
Tit tit tit suara monitor yang terus berjalan.
"sampai kapan kau akan menutup mata mu itu dahlia...apa kau tidak merindukan anak-anak..." Arlan menghela nafas di bagian hatinya ada rasa yang teramat sakit melihat mata sang istri yang masih tertutup rapat.
"tuhan aku tau aku makhluk mu yang penuh dosa dan mungkin ini do'a yang ku panjatkan setelah beberapa tahun aku tidak pernah berdo'a...namun hari ini aku berdo'a sembuhkan penyakit istri ku dan biarkanlah istri ku membuka matanya... jika kami harus dihukum atas semua kesalahan kami pada putri bungsu kami....maka biarlah aku saja yang dihukum jangan berikan hukuman pada istri ku tuhan...dia tidak bersalah disinilah aku yang bersalah..."
.
.
.
flashback on
"mas mana bayi kita...apa jenis kelamin nya... pasti dia sangat lucu..." tanya dahlia yang baru tersadar dari pingsannya setelah melahirkan melissa .
"mas mengapa diam saja... dimana bayi kita..."
"tidak ada bayi kita....dia sudah meninggal... gara-gara dia cita-cita ku untuk mendapatkan pewaris tidak akan terlaksana..."
"m.maksud mu apa mas...
"tidak ada bayi kita dia sudah meninggal..." emosi arlan yang mengingat kejadian tadi malam dimana dokter mengatakan jika anaknya perempuan dan yang lebih parahnya rahim sang istri harus diangkat.
"hiks apa yang kau katakan mas....bayi kita mana mungkin meninggal...hiks mana mungkin dimimpi ku aku mendengar suara bayi kita...dia mana mungkin meninggal..."
"sudah ku katakan dahlia jika bayi itu sudah meninggal...." sentak arlan yang membuat dahlia kaget, selama bertahun-tahun menikah baru sekarang dia di sentak arlan .
"hiks mengapa kau meneriaki ku...hiks aku hanya menanyakan keberadaan bayi ku...apa salahnya kau tinggal jawab saja apa susah nya...."
"tentu saja salah... Karena pertanyaan mu itu mengingatkan ku dengan kejadian tadi malam...apa kau tau dahlia yang terjadi saat aku membawa mu ke rumah sakit... gara-gara anak sialan itu rahim mu harus diangkat aku tidak akan bisa mendapatkan pewaris...."
"a.aku tidak mengerti apa maksud mu mas..."
"anak mu perempuan lagi dahlia... dan semalam rahim mu juga harus diangkat untuk menyelamatkan nyawa mu... gara-gara kecelakaan itu rahim mu terluka dan terpaksa harus diangkat jika tidak nyawa mu melayang... dan karena itu juga aku tidak bisa mendapatkan pewaris...itu semua gara-gara bayi sial itu...."
deg
"rahim ku diangkat..." lirih dahlia yang masih terdengar oleh arlan.
oek oekkk oekkk suara tangisan bayi .
ceklek
"maaf sebelumnya mengganggu bos...ini nona kecil nya menangis...." ucap pengawal arlan sambil menggendong bayi mereka.
__ADS_1
"aku sudah katakan bawa pergi dia dari hadapan ku....apa kau tidak mendengarkan ku...apa kau tuli...."
"maaf bos tapi saya harus bawa kemana nona kecil dan juga nona kecil menangis terus mungkin haus..."
oek oekkk oekkk
"hiks anak ku....bawa dia kesini dia pasti haus..."
"jangan dengarkan istri ku sekarang bawa dia pergi dari hadapan ku terserah mau kau apakan bayi sialan itu... jika kau menginginkan nyawanya pun aku tidak peduli..."
"apa maksud mu mas..."
"apa belum jelas perkataan ku ini aku tidak ingin melihat bayi pembawa sial itu ..."
"astaga mas sadar....dia itu bayi kita bukan pembawa sial...."
"dia bukan bayi ku ...dia pembawa sial...aku tidak ingin kau merawat nya...dia tidak ku izinkan untuk tinggal di rumah ku..."
"hiks apa yang kau katakan mas dia anak kita...jika dia tidak tinggal di rumah kita mau dimana lagi dia tinggal..."
"aku tidak peduli dia mau tinggal dimana hidup atau mati pun aku tidak peduli... sekarang singkirkan bayi itu Joko..."
