KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 61 - Caraku


__ADS_3

Dalam sendrinya Asma memikirkan cara untuk menegaskan kepemilikannya kepada Xena. Suatu cara yang dapat dicerna dengan mudah dan dapat diterima dengan lapang dada. Xena adalah perempuan pertama yang berhasil menjalin hubungan dekat dengan Farhan meskipun hanya sebatas sahabat.


Wajar saja jika dia menaruh hati pada Farhan, karena hanya dirinya perempuan yang mendapat perilaku baik dari Farhan sebelum kehadiran Asma.


"kamu belum tidur ?" Tanya Farhan yang membuka pintu kamar.


"belum, mas." Jawabnya sambil mengusap wajah.


"kamu baru pulang ?" Tanya Asma, menghampiri untuk mencium tangan suaminya.


"ngga ko, tadi ngobrol dulu sama papa dibawah." Jawab Farhan.


"mas, besok kamu ada acara ?" Tanya Asma.


"mhh.. ngga sih. Kebetulan aku dapat libur malah. Ada apa ?" Tanya Farhan.


"besok kita makan yuk sama temen-temen kamu." Ajak Asma.


"nathan sama xena maksud kamu?" Tanya Farhan sambil membuka kancing kemeja didepan cermin.


"iya." Jawabnya, berdiri disamping Farhan.


Farhan menghentikan aktifitasnya dan menghadap kepada Asma.


"kamu ngga lagi bercanda kan ?" Tanya Farhan sambil menatap Asma.


Asma mengayunkan tangannya untuk melepas kancing yang tersisa.


"aku serius, mas." Jawabnya dengan tenang.


"kamu tau sekesal apa saya dengan dia ? kamu tau gimana dia memperlakukan kamu ? jangankan untuk makan, ketemu dia saja saya malas." Tegas Farhan.


Asma selesai membuka kancing terakhir. Farhan langsung meninggalkannya ke kamar mandi. Dia meredam amarahnya dengan kesejukan air yang membasahi tubuhnya. Asma berusaha sabar sambil menarik nafas dalam-dalam. Dilanjutkannya menyiapkan pakaian untuk Farhan.


Fikiran Xena saat itu hanya tertuju kepada hati. Xena banyak menyimpulkan semua sikap dan perhatian yang Farhan berikan. Karena hanya dirinya, perempuan yang diterima sebagai temannya.


Xena yakin saat itu Farhan menyukainya. Melalui Nathan, Farhan menerima dirinya sebagai temen. Farhan mulai bersikap ramah terhadapnya, mulai mau berbicara kepadanya, menanggapi setiap candaannya. Terlebih memberikan keluarga baru ditengah kesendiriannya. Seorang anak, sebatang kara yang sudah tidak memiliki orang tua dan hidup merantau dikota orang.


"saat dia ngenalin gue ke orang tuanya, gue makin yakin dia itu suka sama gue. Meskipun saat itu juga ada lo disitu. Tapi lo tau sendiri kan ? dia bukan tipe orang yang akan bawa cewe kerumahnya ? dan itu cuma gue." Cerita Xena sambil meneteskan air mata saat duduk santai dibangku taman bersama Nathan.


"ya gue tau perasaan lo. Tapi gimana pun gue ngga bisa membenarkan juga, karena ngga semua orang yang ngenalin temannya, lawan jenis, itu dianggap seperti memberikan harapan lebih." Jelas Nathan.

__ADS_1


"Mungkin juga farhan merasa, lo butuh kasih sayang mama dan papa nya. Sama seperti dia memberikan kasih sayang orang tuanya untuk gue." Lanjutnya.


"karena saat itu lo termasuk temannya, makanya lo juga dikenalkan. Sama seperti halnya gue dulu." Ucap Nathan.


Xena menyandarkan kepalanya dibahu Nathan dan kembali meneteskan air matanya.


Salwa memberanikan diri untuk kembali masuk kedalam rumah Asyam, hanya untuk mengantar makanan untuk keluarganya.


"makasi loh cah ayu, bu'e jadi merasa ngerepotin." Ucap Bu Nurlela yang mengantar Salwa kedepan pintu bersama Liya.


"ngga apa-apa, bu. Salwa ngga merasa direpotkan. Salwa juga berbagi ko ke tetangga yang lain." Ucap Salwa.


"biar Allah yang membalas kebaikanmu ya, nak." Ucap Bu Nurlela sambil mengelus bahu Salwa.


