
issani sudah pulang sekolah dia sedang tiduran di sofa sambil menonton TV.
Ding dong anggap saja suara bel rumah yah reader π€
"siapa yah" issani beranjak dari tidurannya dan hendak membuka pintu namun dicegah Marissa.
"biar mommy yang buka sayang.." ucap Marissa datang dari arah tangga yang tidak membiarkan issani membuka pintu, menurut nya kasihan putri nya baru pulang sekolah.
ding dong suara bel rumah berbunyi lagi
ceklek
"cari siapa yah" tanya Marissa pada seseorang yang membelakanginya.
"saya mencari putri saya" orang itu bicara sambil membalikkan badannya.
deg
"apa itu ayah nya issa, aku harus gimana dirumah hanya ada aku" batin Marissa ketakutan .
"nyonya apa kau tidak akan mempersilahkan tamu mu untuk masuk" suara arlan begitu dingin sehingga membangunkan Marissa dari lamunannya.
"si.. silahkan ma.. masuk" Arlan tanpa banyak aba-aba masuk ke dalam rumah yang bak istana itu, rumahnya kalah saing dengan rumah yang sedang dia pijak sekarang, dimana ada Arlan disana ada sandi, sandi pun ikut masuk dibelakang sang bos.
"si.. silahkan duduk" Marissa gugup harus bagaimana, issani yang melihat ada tamu pun melihat dari arah TV ruang tamu satunya lagi, di rumah issani ada 2 ruang tamu yah reader biasa lah orang tajir melintir π, issani pun menghampiri mommy Marissa.
"mommy siapa yang datang, kenapa tidak dikasih minum"
deg mata Arlan langsung beralih pada seorang gadis cantik yang baru saja menghampiri mereka, wajah itu yang sudah lama tidak ia lihat lagi, wajah yang sering kali menangis meminta pelukan dari nya, Wajah yang ia paling benci diantara anaknya namun paling ia rindukan diantara anaknya, namun ego menutupi semuanya, mobil cantik ditutupi debu itulah yang cocok disematkan padanya.
"sayang kenapa kesini kamu baru pulang sekolah kamu pasti cape hmm" ucap Marissa lembut.
"mommy issa sudah tidak lelah kok, mommy kenapa tidak ambil minum, yasudah biar issa saja"
"tidak sayang biar bibi yang bawakan minuman, bibi tolong bawakan minuman dan camilan " teriak Marissa
"iya nyonya "respon bibi yang berada di dapur.
ekhemm de.heman Arlan berhasil menghentikan obrolan ibu dan anak.
"siang nona muda" sapa sandi yang senang bisa melihat gadis imut dan membuat dia jantungan dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya, masih jelas bayangan di mana dia dibuat mati kutu oleh gadis di hadapannya.
"nona muda maksud tuan apa, mommy apa mereka anak buah Daddy"
"astaga apa dia tidak bisa melihat penampilan kami, apa tidak jelas baju bermerek milik bos"
"em sayang mereka bu.bukan anak buah Daddy,tapi mereka..."
"aku ayah mu, apa kau tidak mengingat aku lagi" potong Arlan.
deg Marissa menutup matanya dia belum siap kehilangan issani, sedangkan issani mematung mendengar ucapan arlan.
"a.apa dia ayah ku yang Daddy maksud ". bibi datang membawa minuman dan camilan, namun issani masih mematung.
"aku kesini ingin menjemput mu Melissa" issani hanya diam.
"kenapa hanya diam, ayo ikut aku kita pulang ke rumah kita"
"mommy kepala issa pusing, si.siapa dia, apakah yang dia ucapkan memang benar, apakah dia yang dimaksud Daddy" tanya issani yang memegangi kepalanya, mengingat kata "ayah" membuat kepalanya pusing.
"astaga sayang ayo duduk" Marissa panik
mommy kepala issa pusing sakit " rengek issani.
"hiks mom sakit..."
"nona muda..."
__ADS_1
tes air mata issani keluar kepalanya benar-benar pusing dan sakit.
tup Sura mata issani tertutup.
