
Satu minggu semenjak kecelakaan itu jeassen masih di rawat di rumah sakit, matanya masih betah menutup mata,di luar ruangan pengawal berjajar rapi yang beranggotakan 20 orang yang berganti-ganti sip.
"seminggu sudah keadaan cucuku masih belum membuka matanya....jika sampai besok dia belum membuka matanya...aku akan membawa dia pulang ke Canada... biarkan organisasi kita yang menyembunyikannya...." ucap abraham yang sedang duduk di sofa ruangan rawat jeassen.
"mengapa putera ku bisa mempunyai penyakit aneh seperti ini..." Arlan.
"semuanya terjadi karena kebodohan mu marlan...18 tahun yang lalu kau dengan b*doh nya membiarkan musuh mengganti bayi mu dan menculik anak kandung mu..."
"maaf...aku tau aku memang b*doh...tapi apa sangkutannya dengan penyakit putera ku..." abraham menghela nafas.
"entah apa yang dilakukan musuh...yang jelas saat anak buah menemukanya... keadaan pewaris kita sangat mengenaskan... bibir dan hidung nya terus mengeluarkan darah....kami sudah berusaha mencoba menyembuhkan tapi penyakit aneh itu tidak bisa sembuh begitu saja... penyakit aneh itu akan datang dengan sendirinya dan akan sembuh dengan sendirinya..."
"apa tidak ada penangkalnya..."
"penangkal nya sudah ada...tapi tetap saja tidak bisa menyembuhkan tapi sedikit bisa mengurangi darah-darah itu keluar..."
"hiks...." dahlia menangis mendengarkan cerita papa mertuanya.
"jangan menangis sayang..."Sera memeluk mantu satu-satunya itu dan mengusap-usap punggung dahlia.
"berhentilah menangis menantu... tangisan mu tidak akan membantu apa-apa... Sekarang dimana cucu-cucu perempuan ku..." tanya abraham, sebelum menjawab dahlia menghapus cairan nya terlebih dahulu.
"gitani ke kampus papa... dan untuk lisa dia sedang di taman bersama kakak angkat nya vano..."
"hmm...ada dendam apa putri angkat kalian itu pada cucu bungsu ku..." tanya abraham, arlan menghela nafas lalu menjawab.
"dia hanya merasa iri saja pada saudarinya sendiri..."
"ck...dia bukan saudari nya... saudari nya hanya gitani..."
"walau bagaimanapun dia tetap putri kami ayah..." ucap arlan melirik dahlia yang menundukkan kepalanya, dia tau sang istri nya terluka dengan ucapan abraham yang tidak mau menganggap listiani sebagai cucunya, walaupun listiani bukan keluar dari rahimnya tapi dahlia sangat menyayangi listiani arlan tau itu.
"dia tetap saudari mereka semua..."sambung arlan yang mendapat ketidak setujuaan abraham .
"kalian bisa menganggapnya putri kalian tapi tidak untuk ku...aku tidak akan pernah menganggap dia putri kalian..." sanggah abraham,keadaan hening setelah abraham mengatakan ketidak setujuaan nya.
"kenapa kakek tidak mau menganggap kak Ani sebagai cucu kakek juga..." tanya lisa yang baru masuk bersama vano.
" oh cucu kecil ku...kemana saja hm..." tanya abraham sambil mengelus rambut lisa yang halus sehalus hati author π€£π€ͺ.
"Lisa baru selesai keliling dari taman kakek ..."
"hmm benarkah..." tanya abraham.
"kakek jangan mengalihkan pembicaraan...itu tidak baik..." delik lisa.
"mengalihkan pembicaraan bagaimana..."
"kakek ternyata sudah pikun ya..."ejek lisa.
"apa.... pikun..." beo abraham.
"iya atu... kakek sudah lupa tadi lisa bertanya apa... berati kakek itu sudah pikun..."
"mana ada Kakek pikun..."elak abraham.
"jika begitu coba sebutkan tadi Lisa bertanya apa..."
" itu mudah...kau tadi bertanya kenapa kakek tidak mau menganggap kak Ani sebagai cucu kakek juga... begitu kan pertanyaan nya..."
"oh ternyata kakek tidak pikun..."angguk lisa.
"apa kata kakek juga... kakek itu tidak pikun walaupun sudah cukup umur..."
"ck cukup umur dari mananya... kakek itu bukan cukup umur tapi tua..." ejek lisa.
__ADS_1
"mana ada seperti itu..."sanggah abraham.
"ck kakek narsis banget... tidak mau dibilang tua.. dan karena kakek tidak pikun juga... kakek jawab pertanyaan lisa..."
"eh..."
"kau terjebak dengan ucapan mu sendiri abraham..." kekeh Sera.
"jawab Kakek..."
"hmmm... karena dia sudah membuat kau dan kakak mu celaka cucuku..."
"tapi dia kan cucu kakek juga..." heran lisa.
"dia bu..."
