Kisah Melissa Arespati

Kisah Melissa Arespati
aku juga adik mu


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 13.00.


ceklek


"siang mama..." ucap listiani yang baru datang ke rumah sakit setelah pulang sekolah dan berganti baju terlebih dahulu.


"siang juga sayang...kau sudah pulang apa sudah makan..."


"sudah ma...dimana adik..." tanya listiani melirik ke ranjang issani yang kosong.


"adik mu sedang di kamar jeassen ..." jawab Dahlia yang sedang memotong buah apel.


"hmmm...lantas potongan buah apel itu untuk siapa ma..."


"untuk adik mu kata dokter adik mu harus banyak makan buah-buahan..."


"ouh yaudah biar ani saja yang berikan pada adik..."


"tapi kamu baru sampai Sayang.... pasti kamu lelah setelah pulang langsung kesini..."


"tak apa ma... anggap saja ini sebagai tanggung jawab ani... yang sudah membuat adik dan..."


"kakak mu sayang..."


"i..iya...kak jeassen..."


"baiklah tapi jika kamu sudah benar-benar lelah istirahat lah..."


"mmm....mama..."


"kenapa sayang..."


"a...apa... benar je...mmm... maksudnya k..kak jeassen..itu putera kandung mama...".


"iya sayang... dia putera mama kakak kamu..."


"tapi mengapa kami tidak mengetahui punya saudara bernama jeassen...kami pikir anak mama hanya ada tiga..." dahlia terdiam sebentar mencari alasan.


"i...itu karena suatu urusan kami tidak bisa menceritakannya pada kalian semua saat ini... Sekarang bukan waktu yang tepat..."


"lantas jika dia kakak ku... apa kami kembar...tapi kenapa tidak ada kemiripan diantara kami..."


" karena kalian kembar fraternal..."


"tapi jika memang kami kembar fraternal... mengapa ani tidak mirip ke siapa-siapa...Ka..kak jeassen mirip dengan ayah...tapi ani tidak mirip mama atau pun ayah..."


"i.. itu..." gugup dahlia.


"itu karena kau mirip dengan ibu mama mu ..." ucap arlan yang baru pulang dari markasnya.


dahlia dan listiani refleks melihat kearah pintu yang dibuka.

__ADS_1


"benarkah seperti itu... bukannya mama..."


"bukannya kau ingin memberikan bush ini pada adik mu... pasti adik mu sudah menunggu lama..." potong dahlia.


"astaga ani lupa hehehe.... yasudah ani ke ruangan k..kak jeassen...." pamit listiani yang di angguki dahlia.


"sampai kapan kita akan menutupi kebenaran ini mas..."


"sampai kau siap menceritakannya sayang..." lembut arlan mengelus rambut dahlia penuh sayang.


"hiks...aku tidak tau apa aku bisa menceritakan kebenarannya atau tidak..."


"tapi cepat atau lambat dia akan tau sayang..."


"hiks aku tau mas... dan dengan sikap papa yang berbeda padanya itu juga akan membuat tanda tanya besar untuk nya...aku takut mas... sikap papa yang seperti menimbulkan kecemburuan dan kebencian yang semakin besar pada lisa hiks..."


"semoga saja papa menerima dia sebagai cucunya juga..."


"hiks semoga saja mas...." sendu dahlia.


"sudah jangan menangis jika lisa dan listiani melihat mu menangis seperti ini dia akan bertanya-tanya ada apa dengan mu..." dahlia mengangguk dan menghapus cairan bening yang menetes di pipinya.


.


.


.


ruangan jeassen


"tidak..."


"terus mengapa kakak terus berbaring di ranjang jika kaki kakak tidak sakit lagi...mati kita ke taman ..."


"kau ingin kakak dihukum semua orang karena mengajak mu ke taman..."


"memang kenapa...kan kita hanya ke taman saja..."


"hahhh...kau lupa jika tadi ayah bilang kita jangan keluar dari ruangan ini..."


"ck menyebalkan sekali padahal kita jenuh terus di ruangan putih ini..."


ceklek suara pintu di buka membuat lisa dan jeassen menoleh.


muka jeassen berubah datar sedangkan lisa tersenyum melihat listiani membawa buah apel yang sudah dipotong-potong...