"astaga sayang- sayang bangun, astaga sayang bangun hiks, tuan tolong bantu bawakan issani ke kamar" sandi dengan gercep/ gerak cepat mengangkat tubuh issani.
"dimana kamarnya nyonya.."
"ayo ikuti saya..." Marissa menuntun sandi membawa dia ke kamar Putri kesayangannya, sesampai di kamar sandi membaringkan issani.
" apa yang terjadi pada putri ku, mengapa dia aneh sekali, biasanya saat dia melihat ku selalu mau memeluk ku"
"tuan saya tinggal sebentar saya titip issani, saya ingin menelpon dokter dulu" Marissa keluar kamar menelpon dokter, dan tak lupa juga menelpon sang suami dan putra nya, tidak butuh waktu yang lama suara mobil terparkir membuat Marissa jika mereka sudah berada dihalaman rumahnya.
tiga mobil parkir di depan rumah mewah itu, Hadi,vano dan dokter, mereka turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah, mereka langsung ke kamar issani.
"honey apa yang terjadi pada putri kita "
"mommy issa kenapa ". tanya Hadi dan vano berbarengan, Marissa yang memang sudah menunggu kedatangan suaminya langsung memeluk suaminya, dia takut dan cemas, takut putrinya diambil arlan dan cemas dengan keadaan issani yang tiba-tiba pingsan.
"mas issa apa dia akan meninggalkan kita..."lirih Marissa di pelukan Hadi.
"semuanya sudah dibicarakan honey... jadi tidak perlu takut, kau tadi mendengarkan apa kata putri kita kan"
"tapi aku masih takut mas..aku belum siap berbagi dan bagaimana jika keluarga kandung nya tidak mau berbagi..."
"nanti kita pikirkan itu sebaiknya yang kita pikirkan sekarang keadaan putri Kita honey..."sementara Hadi dan Marissa berpelukan, vano sudah duduk disisi ranjang issani menatap bengis pada Arlan, dia sudah mengetahui maksud kedatangan Arlan, dan dia juga sudah mengetahui keputusan sang adik...dia tidak rela berbagi tapi dia juga tidak bisa membatah sang adik.
dokter memeriksa keadaan issani dan menghela nafas.
"bagaimana keadaan adik saya dok..."tanya vano yang sudah melihat dokter selesai memeriksa adiknya.
"sepertinya adik tuan sudah mulai mengingat kejadian dimasa lalu nya atau lebih jelasnya mendapatkan ingatan nya kembali, walaupun belum jelas apa pasien sudah mendapatkan ingatan nya secara permanen atau belum, kita lihat setelah pasien sadar..."
"apa nona mudah hilang ingatan..."
"putri ku hilang ingatan...apa mungkin karena..."
"ah sakit... dimana aku mengapa ruangannya begitu gelap sebenarnya aku dimana.
tak suara mata issani terbuka secara cepat, dia terbangun dari mimpi buruknya, keluar dari tempat yang memperlihatkan semua kejadian yang pernah dia alami.
"kau sudah bangun issa..." ucap lembut vano.
"kak vano..."
grepp
"kak issa takut...issa Melihat kejadian-kejadian aneh issa takut..."
"kenapa harus takut sayang disini ada Kakak hm...."
"dokter tolong periksa adik saya ...."
"ayo sayang berbaring dulu biar dokter memeriksa keadaan mu..."
"tapi... "
"disini ada kakak yang menemani mu..." dokter memeriksa kembali issani.
"apa kepala nya masih sakit... apa mengingat sesuatu..."
"iya dok.." dokter menghela nafas dan tersenyum.
"seperti yang telah saya katakan adik tuan mendapatkan ingatan nya kembali..."
deg vano terdiam apa dia harus senang atau sebaliknya, sejujurnya hatinya berharap issani tidak mendapatkan ingatan nya lagi, dia tidak mau issani mengingat kejadian yang buruk yang pernah dia alami, dia takut mental issani rusak.
