KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
kau harus memanggilku dage II


__ADS_3

Setelah persiapan untuk pengobatan telah selesai, Jing Yiran mulai memanaskan jarum luka di atas api. Dia lalu mengelap darah di sekitar luka dan membayangkan jika kulit di sekitar luka itu hanyalah pekerjaan biasa menjahit silang.


Jing Yiran mengepalkan giginya. "Ini hanya berlangsung sebentar.. kau harus menahan sakitnya sedikit."


Jing Yiran menaburkan obat bius yang sedikit itu, yang pasti tidak akan menghilangkan nyeri sakit secara sepenuhnya, jadi Lau Luo harus terpaksa sadar saat lukanya perlahan di jahit.


Bagaimanapun Lau Luo masih berusia enam tahun, saat anak kecil mengalami sejenis kesakitan ini dia pasti akan memberontak untuk berjuang karena kesaktian.


Dan dia menghempaskan kaki dan tangannya yang terikat saat Jing Yiran mulai menjahit daging di perutnya sambil menahan kesakitan dan nyeri yang luar biasa dia merapatkan giginya dan semua matanya mengigil. "Kau-!


Jika di sini ada orang lain yang bersedia menyembuhkan Lau Luo selain dirinya dan Can Zao pasti Lau Luo menerima pengobatan yang lebih layak. Jing Yiran merasa bersalah, dia meruntuk malu untuk kemampuannya sendiri. Dalam situasi ini, sebutannya sebagai jenius muda karena menjadi murid Yilin di Sekte Pedang Patah tidak ada gunanya.


"Aku hanya mengetahui metode penyembuhan seperti ini.. maafkan aku."


Dan lagi, setelah ini selesai luka itu akan meninggalkan bekas jahitan silang seumur hidup yang mengangga dan mengerikan. Jing Yiran mengertakkan giginya sebelum dia mulai menjahit luka itu, dia perlahan menjahit daging kurus itu yang juga menyalurkan ngeri untuk mentalnya sendiri.


Saat kemudian Lau Luo berjuang dengan kesakitan yang besar, nafasnya tersengal-sengal dan terputus-putus dan dia mencengkram kepalan tangannya. Dia memandang tajam Jing Yiran, jika dia sekarang memegang pedangnya pasti Lau Luo sudah menggunakan pedangnya di leher Jing Yiran untuk memaksanya berhenti.


Dia melihat orang yang mengenakan jubah biru langit itu dengan mata kebencian, mata yang seperti tatapan haus darah Lau Luo mengertakkan bulu mata panjangnya dan semua gigi-giginya sebelum melemparkan kakinya untuk menendang orang itu.


Jing Yiran tidak tega melihat Lau Luo yang terikat kesakitan, dia lalu mengambil pedang Lau Luo dan melenyapkannya ke cincin penyimpanan. Saat Lau Luo melihat pedangnya menghilang dia mengertak marah, tapi begitu Jing Yiran melepaskan ikatan di tangannya ekspresinya tertahan dan dia tidak jadi memuncak karena marah.


Jing Yiran melepaskannya. "Ini akan cepat berlalu, apa kau bisa menahannya sedikit? Hanya sebentar aku akan menjahit semua luka-luka mu secepat mungkin."


Luka di perut Lau Luo sudah tertutup, dia lalu membersihkannya dengan air hangat dan membiarkan Lau Luo duduk.

__ADS_1


Dia melihat luka di punggung Lau Luo yang membuatnya menelan serat di lehernya yang tiba-tiba berubah kering.


Jing Yiran berkata halus dan nyaman. "Baiklah, aku akan melakukannya dengan hati-hati, ini akan terasa sakit dan kembali cepat berlalu seperti sebelumnya."


Saatnya bagi Jing Yiran untuk menjahit luka punggung Lau Luo. Dia sedikit terpana mengetahui bocah enam tahun itu berhenti memberontak, mungkin Lau Luo pingsan di posisi duduk atau berubah tenang karena mendengar perkataan menenangkan tapi semua kulit orang itu masih mengigil mencoba menahan rasa sakit di sekujur lukanya.


Karena Lau Luo lebih tenang dan sekarang tidak lagi memberontak Jing Yiran menjahit lukanya dengan lebih cepat, dia bisa mendengar rintihan kesakitan dari Lau Luo tapi Lau Luo menatapnya tajam, dan menggigitnya keras seperti serigala yang mencoba balas dendam.