"horeeeee... akhirnya buahnya datang juga...", girang lisa, listiani mendekat dan menyodokkan piring yang sudah penuh dengan potongan buah apel.


"terimakasih kak..." ucap lisa mengambil piring nya listiani hanya mengangguk saja dan duduk di kursi dekat kursi roda lisa.


"ba...bagai.. mana... keadaan mu je...kak... jeassen..." tanya gitani gugup, ada rasa aneh saat dia memanggil jeassen dengan panggilan kakak, hatinya merasakan nyeri yang teramat.

__ADS_1


"seperti yang kau lihat...." ucap jeassen seadanya.


"m... maafkan ani...je..ka..kak jeassen.. gara-gara ani... kak jeassen..."


"tidak apa..." potong jeassen.


"mmm buahnya enak...apa kak jeassen mau..." lisa menyuapi jeassen dan jeassen menerimanya dengan tersenyum.


" bagaimana enak kan kak..." tanya lisa heboh.


"iya rasanya enak sa..." ucap jeassen mengacak-acak sayang rambut lembut lisa.


"kak jeassen mau lagi..." jeassen menggeleng.


"kenapa ...ini enak kak..."


"kakak tidak terlalu suka buah-buahan..."


"tapi kata kakak buahnya enak..."


"iya tapi kakak tidak mau lagi..." lisa mendengus.


"jangan merengut..." jeassen mengusap kepala lisa.


"kakak tega nolak..." ucap lisa berkaca-kaca.


"astaga sa ... jangan menangis..." geleng jeassen.


"hiks kakak menolak..."


"tidak ayo suapi kakak lagi..." ucap jeassen seketika membuat mata lisa berbinar dan dengan cetakan menyuapkan sepotong bush apel lagi ke mulut jeassen.


"aku juga adik mu...tapi mengapa sikap mu pada ku berbeda... tidak seperti pada lisa...aku sedang berusaha menerima keadaan jika kau Sekarang kakak ku... berusaha menghapus rasa ini... tapi ku mohon...tapi ku mohon jangan bedakan antara aku dan dia..."


tes cairan bening itu menetes begitu saja, hatinya sakit sekali melihat jeassen dan lisa asyik berdua seolah keadaannya tidak ada di ruangan ini, hatinya sakit cinta nya terlarang, dan hatinya sakit melihat sikap dan neneknya yang membedakan-bedakan kasih sayang terhadap dia dan lisa, gitani jeassen.


"aku tau aku salah sudah mencelakai mereka...tapi aku sudah menyesal... mengapa permintaan maaf ku seolah tidak diterima mereka semua ... dan juga benar-benar tidak sengaja...aku akui aku membencinya lisa...tapi aku tidak sekejam itu... se bencinya aku padanya...aku tidak akan melukainya dengan tangan ku sendiri...jauh dari hati terdalam ku aku masih mempunyai rasa sayang padanya hanya saja dia selalu unggul dari ku... dan itu membuat ku membencinya...aku selalu kesal melihat dia selalu mempunyai segalanya tidak seperti ku...apa yang ku inginkan dia yang dapatkan...apa tidak berhak kah jika membencinya karena semua itu...aku ingin seperti mu lisa...aku ingin bisa banyak disayangi sepeti mu... tapi apa yang aku dapatkan..."


"aku tau semua itu...tapi tidak sepantasnya kau sepeti itu... membenci seseorang yang tidak bersalah... itu bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan... jika kau memang menginginkan kau berusahalah bukan malah membenci seseorang yang tidak tau apa-apa... " batin seseorang sambil melirik listiani dengan ekor matanya.


.


.


.


bersambung


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like komen vote dan masukan ke favorit πŸ€—πŸ˜š jangan lupa juga pencet iklan gratis nya yah reader πŸ€— biar author dapat keuntungan πŸ€— tenang itu gak bayar atau pakai Kouta atau sebagainya πŸ€—itu gratis jadi jangan lupa pencet atau tonton πŸ€—salam sayang dari author πŸ€—πŸ˜š.


__ADS_2