__ADS_1
.
.
.
.
.
diruang tamu
setelah memeriksa issani dokter pulang dan arlan, sandi, Hadi, dan vano duduk di ruang tamu untuk mendiskusikan sesuatu yang penting sedangkan Marissa menemani issani di kamar.
"kedatangan kami mungkin tuan sudah bisa menebaknya..." sandi memulai percakapan karena dia yakin sang bos tidak akan mau memulai percakapan begitupun sang pemilik rumah.
" kami sekeluarga sudah membahas tentang ini semua, lebih tepatnya issani atau melissa sudah memutuskan keputusan sendiri..." ucap Hadi.
"apa yang dia putuskan..."akhirnya Arlan mengeluarkan suara emasnya, mengapa disebut suara emas? apakah karena suara nya merdu? oh no no no reader bukan karena itu, tapi karena Arlan yang irit bicara jadi author panggil suara emas saja π ., kembali ke topik reader author takut dipelototi Arlan karena sudah mengganggu percakapan mereka π , kembali ke topik.
"dia memutuskan untuk berbagi waktu, tadi pagi dia memutuskan nya, sejujurnya kami tidak setuju tapi jika itu keputusan yang dia ambil maka kami hanya akan menurutinya karena kami lebih takut kehilangan issani seutuhnya..."
"apa yang sedang kau maksud..." suara emas nan berat itu kembali keluar lagi.
"issani mengatakan jika kita tidak mau berbagi waktu mengikuti keinginannya dia tidak akan memilih diantara kita, melainkan dia akan pergi dari kita semua..." Arlan terkekeh apa Hadi seorang pebisnis hebat takut dengan ancaman anak kemarin sore.
"aku tau apa yang sedang kau pikirkan, aku tidak seperti yang kau pikirkan, aku menuruti keinginan nya karena menghormati keputusan yang sudah dia buat, dan bagaimana pun kau orang tua kandungnya, tapi walaupun kau orang tua kandungnya kau harus selalu ingat dengan satu fakta, akulah yang menerima nya dengan lapang dada dan membawanya ke istana dari malapetaka kehancuran yang keluarganya sendiri buat untuk nya..." merah,mata Arlan merah mendengar ucapan Hadi, dia tidak terima ada yang bicara kurang ajar meskipun itu kebenarannya.
"tenang bos... kita tidak boleh gegabah, jika kita salah sedikit pun mengambil jalan maka kita akan kehilangan nona muda, tidak sedikit kemungkinan nona muda tidak mau tinggal bersama kita jika kita melakukan kekerasan " bisik sandi menenangkan bos nya.
"sebaiknya kau menghargai keputusan Adik ku paman, belajarlah dari kesalahan jangan selalu egois dan melakukan kekerasan, tidak semua yang kau inginkan harus selalu kau dapatkan..." senyum mengejek vano yang dari tadi diam pun keluar juga.
penghinaan semua penghinaan, Arlan tidak menerima diperlakukan seperti ini, apalagi di ejek oleh anak kemarin sore seperti vano, dia marah dia hendak mengambil pestol mengarahkan pada mulut anak kemarin sore yang berani menyuruh nya untuk belajar dari kesalahan, lebih tepatnya menasehati sekaligus mengejeknya yang mana telah menginjak kehormatan sang Arlan si mafia, namun sebelum semua itu terjadi pergerakannya terhenti saat seorang gadis cantik menuruni tangga.
"tidak semua yang kau inginkan harus selalu kau dapatkan ayah, semuanya tidak harus seperti itu... setiap orang memiliki keputusan sendiri dan berhak memutuskan yang dia inginkan..."mulut kecil mungil itu terbuka membuat arlan berhenti dari aktivitas mengambil pestol nya .