"siap bos..."
"tidak... hiks aku mohon jangan bawa dia pergi Joko...mas kenapa kau tega pada anak kita... biarkan dia tinggal di rumah kita..."
"hiks aku mohon mas... jangan pisahkan aku dengan bayi kita mas ....dia masih kecil mas dia masih membutuhkan ku hiks..."
"sudah ku bilang aku tidak mau dia tinggal di rumah ku....kalo perlu bunuh saja bayi itu atau jual itu terserah mu Joko yang penting jauhkan dari hadapan ku...." teriak arlan.
"tidakkkkk tidakkkkk jangan kau bunuh anak ku... biarkan dia hidup hiks...mengapa kau kejam pada anak mu sendiri mas... lihat dia tatap dia itu anak kita hiks... "
"aku tidak peduli....dia hanya pembawa sial..."
"oke jika kau tidak menganggap dia putri mu...dia hanya putri ku saja...aku mohon biarkan aku merawat nya hiks..."
"kau sungguh keras kepala dahlia...aku harus katakan berapa kali biar kau paham... Joko bunuh dia..."
"hiks jangan mas jangan...hiks jangan biarkan dia hidup mas hiks tidak jangan bunuh dia masih banyak cara lain tapi ku mohon jangan bunuh dia ....hiks dia tidak bersalah apa-apa mas..."
"jika saja kau bukan istri ku... jika saja aku tidak menyayangi mu dahlia aku tidak akan pernah menuruti keinginan mu..."lirih arlan yang melihat ke histerisan dahlia.
"jika itu keinginan mu...aku pun mempunyai keinginan ku... pilih lah diantara anak-anak mu itu...jika kau merawat dan membawa bayi itu ke rumah kita aku tidak akan memberikan nafkah untuk mu...dan jika kau tidak merawat anak itu nafkah mu akan terus berjalan...pilih lah dahlia...."
"hiks syarat macam apa itu....hiks jika bukan aku siapa yang akan merawatnya kau sudah gila yah mas...."
__ADS_1
"biarkan ibu panti mu yang mengurus nya... dan jika dia sudah waktunya sekolah kau bisa membawanya pulang ke rumah...tapi ingat jangan kau pernah sentuh bayi sial itu aku tidak mau tubuh mu terbawa sial karena dia...cepat lah ambil keputusan sore nanti kau harus sudah mengambil keputusan..." tangan arlan terkepal .
"tapi mas..."
"Joko bawa dia ke ruangan bayi dan mintalah suster untuk mengasih dia minum... ingat dahlia kau tidak boleh menyentuh bayi tersebut...".
brakkkkkkkkk pintu rumah sakit di buka kasar arlan, Arlan pergi dari ruangan tersebut.
flashback off
.
.
.
Arlan tersadar dari lamunannya saat ada goyangan ditangannya.
"mengapa ayah melamun... dari pulang kerja belum makan ... makanlah terlebih dahulu jika tidak ayah bisa sakit...." ucap listiani.
"kau makan terlebih dahulu... dan dimana adik dan kakak mu..."
"kakak dan adik sudah ada di mobil ayah..."
"terus mengapa kau masih ada disini...mengapa kau tidak ikut pulang ayah sudah bilang kan biarkan ayah saja yang menjaga mama mu malam ini..."
"tadi ani sudah ikut kakak...tapi ani keingat ayah belum makan ...jadi ani tadi beli makanan dulu untuk ayah..." Arlan menghela nafas.
"yasudah sekarang kau pulang...besok kau harus sekolah dan katakan pada kakak mu untuk membujuk lisa untuk sekolah juga..."
"baik ayah... kalau begitu ani pulang dulu jangan lupa dimakan makanannya..." Arlan hanya mengangguk.
.
.
.
"bersambung
.
.
.
__ADS_1
Hari ini author udah 2 kali update π€ jangan lupa tinggalkan jejak nya reader tersayang karena jejak kalian penyemangat untuk author π€ author lihat yang masukkan ke favorit lumayan ada gak hanya satu dua tapi anehnya yang like hanya 1 2 atau 3 π€¦π»ββοΈ tolong jangan pelit dong reader biar author tambah semangat π€¦π»ββοΈ dan jangan lupa vote hadiah dan komentarnya π€biar author tambah semangat dalam menulis π€ salam sayang dari author π€π.