"aamiin" Ucap Salwa sambil tersenyum.


"assalamu'alaikum."


"wa'alaikumussalam."


Mereka saling bertatapan. Salwa masih menaruh harapan, sedang dia masih dengan perasaan yang kesal.


"baru pulang, bang ?" Tanya Salwa.


"iya."


"bu, salwa pamit pulang ya. Liya, aku pulang dulu ya." Ucap Salwa.


"iya, mba. Hati-hati. Sekali lagi, terima kasih." Ucap Liya.


Liya membawa masuk sang ibu dan menutup pintu. Bu Nurlela langsung berjalan masuk dan menemukan Asyam yang sedang menikmati makanan dimeja makan. Bu Nurlela memandanginya sambil tersenyum.


"enak ngga makanannya ?" Tanya Bu Nurlela yang ikut duduk bersama, Liya berdiri dibelakangnya.


"enak. Buatan bu'e itu paling the best." Jawab Asyam.


"itu salwa yang masak, bukan bu'e." Ucap Bu Nurlela yang membuat Asyam menahan nasi yang ingin disuapnya.


"jangan galak-galak toh mas sama mba salwa." Ucap Liya.


Asyam menaruh kembali nasi yang telah digenggamnya.

__ADS_1


"yasudah, kamu lanjut makannya. Bu'e sama liya mau istirahat." Ucap Bu Nurlela yang bangkit dan meninggalkan Asyam.


"apa saya keterlaluan ya bersikap terhadap salwa ? ah sudahlah, nanti saya coba bersikap baik semampu saya tanpa membuat dia berfikir kalau saya memberi harapan kepadanya." Batinnya.


Farhan selesai mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk sambil duduk di kasur. Asma memperhatikannya sambil bersandar dan tersenyum.


"kamu lagi kenapa sih ?" Tanya Farhan yang melihat keanehan tingkah laku Asma malam ini.


"lagi bersyukur. Allah baik banget menghadirkan kamu untuk aku." Jawabnya.


"kamu ngga usah aneh-aneh deh. Kamu lagi kenapa ?" Tanyanya lagi.


"aku ngga apa-apa, mas." Ucap Asma sambil bergeser dan memegang lengan Farhan.


"ada apa kamu mau makan bareng sama teman-teman aku ?" Tanya Farhan.


"ya ngga apa-apa. Biar aku kenal saja sama mereka. Terlebih mereka kan teman terdekat kamu." Jelas Asma.


"kamu ngga mikir apa ? apa yang sudah xena lakuin ke kamu ? dan apa yang akan xena lakukan lagi kalau ketemu kamu ?" Ucap Farhan.


"kan ada kamu, mas. Aku percaya kamu ngga akan ngebiarin siapapun menyakiti aku." Ucap Asma.


"kamu pasti lindungin aku kan ?" Tanya Asma sambil memegang wajah Farhan dengan kedua tangannya.


"aku mau tidur." Ucap Farhan menyingkirkan tangan Asma dan langsung berbaring.


"sini handuknya aku jemur." Ucap Asma mengambil handuk yang digenggam Farhan.


"aku ngga tau apa yang ada difikiran kamu dan apa yang lagi kamu rencanain untuk ketemu sama xena. Aku cuma ngga mau ngeliat kamu diperlakukan buruk sama teman ku sendiri. Terlebih kalau ada kata-kata yang menyinggung dan menyakiti hati kamu. Hati yang tak terlihat yang harus aku jaga dan itu hanya kamu sendiri yang bisa mengetahuinya." Batin Farhan.


"selamat tidur ya, mas." Ucap Asma sambil menarik selimut dan berbaring.


Meski memejamkan matanya, Farhan masih tak tenang pada fikirannya. Memikirkan tentang permintaan sang istri. Keputusan yang terbaik yang manakah yang harus diberikan kepada Asma. Karena melihat sikap Xena setelah pernikahannya, Xena bukan wanita yang akan menerima sebuah harapan yang pupus begitu saja didepan mata. Bahkan didepan sang suami pun, Xena berani memaki sang istri. Tapi rasa penasaran juga menghantui fikiran Farhan, tentang pertemuan yang diinginkan oleh sang istri. Baginya yang utama adalah kesiapannya dalam menjaga dan melindungi Asma sebagai istrinya saat ini.


.


.


.


.

__ADS_1


.


...-Bersambung-...


__ADS_2