
"siang ma, yah.." sapa gitani yang baru masuk ke ruangan lisa.
"siang juga sayang..." jawab mereka kompak.
"kau baru pulang sayang ..." dahlia menghampiri gitani dan mencium kening nya sayang.
"iya...mmm kalau ayah dan mama disini terus jeassen..." mata gitani memicing.
"dia bersama kedua adik mu..." jawab arlan.
"lisa dan ani sedang beli es krim ayah..."dahi arlan mengernyit.
"tadi lisa merengek mau bakso ayah...dan vano menyarankan untuk beli es krim saja.."
"jadi devano sudah kesini..."
"iya ayah sekarang dia sedang di kantin..."
"bukannya beli es krim..." timpal dahlia gitani menggeleng.
"lisa beli es krimnya mau diantar ani..." dahlia dan arlan saling pandang tumben dua anak itu akur pikir mereka.
"yasudah gitani mau keruangan jeassen dulu ma, yah..." mereka mengangguk, gitani keluar lagi dari ruangan lisa hendak keruangan jeassen tiba-tiba.
drt drt drt drt drt
"hallo..."
"sayang...kau mau dibawakan apa hm..."
"aku masih kenyang..."
"jadi kau tidak mau apa-apa...."
"tidak..."
"hmm bicara mu sangat ketus sayang..."
"apa ada yang penting...jika tidak aku akan mematikan teleponnya..."
"sayan..."
tup gitani memutuskan telpon sepihak.
"mengganggu saja..." lirih gitani masuk keruangan jeassen yang bersebelahan dengan ruangan lisa.
ceklek gitani membuka pintu, terlihat jeassen sedang memejamkan matanya.
"siang jeassen... bagaimana kabar mu..." ucap gitani lirih mengusap dahi jeassen yang berkeringat.
tidak ada jawaban karena jeassen sedang tertidur.
"sungguh jauh sangat mirip dengan ayah..apa selama ini lisa dan ani tidak memikirkan itu..." batin gitani yang heran mengapa kedua adiknya tidak memikirkan hal tersebut, bibir dan mata semuanya mirip sekali dengan arlan.
ceklek suara pintu itu terbuka lagi, gitani melihat sekilas namun tidak menyapanya.
"sayang...adik mu sedang tidur..." vano mendekat, namun gitani tidak menjawab buang-buang waktu pikir nya, mungkin karena sudah terbiasa tidak pernah berbusa-basi lebih tepatnya bersikap dingin dan cuek gitani sudah terbiasa dan nyaman seperti itu.
greppppppp devano memeluk gitani.
"sayang...kau berubah...kau jadi curi begini..." vano memanyunkan bibirnya layaknya seorang anak yang merajuk pada ibunya.
"sayang..." rengek vano yang masih sama di cuekin, gitani menghela nafasnya.
"aku sudah terbiasa seperti ini Van..."
"apa matamu sayang...coba ulang lagi...." gitani menggeleng tidak mau, devano berdecih.
"kau sepertinya harus dihukum... bicara dengan calon suami mu ini tidak ada sopan-sopan nya...."
"tidak ada sopan-sopan nya bagaimana...".
"vano...apa kau pikir itu sopan... umur kita terpaut beberapa tahun sayang..." jawab vano manyun gitani tersenyum.
cup gitani mencium bibir vano sekilas membaut sang empunya tersenyum lebar.
"sayang kau nakal..." gitani hanya tersenyum saja tidak menjawab.
" sayang kau membangunkan nya..." bisik vano mengerutkan pelukannya.
"ck kau bicara apa sih ka..."
"aku serius sayang...kau harus bertanggung jawab..." lirih devano lagi.
"bertanggung jawab bagaimana..." dahi gitani mengernyit tidak paham.
"kita menikah sayang...minta restu orang tua kita...aku yakin pasti mereka merestui apalagi adik ku issani pasti dia sangat senang mempunyai kakak ipar secantik diri mu..."
"dia adik ku..."
"aku tau sayang...jadi bagiamana.." gitani menghela nafas.
"belum waktunya kak...kita..."
"tega sekali kau sayang... menolak menikah.."potong vano melepaskan pelukannya dan duduk didekat gitani.
"kedua adik ku masih dirawat kak..."
"aku tau tapi setidaknya kita minta restu dulu...aku tidak mau berinteraksi diam-diam terus...kau belahan jiwa ku sayang...aku tidak mau pura-pura tidak akrab..." jawab vano kecewa atas tolakan gitani.
"sayang...." panggil gitani.
"sudahlah aku mau ke kantor lagi..." devano merogoh mengangkat bokong nya dan berdiri melangkah menuju pintu.
ceklek
"vano kau disini sayang..." ucap dahlia.
