
Pagi hari yang menjadi pagi terakhir dikota jogja. Sarapan menjadi tempat pertama mereka untuk berkumpul, sebelum nanti menghabiskan waktu untuk menjelajah pernak-pernik cantik kota jogja sambil menunggu panggilan pulang menuju jakarta.
Jogja, menjadi kota yang menyimpan banyak rasa dan cerita. Menjadi saksi atas rasa bahagia dan menampung segala tetes air mata kesedihan yang dirasa. Bukan hanya liburan dengan penuh kesenangan, tapi menyangkut banyak hal pribadi didalamnya. Jogja, yang kelak jika kembali bertemu denganmu, Semua kenangan akan kembali terulang dalam ingatan.
"habis ini, kita jalan-jalan cari souvenir..."
“oleh-oleh, bang ihsan. Souvenir, emang mau nikahan.” Ledek Zidan yang memotong pembicaraan Ihsan.
Ihsan tersenyum malu.
“baik-baik, ralat. Kita cari oleh-oleh. Oh iya, insya allah nanti ka silvi juga mau berkunjung kesini sebelum kita pulang ke Jakarta.” Jelas Ihsan.
Saat yang lain bersiap untuk berburu oleh – oleh. Asyam berinisiatif menghampiri Ihsan. Sikap yang dirasanya kurang baik saat di masjid saat itu, masih mengganggu fikirannya. Memang bukan sepenuhnya kesalahan Ihsan, memang tak ada yang tahu tentang takdir yang telah ditetapkan-Nya. Rejeki, jodoh, maut, hanya Allah yang tahu. Dirinya pun telah berjanji, akan menerima jika lelaki yang melamar Asma adalah lelaki yang lebih baik daripada dirinya. Memang Ihsan-lah yang lebih pantas mendampingi Asma daripada dirinya. Berat, memang berta menerima kenyataan. Sulit baginya untuk jatuh cinta, sulit menemukan gadis yang sesuai dengan kenyamanan hatinya. Sekali ditemukan, malah lebih dulu diambil orang. Terlebih, orang itu adalah sahabatnya sendiri yang tahu tentang isi hatinya.
Ikhlas adalah kata terbaik, Ikhlas adalah cara terbaik untuk menerima. Tali persahabatan tidak boleh terputus hanya karena cinta seorang gadis.
“san..” Sapanya.
Ihsan mengangkat pandangannya dan meletakkan handphone yang sedang dilihatnya di atas meja.
“boleh aku duduk ?” Tanyanya.
“silahkan.” Sahut Ihsan.
“san, aku .. ekhemm.. aku mau meminta maaf atas kejadian di masjid hari lalu. Aku tidak bisa mengendalikan amarahku saat itu.” Tegas Asyam.
“sudahlah, aku tau perasaanmu. Aku tau ini bukan hal yang mudah. Sebelum kau marah, akupun sudah marah terhadap diriku sendiri. Aku bingung, kesal, gelisah, rasanya campur aduk setelah abi melamar asma untukku.” Jelas Ihsan.
“aku juga memikirkan perasaan asma, aku juga memikirkan perasaanmu, aku memikirkan bagaimana harus memberitahukannya padamu.” Lanjutnya.
“benar kata asma, san. Kalau pun bukan kita yang merencanakan, Allah pasti telah dulu merencanakan semua. Kamu pantas mendapatkannya dan dia pun pantas mendapatkanmu. Aku sudah berjanji tidak akan marah jika lelaki yang melamarnya adalah lelaki yang lebiih baik dari diriku.” Jelas Asyam.
“aku sedang berusaha menerimanya dengan ikhlas, san. Menerima keputusan Allah yang tak sesuai dari apa yang aku rencanakan.” Ucap Asyam dan langsung memeluk Ihsan.
“semoga Allah mempermudah pernikahan mu, san.” Ucap Asyam.
__ADS_1
“aamiin .. aamiin .. terima kasih, syam. Semoga Allah segera mempertemukanmu dengan gadis yang terbaik untukmu.” Ucap Ihsan.
“bang ihsan..” Sapa seorang gadis.
“ehh.. asma.” Ucap Asyam, gugup.
“syam, aku sama asma mau lihat-lihat souvenir. Kamu mau ikut ?” Tanya Ihsan.
Asyam terlihat berfikir.
“bang asyam, liya dan nuha…”
“ya, saya ajak mereka. Sebentar saya akan hubungi.” Ucap Asyam yang masih gugup menghadapi Asma.
