KETIKA RINDU BERBALUT DOA

KETIKA RINDU BERBALUT DOA
Episode 68 - Jangan buatku ragu


__ADS_3

Gelisah masih menyelimuti hati Salwa, ingin lupa tapi tak bisa. Sikanya yang semakin hari semakin membuatnya ingin mencintainya lagi. Disaat hati ingin tenang menyendiri, dirinya datang tanpa henti. Menggoyahkan pagar-pagar pengaman yang telah kokoh berdiri.


Adakala dimana ia dapat fokus bekerja, bercanda dengan teman-temannya, tenang menikmati harinya. Adakala dadanya sesak saat kembali teringat tentang dirinya. Waktu yang ia gunakan untuk melupakan seolah percuma, saat Asyam kembali menyapa dengan senyuman yang hangat. Amarah yang membuat Salwa terluka, penolakan yang membuat kecewa. Masih bisa dirasa oleh Salwa, betapa pedihnya jika teringat kembali.


Tak ingin terulang, Salwa mengambil jalan yang berbeda, namun tetap ditemukan Asyam didalamnya. Malah sikapnya yang membuat Salwa kembali merasakan cinta yang dulu dimilikinya.


Asyam melempar senyum saat menemukan Salwa yang berjalan untuk berangkat kerja. Sambil menyiram tanaman, ia sempatkan menoleh kearah gadis yang dikenalnya. Namun senyum sapanya tak ditanggapi oleh Salwa. Salwa hanya melirik kearahnya dan melanjutkan langkahnya.


"apa dia masih marah kepadaku ?" Batin Asyam, sambil berfikir.


"mas.. " Sapa Liya dari belakang, memecah lamunannya.


"eh.. iya, ada apa liya ?" Tanyanya, berbalik.


"disuruh bu'e angkat galon. Airnya habis." Jelas Liya.


Dengan sedikit rasa yang masih tersisa didalam hati, Ainun memberanikan diri untuk memperjuangkan kembali cinta lamanya yang pernah pupus. Berteman dengan kegugupannya, Ainun menunggu Syahrul sambil menyantap bubur.


Syahrul keluar sambil merapihkan kancing kemeja koko terakhir. Ia terkejut mendapati Ainun yang menatap kearahnya. Kali ini dia terkejut melihatnya mengenakan hijab. Terlepas dari pertemuannya yang sering terjadi dimasjid, fikirnya Ainun mengenakan jilbab mungkin untuk berpakaian sopan disekitar masjid. Nyatanya dia telah menetapkan pilihannya.


"ada yang mencarimu, bapak tinggal dulu kedalam." Ucap Pak Syahdan yang mendekat kepada Syahrul.


"iya, pak." Sahutnya.


Syahrul mendekat dan duduk dihadapan Ainun.


"ada apa ?" Tanyanya dengan tatapan lurus kedepan yang enggan menatapnya.


"mhh.."


"kalau ngga ada urusan yang penting, aku mau ke masjid. Ada urusan." Tegasnya.


"aku ikut. Boleh ?" Tanyanya dengan penuh harap.


"kelihatannya memang ngga ada hal yang penting ya." Ucap Syahrul yang mulai bangkit.


"assalamu'alaikum.. "


"wa'alaikumussalam." Syahrul menjawab dan menatap kearah suara itu berasal.


Senyumnya hilang saat didapati wajah wanita yang juga menghadap kearahnya. Langkah kakinya berjalan mundur selangkah.


"Nad.. "


"astaghfirullah" Bisik Nadia menyadarkan diri.


"mhh.. bapa ada ?" Tanya Nadia.


"eh .. neng geulis. Nyari bapak ?" Tanya Pak Syahdan yang muncul dari dalam.


Nadia tersenyum menyapanya.


"mau pesen bubur ya ?" Tanya Pak Syahdan.


"iya. Seperti biasa ya, pak." Jelas Nadia.


"dua ?"

__ADS_1


"hari ini lima." Ucap Nadia.


"banyak banget." Ucap Pak Syahdan sambil menyiapkan.


"lagi ada saudara yang datang." Jawab Nadia yang tak memperdulikan Syahrul.


Seperti biasa Syahrul membantu disamping bapak. Nadia menunggu dengan menundukkan pandangannya. Sesekali ia mengangkat dan menemukan Ainun yang sedang memperhatikan Syahrul. Dan yang terakhir kalinya, tatapannya beradu dengan Ainun yang sedang memperhatikannya.


"nah, nih sudah." Ucap Pak Syahdan sambil memberikan.


"makasih, ya, pak." Ucap Nadia sambil memberikan uang.


"Assalamu'alaikum."


"wa'alaikumussalam."


"pak, syahrul tinggal sebentar." Bisik Syahrul yang langsung berlari.


"syahrul." Teriak Ainun yang mencoba menghentikan.


"silahkan dilanjut makannya." Ucap Pak Syahdan.


