KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Pedang Bintang Jatuh III


__ADS_3

Semua orang fokus dan menunggu apa yang akan terjadi di atas panggung saat pertarungan antara Lau Luo dan Zhan Chen, sampai ke titik di mana keduanya  sama-sama berada di jalan buntu dan keheningan larva menyelimuti seluruh panggung mereka tidak ada yang berniat menyerang terlebih dahulu.


Dan teknik Zhan Chen, Hujan Meteor masih tepat di atas Lau Luo. Sedangkan di bawahnya adalah larva panas, dan dia berada di tengah-tengahnya menggunakan Langkah Angin Meniup Awan yang membuatnya seolah-olah terlihat terbang pada batasan waktu tertentu.


Pada waktu itu adalah hal yang membuat keheningan panggung sebagai penentu kemenangan.


Energi spiritual milik siapa yang habis terlebih dahulu? Akankah Lau Luo yang menggunakan Langkah Angin Meniup Awan yang hanya bisa di gunakan selama lima menit? Atau Hujan Meteor Zhan Chen dan teknik larvanya yang terlebih dahulu musnah karena kehabisan energi spiritual?


Saat ini, keduanya bergantung pada waktu lima menit terakhir. Ketika waktu sudah lebih dari lima menit, maka Lau Luo tidak bisa mempertahankan Langkah Angin Meniup Awan untuk tetap terbang dan dia akan kembali ke sisi panggung, sedangkan di setiap arena larva panas sudah siap mengintai untuk menelannya. dan membakarnya mulai dari kaki, perut, kemudian kepala. Melihat seberapa besar kekuatan spiritual yang di keluarkan Zhan Chen pada Pedang Bintang Jatuh, dia berencana membalaskan rasa malu yang bernama Jie Yanling dengan cara membunuh murid dari Shao Yi Chen dengan apapun caranya.


Seperti yang di perkirakan Zhan Chen, setelah baru saja Lau Luo mengunakan Langkah Angin Meniup Awan saat ini juga dia harus menggunakannya hingga waktu untuk mempertahankannya berkurang menjadi tiga menit.


Dalam waktu hampir habis tiga menit itu, Zhan Chen bisa melihat jelas wajah yang awalnya masih tenang sekarang mengkerut panik.


Di situlah Zhan Chen tertawa keras begitu melihatnya dan dia tidak tahan untuk berteriak. "Mati saja menyedihkan dalam larva panas! Aku berjanji akan mengantarkan tulang-tulang mu ke Yilin dan mayat mu untuk penghargaan Shixiong-Yiran mu atau untuk siapapun itu dan untuk Dewa puncak Shao!"


Melihat seberapa besarnya larva panas di atas panggung, dan hanya dari tekanan panasnya saja cukup untuk membuat orang-orang merasa sesak karena udara yang menjadi sedikit, semua penonton berkeringat. Jika saja tidak ada tabir pelindung, hanya dengan teknik Zhan Chen maka sudah cukup untuk membunuh penonton di sekitaran panggung dan mati terbakar.


Melihat pertandinga itu Jing Yiran mengepalkan tangannya di balik jubahnya karena khawatir, meskipun demikian untuk saat ini dia tidak melupakan tugasnya menjadi pendamping dari ke tujuh puncak.


Dia berteriak pada semuanya. "Jangan dekati tabir! Jaga jarak aman di sekitarnya, kalian bisa terbakar!"


Semua orang yang mendengar Jing Yiran, mereka langsung mundur dua sampai tiga langkah.


"Yiran-shixiong, apa Luo-shixiong bisa menang kali ini?" Pada saat ini seorang perempuan dari puncak Xia Hua bertanya khawatir dan dia adalah teman dekat Zhang Ziyi.

__ADS_1


Jing Yiran mengatakan sambil tersenyum. "Jangan khawatir Luo-Shidi kuat, dia akan menang."


Perempuan itu mempunyai alasan untuk menyangkal Jing Yiran, apa yang di katakan Jing Yiran sama sekali tidak mempunyai alasan selain hanya untuk menghiburnya. "Itu akan sulit! Ini mustahil, pedang Zhan Chen adalah Pedang Bintang Jatuh. Pedang yang luar biasa! Tapi Luo-shixiong.. dia hanya menggunakan pedang dari toko biasa! Kekuatan mereka tidak sepadan!"


Dia merasa kesal. "Lagian orang mana yang membiarkan Luo-shixiong bertarung dengan pedang buntut seperti itu?!"


Jing Yiran, "...."


Jing Yiran yang membelikannya dengan semua uangnya. Apa tidak bisa menyebutnya selain pedang buntut?


Sebenarnya pedang yang di belikan Jing Yiran adalah kualitas terbaik, meskipun begitu tetap saja jika di bandingkan dengan Pedang Bintang Jatuh milik Zhan Chen, maka pedang yang dia beli dari toko akan berbeda sangat jauh.


Duan Yanyue tiba-tiba datang dan berbicara padanya. "Itu sudah pedang terbaik dari toko Chang'Su yang aku pilihkan. Kau memanggilnya sebagai pedang buntut.. apa otakmu sinting?"


Lalu Duan Yanyue tertawa. "Bagaimana pedang mu sendiri yang lebih jelek itu? Apa kau memanggilnya pedang tahi?"


