
Ding dong ding dong suara bel kediaman Arespati berbunyi,bibi yang kebetulan sedang masak di dapur pun berlari untuk melihat siapa gerangan yang datang.
"iya sebentar..."
ceklek
"eh...non lisa...non lisa sudah sembuh...ayo masuk non... yang lainnya mana non..." ucap bibi membawa lisa untuk duduk di kursi ruang tamu.
"masih di perjalanan bi..."ucap lisa tersenyum hangat.
"kalau nyonya dan tuan masih di perjalanan...kok non lisa sudah disini..."
"mmm itu tadi mobil yang ayah mogok...jadi lisa naik taksi udah gak Kaut mau merebahkan badan bi..." senyum lisa yang langsung di angguki bibi.
"yasudah ayo atu bibi antar non ke kamar..."
"iya bi..." akhirnya mereka ke tangga menunju kamar lisa,tidak berselang lama setelah kepergian mereka datang gitani dan listiani.
"eh non tani dan non ani sudah sampai...mau minum apa non...." tanya bibi yang baru menuruni tangga.
"issa ada disini bi..." tanya gitani yang membuat bibi heran.
"sudah non...bibi baru saja antar non lisa ke kamar..."
"oh yasudah kalau begitu saya ke atas..."
"iya non..."
"bibi bisa ambil ani jus... tenggorokan Ani sakit..."
"siap non ..."senyum ramah bibi yang bahagia melihat sikap no listiani beberapa Minggu ini sangat sopan padanya tidak seperti dulu yang bersikap padanya sesuka hatinya, kalau di ingat-ingat non listiani berubah setelah kecelakaan yang terjadi pada non lisa pikir bibi.
"apa adik mu ada di rumah ani..." ucap arlan yang baru datang bersama dahlia,hadi, marissa dan jeassen yang kebetulan Sampai nya bersamaan.
"ada yah...adik sedang bersama kakak di kamar.
"huh syukurlah jika dia ada disini...untung aku kesini..."ucap lirih Hadi yang tadi sempat bingung harus pulang kemana, apa ke kediamannya atau ke kediaman arlan hanya dua kemungkinan itu lisa berada,dan akhirnya dia memutuskan untuk ikut arlan yang baru keluar dari rumah sakit.
.
.
.
flashback on
"kau masih disini bung..." ucap arlan yang baru ke luar dari rumah sakit dan melihat hadi dan marissa masih berdiri di dekat mobilnya.
"seperti yang kau lihat... kiranya kemana pulang nya putri kita..." ucap hadi.
"mungkin ke rumah ku... karena hari ini bukanya jatah dia tinggal di rumah ku..." ucap arlan berpikir.
"astaga aku lupa tentang itu... yaudah ayo kita ke rumah mu..." ucap Hadi langsung masuk ke mobil dan diikuti mereka.
"tunggu ayah...aku ikut..." ucap jeassen yang baru sampai.
__ADS_1
"ayo masuk boy...." ucap arlan dengan senyuman yang merekah melihat putranya mau ikut dengan nya, tanpa menunggu lama jeassen langsung masuk dan duduk di kursi belakang.
.
.
.
flashback off
.
.
.
"ayo masuk sayangi..." ucap dahlia menggandeng tangan jeassen yang masih berdiri di dekat pintu.
deg
"setelah sekian tahun... akhirnya aku bisa memasuki kediaman ini tempat dimana aku di ciptakan..." batin jeassen.
"dimana bibi..." tanya dahlia pada listiani.
"saya disini nyonya...." ucap bibi yang baru datang.
"tolong ambilkan jus lagi untuk mereka... setelah itu bibi susul saya ke kamar tamu yang paling besar di dekat kamar lisa...." ucap dahlia.
"baik nyonya....ini minumannya non..." ucap bibi.
"setelah minumannya habis kamu ikut susul mama..."
"iya ma..."
"mmm jeng boleh kah aku ke kamar putri kita ...aku ingin melihat keadaan nya..." ucap marissa yang di angguki dahlia, akhirnya para istri menaiki tangga dan disusul listiani yang menghabiskan minumannya dengan 2 kali teguk.
