KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 29 - Dokter Farhan


__ADS_3

“jika seperti itu keputusan Ihsan, saya akan terima. Namun bukan untuk menunda pernikahan keduanya. Saya juga akan mengambil keputusan untuk membatalkan pernihakan keduanya.” Jelas Ustadz Hasan.


“ayah..” Ucap Bunda Zulfah yang meraih tangan suaminya diatas meja.


“san, tidak bisakah untuk ditunda saja. Jangan sampai dibatalkan apalagi jika sampai memperburuk ikatan persaudaraan kita.” Lanjut Ustadz Rehan.


“tentu saja tidak. Ini hanya demi kebaikan keduanya untuk kedepannya. Terutama bagi Asma, putri saya.” Sahut ustadz Hasan.


“saya benar-benar minta maaf atas apa yang telah ihsan lakukan, terutama terhadap asma.” Ucap Ummi Asyha.


“untuk anggaran pernikahan yang telah ihsan berikan, saya akan mengembalikannya kerekening ihsan. Insya Allah secepatnya.” Ucap Ustadz Hasan.


“masalah itu, tidak perlu difikirkan dan saya rasa juga tidak perlu kau mengembalikannya.” Jelas Ustadz Rehan.


“iya ustadz, kami rasa ini semua kesalahan kami jadi sudah sepantasnya kami yang menanggung semua.” Lanjut Ummi Asyha.


Semua terdiam, seolah enggan untuk melanjutkan pembicaraan lagi. Yang ada difikiran Ustadz Hasan dan Bunda Zulfah saat ini adalah kesehatan dan keselamatan putri semata wayangnya. Bunda Zulfah memilih pamit untuk menyiapkan pertemuan dengan Dokter Farhan. Ustadz Rehan hanya menghela nafas dan mengusap wajahnya selepas kepergian sahabatnya.


“semua ini memang salah abi, mi.” Ucap Ustadz Rehan.


“ini memang sudah takdir Allah, abi. Abi jangan menyalahkan diri sendiri. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita untuk kedepannya.” Jelas Ummi Asyha, menenangkan.


Ustadz Rehan dan Ummi Asyha menjemput Raina dikamar Asma. Raina pamit kepada Nadia untuk pergi lebih dulu dan tak dapat lebih lama menemaninya menjaga Asma. Bunda Zulfah masih menunggu antrian bersama sang suami. Panggilan namanya terdengar saat pasien sebelumnya melangkah keluar ruangan.


Farhan Asyadil Safaraz, lelaki tampan berusia 28 tahun yang menjabat sebagai dokter muda diberbagai rumah sakit. Tubuhnya yang tinggi, berkulit putih, wajahnya yang tampan serta senyum manisnya yang menghangatkan membuat dirinya banyakan dikagumi oleh para perempuan terutama dikalangan perawat dirumah sakit tempat dia ditugaskan. Tak hanya itu, dia juga menjadi asisten dosen dikampusnya dulu. Banyak pula teman seangkatan, adik tingkat dan kaka senior yang menaruh hati padanya. Namun diusianya yang memasuki kepala tiga itu, dia sama sekali belum berpacaran apalagi memiliki mantan. Banyak perempuan yang mendekat, namun dia menolak. Tapi ada satu perempuan yang berhasil menjadi sahabatnya, namun tidak hanya dia sendiri. Ada satu lelaki lagi yang bersahabat dengannya.


“dengan kondisi asma saat ini, saya menyarankan agar asma tetap mendapat penanganan oleh rumah sakit. Karena saya pun tidak tahu bagaimana kondisi asma saat dia sadar nanti.” Jelas Farhan.


“lakukan saja yang terbaik untuk putri kami, dokter.” Ucap Ustadz Hasan.


“baiklah, penjelasan saya cukup sampai disini. Apa masih ada yang ingin ditanyakan lagi ?” Tanya Farhan.


“tidak, dokter.” Sahut Ustadz Hasan.


“kalau begitu, kami pamit dulu.” Ucap Bunda Zulfah.

__ADS_1


“mhh.. bu, pak. Boleh saya bertanya ?”Ucap Farhan yang membuat Bunda Zulfah menaruh kembali tubuhnya diatas bangku.


“ya, silahkan.” Jawab Ustadz Hasan.


“jadi begini, pak. Kedua orang tua saya menginginkan saya untuk menikah sesegera mungkin. Kalau boleh tahu, apakah putri bapak sudah memiliki calom suami ?” Tanya Farhan, gugup.


Ustadz Hasan terkejut mendengar pertanyaan dari Farhan dan membuatnya saling bertatapan dengan sang istri.


“maaf, pak. Jika pertanyaan saya mengganggu dan tidak pantas. Saya hanya ingin ..”


