KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 89 - aku berlindung kepada Mu


__ADS_3

Dengan wajah yang terkejut Asma bangkit menatap sejajar wajah lelaki yang menyapanya.


"dokter.. Nathan."


"sendirian ajah ?" Tanyanya.


"ya , sedang ada perlu." Jawabnya.


"dokter sendiri .. Lagi tugas juga disini ?" Tanya Asma.


"ya, kebetulan lagi gantiin dokter yang lagi cuti." Jawabnya.


"apa .. Xena juga ?" Tanya Asma, ragu.


"ngga." Jawabnya.


"ada apa ? Apa dia mengganggu kalian lagi ?" Tanya Nathan.


"mmh.. "


"katakan saja." Pinta Nathan.


"tadi, dia mengirim makanan lagi untuk farhan. Dan berujung dengan pertengkaran." Jelas Asma.


Nathan mengusap wajahnya sambil menarik nafas, entah apalagi yang harus dikatakan kepada sahabatnya agar dia mengerti.


"asma, aku tau ini terdengar konyol. Tapi.. Cobalah mengerti dia hanya tidak ingin kehilangan sosok keluarga yang pernah dia miliki." Jelas Nathan.


"maksud dokter , saya harus membiarkan apapun yang xena lakukan ?" Tanya Asma.


"bukan .. "


"dokter, saya sudah katakan. Saya tidak masalah jika dia dekat dengan mama dan keluarga mas farhan, tapi tidak untuk bersikap berlebihan kepada lelaki yang sudah beristri. Termasuk membawakan makanan ke ruang kerja suami saya." Tegasnya.


"aku sudah mencoba menjelaskan ini berulang kali kepada xena."


"mungkin dimata dokter dia takut kehilangan keluarga. Tapi bagi saya yang sesama perempuan , sikapnya bukan untuk melindungi keluarga yang sudah dimilikinya. Tapi juga untuk merebut mas farhan untuk menjadi miliknya." Jelas Asma.


"dia tidak rela cintanya tidak terbalas , dia tidak rela mas farhan memilih saya yang baru dikenalnya , dia juga tidak rela tidak lagi mendapat perhatian mas farhan kan ?" Ucap Asma.


"asma.. "


"ada nathan juga.. " ucap seorang lelaki yang tiba-tiba hadir merangkula Asma.


"apa mas farhan mendengar percakapanku dengan dokter nathan." Bisiknya dalam hati.


"hey.. " Sapa Nathan.


"kan sudah aku bilang jangan lama-lama." Ucap Farhan dengan senyuman.


"iya, maaf. Tadi bertemu dokter nathan , jadi berbincang sebentar." Jelas Asma.


"kamu ngga akan kehilangan farhan, asma. Apapun yang akan xena lakukan." Ucapnya, membuat Asma terkejut dan Farhan yang penuh dengan tanya.


"bro, gue duluan ya." Pamit Nathan sambil menepuk bahu Farhan.


Farhan bingung setelah kepergian Nathan, ada rasa penasaran dalam hati dan fikirannya.


"are you oke ?"


"ya.." Sahut Asma.


"kita masuk yuk." Ajak Farhan.


Daripada menanyakan dan membuat Asma tak nyaman, Farhan mengurunkan niatnya dan lebih memilih percaya kepada Asma.


Setelah selesai dari tugas-tugasnya, Farhan membawa Asma kerumah orang tua Asma. Karena Asma akan mengajar , Farhan akan beristirahat di kamar Asma. Jam telah menunjukkan pukul 4 sore, semakin dekat dengan waktu Asma mengajar.

__ADS_1


"kamu mandi dulu , aku siapin pakaiannya. Nanti aku buatkan jus untuk kamu." Ucap Asma sambil sibuk membereskan dan mengambil pakaian Farhan.


Farhan yang melihat kelihaian istrinya, merasa senang dan menarik lengannya.


"terima kasih, ya. Saya bersyukur memiliki kamu." Ucapnya.


"kamu kenapa sih ?" Ucap Asma malu.


"jangan capek-capek. Kamu siap-siap ajah untuk mengajar, ngga usah bikinin aku jus. Nanti aku anter kamu berangkat mengajar." Jelas Farhan.


"aku mandi duluan ?" Tanya Asma.


"silahkan." Balas Farhan dengan senyuman.


"aku tahu sampai akhir pun perjalanan rumah tangga akan selalu ada cobaan, ujian, godaan. Aku berlindung kepada Mu , Ya Allah dari segala hal yang membuat rumah tangga ku berantakan. Aku memohon kepada Mu , kedamaian dan keberkahan didalam rumah tangga ku dengan asma." Pintanya dalam hati.


Rasa cinta yang masih terasa hangat dalam hati Farhan, seakan tak ingin terganggu oleh apapun. Dia ingin mencintai dengan tenang, dia ingin kedamaian bersama dengan orang yang dicintainya. Meskipun dia sadar, itu takkan mungkin. Tapi dia meyakini , apapun yang terjadi dia akan menghadapinya dengan tenang agar hubungannya dengan Asma dapat menciptakan ikatan yang akan saling menguatkan.


Asma dan Farhan berjalan dengan santai menuju masjid tempat Asma mengajar. Dengan penuh kasih sayang, Farhan penuh penjagaan terhadap Asma dimasa kehamilannya yang telah menginjak bulan ke 6. Dengan tawa bahagia mereka berbincang dan sesekali menyapa orang-orang disepanjang jalannya dengan senyuman.