"maafkan orang tua ku bung...aku tau keputusannya membuat mu kecewa..." ucap arlan, membuat Hadi menghela nafas berat.
"aku tidak pernah menyangka jika papa mu akan mengambil keputusan dengan sepihak..."
"aku sudah mengingatkan untuk jangan bersikap seperti itu... tapi ucapan ku tidak di dengar nya..."
"aku sudah menebak.... yang terpenting putri kita tidak setuju..." arlan mengangguk.
"mengapa kau hanya diam saja boy.." tanya arlan mengacak rambut jeassen.
"aku ingin ke kamar issa.. dimana kamarnya..."
"bibi...bisa antar kan dia ke kamar lisa..." ucap arlan.
"baik tuan...mari den..." ucap bibi yang juga kebetulan ingin menyusul dahlia.
"apa cucu ku ada disini..." ucap Sera yang baru datang bersama Abraham dan jeollus
"ada apa kau datang kesini .." ucap dingin Arlan menatap Abraham tidak suka.
__ADS_1
"aku hanya mengikuti istriku..." jawab Abraham tak kalah dingin.
"mengapa kau bicara seperti itu Marlan... dan kau juga... cepat selesaikan masalahnya sekarang Abraham... jika tidak..."
"iya aku akan menyelesaikan nya... kau jangan selalu mengecam ku...ku sudah putuskan untuk mengikuti keinginan cucu-cucu ku saja... terserah mereka mau tinggal dimana...hanya saja mereka sekali-kali harus menemui ku yang tua ini..." ucap abraham melenggang masuk dan duduk di dekat arlan.
"aku tidak suka minta maaf jadi ku harap kau mengerti..." ucap abraham menatap hadi.
"yang terpenting putri ku masih bisa tinggal di rumah ku tuan..." ucap hadi yang mengerti.
"seperti ini kan lebih enak... dan sekarang dimana mantu dan cucu ku..." ucap Sera.
"mama naik ke tangga disana ada 4 kamar... di kamar ke 3 cucu mu sedang berkumpul..." ucap arlan.
"apa kau tidak ingin mengantarkan ku..." ucap Sera menatap tajam arlan.
"ku rasa perempuan sekuat mama tidak perlu diantar... rumah ini juga tidak terlalu besar jadi mama tidak akan tersesat ini bukan kerajaan mama..." ucap arlan yang mendapatkan pelototan mata Sera yang akhirnya menaiki tangga.
"kediaman mu sangat jelek..." ejek abraham.
"jika kau tidak suka kau bisa pulang...lagi pula aku tidak menerima tamu..." ketus arlan.
"kau ..." marah abraham.
"kenapa..."tantang arlan.
"sudahlah bung... bagaimanapun dia orang tua mu..."lerai hadi.
"anak ini memang tidak mempunyai sopan santun... sepertinya aku harus mengangkat satu putra ...biar aku bisa mendapatkan rasa hormat dari putra ku...apa kau mau menjadi putra kedua ku..." ucap abraham menatap hadi yang malah terkekeh.
"aku tidak mau bersaing warisan dengan putra mu itu tuan besar.." kekeh Hadi.
"siapa bilang kau akan bersaing dengan dia..."tunjuk abraham pada arlan.
"aku tidak akan memberikan warisan ku padanya..." sambung nya lagi.
"baik aku mendapatkan warisan mu atau tidak...aku masih bisa menafkahi keluarga ku..." jawab arlan tidak mau kalah.
"mungkin seperti inilah interaksi diantara anak dan ayah ini... melihatnya aku jadi ingat dengan putraku yang nakal ... " batin Hadi mengingat devano.
.
.
.
bersambung
.
.
.
Jangan lupa like komen vote dan masukan ke favorit π€π jangan lupa juga pencet iklan gratis nya yah reader π€ biar author dapat keuntungan π€ tenang itu gak bayar atau pakai Kouta atau sebagainya π€itu gratis jadi jangan lupa pencet atau tonton π€salam sayang dari author π€π.
__ADS_1