
Ada 4 ruangan UGD yang berjajar namun dari ke 4 ruangan itu belum ada ada satu pintu yang sudah dibuka dari tadi.
"mas mengapa dokter belum keluar-keluar ..." tanya dahlia masih menangis, bagaimana tidak bisa berhenti menangis hatinya merasa dilema saat tau jika kecelakaan yang menimpa putri bungsu nya ulah putri keduanya, dan dia juga takut dengan hukuman apa yang akan diberikan oleh orang tua lainnya yang anaknya menjadi korban dalam kejadian tersebut juga, apa listiani akan dipenjarakan pertanyaan itu berputar di otaknya.
"pak kepsek... dimana anak yang menjadi dalangnya penyebab kecelakaan ini..." tanya ayah nya tommy yang membuat dada arlan dan dahlia sesak .
"kami baru menemukan mereka... mereka sedang dalam perjalanan akan dibawa ke sini..."jelas pak kepsek.
ceklek salah satu pintu dari ruangan UGD terbuka menampilkan seorang yang jelas dari guratan wajahnya menunjukkan kelelahan yang teramat.
"keluarga saudara jeassen..." tanya sang dokter.
"wali dari saudara jeassen belum datang... mereka masih dalam perjalanan dari canda untuk kesini...saya kepala sekolah nya jika ada sesuatu yang perlu dibicarakan bisa dibicarakan kepada saya..." dokter mengangguk.
"saudaraku jeassen banyak kehilangan darah...dan kebetulan rumah sakit kehabisan stok darah golongan yang sama dengan beliau..."
"apa golongan darahnya dok..." tanya pak kepsek.
"golongan AB-..."
"kondisi pasien kritis...saya harap secepatnya keluarga bisa memberikan donor darah tersebut... jika dalam 1 jam ini pasien tidak bisa menerima donor darah... maaf jika kami tidak bisa menyelamatkan pasien..." ucap dokter tersebut, gitani baru datang bersama vano dia sudah mendengar penjelasan dokter.
"golongan darah saya AB- dokternya bisa mengambil darah saya..." ucapnya yang membuat arlan tidak setuju.
"tidak sayang...ayah tidak mengijinkannya..." geleng arlan.
"tapi di membutuhkan pertolongan ku...ini taruhannya dengan nyawa aku tidak bisa diam saja..." arlan tetap menggeleng.
"biar saya yang mendonorkan darah untuk pasien... golongan darah saya juga AB-..." ucap arlan.
"baik jika pendonor nya sudah ada... Sekarang kita bisa melakukan transfusi darah...mari ikuti saya..."ucap itu yang di angguki arlan.
ada tirai yang menutupi antara arlan dan jeassen sehingga arlan tidak bisa melihat anak yang ingin dia tolong.
"mengapa golongan kami bisa sama...kenapa jantungku berdetak sangat cepat saat memasuki ruangan ini...apa yang terjadi padaku... perasaan apa ini ... hatiku terasa di iris-iris mendengarkan bunyi monitor yang menunjukkan detak jantung anak ini... suara monitor yang tidak normal membuat dada ku sesak... membuat ku kesusahan untuk bernafas..."
.
.
.
Di luar ruangan UGD
Pintu ruangan UGD tommy terbuka muncul dokter yang mengatakan hal serupa dengan dokter yang menangani jeassen, namun dikarenakan stok darah yang sama dengan tommy tersedia jadi tidak membutuhkan pendonor darah tidak seperti jeassen yang membutuhkan pendonor darah. kedua pintu ruangan UGD tommy dan jeassen sudah terbuka tapi tidak dengan kedua pintu yang masih betah tertutup rapat, membuat dahlia dan marissa terus menangis.
tap tap tap tap suara derap sepatu membuat semua mata melihat kearah sang pemilik sepatu ada 3 gadis berpakaian seragam sekolah SMA Garuda graduation, ketiganya menundukkan kepalanya.
"pak ini anak yang terlibat dalam kecelakaan tadi siang..." ucap guru kesiswaan pada pak kepsek.
"listiani...resti...yuki..." ucap kepala sekolah yang mengenali murid tersebut.
"so...sore...pak..."ucap mereka serempak dengan masih menunduk.
__ADS_1
"mati duduk disini... dan jawab pertanyaan bapak..." mereka langsung duduk mengikuti arahan pak kepsek.
"apa benar kalian yang terlibat dalam kecelakaan tadi siang..."
"i...ya..pak tapi..." ucap yuki tidak melanjutkan ucapannya sedangkan listiani dan resti hanya diam saja.
"bicara dengan benar... keluarga dari ke 4 teman kalian sudah ada disini dan mereka sedang menunggu jawaban dari kalian..."