"iya tan..." vano memaksakan tersenyum dahlia mengangguk.
__ADS_1
"terus sekarang mau kemana lagi...apa kembali lagi ke kantor..." tebak dahlia melihat jam waktu istirahat sudah lebih beberapa menit.
"iya tante...vano mau ke kantor lagi..."
" ouh yasudah... hati-hati sayang.." vano mengangguk.
"saya duluan tante.. "
"iya sayang..." akhirnya vano meninggal ruangan jeassen, gitani berdiri.
"ma gitani keluar dulu..."
"kejarlah sayang... jangan sampai dia direbut Orang..."
deg Jantung gitani serasa terhenti apa maksud mama nya.
"tidak perlu setegang itu sayang..." dahlia tersenyum melihat ekspresi anak pertamanya ini.
"apa mama sudah tau.." dahlia mengangguk, saat gitani keluar dari ruangan lisa arlan pamit ingin kembali ke markas, dahlia mengizinkan dan menunggu kedatangan lisa dan listiani namun lama menunggu kedua putrinya itu tidak datang-datang, akhirnya dia memutuskan untuk menyusul gitani saat ingin masuk ke ruangan jeassen dahlia mengernyitkan dahinya melihat vano masuk keruangan jeassen, dahlia mendekat ke arah pintu jeassen, samar-samar dia mendengar percakapan vano dan gitani dia tersenyum ternyata mereka berdua sepasang kekasih, geli sekali pikirnya selama ini mereka bersikap seolah-olah tidak saking kenal, padahal pada kenyataannya mereka sepasang kekasih, tapi tidak kama kemudian dahlia mendengarkan vano yang mengajak menikah tapi putrinya menolak dan itu membuat devano kecewa dan meninggalkan gitani ingin kembali ke kantor nya, cepat-cepat dahlia membuka pintu dan menyapa devano yang sudah diujung pintu.
"mengapa harus disembunyikan sayang..."
"belum ada waktu yang tepat untuk kami bicara ma...mama tau sendiri kan bagaimana keadaan keluarga kita akhir-akhir ini..."
"yasudah sekarang kejarlah...calon mantu mama pasti merajuk..." kekeh dahlia yang membuat pipi gitani memanas merah.
"yasudah gitani..."
"iya sayang silahkan kejarlah sebelum semakin jauh..." potong dahlia yang masih terkekeh membuat gitani salah tingkah dan langsung berlari mengejar vano yang sudah sampai di parkiran.
.
.
.
di parkiran
" kakak..."
"eh kau sudah selesai beli es krimnya sayang...mana es krim nya ..." tanya vano yang tidak melihat lisa memegang es krim begitu pun listiani.
"es krimnya sudah habis kak...kami makan disana kak.. makannya lama... terus kak vano mau ke mana.."
"kakak mau kembali ke kantor..."
"kok ke kantor lagi... kakak kan belum nemenin issa jalan-jalan.."
"jam istirahat nya sudah habis bahkan kayanya kakak telat sayang..."
"tapi kan Kakak bos nya..."
"ada rapat issani adik kakak yang paling cerewet.. " gemas vano yang akhirnya menyangka tinggi badannya dengan lisa yang duduk di kursi roda.
"tapi janji nanti kesini lagi ..issa belum diperbolehkan pulang... dan tolong kakak belang ke mommy dan daddy issa hari ini merajuk pada mommy dan daddy yang tidak menjenguk mata lisa berkaca-kaca.
"eh iya kah daddy dan mommy kemarin sudah bilang..."
"astaga kau kecil-kecil sudah pikun.."
"ih siapa yang pikun.. "
" kaulah cerewet..."
"kakak..." teriak lisa.
"sudahlah kakak berangkat... kakak sedang tidak mau berdebat... hari ini mau oleh-oleh apa sayang.. " tanya devano yang langsung membuat mata lisa berbinar terang.
"matre..." lirih vano
"issa dengar..."
"kakak tau..."
"is menyebalkan..."
"terimakasih..."
"kakak.."issani merengut kesal dan devano malah terkekeh.
"sudah sayang ayo katakan mau apa kakak sudah telat..."
"issa mau dua gelang permata yang sama..."
"hanya itu saja...."
"iya..."
"iya sudah nanti kakak belikan kakak berangkat dulu..."
"hati-hati kak..."
"siap komandan..." vano melangkah menuju mobilnya dan membuka pintu nya hendak masuk namun tangannya dipegang seseorang.
"hos hos ke.. kenapa...main..pergi .." ucap gitani terbata-bata, kening vano mengernyit.
"kenapa lari-lari ... lihat ku berkeringat tani...".
