
listiani dan Lisa sudah sampai di kantor devano, kantor itu kantor murni yang di rintis oleh devano sendiri di usia yang masih mudanya dia sudah memiliki kantor sendiri walaupun belum sebesar kantor milik Daddy nya Arya Diningrat.
"apa ini kantor kak vano dik..." listiani mulai memindai bangunan yang menjulang tinggi itu.
"iya... ini kantor murni hasil kerja keras kak vano...ini bukan warisan dari Daddy... karena kami belum di waris oleh Daddy tapi waktu itu Daddy dan kak vano sudah sepakat jika kantor Daddy akan di teruskan oleh ku ... karena kak vano sendiri lebih tertarik untuk memajukan kantornya ini... Kantor kak vano baru mempunyai dua cabang tidak seperti milik Daddy cabang kantor nya sudah hampir ada dimana-mana..." jelas lisa mengiringi perjalanan mereka.
"permisi mba...apa kak vano nya ada.. " tanya lisa saat sudah sampai di depan resepsionis.
"eh Ade ini adik nya tuan ya..." tanya resepsionis dengan ramah.
"iya mba saya ingin bertemu kak vano..."
"yaudah sebentar yah dek saya tanya dulu apa tuan ada meeting atau tidak..." baru saja resepsionis itu hendak menekan tombol telpon devano sudah muncul dengan kolega bisnisnya guna untuk mengantarkan kepulangan koleganya, devano adalah sosok pengusaha ramah jadi tidak sungkan dia mengantarkan kolega nya sendiri.
"issa...kau ada disini..." tanya devano menghampiri sang adik yang hari ini di kucur dua itu wajahnya terlihat imut dengan penampilan yang seperti itu.
"kak vano issa kangen..." devano memeluk erat tubuh sang kakak.
"kakak apa sekarang tidak ada meeting issa dan kak Ani datang kesini ingin bicara sesuatu yang penting..." lirih Melissa
"yasudah ayo kita ke ruangan kakak... tapi kalian duluan saja kakak ingin mengantar dulu rekan bisnis Kakak..." Melissa mengangguk lalu melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan listiani pergi untuk ke ruangan kakak nya.
"bagaimana rasanya punya kakak laki-laki yang begitu menyayangi mu dik..." tanya listiani saat di lift.
__ADS_1
"menyenangkan kak..." senyum manis Melissa.
"semoga kak jeassen cepat sembuh biar aku bisa bermanja-manja padanya seperti kamu dik..." senyum manis listiani tidak di angguki Melissa.
"orang baik seperti mu memang sudah sepantasnya di kelilingi orang baik dik...dan aku adalah orang beruntung bisa dekat dengan mu.. walaupun bukan bagian keluarga dari kalian..." langkah kaki Melissa berhenti dan menengok ke arah listiani yang masih termenung.
"kakak..."
"kakak tidak apa-apa dik..."senyum manis listiani.
"kakak tetap kakak Lisa..." Melissa langsung memeluk listiani yang dibalas pelukan hangat listiani.
"setelah misi menyingkirkan iblis menjelma manusia itu berhasil kakak akan mencari keluarga kandung Kakak dik..." lirih listiani.
"kakak tau tapi kakak juga ingin hidup bersama keluarga kandung Kakak..."
"hiks tapi kak..."
"Walaupun kakak nanti sudah menemukan orang tua kandung kakak ... kakak akan tetap menganggap kalian keluarga kakak sendiri... seperti diri mu dik ...membagi waktu..." listiani melepaskan pelukannya dan tersenyum manis.
"kenapa kalian masih disini...membahas tentang keluarga tidak sepantasnya di lakukan di luar ruangan seperti ini adik-adik..." devano merangkul bahu listiani dan Melissa.
"ayo keruangan kakak..." mereka pun beriringan menuju ruangan devano sesampainya di ruangan yang di tuju mereka tanpa busa-busi mereka langsung membahas tentang misi mereka.
__ADS_1
" jadi ada apa kedatangan kalian berdua ini..." tanya devano yang mendapatkan cubitan dari Melissa.
"kakak ih... bicaranya jangan seperti itu kaya sama siapa saja.." kesal Melissa devano seketika terkeheh.
"kakak seperti yang kita bahas waktu itu sepertinya kak Ani memang si jubah hitam..." Melissa mulai menceritakan bagaimana dengan mimpi yang di dapati listiani.
"jadi bagaimana kelanjutan misi kita kak...." tanya Melissa yang baru selesai menceritakan mimpi listiani, baru saja devano hendak membuka mulutnya suara handphone Melisa berdering.
drt drt drt
...Nenek sihir 😈...
"siapa yang telpon..." tanya devano.
"nenek sila ..."
.
.
.
bersambung
__ADS_1