"K-kau! Mengatai pedangku?!" Perempuan itu marah, dia berteriak lagi pada Duan Yanyue. "Itu kamu yang memilihkannya?! Luo-shixiong bisa kalah karena mu!"


Duan Yanyue melirik Jing Yiran. "Tapi Yiran-shixiong mu yang membelikannya tuh. Sebagai murid junior apa kau baru saja menghinanya?"


Perempuan itu sangat terkejut kemudian buru-buru menundukkan kepalanya pada Jing Yiran untuk meminta maaf dan dia lalu melotot ke arah Duan Yanyue marah, menginjak kaki Duan Yanyue kemudian mengendus pergi.


Duan Yanyue mengeryit karena kakinya sakit sambil mencibir ke arah punggung perempuan itu yang pergi. "Ini adalah cobaan. Aku akan memilih istri rendah hati suatu hari nanti, atau istri jahat akan selalu menginjak kakiku sampai lumpuh."


Tidak lama kemudian suara keras membuat perhatian semua orang kembali ke atas panggung. Dan yang memekakkan telinga itu berasal ketika Lau Luo jatuh dari udara dan hampir tercebur ke teknik larva Zhan Chen, panggung di bawah kakinya meledak dan semua larva panas tepat di bawah kakinya perlahan menguap menjadi uap panas. Tiga ribu rambut hitam Lau Luo terjalin di jubah putihnya yang sedikit mengucurkan keringat, sedangkan hawa panas di sekelilingnya lagi-lagi menjadi uap dan kabut tebal tiba-tiba mengelilinginya.

__ADS_1


Meskipun dia tidak berpendidikan tapi Lau Luo sangat tahu tentang hukum alam.


Larva panas Zhan Chen seolah-olah adalah kekeringan selama setahun, dan teknik Hujan Batu Meteor seperti hujan air selama satu hari. Meskipun kedua teknik Zhan Chen sama-sama berunsur panas, tapi Hujan Batu Meteor tidak lebih dari hujan.


Itu sama ketika, panas selama satu tahun akan hilang jika di guyur hujan satu hari.


Murid Sekte Awan Giok tiba-tiba tersentak, dia terkejut dan berteriak. "Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa dua energi panas bisa saling menghilangkan?!"


Saat ini ada orang yang menjelaskan dari salah satu murid Sekte Awan Giok. "Pasti ada alasannya, kenapa teknik Zhan Chen kelemahannya adalah teknik dia yang lain. Misalnya larva panas dan hujan batu meteor adalah kombinasi teknik yang menakjubkan, tapi tidak di sangka jika kedua teknik di gunakan secara bersamaan akan membuat celah kelemahannya sendiri. Mengingat kedua teknik berunsur panas, bagaimanapun juga ini masih sulit di mengerti."


Mengetahui tekniknya sendiri menguap, Zhan Chen jelas bingung. Dia sudah menggunakan dua teknik terkuatnya pada Pedang Bintang Jatuh, sedangkan Lau Luo dari awal pertandingan menggunakan teknik dasar hanya Langkah Angin Meniup Awan?


Memikirkannya saja Zhan Chen langsung mendecakkan giginya, dan dengan serangan terakhir dia mengerahkan semua energi spiritualnya pada Pedang Bintang Jatuh. Dan saat dia mempersiapkan tekniknya maka untuk sekejap mata kedua pedang mereka kembali bertemu, bersitegang dengan kecermelangan masing-masing. Slur merah dan putih saling melilit satu sama lain dengan cahaya spiritual yang tidak terlihat, sampai keduanya di tekan dengan energi qi yang hampir habis.


Namun kenyataannya tidak sesederhana yang terlihat, meskipun Lau Luo masih terlihat menyamai kekuatan Zhan Chen pada kenyataannya dia jatuh pada krisis yang lebih mengerikan dari pada Zhan Chen.


Untuk bisa lolos dari dua teknik tertinggi Zhan Chen, dia mengeluarkan energi spiritual di luar jangkauannya hingga membuat perhitungannya berantakan.


Energi spiritual Lau Luo sendiri sudah habis karena untuk menangkis semua ratusan hujan meteor yang di arahkan padanya, juga untuk menghindari larva panas dan mempertahankan Langkah Angin Meniup Awan pada waktu yang sama seolah lautan mentalnya sebagai pengganti spiritual sudah terkoyak di dalam dirinya, membuat dia sendiri hampir tidak bisa berdiri dengan tegak.


Jangankan untuk tetap berdiri dan melawan, dia sudah tidak bisa mengangkat pedangnya dengan benar. Setiap genggaman tangannya bergetar dan mengigil, dan pedang perak itu hampir berkali-kali luput dari tangannya.


Namun Zhan Chen tidak berniat memberi kesempatan untuk berhenti, dan Lau Luo di tekan lebih berat. Tapi tiba-tiba energi perak di pedangnya menghilang seperti lilin yang padam yang membuat celah pertahanannya semakin menurun.


Dalam waktu satu detik pedang perak sudah muncul di leher Zhan Chen, dalam posisi terhunus dengan energi spiritual yang berkobar.

__ADS_1


Masih menghunus ke leher Zhan Chen, Lau Luo melihatnya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun atau senyuman apapun dan mata hitamnya sedikit mengeryit dalam kelumpuhan wajah yang acuh tak acuh.


__ADS_2