"Ka...kami... memang berada di tempat yang sama saat kejadian tersebut...tapi.. bukan saya pelaku dari kejadian tersebut..." ucap yuki ketakutan.
"apa kalian bisa jelaskan kejadian yang sebenarnya pada kami ..." yuki mengangguk namun listiani dan resti masih bungkam.
"t... tadi siang saya dan listiani dan resti pergi ke rooftop kami melihat disana ada issani dan agatha yang sedang memperhatikan kebawah rooftop.. kami sedikit berdebat...tapi sungguh pak... kecelakaan itu bukan rencana dari kami... hiks saya tidak tau... akan terjadi kecelakaan seperti ini... sungguh pak ini bukan salah saya..."
"jika kalian tidak bersalah terus mengapa kalian kabur dari sekolah... dan untuk kalian berdua kenapa hanya diam saja..."
"kalian tau dari ke 4 korban itu salah satunya anak dari pemilik sekolah... jika benar kecelakaan ini murni dari ulah kalian... kalian bisa dipastikan akan di DO dari sekolah dengan tidak hormat... dan belum lagi tuntutan dari wali teman-teman kalian yang lainnya..."
"hiks...ini bukan salah saya pak.... hiks ini kecelakaan bukan rencana kami...hiks resti ani ayo bicara... hiks " ucap yuki terisak.
"kedua teman saya tidak bersalah saya yang bersalah disini..."ucap listiani yang akhirnya membuka suara.
"apa yang kau katakan an...disini bukan kau saja bersalah aku pun bersalah..." ucap resti yang membuka mulutnya juga.
"akhirnya kalian berdua membuka mulut kalian juga.. Sekarang ceritakan apa yang terjadi..." ucap pak kepsek .
"yang dikatakan yuki memang benar... kecelakaan ini bukan dari rencana kami...ini murni kecelakaan..." ucap listiani.
"kami memang mungkin salah juga dalam hal ini...kami berdebat di rooftop dengan saling Jambak-menjambak...dan saat kami melihat listiani kesakitan dengan Jambak-an issani kami refleks mendorong issani...tapi sungguh hiks saya dan yuki tidak sengaja melakukannya...saat issani terjatuh kakinya diselamatkan agatha... agatha memintanya tolong pada kami untuk membantu... kami hendak membantu tapi saking khawatir nya...saya tidak sengaja malah menendang kaki agatha hiks sungguh pak...saya benar-benar tidak sengaja melakukannya... hiks saya tidak berani untuk berbuat jahat seperti itu... mungkin satu sekolah mengetahui kami tidak akur...hiks tapi untuk melakukan kejahatan seperti itu saya tidak berani...hiks saya tidak sejahat itu..." ucap tangis resti.
"bapak tidak akan menghakimi Kalian karena bagaimanapun kalian tetap murid bapak...tapi untuk para orang tua mereka bapak tidak tau... bapak pun tidak bisa menolong kalian... bukannya tidak mau tapi bapak tidak punya hak untuk menolong kalian orang tua teman-teman kalian yang akan memberikan hukuman apa yang pantas kalian dapatkan...".
"silahkan jika dari para orang tua wali ingin memberikan hukuman pada anak murid saya.. " ucap pak kepsek sendu kasihan melihat ketiga muridnya? ya tentu bagaimana pun mereka masih tetap anak muridnya.
"saya sebagai orang tua dari tommy tidak bisa menyalahkan apa pun... karena mereka disini tidak bersalah...anak kami tommy yang hanya ingin membantu temannya namun...dia malah menjadi korban juga...saya tidak akan menghakimi mereka... karena memang mereka tidak bersalah dengan kecelakaan yang terjadi pada tommy lagi pun jika memang mereka bersalah saya tidak punya hak untuk menghakimi mereka... yang punya hak menghakimi mereka kembali lagi ke bapak sebagai wali dari sekolah..."
" jadi saya tidak akan memintamu pertanggung jawaban dari mereka atau pun keluarga mereka..."ucap ayah tommy sedangkan ibu tommy hanya diam saja, dia tidak sana sekali membenci ke-tiga gadis yang berada dihadapannya, karena yang dikatakan suaminya memang benar, tommy anaknya hanya ingin menolong temannya namun malah menjadi korban dan dia merasa bangga terhadap anaknya itu yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang besar, berani menolong temannya walaupun taruhannya nyawa nya sendiri.
"terimakasih pak atas kemurahan hati bapak terhadap anak murid saya... kalian bertiga tau kan apa yang harus kalian katakan..."
" terimakasih pak bu atas kemurahan hati kalian... dan maafkan kami karena kami tommy jadi masuk ke rumah sakit.. " ucap listiani ddk yang di angguki Orang tua tommy.
