
"aku tau semua itu...tapi tidak sepantasnya kau sepeti itu... membenci seseorang yang tidak bersalah... itu bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan... jika kau memang menginginkan kau berusahalah bukan malah membenci seseorang yang tidak tau apa-apa... " batin seseorang sambil melirik listiani dengan ekor matanya.
"adik dimana kak gitani..."ucap listiani.
"kak tani dari tadi belum kesini... mungkin belum pulang dari kampus..." listiani mengangguk sambil melihat interaksi kedua saudaranya.
"permisi nona muda... Sekarang sudah waktunya nona muda minum obat sekaligus pemeriksaan...apa nona sudah boleh pulang atau tidak...mari kita ke ruangan nona muda lagi..." ucap suster yang mencari keberadaan sang anak dari pemilik rumah sakit.
"ck bibi suster namaku issani bukan nona muda..." kesal lisa.
"sudahlah issa cepat ikut suster ya..."
"yasudah...ayo bibi suster..." suster tersebut langsung mendorong kursi roda lisa.
keadaan menjadi hening setelah kepergian lisa, hanya dentuman jam yang terus berbunyi menggantikan kesunyian.namun mata listiani terus melirik ke arah jeassen yang memejamkan matanya.
"bicaralah...apa yang ingin kau katakan..." ucap jeassen yang masih menutup matanya, hingga membuat listiani menghela nafas.
"aku...aku tidak percaya dengan semua ini...apa ini semua hanya mimpi..." jeassen tidak menjawab membiarkan listiani untuk meneruskan ucapannya.
"a...apa be...nar...kau.. kakak ku..." suara listiani mulai bergetar, jeassen membuka matanya dan berusaha mendudukkan bokong nya.
"a...ku...a..k..u..me..ncintai...mu.. sebagai... seorang gadis...p...pa..da...la... lawan je... jenisnya.... bukan... sebagai k..Ka.. kakak...hiks..." jeassen masih belum menjawab seolah tidak mau membahas sesuatu yang menurutnya tidak penting membuat tangisan listiani semakin kencang.
"a...ku..tau...ini semua salah... hiks aku tau dari awal pun kau tak menyukai ku sebagai jenis lawan mu.... apa itu... karena kita bersaudara.... hiks apa itu benar... jika kau tau kita saudara mengapa selama ini kau hanya diam saja...hiks kau sama saja menyiksaku... dengan perasaan ini... dan jika benar kita saudara kenapa kau membenciku tidak seperti kau menyayangi lisa...hiks apa salah ku jeassen apa...aku hanya ingin kasih sayang mu...apa sebegitu sulit nya kau memberikannya pada ku..." Isak tangis listiani jeassen menghela nafasnya.
"bagiamana aku bisa mencintai mu sebagai kekasih ku... dan bagaimana ku bisa menyayangi mu sebagai saudari ku... jika saja kau yang menyebabkan aku terpisah dari orang tua ku... karena kehadiran mu aku tak dianggap... karena kehadiran mu adik yang terkena imbas dari kemarahan ayah...walaupun ku tau kau tak tau apa-apa tapi tetap saja aku benci padamu.. listiani arespati...anak angkat orang tuaku..." batin jeassen.
"mengapa jeassen kau tidak bisa menerima ku sebagai kekasih mu... dan kau juga tidak bisa menerima ku sebagai adik mu mengapa jeassen....salah ku apa...hiks coba kau jelaskan dimana letak kesalahan ku.. sehingga dari pertama kali kita bertemu kau tidak pernah suka padaku....hiks..."
"berhenti menangis... jika mama melihatnya aku yang akan terkena pertanyaan mengapa kau menangis..."
"a..ku..."
"berhentilah menangis listiani..."potong jeassen sedikit melunakkan nada bicaranya.
__ADS_1
"hiks... maafkan aku ...aku tidak bisa mengendalik..."
"cepat kemari..."potong jeassen sedikit memaksakan tersenyum, listiani yang melihatnya pun terpesona dan secara tidak sadar mendekat mengikuti arahan jeassen yang menyuruhnya untuk mendekat.
listiani duduk mendekat jeassen mengusap rambut listiani.