"jika kau tidak menerima keputusan ku, sebaiknya kau pergi dari sini, dan jangan pernah kembali lagi, kau tidak berhak memaksa ku untuk menuruti keinginan mu, disini orang tua ku bukan hanya kau saja, jadi aku tidak bisa bersikap menuruti semua keinginan mu aku juga harus menuruti keinginan orang tua ku yang lain..."lanjut nya, Arlan terpaku dengan mulut itu, mulut yang selalu senantiasa meminta pelukan padanya kini berbicara selayaknya bukan mulut yang sering meminta pelukan padanya.
"astaga apa ini benar nona muda, mendapatkan keberanian dari mana dia..."
"jika ayah menginginkan ku pulang maka kau harus menuruti keinginan ku, jika tidak mau menuruti keinginan ku ayah bisa pulang sekarang tanpa ku, akan dengan senang hati aku tinggal di rumah ini yang bisa selalu menghargai ku dan menerima keputusan ku ..." hening dan hening semua orang tidak ada yang bicara Hadi, Marissa yang juga ikut kebawa dengan issani pun diam, begitu pun sandi, arlan dan vano yang terpukau dengan ucapan sang adik .
"ternyata adik ku bisa bersikap dewasa yah, ku pikir dia cuman bisa bersikap manja hahaha adik ku ternyata sudah dewasa..." batin vano yang sudah mulai di mode aneh bin Matak lier author π astaghfirullah ini si babang vano tidak bisa melihat situasi π ini sedang berada di mode serius babang vano kasepπ kembali ke topik ah babang vanoπ .
"pulang lah mama mu merindukan mu..."ucap lembut Arlan yang pertama kali didengar issani.
"aku akan pulang jika ayah menyetujui keinginan ku, aku tidak bisa terus tinggal disana aku juga masih mempunyai keluarga yang lain.."
"jika itu bisa membuat mu pulang, aku akan menuruti keinginan mu, putri kecil ku" ucap Arlan semakin lembut, semua orang mematung, apa itu benar Arlan si mafia dingin dan kejam, Arlan merentangkan kedua tangannya meminta issani memeluknya, issani yang mengerti pun memeluknya, sejahat dan se.bejat apapun sikap Arlan dia tetap orang tua nya, dia tetap menginginkan pelukan dari Arlan.
"maafkan ayah sayang maaf..."lirih arlan memeluk putri nya yang selama ini selalu dia perlakukan tidak adil dan kejam, issani hanya diam ternyata rasa nya nyaman banget berada di pelukan sang ayah, suasana haru pun terjadi, melihat seorang anak dan ayah yang sedang berpelukan setelah sekian lama anak yang tidak diakui akhirnya diakui juga,namun di tengah suasana haru tersebut dikacaukan oleh vano.
"ini tidak adil issa.."semua mata tertuju pada vano, semua orang menerka-nerka mungkin vano tidak setuju jika issani kembali kesana, issani pun melepaskan pelukannya dan melirik sang kakak dan bertanya.
"apanya yang tidak adil kak ..."
"iya ini semua tidak adil... bukan hanya om arlan saja yang mau dipeluk aku juga mau issa, kau ini bagaimana selama dua hari ini kau tidak memeluk kakak mu ini dan meminta jatah oleh-oleh yang selalu kakak bawa dari kantor..."
glukk konyol dan aneh yang mereka katakan untuk vano namun itulah vano kakaknya issani, vano merentangkan kedua tangannya issani langsung berhamburan memeluk vano tidak dipungkiri dia merindukan pelukan sang kakak dan juga merindukan oleh-oleh pulang kantor dari sang kakak hehehe.
semua orang menggelengkan kepalanya, terkecuali Arlan yang hanya sedikit tersenyum melihat keakraban issani dan kakak angkat nya, hatinya sakit melihat anaknya lebih dekat dengan kakak angkatnya dari pada kakak kandungnya, walaupun itu semua salah nya namun rasa itu tetap menghampiri hatinya yang sudah mulai mencair, padahal kenyataannya tidak seperti itu semua kakak kandung issani dekat dengan issani, seperti issani dan vano, begitu pun dengan kakak-kakak kandungnya, hanya saja Arlan saja yang tidak mengetahuinya.
.
.
.
__ADS_1
.
bersambung ;)