"wali dari kedua murid belum datang... bagaimana dengan tuan dan nyonya apa..."
"kami tidak berhak menghakimi mereka bertiga...ada pihak yang lain yang lebih berhak menghakimi mereka bertiga..."ucap Hadi memotong ucapan pak kepsek dan melirik ke arah dahlia yang menangis di pelukan gitani, jika saja listiani bukan kakak dari issani mungkin Hadi pasti akan memintamu pertanggung jawaban dari ketiga anak itu, marah? ya pastinya dia marah, siapapun yang sudah mengusik keluarganya baik tua ataupun muda dia tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang.
Pak kepsek mengerti dengan ucapan hadi melihat dahlia hanya diam saja, dia pun bicara.
"mungkin untuk sekarang orang tua wali dari ke 4 teman kalian belum pada datang... untuk sekarang kalian bisa pulang ke rumah kalian masing-masing...kami dari pihak sekolah akan memberikan hukuman untuk kalian... kalian di sekor selama 3 ini... sambil menunggu keputusan dari para wali teman kalian...dan ingat pesan bapak ini... bapak harap kejadian ini tidak terulang kembali... mengerti..."
"iya pak..."
"yasudah pulang lah... orang tua kalian pasti sudah menunggu... pak Arya apa ada tambahan..." tanya pak kepsek kepada guru kesiswaan.
__ADS_1
"berikan surat ini pada orang tua kalian... dan katakan saya menunggu kehadiran mereka besok pagi..."
"iya pak... kalau begitu kami permisi..." guru mereka mengangguk,resti dan yuki pergi pulang sementara listiani masih duduk dan menundukkan kepalanya.
ceklek
"keluarga pasien saudari agatha..."ucap dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"keluarga pasien belum datang tapi saya wali dari sekolah nya... bagiamana dengan kondisi pasien..." ucap kepala sekolah.
"pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat... kondisi pasien patah kaki kanan dan kiri, dan kedua tangannya pun sama akibat hantaman saat pasien terjatuh... pasien sudah melewati masa kritisnya dikarenakan stok darah yang sama dengan pasien tersedia... tidak menyebabkan kami untuk mencari pendonor... untuk selanjutnya bapak bisa ikuti suster ini untuk mengurus biaya pemindahan ke ruang rawat...saya permisi.. " ucap dokter tersebut berlalu.
"mari pak ikuti saya.. " ucap suster yang dari tadi bersama dokter yang menemani agatha, tidak berselang lama pintu ruang UGD tommy terbuka, keluar dokter dan suster yang menghela nafas dengan sedikit senyum yang terukir di bibirnya menandakan jika keadaan tommy sudah membaik.
"wali saudara tommy..."
"saya dok..."
"anak bapak sudah bisa pindah ke ruang rawat... untuk selanjutnya bapak bisa ikuti suster saya..."
"baik dok..."
"kalau begitu saya permisi..." dokter tersebut pergi ke ruangan nya dan orang tua tommy mengikuti suster untuk mengurus biaya pemindahan ke ruang rawat.
ceklek pintu ruangan UGD jeassen dan issani terbuka bersamaan, dari pintu ruangan jeassen keluar arlan sedang dari pintu ruangan UGD issani keluar dokter dan suster.
"keluarga pasien saudari issani..." Hadi melirik arlan, arlan yang mengerti pun mengangguk.
"saya daddy nya.. " ucap hadi setelah menerima anggukan dari arlan.
" sore tuan..." sapa sang dokter dengan sopan yang sedikit terkejut jika sang pemilik rumah sakit adalah wali dari pasien yang sedang dia tangani, dikarenakan dia dokter baru di rumah sakit ini jadi dia tidak tau anggota keluarga dari pemilik rumah sakit ini.
"nona sudah melewati masa kritisnya namun kedua kaki dan tangan pasien mengalami ke patahan akibat benturan yang terlalu keras... sebentar lagi nona issani akan dipindahkan ke ruang rawat... kalau begitu kami permisi tuan... untuk menyiapkan segala keperluannya..." hadi mengangguk dokter dan suster pergi dari sana .
"hahh syukurlah keadaan putri kita sudah membaik bung..." ucap hadi menghela nafasnya sambil menepuk pundak arlan.
"akhirnya putri kita melewati masa kritisnya..." senyum arlan yang diiringi senyuman lainnya namun tidak dengan listiani yang sedang menunduk, entah apa yang sedang dipikirkannya.
.
.
.
bersambung
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like komen vote dan masukan ke favorit π€π jangan lupa juga pencet iklan gratis nya yah reader π€ biar author dapat keuntungan π€ tenang itu gak bayar atau pakai Kouta atau sebagainya π€itu gratis jadi jangan lupa pencet atau tonton π€salam sayang dari author π€π.