"kau tau...kau itu seorang kakek ani...kau tak sepantasnya membenci atau iri pada adik mu sendiri... berjanjilah tidak akan menyakiti nya lagi...kau kakak nya kewajiban mu menjaganya seperti yang ku lakukan bukan menyakiti nya...paham..." listiani hanya bisa mengangguk sungguh dia terpesona melihat jeassen bicara lembut padanya, seumur hidupnya dia tidak menyangka jeassen akan selembut ini padanya.
"pergilah istirahat dan makan...aku tau kau belum makan..."
"aku su..."
kuruyukkk suara perut listiani membuat ucapannya terpotong dan merasa malu.
jeassen terkekeh melihat wajah listiani yang bersemu merah bak kepiting rebus.
"sekarang makanlah dan ingat kata-kata ku ani... tanggung jawab mu untuk menjaga lisa bukan menyakiti nya paham..."
"i... iya jea...mmm kak.." ucap listiani terbata hatinya nyeri harus memanggil jeassen dengan panggilan kakak.
"apa kau tidak mendengarkan kata-kata ku listiani..." ucap jeassen yang risih dengan tatapan memuja miliki listiani.
"eh.."
"kenapa hmm..." ucap jeassen lagi yang terkeheh lagi melihat listiani kikuk, kalau dilihat-lihat ternyata listiani lucu juga Jika dia sedang menjadi penurut pikir jeassen.
"tidak kenapa-kenapa.... yasudah aku..eh mmm...ani mau ke kantin dulu kak jeassen baik-baik disini..." tanpa melihat lagi ke belakang listiani cepat-cepat berjalan rasanya dia malu, diperlukan seperti ini oleh jeassen, hehehe dia sebenarnya suka jika jeassen memperlakukan ini, rasanya hatinya berbunga-bunga tapi dia juga malu karena belum terbiasa atau karena dia menyukai jeassen sebagai gadis ke lawan n jenisnya.
muka Jeassen langsung datar lagi setelah kepergian listiani.
"jika sekali lagi kau menyakiti adik ku ... jangan harap kau melihat mentari lagi listiani..."
.
.
__ADS_1
.
"oh my God jantung ku rasanya mau copot...aaa dia memperlakukan ku seperti ini...mmm apa rasanya sesenang ini saat kita mendapatkan apa yang kita inginkan..." listiani terus tersenyum menuju kantin rumah sakit, dia memang mengatakan sudah makan padahal aslinya belum, semenjak kejadian kecelakaan itu dia jadi aneh, hatinya diliput penyesalan, tapi rasa bencinya pada lisa tetap saja belum hilang walaupun dia merasakan penyesalan, melihat darah yang mengalir, kepala dan kaki lisa yang di perban, jauh dari lubuk hatinya dia menjerit menyalahkan diri sendiri, sampai dia kehilangan selera untuk makan atau bersenang-senang seperti biasanya.
"apa kata dia tadi ... tanggung jawab ku menjaga lisa... bagaimana aku bisa menjaganya jika aku sangat membencinya... tapi..."
"apa kalau aku berusaha menjaganya dan menyayanginya...dia akan memperlakukan ku seperti ini terus...apa begitu..." listiani mendudukkan bokong nya karena dia batu sampai.
"nona mu pesan apa..." ucap pelayan Kanti mengagetkan listiani.
"eh..."
"nona mau pesan apa..."pelayan itu mengulangi pertanyaannya lagi.
"aku mau jadi goreng dan es teh manis dingin..."
"baik nona... tunggu sebentar..." listiani mengangguk dan kembali termenung lagi.
"apakah aku harus berusaha berdamai dengan lisa... tapi aku selalu sebal melihat dia rasanya aku ingin mencekiknya... tapi apa aku tega menyakiti nya...saat dia jatuh kemarin saja hati terluka melihat tubuhnya berdarah dan tak sadarkan diri... sebenarnya apa yang terjadi...aaa memusingkan sekali... yasudah lah ikuti saja alur yang tuhan berikan padaku...." menolong listiani memainkan handphonenya.
.
.
.
bersambung
.
.
.
Jangan lupa like komen vote dan masukan ke favorit π€π jangan lupa juga pencet iklan gratis nya yah reader π€ biar author dapat keuntungan π€ tenang itu gak bayar atau pakai Kouta atau sebagainya π€itu gratis jadi jangan lupa pencet atau tonton π€salam sayang dari author π€π.
__ADS_1