"Ya Allah, terima kasih atas nikmat dan kebahagian yang Kau berikan saat ini. Kehadiran si kecil dalam rahim ku dan kekasih yang sangat menyayangiku." Asma.


Mendapati Asma yang masuk kehalaman masjid. Seorang gadis yang sejak tadi duduk di tangga masjid langsung berdiri, menandakan kehadirannya menunggu kedatangan Asma.


"ada apa lagi dia disini ?" Bisik Farhan.


"saya tidak tahu, mas. Biar saya temui dia dulu." Jelas Asma.


"assalamu'alaikum, ainun." Sapa Asma.


"wa'alaikumussalam, asma." Jawabnya.


"sedang menanti seseorang ?" Tanya Asma.


"ya. Aku ingin bertemu dengan mu." Jawabnya.


"aku ? Ada perlu apa ?" Tanya Asma.


"mas, saya bicara dulu dengan ainun dihalaman belakang ya." Ucap Asma.


"saya tunggu didalam." Balas Farhan.


"ya.." Ucap Asma dengan senyuman.


Asma duduk di taman belakang bersama Ainun. Menantikan apa yang akan Ainun katakan kepadanya.


"asma.. "


"yaa.. ?"


"emmh.. "


"ada apa ?" Tanya Asma dengan lembut.


"apa tidak ada salah satu kabar pun untukku ?" Tanya Ainun.


"kabar ? Kabar tentang apa yang kamu maksud ?" Asma balik bertanya.


"bang asyam." Jawabnya sambil menatap Asma penuh harap.


Asma terkejut dan perlahan memalingkan pandangannya ke arah lain.


"itu .. aku sudah membicarakannya dengan bang asyam." Ucap Asma dengan senyuman menatap Ainun kembali.


"benarkah ? Lalu ?" Tanya Ainun antusias dan penuh kegembiraan.


"Ainun.. "

__ADS_1


"apa yang dia katakan, asma ?" Tanyanya lagi dengan penuh harapan.


Asma menarik nafas sebelum mengatakan dengan singkat kepada Ainun. Asma tahu Ainun pasti akan sangat kecewa dengan keputusan Asyam.


"Dia menolak untuk kembali mengajarkanmu." Ucap Asma dengan satu tarikan nafas.


Ainun melepas genggaman tangannya dilengan Asma.


"apa karena kejadian hari itu, bang asyam tidak ingin mengajarku lagi ?" Tanya Ainun.


"tidak." Jawab Asma dengan lembut.


"ainun, kalau kamu memang ingin belajar mengaji , bukankah tidak harus dengan bang asyam ?" Ucap Asma.


"aku bersedia berbagi ilmu denganmu, jika kamu mau." Ucap Asma.


"bukan begitu, asma."


"ainun, lebih baik kamu perbaiki niat dihatimu. Aku rasa sudah cukup jelas pembicaraan kita saat ini. Kamu boleh menghubungiku jika kamu mau." Jelas Asma.


"aku harus bersiap sebelum mengajar. Assalamu'alaikum." Ucap Asma meninggalkan Ainun sendiri di taman belakang.


Bukan karena kesal , bukan juga karena membenci. Asma hanya tak ingin melanjutkan pembicaraan yang tak berujung dan tidak mendapat manfaat apapun. Semua telah terjawab dengan semestinya. Solusi dari keinginannya untuk kembali belajar juga sudah diberikan. Hanya tinggal menunggu langkahnya akan pergi ke arah yang mana.


Asma kembali ke ruangan untuk berjumpa dengan para pengajar yang telah hadir.


"ternyata sudah ramai." Ucap Asma setelah membuka pintu.


"tumben dateng terakhir." Ucap Nadia sambil membereskan lembaran dimeja Asma.


"ada keperluan." Jawabnya.


"sepertinya dia sudah datang sejak tadi. Aku bertemu dengan farhan di tempat shalat." Ucap Ihsan sambil membereskan barang-barang di lokernya.


"kamu darimana ?" Tanya Salwa, penasaran.


Zidan, Syahrul dan Asyam yang juga ada diruangan itu menunggu jawaban Asma. Sepertinya mereka merasakan sesuatu yang Asma tutupi.


"aku dari halaman belakang." Jawab Asma yang langsung duduk dikursinya dan menatap layar komputer.


"ngapain kebelakang sendirian ?" Tanya Salwa.


"aku ngga sendiri." Jawab Asma.


"terus ... "


Tok.. Tok.. Tok..


Belum juga Salwa melanjutkan pertanyaannya. Suara pintu mengalihkan perhatiaannya, ditambah dengan suara wanita yang berteriak dari luar. Suara yang tak asing lagi ditelinga mereka.


"asma.. Aku ingin bicara lagi denganmu." Ucapnya.


"ainun." Bisik Syahrul yang mendapat tatapan dari Nadia dan yang lainnya.


"kamu habis ngobrol sama dia di halaman belakang ?" Tanya Salwa.


"asma.." Ucap Ainun sambil mengetuk pintu.


"boleh saya izinkan dia masuk ?" Tanya Asma.


Belum saja Asma mendapatkan jawaban dari yang lainnya. Ainun berhasil membuka pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendapat tatapan tidak mengenakkan dari yang lainnya.


.


.


.

__ADS_1


.


..... Bersambung .....


__ADS_2