Jing Yiran merajut alisnya karena merasa kesakitan, dia hanya di gigit oleh gigi susu yang baru tumbuh, tapi rasanya dia di gigit gigi serigala yang lapar. Dia mencoba menahannya, tapi dia tahu Lau Luo melakukannya karena metode penjahitannya menggunakan sedikit obat bius dan agar orang itu tidak terpaku pada rasa sakit akibat jahitannya jadi Lau Luo mengigit orang lain.


"Kau harus memanggil ku Dage!"


/Dage: kakak.


Lau Luo melepaskan giginya dan langsung membuat bekas giginya mencetak di daging tangan Jing Yiran sampai menganggu orang itu menjahit luka-lukanya, alhasil membuat cara pengobatan itu semakin memperparah luka itu sampai berkopeng ke mana-mana.


-Prak!


Ketika rambut hitam itu terurai, penampilannya hampir mirip dengan Shu Zi Jiu yang ada di pemukiman primitif, hanya saja wajah dan kulit kulit Jing Yiran sedikit dingin dan penampilannya tidak sepucat Ah Jiu-ge meskipun mereka sama-sama berambut panjang.


Saat selesai menjahit segala luka berkopeng, dan mencungkil loka borok yang hampir bernanah Jing Yiran menghela nafas lega.


Dia menghela lega karena pekerjaan pengobatan telah selesai, dia lalu menyeka semua luka Lau Luo dan menaburkan obat di kain katun kemudian membubuhkan obat lainnya saat memperban sebagai langkah terakhir.


Jing Yiran juga tidak lupa dengan segala macam luka sayatan di kaki Lau Luo, saat mengingatnya dia lalu melepaskan alas kaki Lau Luo dan yang langsung memperlihatkan berbagai luka kecil sudah terlihat sangat mengerikan karena banyak kulit-kulitnya sudah terkelupas, setelah diam sejenak tidak lama kemudian dia mengambil salep herbal dan mulai mengolesi setiap goresan luka di kaki Lau Luo secara merata agar ratusan luka sayatan itu tidak lagi mengeluarkan darah.

__ADS_1


Dia tersenyum dan menyelimuti orang setengah kritis itu agar bisa beristirahat nyaman, Jing Yiran mengambil trompi birunya dan dia kembali mengikat rambut panjangnya kembali menjadi ekor kuda.


"Sudah selesai."


Dari luka, Lau Luo kehilangan banyak darah yang membuat wajahnya memucat dan menghijau untuk mengembalikan kekurangan karena terlalu banyak mengeluarkan darah dari pertempuran Lau Luo dengan Zhang Zihan, Jing Yiran perlu ramuan untuk mengembalikan darah Lau Luo yang hilang sebelumnya.


"Aku harus membuat bubur dengan campuran obat penambah darah."


Dia lalu mengambil air keruh yang sudah berubah merah dan dia langsung membuangnya untuk mengganti kembali ke air bersih, dia melihat kembali ke wajah Lau Luo, bocah kecil itu sudah terpejam dengan kulit dan bibir yang pucat serta semua kulit yang memucat hampir seperti mayat.


Setelah selesai dan dia keluar, Chuxi dan Can Sua sudah ada di depannya.


Chuxi sudah mematung di depan pintu begitu juga dengan Can Sua, Jing Yiran menaikkan satu alisnya sebelum dia bertanya. "Ada apa dengan kalian?"


"Bagaimana keadaan Luo didi?!"


"Bagaimana saudara Luo sekarang?!"


Perkataan Chuxi dan Can Sua hampir menusuk di telinga Jing Yiran secara bersamaan, mereka tidak bertanya, terkesan membentak karena terlalu cemas.


"...."


Chuxi dan Can Sua memantapkan telinga mereka, untuk luka Lau Luo yang terlihat parah. Mereka tidak terlalu mempercayakan kemampuan penyembuhan Jing Yiran, karena dari luar mereka mendengar suara benturan keras, dan lagi tidak ada rumor yang mengatakan jika Yiran-xianjun yang terhormat itu pandai untuk menyembuhkan luka orang lain.


"Tenang saja, dia tidak mati.." Jing Yiran berkata acuh tak acuh.

__ADS_1


"Tapi jika kalian menjenguknya, dia akan mati."


__ADS_2