“kamu keponakannya rehan kan ?” Tanya Ustadz Hasan yang memutus perkataan Farhan.


“iya, pak. Benar.” Jawab Farhan.


“seharusya kamu tahu siapa asma, putri saya.” Tegas Ustadz Hasan.


“maksud bapak ?” Tanya Farhan.


“ayo, bunda. Kita pulang.” Ucap Ustadz Hasan berdiri sambil menggandeng tangan sang istri.


Rasa kesal dan kekecewaan masih menyelimuti hati. Rasanya untuk saat ini belum ada keinginan untuk berurusan lagi dengan keluarga Ustadz Rehan. Mendengar Farhan menanyakan perihal jodoh untuk sang putri, rasanya kembali membangkitkan kobaran api yang telah mulai padam.


         Asyam dan Liya masih asik berbincang di salah satu café yang direkomendasikan oleh Liya. Asyam telah menceritakan semua kesalah pahamannya, tentang isi hatinya dan juga tentang surat yang salah alamat.


“jadi kamu sama asma sering kesini ?” Tanya Asyam.


“ngga sering juga sih. Lebih tepatnya aku suka berpapasan saja sama mba asma dan kebetulan dia kumpul sama teman-temannya disini dan aku diajak.” Jelas Liya.


“mas, kalau menurut ku lebih baik mas coba tanyakan ke bang syahrul. Karena menurut liya, surat itu sih datangnya dari perempuan. Tapi ngga ada salahnya juga si kalau mas mau tanya ke mba nadia juga.” Usul Liya.


“tapi surat itu ada di asma. Mas ngga bisa kasih liat suratnya dong, isi suratnya dan tulisan tangannya.” Balas Asyam.


“tapi mas bilang kan waktu itu ada inisial A di bawah suratnya. Itu bisa jadi tanda atau ciri khas yang bisa mas sebutin kan.” Jelas Liya.


“kalau memang dia pernah kirim surat sebelumnya, pasti si penerima surat tau ciri khas dari surat itu.” Lanjut Liya.

__ADS_1


“iya juga sih.” Sahut Asyam.


“mmh, yasudah mas akan coba mulai dari syahrul. Kalau memang bukan dia, kamu temani mas ketemu sama nadia ya ?” Ucap Asyam.


“okey.” Sahut Liya dengan senyuman.


“emmh, semyum mu itu loh, dek. Bikin mas terpesona.” Ledek Asyam.


“awas ya kalau kamu suka tebar-tebar senyum sama laki-laki lain. Mas ndak rela loh.” Lanjut Asyam.


“ih apa sih. Senyum itu kan sedekah, mas. Sedekah itu perbuatan yang baik, jadi ngga apa-apa kalau liya senyum dong.” Balas Liya.


“iya ngga apa-apa. Kamu kasih senyum yang hambar saja ke mereka, jangan ada manis-manisnya gitu.” Lanjut Asyam.


“kaya yang diiklan dong, ada manis-manisnya.” Balas Liya yang menghadirkan tawa dikeduanya.


Malam hari sepulang dari Jakarta, Raina mengunjungi Ihsan dikamarnya. Perlahan didorongnya pintu kamar Ihsan agar tak mengganggu ketenangannya. Dilihatnya dari garis pintu yang terbuka sedikit, sang kaka sedang duduk bersandar. Wajahnya teduh menenangkan, sambil menatap kitab suci yang dipegangnya. Pandangannya mulai terangkat saat menyadari kehadiran seseorang dari balik pintu.


“raina..” Tebaknya.


“iya ini aku.”Balasnya dengan senyuman.


“ummi sama abi sudah pulang ?” Tanyanya saat Raina menutup pintu.


“sudah, bang. Baru saja.” Jawabnya sambil mendekat dan duduk dibibir kasur menghadap sang kaka.


Ihsan tersenyum sambil mengelus kepala sang adik. Terlihat wajahnya yang tak ceria namun juga tak menampakkan kesedihan. Entah apa yang terjadi, Ihsan tak ingin mengetahuinya. Dia pun mencoba menguatkan hatinya, melepas seorang yang sempurna untuk dimiliki. Berat, namun akan lebih berat jika harus dibebankan kepada calon istrinya. Raina memeluk sang kaka. Entah untuk memberi ketenangan pada Ihsan atau untuk menenangkan dirinya atau mungkin untuk saling menenangkan. Yang jelas mereka ingin semua baik-baik saja.


Mungkin datangnya sesuatu yang menyakitkan, tak selalu untuk membuat kita terluka..


bisa saja hanya untuk melengkapi cerita, ada hal yang menyenangkan dan menyedihkan..


atau mungkin, datang untuk saling menguatkan..


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2