"kami pasti menganggapnya cucu kami sayang..."potong sera.
"tapi kata kakek..."
"dia hanya becanda sayang..."
"nggggg...." lenguh jeassen yang langsung membuat lisa menutup mulutnya lagi yang sudah membuka mulutnya.
"jeassen...." ucap sera langsung berlari ke ranjang jeassen.
"ha...hauusss..."
"kau mau minum sayang...sebentar nenek ambilkan..." Sera langsung membantu jeassen.
"kak vano dorong kursi rodanya ke ranjang kak jeassen..." rengek lisa.
"iya sayang..." vano langsung mendorong kursi rodanya ke arah jeassen.
"kakak..."lirih lisa jeassen langsung meliriknya dengan senyum manis nya.
"bagiamana keadaan issa... justru issa yang harus bertanya bagaimana keadaan kakak...hiks..."
"mengapa kau menangis..."
"Kakak mengapa waktu itu membahayakan nyawa kakak sendiri...hiks bagaimana kalau kakak kenapa-kenapa... seharusnya kakak tidak perlu melakukan itu...hiks..."
"kakak tidak bisa diam saja melihat mu bahaya sa..."
"tapi itu membahayakan nyawa kakak hiks...issa tidak mau Kakak kenapa-kenapa..."
"sudah jangan menangis issani kakak sudah tidak kenapa-kenapa Kan..."
"hiks issa tidak mau kakak kenapa-kenapa ..."
"kakak tidak kenapa-kenapa sa... sudah jangan sedih ya..." lisa mengangguk.
"je... jeassen... putera ku..." lirih dahlia, jeassen langsung meliriknya dengan muka yang tidak bisa dibaca.
"bagaimana keadaan mu sayang...." dahlia melangkah mendekati jeassen.
"aku baik-baik saja m..ma..mama..." jeassen terbata bata.
greppppppp
"hiks maafkan mama sayang... hiks mama baru bisa memelukmu hiks...mama..mama..."
tes cairan bening menetes di pipi jeassen, seumur hidup cairan bening itu baru menetes di pipi jeassen.
"m...ma...mama..."
__ADS_1
"hiks Sayang.... hiks... maafkan mama..." dahlia menangis menangis memeluk erat jeassen begitu pun dengan jeassen, sedingin dan sekuat apapun jeassen dia tetap merindukan pelukan mama nya, pelukan yang selama 18 tahun ini dia rindukan.
Arlan menghampiri dahlia dan jeassen lalu memeluk mereka dengan deraian air mata.
"ini semua salah ayah... maafkan ayah..."
"tidak ada yang bersalah ini semua sudah takdir jeassen ma...yah..." jeassen terus menerus meneteskan air matanya.
"hiks kenapa kalian berpelukan tanpa mengajak issa .."rengek lisa.
"kau pendek duduk di kursi roda...mama bisa ikut berpelukan issa..."
"kata siapa issa pendek..issa tinggi kak vano yang pendek..."
"ck... semua orang tau kau pendek sa...kau anak om arlan yang paling pendek..."
"mana ada..." delik lisa.
"kau selalu tidak mau mengaku issa...ck kau benar-benar adik yang paling menyebalkan..." dengus vano.
"jika lisa adik yang paling menyebalkan mengapa kak vano terus jaga issa sampai tidak mau masuk kerja..."
"i...itu...itu..."
"hahaha kak vano tidak bisa jawab kan... Sekarang kak vano mending berangkat kerja... dan bawa banyak pulang hadiah untuk issa..."
"ck kau memang benar-benar adik matre issani..."kesal vano.
"issa bukan matre tapi memeras kakak saja... sayang sekali uang Kakak banyak tapi tidak ada yang menghabiskan... karena walaupun kak vano sudah tua masih belum punya istri yang akan banyak menghabiskan uang... atau jangan-jangan kak vano tidak nor..."
"kau...aku normal jaga ucapan mu itu adik matre..."
"ini mulut issa jadi suka-suka issa dong mau bicara apapun..." dengus lisa.
"kau selalu saja menjawab...apa mulut mu tidak lelah terus mengoceh dari tadi semenjak masih di taman... menanyakan ini itu..."
"suruhan siapa juga kak vano ngajak issa ke taman..."
"hey kapan aku mengajak mu ke taman... bukannya kau yang meminta untuk diantar ke taman..."
"mana ada seperti itu..."
"ada"
"tidak "
"ada..."
"tidak.." lisa dan vano terus berdebat menghancurkan suasana yang berawal sedih menjadi suasana banyak helaan nafas, sungguh jika dua anak ini sudah bersama keadaan tidak akan jauh dengan perdebatan.
.
.
.
.
bersambung
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like komen vote dan masukan ke favorit π€π jangan lupa juga pencet iklan gratis nya yah reader π€ biar author dapat keuntungan π€ tenang itu gak bayar atau pakai Kouta atau sebagainya π€itu gratis jadi jangan lupa pencet atau tonton π€salam sayang dari author π€π.