Nadia, Salwa dan kirei hanyut dalam keseruan berbelanja. Memilih, bercanda, berfoto dan semacamnya. Mereka habiskan dengan tawa ceria. Zidan dan Syahrul ikut asik bersama mereka. Perasaan bahagiapun dirasa oleh insan yang sedang jatuh cinta. Banyak waktu yang dihabiskan bersama, satu hari mendampingi dan melihat senyum yang merekah dibibirnya. Nadia, memang gadis yang dewasa, mandiri dan cerdas. Apalah dayanya jika harus maju melamar dengan dirinya yang belum punya apa-apa. Rahasia hati masih tersimpan dan rasa masih tertata rapih. Tangga-tangga doa masih menjulang, menuju Sang Maha Kuasa. Apalah dirinya Tanya campur tangan dari-Nya.
“abang , lihat deh..” Ucap Asma menunjukkan sebuah tasbih dengan wajah yang gembira.
Asma dan Ihsan memang sedang berjalan-jalan di pinggir toko yang berjajar panjang. Asyam pun ada bersamanya, dengan Liya dan juga Nuha. Dengan lembut Asma menggandeng tangan Nuha, penuh kasih sayang. Asma melihat toko khimar didepannya, dibawanya Nuha menuju kesana.
“saya lihat-lihat dulu ya, mba.” Ucap Asma dengan ramah.
“silahkan, mba.” Balas penjaga itu.
Asma pun melangkah semakin dalam, memasuki toko. Liya yang juga ikut bersamanya, mengikut dibelakang.
“nuha suka kerudung yang mana ? nanti mba asma belikan. Nuha pilih ya..” Ucap Asma sambil merunduk sejejar dengan Nuha.
“liya, aku mau cari pakaian. Kamu temenin nuha ya, kamu pilih juga kalau ada yang kamu mau ya.” Jelas Asma dengan senyum dan meninggalkan.
Selesai memilih-milih pakaian, Asma keluar membawa plastik belanjaan. Nuha yang melihat Asyam mendekat kepadanya, langsung berlari sambil menenteng plastik belanjaannya.
"mas asyaaam..." Teriaknya sambil berlari dengan gembira.
Asyam menyambutnya dengan pelukan.
__ADS_1
"nuha dibelikan kerudung sama mba asma. Mba liya juga." Jelasnya dengan senyum yang merekah.
"ini buat bang asyam, dan ini buat bang ihsan." Ucap Asma sambil memberikan bingkisan kepada masing-masing.
"waah alhamdulillah, saya kebagian juga nih." Ucap Asyam melihat isi didalamnya.
"iya donk, semoga cocok ya." Balas Asma.
"abang suka tasbih yang tadi ?" Tanya Asma.
"kita cari yang lain saja yuk." Ucap Ihsan.
"yuk.." Balas Asma dengan senyuman.
Pukul 14.00 , Silvi dan suami telah menunggu di ruang tunggu penginapan. Bersama Salva dan Silvia yang membawa dus di tangan masing-masing. Rey yang kini mendampingi Silvi adalah teman sekolah saat Silvi berada di desa. Kembali dipertemukan di akun sosial media. Dengan kemantapan hati, Rey berkunjung kerumah Silvi di jakarta untuk bertemu dengan orang tua Silvi. Mesra, kata yang menggambarkan kedua insan yang sedang dimabuk asmara. Wajah yang berseri, senyum yang merekah dan genggaman tangan yang tak terlewatkan.
"Assalamuálaikum, ka silvi." ucap Asma yang menghampiri dengan tas ransel dan jaket di lengannya.
"wa'alaikumussalam.."
Mereka bersalaman dan berpelukan satu per satu, khusus para perempuan.
"asma, bang ihsan sama temen-temen semua , makasih yaa udah dateng ke acara nikahan kaka. Makasih juga udah jadi temen-temen kaka di jakarta. Ka silvi cuma bisa kasih kalian oleh-oleh sama ada sedikit hadiah buat kalian ya." Ucap Ka Silvi sambil memberikan 3 dus kepada Ihsan.
"sama-sama nih, ka silvi. Kita juga bersyukur bisa ketemu ka silvi di jakarta, bisa bergabung mengemban dakwah. Semoga tetap semangat berdakwah dimanapun kaki berpijak ya, ka." Ucap Ihsan.
"aamiin.."
"ka, kita pamit yaa, keretanya berangkat jam 4. sampai ketemu lagi ya ka.." ucap Asma memeluk Silvi.
Semua berpamitan dan mulai melangkahkan kaki menuju stasiun. Bangku telah diatur. Perjalanan menjadi hal yang menyenangkan dalam menunggu. Semua asik pada kesibukannya masing-masing. Kereta tujuan Jakarta menjadi penutup lembaran cerita di kota Jogyakarta. Segala rasa tertinggal didalamnya. mungkin akan kembali dirasa, saat memory memutar ulang dalam ingatan.
Terima kasih Jogja telah menjadi saksi atas segala cerita.
Jakarta, akan melukis cerita baru muda-mudi dalam cinta. Berbagai rasa tentu akan ada didalamnya.
__ADS_1
Bersambung ....