
Akhir tanggal musim gugur hampir di mulai sama halnya dengan pertandingan Konferensi Pedang Tunggal sudah mencapai hampir lima puluh putaran dari seratus putaran, pertandingan antara Chuxi dan Fang Fu waktu itu belum seberapa karena banyak juga para ahli beladiri yang bisa mengejutkan saat pertarungan di atas panggung.
Jika menurut jadwal kemarin, tiga hari kemudian adalah pertandingan Xian Zi melawan sekte beladiri dari selatan, meskipun demikian dia sama sekali tidak terlihat gugup. Malahan dia dengan santai mengeluarkan kursi lipatnya, menempatkan di bawah pohon pinus dan menyilangkan kaki, kemudian dia memakan biji melon di bawah cuaca yang sangat terik. Tingkah yang semena-mena seperti ini pasti orang yang melihatnya tidak akan bisa mengenali Xian Zi sebagai murid puncak Yilin karena sama sekali tidak menunjukkan keagungan dari murid pelantaran inti di bawah bimbingan Shao Yi Chen, melainkan dia sekarang seperti merak yang angkuh atau tuan muda bangsawan kaya yang sedang mengagumi langit.
Xian Zi melihat ke atas sambil menatap langit dengan bosan, sebelum dia mendesah nafas panjang. "Hari ini cuaca cerah sekali tapi sangat gerah dan melelahkan!"
Kebetulan dia melihat saudara beladiri juniornya yang sedang lewat, dia langsung terlihat cerah dan segera menghentikan Lau Luo. "Luo-shidi! Kemari kemari!"
"Ada apa?" Lau Luo kemudian berhenti sejenak dan dia menongok ke arah Xian Zi.
"Nanti malam apa kau ada waktu luang?"
Setelah berpikir sejenak jadwal hariannya saat malam hanya berlatih pedang di dekat danau Ye jadi Lau Luo menjawab yang sebenarnya. "Sama seperti biasa."
"Aku bosan setengah mati melihat pertandingan tadi siang." Xian Zi membuka kipasnya dan tertawa kecil. "Kenapa kita tidak menghargai hidup dan menonton pertunjukan nanti malam saja, apa kamu mau ikut?"
"Pertunjukan?" Sambil mengeryitkan kening, Lau Luo hanya mendengar kebanyakan orang sangat menyukai pertunjukan drama atau teater, terutama anak-anak, mereka pasti akan mengajak keluarga mereka untuk menonton. Kemeriahan panggung dan suara-suara orang yang memainkan boneka pasti terlihat menyenangkan, sayangnya dia belum pernah menonton segala jenis pertujukan apapun sebelumnya dan tidak sekalipun.
Melihat Lau Luo penasaran, Xian Zi langsung tertawa puas karena sudah mengajak Lau Luo untuk menikmati kehidupan nanti malam. "Kau tidak pernah melihatnya?"
Dengan suara rendah Lau Luo juga menggelengkan kepalanya. "Belum."
Xian Zi memainkan kipasnya dengan percaya diri. "Bagus, ini akan menjadi kali pertama kita bersenang-senang!"
Hanya berselang beberapa saat setelah jam bergulir sedikit, tidak terasa malam sudah datang. Xian Zi langsung mendatangi kamar Lau Luo, suaranya membuat kebisingan di danau Ye dan terpantul ke kamar di sebelahnya juga.
"Luo-shidi! Jadi bagaimana kita akan bersenang-senang, jadi kamu mau ikut atau tidak?!"
Di kamar lainnya Deng Lun membuka tirai jendela, melihat sekilas Xian Zi di luar kemudian dengan acuh kembali menutup tirai untuk melanjutkan kultivasinya. Tapi di sisi sebrang lain karena terlalu kerasnya suara Xian Zi, saat Jing Yiran mencelupkan tinta dia langsung berhenti menulis dan dia menaruh kuasnya lalu mengangkat tirai jendela di kamarnya.
Setelah membuka pintu di kamar, Lau Luo bertanya. "Apakah jauh dari sini? Jika jauh, aku tidak perlu ikut."
__ADS_1
"Hanya sepuluh menit dari sini." Xian Zi menarik lengannya. "Percayalah ini akan menyenangkan. Semua orang menyukainya! Sama sekali tidak akan rugi!"
Tidak ada salahnya mencoba, jadi dia ikut. "Aku ikut, ayo pergi."
Memperhatikan diam-diam Xian Zi dan Lau Luo, lilin di kamar Jing Yiran masih menyala dan tirainya sedikit terbuka, mata hitam tinta itu penasaran menatap keduanya. Saat tanpa sengaja tatapan mata mereka bertemu, Jing Yiran spontan sedikit berkedip menutupi pantulan cahaya merah lilin di matanya dan dia buru-buru melihat ke arah luar.
"Yiran-shixiong?"
Xian Zi terlihat sedikit terkejut. "Yiran-shixiong kamu menguping obrolan kami?"