Syahrul mengejar langkah Nadia yang terbilang cepat. Tanpa panggilan untuk menghentikannya, Syahrul langsung menghadang dihadapan Nadia. Nadia terkejut saat mengangkat pandangannya. Matanya saling bertatapan, langkah kakinya berhenti bersamaan.


"nad.." Ucapnya dengan nafas yang terdengar.


"kamu lari ?" Tanya Nadia.


"nad, dengerin penjelasan aku." Ucap Syahrul.


"aku sama ainun.. "


"syahrul.. " Ucap Nadia, menyelak.


"aku ngga ada hak apapun untuk tau urusan pribadi kamu." Ucap Nadia.


"kamu ngga berhutang penjelasan apapun kepadaku." Lanjutnya yang langsung berjalan, meninggalkan.


Syahrul menghela nafas sambil mengusap wajahnya dan menatap kepergian Nadia. Ia berjalan untuk kembali kerumahnya dan masih mendapati Ainun disana.


"syahrul." Sapanya.


"kamu belum pergi ?" Tanyanya.


"aku.. mhh.. aku masih ada yang harus aku bicarakan sama kamu." Jelasnya.


Syahrul melihat jam yang melingkar ditangannya.


"keadaan ku lagi kurang baik. Aku juga harus berangkat kerja." Ucap Syahrul.


"kamu sudah dapat kerja ?" Tanya Ainun dengan bahagia.


"ya.."


"papa pasti senang dengarnya. Papa pasti akan setuju sama hubungan kita, syahrul." Ucapnya.


Syahrul menatapnya tajam penuh kemarahan. Entah perasaan seperti apa yang menyelimutinya saat ini. Tapi rasanya sangat kesal, perasaan bukan sesuatu yang bisa dimainkan. Dibuang jika tidak diinginkan, diminta kembali jika diharapkan. Bahkan menghilangkannya pun masi tetap meninggalkan bekas didalam ingatan.

__ADS_1


"ainun. Aku minta sekarang kamu pulang. Jangan pernah membicarakan ini lagi jika bertemu denganku." Tegasnya.


"silahkan." Ucap Syahrul mempersilahkan Ainun untuk keluar.


"tapi.. syahrul..."


Syahrul melangkah semakin dalam dan menghilang dibalik tirai. Tak ada rasa yang tersisa lagi sejak ia tekadkan hati untuk satu nama yang akan ia perjuangkan jika takdir berpihak padanya. Nadia adalah obat penyembuh bagi syahrul yang terluka pada saat itu.


Bukan tidak mungkin dirinya kembali dengan Ainun. Segala kemungkinan telah Syahrul fikirkan jika ia mimilih untuk tetap bersama dengan Ainun. Perbedaan harta yang dimilikinya orang tua mereka sangat jauh berbeda. Ainun telah hidup dengan layak dan enak, sedangkan Syahrul harus berjuang sejak ia mengerti tentang kehidupan.


Orang tua mana yang akan membiarkan anaknya hidup dengan lelaki sepertinya, yang dianggap tak mampu membiayai kehidupan hari-hari bersama dengan sang putri. Kini Syahrul tersadar untuk mencari wanita yang akan menghormatinya dan keluarga yang akan menghargainya. Dia lelaki yang tak ingin diragukan kepemimpinan dan tanggung jawabnya.


Bukan benci, namun ketegasan yang harus Syahrul tunjukkan kepada Ainun. Agar Ainun mengerti tak ada harapan yang Syahrul berikan kepadanya.


Nadia bersiap dengan sepeda motornya untuk mengunjungi Salwa dirumahnya. Dengan menggunakan helm sebagai pengaman, Nadia berangkat menuju rumah Salwa.


"Mba nadia." Sapa Liya yang sedang menyapu halaman.


"eh, liya." Balasnya sambil melepas helm.


"Salwa ada ngga ya dirumah ?" Tanya Nadia, mendekat.


"mhh.. "


"salwa sudah berangkat kerja." Jawab Asyam yang tiba-tiba keluar dari rumah.


"yaah.. "


"ada perlu apa ?" Tanya Asyam.


"mau titip laporan sih, dia kan jarang dateng. Katanya kalau ada perlu kerumah aja, dia biasa ngerjain laporan dirumah." Jelas Nadia.


"biar nanti saya yang berikan." Ucap Asyam sambil mengulurkan tangan, meminta map yang dipegang Nadia.


"makasi ya, bang asyam." Ucap Nadia.


"ini laporan untuk pembukaan gedung baru kan?" Tanya Asyam.


"iya." Jawab Nadia.


"yasudah, nanti saya sampaikan." Ucap Asyam.


"aku pamit ya. Assalamu'alaikum. " Ucap Nadia kepada Asyam dan Liya.


"wa'alaikumussalam."


"ada apa ya dengan mas asyam, tumben-tumbenan mau berurusan sama mba salwa. Ah sudahlah biar jadi urusan mereka saja." Batin Liya sambil melihat Asyam yang kembali masuk kedalam rumah.


.


.


.


.


......~Bersambung~......

__ADS_1


__ADS_2