusan saya. Saya juga sudah menolaknya untuk mengajar privat dirumahnya. Sebagai bentuk ketegasan saya terhadap permintaan dan perasaannya." Jelas Asyam.


"saya terima penjelasan bang asyam." Balasnya.


"kalau hanya itu yang ingin abang sampaikan, saya rasa saya sudah boleh meninggalkan tempat ini." Ucap Salwa yang langsung berdiri.


"tunggu.. " Ucap Asyam yang ikut berdiri menghalangi Salwa dengan tangannya.


"masih ada. Masih ada yang mau aku sampaikan." Ucap Asyam.


Salwa menatapnya dan kembali menduduki kursinya.


"saya ngga tau harus mulai dari mana. Saya juga ngga bisa menutupi kegugupan saya saat ini. Saya harap kamu memaklumi itu, jika apa yang saya sampaikan tidak tertata dengan rapih sebagaimana mestinya."


"silahkan." Ucap Salwa.


"Saya ingin mengenal kamu lebih, saya ingin menjalin hubungan dengan kamu untuk kejenjang yang lebih serius. Saya memilih kamu, sebagai calon istri untuk saya." Ucapnya.


"jika kamu mengizinkan. Izinkan saya untuk meminta izin kepada kedua orang tuamu." Tegasnya.


"saya ngga mau terus bertanya kepada hati saya tentang perasaan yang saya rasa. Ketidakjelasan yang rasanya akan semakin tidak jelas jika saya biarkan. Saya ingin menemukan jawaban itu bersama kamu, salwa." Ucap Asyam.


"izinkan saya bertemu dengan kedua orang tuamu." Pintanya.


"maaf, mas. Saya tidak bisa menjawabnya sekarang." Ucapnya.


"saya akan fikirkan. Saya juga harus menyampaikan ini kepada kedua orang tua saya. Saya akan mengabarkan mas, jika sudah siap untuk masuk dalam proses ini." Jelas Salwa.


"saya akan tunggu dalam tiga hari." Ucap Asyam yang membuat Salwa mengangkat pandangannya.


"saya ngga akan menunggu tanpa waktu yang pasti, salwa. Seperti kamu membiarkan saya menunggu kamu dengan waktu yang ngga pasti." Ucap Asyam.


"saya harap kamu bisa mencerna ini dengan baik, memakalumi keputusan saya saat ini." Ucapnya lagi.


"Baik." Balas Salwa sambil menarik nafas panjang.


Salwa berdiri hendak mengakhiri pembicaraan dengan Asyam. Asma langsung menghampiri untuk menghentikannya.


"sudah selesai ?" Tanya Asma.


"ya." Jawab Asyam berdiri sambil tersenyum.

__ADS_1


"kita makan dulu ya, saya sudah pesan makanan." Ucap Asma pada Salwa.


"ngga apa-apa kan bang asyam ?" Tanya Asma.


"ya, ngga apa-apa." Jawabnya.


Makanan telah dihidangkan, semua siap dengan piring masing-masing. Bermacam lauk berada diatas meja.


"bang asyam."


"ya ?"


"bang asyam itu, kalau kerja pulangnya jam berapa ? dan liburnya hari apa saja ?" Tanya Asma.


"jam pulang kerja saya jam 4 sore. Libur hari sabtu dan ahad." Jawabnya.


"mmmhh.." Sahut Asma sambil menyantap makanan.


"bolehkan kalau asma menawarkan bang asyam mengajar di lembaga yang nanti akan dibuka. Rencananya awal bulan besok, itu juga kalau semuanya sudah benar-benar siap. Asma jadi deg-degan, hehe." Ucap Asma.


"insya allah, saya siap. Asal waktunya sesuai."


"mba, mba asma ngga akan masukin ainun kesitu kan ?" Tanya Liya.


"masih mba fikirkan." Jawabnya.


Asma hanya menanggapinya dengan senyuman.


Semua berjalan lancar sesuai dengan harapan. Kegelisahan yang menyelimuti dan membuat sesak, telah terlepas. Hanya menunggu waktu untuk dapat kepastian akan dibawa kemana perasaan yang ada dihati.