"suruhan siapa juga asal pergi saja..." sewot gitani.
"kenapa hati marah-marah..."
"siapa juga yang marah..."
"kau tidak mau ngaku ..." decih vano.
"kak vano dan kak tani kenapa bertengkar ucap lisa mendekat bersama listiani yang kebingungan melihat gitani berlari ke arah devano.
"sepertinya kakak kita sedang bertengkar dengan pacar nya adik...ayo kita masuk ke ruangan mu saja..." ajak listiani tidak nyaman mengganggu sepasang kekasih ini .
__ADS_1
"apakah benar seperti itu kak..." tanya lisa pada mereka.
"sudah aku sudah telat..." devano hendak menutup pintu mobil.
"kau mau kemana..." gitani melotot.
" aku sudah telat sayang...." devano menghela nafasnya.
wushhh pipi gitani memerah.
sedangkan mata lisa melorot lebar mendengar perkataan kakak nya vano,beda lagi dengan listiani yang mulai risih dengan keadaan dia tidak enak mengganggu kakak nya dan kak vano kakak nya lisa.
"ayo kita ke ruangan mu saja adik..." listiani mendorong kursi roda lisa.
"tapi kak..."
"ayo kalau masih penasaran tanya nanti saja.. biarkan mereka menyelesaikan masalahnya dulu.." jawab listiani yang mendapatkan anggukan kecil lisa.
"kenapa dengan pipi mu sayang..." kekeh vano yang melihat pipi sang pujaan hatinya memerah.
"apa kau malu ..." sambung nya.
"kenapa kakak bicara seperti itu didepan mereka..." cemberut gitani.
"apa kau keberatan Sayang..." vano menggenggam tangan gitani dan mendudukkan nya di pahanya lalu menutup pintu mobil.
"eh...kenapa kakak bawa masuk tani..."
"bukannya kau mau ikut Sayang..."
"siapa bilang..."
"terus kenapa menghalangi kakak hmm..." ucap devano melakukan mobilnya.
"iya tapi tani gak mau ikut kakak ke kantor...tani hanya ingin mengejar kakak yang merajuk..."
"kakak tidak merajuk sayang..."
"benarkah...."
"iya sayang..." bohong devano yang pada kenyataannya dia memang merajuk lebih tepatnya kecewa atas penolakan gitani, tapi dia yakin setelah ini hubungan mereka akan diketahui keluarganya, dia sangat yakin jika lisa akan memberitahukan pada mommy dan daddy nya dan juga tante dahlia dan om arlan pikir nya tersenyum bahagia.
"kakak berbohong..."
" tidak sayang..." vano menggeleng.
"tapi tadi kakak..."
"kakak sudah telat sayang... kakak harus rapat tapi sepertinya rapat nya batal..."
"kenapa..."
"kakak tekat Setengah jam sayang..."
"apa... terus bagaimana..." gitani terkejut.
"ya begini..."
"ih kakak..."
"kenapa sayang...."
"kata kakak rapat nya batal... tapi kok kakak santai-santai saja..."
"itu semua biarkan sekertaris kakak yang urut..." ucap vano fokus mengemudi.
"mmm enak ya jadi bos..." ledek gitani yang di balas kekehan vano.
"nanti kalau sudah selesai wisuda tani juga mau kerja ah..." ucap gitani yang mendapatkan gelengan kepala vano.
"aku tidak setuju sayang...lebih baik kau urus rumah kita dan anak-anak kita saja Sayang.. "
"kakak..."pelotot gitani.
"hahaha..." vano tertawa kencang.
" kau menyebalkan..." ucap gitani menyandarkan kepalanya di dada bidang vano .
"kau tau sayang...aku sudah tidak mau main-main lagi... nanti setelah kau wisuda... lebih baik kita menikah saja..."
"terserah tani ikut saja..."
"serius hmm... bukannya tadi menolak nikah ..."
"ck keluarga kita sebentar lagi pasti akan tau tentang hubungan kita..." gitani mendengus.
"hahaha kau benar sayang dan itu membuat ku bahagia..."
"hus...tapi nanti mereka akan banyak bertanya kak..."
"itu jadi urusan kakak Sayang..." vano mengecup kening gitani.
jangan pernah menghilang lagi gadis kecilku..." lirih vano di telinga gitani.
.
.
.
bersambung
.
.
.
Jangan lupa like komen vote dan masukan ke favorit π€π jangan lupa juga pencet iklan gratis nya yah reader π€ biar author dapat keuntungan π€ tenang itu gak bayar atau pakai Kouta atau sebagainya π€itu gratis jadi jangan lupa pencet atau tonton π€salam sayang dari author π€π.
__ADS_1