Jing Yiran dengan tenang berkata. "Hanya menyibak tirai untuk melihat bulan."
Melihat bulan biasanya di lakukan ketika orang merasa kebosanan, stres karena banyak masalah. Berpikir bahwa Jing Yiran menjadi seorang pendamping untuk mengurus pertandingan adik seperguruan di tujuh puncak pasti telah menguras semua tenaga dan pikirannya.
"Melihat pertunjukan biasannya bisa membuat lelah dan stres hilang, kebetulan Zi-shixiong mengajak menonton teater sekarang. Apa Yiran-shixiong ingin ikut bersama kami juga?"
Sebelum sempat menjawab pertanyaan Lau Luo, Xian Zi sudah menyelanya. "Luo-shidi, jangan menganggu waktu berharga Yiran-shixiong untuk pertunjukkan anak kecil seperti ini. Dia pasti berpikir ini hal kekanak-kanakan hanya membuang waktu dengan sia-sia, dia tidak akan pergi, bukankah begitu?"
Jadi Xian Zi tidak akan berpikir bahwa 'pergi menonton drama' mampu menarik perhatian Jing Yiran, makanhak itu tidak akan mungkin sama sekali!
Jing Yiran, "...."
Dia menundukkan kepalanya dan sedikit terangkat sedikit, api jiwa taois Jing Yiran lebih tinggi dari menonton pertunjukan drama, jadi dia memilih diam yang padahal sebenarnya dia ingin ikut...
Melihat seberapa keras kepala Jing Yiran tiba-tiba membuat Lau Luo ingin tertawa.
"Pergi hanya dengan Zi-shixiong terasa lebih sepi. Jika seperti itu aku perlu memaksa Yiran-shixiong untuk pergi bersama kami agar sedikit lebih ramai."
Lau Luo bertanya. "Bagaimana?"
Jing Yiran kemudian tersenyum. "Ya, kalau Luo-shidi memaksa, tentu aku tidak akan menolaknya."
__ADS_1
Xian Zi segera mengeluarkan tiga tiket untuk menonton. "Haha.. baiklah! Semakin banyak orang semakin meriah dan ini akan menjadi hari yang paling menghibur karena sudah mual hanya melihat pertarungan dan pertarungan!"
*
Kota Chang'Su di malam hari jauh terlihat lebih ramai karena orang-orang akan keluar, dan lampu-lampu pemukiman menyala terang menjadi terlihat sangat hidup.
Sampai di tempat pertunjukan Xian Zi menyerahkan tiga tiket, setelah itu dia mendapat kursi untuk tempat mereka duduk.
Meskipun pertunjukan terlihat dengan kemeriahan umum seperti lentera merah mengantung di sisi-sisi panggung, tawa melayang bercampur harum anggur di kursi orang-orang dewasa, serta cerita 'Pengembala Pangsit' yang di putar lebih dari seratus kali di kota Chang'Su membuat Jing Yiran sangat antusias.
Tirai merah tebal di atas panggung terbuka, seorang pendongeng mulai memainkan bonekanya. Begitu gong di pukul, tawa keributan orang-orang mabuk dan kemeriahan langsung diam bersamaan menjadi sekitaran panggung sunyi hanya memfokuskan semua orang pada pertunjukan drama di mulai..
Seorang pendongeng mulai menceritakan dengan jelas, meskipun tanpa energi internal suaranya dapat di dengar semua penonton.
"Pengembala Pangsit.." Itulah yang di katakan, judul dari ceritanya.
Jing Yiran mendengarkan dengan seksama.
"Ini adalah cerita sedih sederhana yaitu seorang yatim yang tinggal bersama ibunya. Ibunya seorang petani gandum, meskipun setiap hari dia mengolah gandum dari tangan-tangannya mereka hampir tidak bisa makan."
Kemudian cerita pendongeng itu berlanjut dengan sendirinya.
"Anak itu mengganjal perut keroncongan dengan air, dan dia bernama Yan Su. Dari gaji ibunya, mereka hanya bisa membeli satu porsi roti setiap hari untuk di makan mereka berdua.
Yan Su memotong rotinya lalu memberikan irisan lain pada ibunya, meskipun begitu setengah potong roti kering tidak akan cukup untuk perut orang dewasa dan anak yang dalam masa gizi, maka mereka semakin kurus dan lemah.
Tempat di sekitar mereka penuh dengan tanaman gandum, Yan Su kemudian ikut berkerja dan menjadi buruh gandum terkecil."
Di tengah-tengah cerita Xian Zi menutup kipasnya bosan dan mulai mencibir. "Setiap kali aku mendengarkan ceritanya aku selalu bertanya-tanya, kenapa judulnya 'Pengembala Pangsit'?"
"Seharusnya 'Pengembala Gandum'!"
__ADS_1
"Mereka hanya menceritakan gandum, gandum, dan gandum!"