Asyam mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Asma atas makanan yang disajikan dan juga pasti karenanya Salwa tergerak untuk mau menemui Asyam saat ini.


"liya mau ikut saya ? saya mau langsung ke masjid dengan salwa." Ucap Asma.


"saya bareng mas asyam saja. Kasihan kalo sendirian, takut terbang karna lagi bahagaia." Ledek Liya.


"haha.."


"asma, sekali lagi terima kasih ya." Ucap Asyam.


"sama-sama bang asyam." Balasnya.


"kalian naik motor ?" Tanya Asyam.


"saya bawa mobil dan ada supir juga." Jawabnya.

__ADS_1


"kalau gitu, saya duluan ya. Assalamu'alaikumu." Ucap Asyam.


"wa'alaikumussalam."


"hati-hati dijalan liiya, bang asyam." Ucap Asma.


"yuk." Ajak Asma memasuki mobil.


Didalam mobil Salwa bercerita tentang apa yang dibicarakannya bersama Asyam. Rasa gugup dan rasa takutnya semakin menjadi saat pembicaraannya dimulai.


Salwa memasuki ruang sekretariat bersama Asma dan langsung duduk di sofa sambil menaruh tasnya.


"Saat dia minta untuk bertemu dengan orang tua ku, entah kenapa aku malah merasa takut. Aku seperti ragu, apa aku masih bisa mencintai dia nanti disaat aku menerima dalam kondisi hatiku yang seperti ini." Jelasnya.


"Salwa, yang namanya manusia terkadang memang menginginkan sesuatu yang tak dimilikinya dan menolak sesuatu yang ada didepan matanya. Saat Allah memberikan, kamu ragu dan menolaknya. Saat belum memiliki, kamu terus memohon dan meminta untuk diberikan. Itulah godaan syaitan yang menjerumuskan kita aga lupa bersyukur dan menutup fikiran-fikiran positif kita dari apa yang kita dapat saat ini." Jelas Asma.


"Jangan tergesah-gesah, masih ada waktu. Manfaatkan waktu itu untuk istikhoroh agar Allah tenangkan hati kamu dan tunjukkan jalan terbaik untukmu." Ucap Asma.


"Menurut kamu, aku langsung ceritakan sama ibu bapak atau nanti saja ?" Tanya Salwa.


"Tidak apa-apa kamu ceritakan kalau kamu sudah siap. Hati kamu kan juga bagian terpenting dari proses ini. Kalau kamu yakin, kamu ceritakan. Tapi kamu juga harus siap dengan keputusan bapak dan ibu nanti." Jawab Asma.


"okey.." Sahutnya.


Aktifitas belajar-mengajar berlangsung seperti biasanya. Asma sedang hamil, menyerahkan kelompoknya kepada Nadia. Asma menghabiskan waktunya didalam ruangan untuk menyiapkan Lembaga Qur'an yang akan dibukanya. Sesekali ia berjalan keluar untuk meregangkan tubuhnya dan menyapa santri-santrinya.


Salwa dengan hati yang ringan dapat tenang menjalani aktifitas malam ini. Menatap Asyam pun, tak lagi membuatnya sesak didalam dada. Ada ketenangan dan kelapangan dalam kegelisahan yang dirasakannya.


"mba.. Mas ku jangan diliatin begitu, nanti ilang." Bisik Liya.


Saat menemukan Salwa yang terdiam menatap Asyam yang sedang mengajarkan Tata Cara Sholat kepada santri yang diajarnya.


Salwa terkejut menemukan Liya berada disampingnya. Salwa yang tertangkap basah mencuri pandang pada Asyam, merasa malu dan salah tingkah.


"a.. emh.. aku ke asma dulu." Ucapnya sambil meninggalkan Liya.


"Jangan bilang-bilang keorangnya." Lanjut Salwa berbalik kepada Liya dan kembali meninggalkannya.


Liya melihat sekeliling area mengajar santri laki-laki. Asyam, Syahrul, Ihsan, Zidan dan yang lainnya. Liya tersenyum menatap lelaki yang dikaguminya, sedang tenang mengajar, penuh kasih sayang.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung.....


__ADS_2