
Lau Luo terus memandangi makanan yang di berikan Shu Zi Jiu meskipun perutnya memang sudah bergemuruh seperti halilintar, namun dari tadi dia tidak berniat untuk memakannya.
Dia lalu memotongnya menjadi dua bagian dan menyimpan satu bagiannya untuk dia berikan pada Shu Zi Jiu. Meski Ah Jiu-ge nya bilang sudah makan dengan baik, tapi kondisi tubuh yang terlihat sangat kontras dengan yang Shu Zi Jiu katakan, kurus dan lemah membuatnya merasa sangat khawatir.
Kemudian separuh makanan yang lainnya Lau Luo menyimpannya di balik pakaiannya untuk nanti dia berikan pada Mo Yiyang, karena bagaimanapun selama terjebak di dalam jurang orang itu juga belum makan.
Yuan Yi meletakkan cangkir yang berisi air bersih di dekat Lau Luo, meski cangkir itu mengalami kerusakan dan retak di beberapa tempat tapi setidaknya menurut mereka masih layak di gunakan untuk minum.
"Kau sudah menghabiskan makanan mu?" Tanya Yuan Yi.
Lau Luo mengangguk. "Sudah."
Yuan Yi berkata terheran. "Cepat sekali kau memakannya."
Lau Luo berdiri dan menepuk-nepuk perutnya. "Ya, tentu saja cepat." Dan dia kemudian merenggangkan tangannya ke atas untuk mengusir lelah, "Aku akan membantu Ah Jiu-ge untuk mengambil sayuran."
Yuan Yi menyambar cangkir minum dan menuangkannya paksa ke mulut Lau Luo, saat Lau Luo merasakan air mengalir ke mulutnya dia meneguk pelan yang membuat tenggorokannya berubah menjadi lebih segar.
"Jangan lupakan minuman yang aku ambil susah payah." Kata Yuan Yi dengan sedikit mengendus.
"Tidak perlu memaksa." Lau Luo sedikit berbatuk. "Aku bisa meminumnya sendiri!"
"Baiklah! Baiklah! Aku akan menyalakan api untuk memasak, kau urus saja urusan mu."
Shu Zi Jiu memilih sayur yang sudah siap di panen, dia kemudian memasukkannya ke keranjang bambu. yang sebelumnya Chuxi sudah mengambil beberapa, tapi menurutnya itu masih kurang karena dia akan membuat makanan untuk lima orang.
Hanya berselang waktu sebentar, Lau Luo sudah berdiri di dekatnya.
"Ah Jiu-ge, aku akan membantumu memotong sayurannya." Lau Luo langsung memotong sayuran dengan tangannya.
Melihat tangan Lau Luo kosong, Shu Zi Jiu tidak tahan untuk bertanya. "Kemana parang mu Luo-didi?"
__ADS_1
Parang sayuran itu telah hancur karena di gunakan Lau Luo untuk melawan kelelawar Chi sebelumnya. "Aku menghilangkannya."
Shu Zi Jiu menghembuskan nafasnya kecil, seperti tahu yang di katakan Lau Luo. "Kamu jangan memotongnya menggunakan tangan, kamu minta parang yang baru pada kakek Shang dia akan memberikannya."
Parang itu bisa di gunakan waktu situasi yang mendesak, dia bisa meminta kakek Shang untuk membuatkan parang yang baru. Lau Luo mengangguk. "Baiklah."
Dia mengetuk pintu gubuk kakek Shang, tidak ada suara orang di dalamnya, membuat Lau Luo langsung saja masuk.
"Kakek Shang.." Lau Luo sambil matanya menyapu ke segala arah.
Di meja kakek Shang terdapat banyak tanaman herbal yang belum di olah, banyak sekali tumbukan yang kasar seperti di buat dengan tergesa-gesa atau berhenti di tengah jalan.
Lau Luo mengambil sepucuk tanaman berdaun empat, dia langsung tertawa kecil. Dia lalu menumbuknya hingga halus untuk meringankan sedikit pekerjaan kakek Shang, dia juga mengolah tanaman itu.
Setelah waktu lumayan lama, dan tidak ada lagi tanaman yang bisa dia tumbuk untuk mengusir kebosanan dia langsung mendengus kesal.
Tidak biasa kakek Shang keluar dan tidak kembali selama ini, saat mengingat perkataan Kakek Shang bahwa anak kecil tidak boleh mencampuri urusan pria dewasa, Lau Luo langsung memasang wajahnya acuh. Untuk apa dia peduli dengan orang tua yang bau tanah?
Lau Luo mencari cari ke segala tempat milik kakek Shang, sepertinya orang tua itu pergi terburu-buru karena gubuknya yang terbiasa bersih sekarang terlihat berantakan.
"Apa Kakek Shang berpikir langit akan runtuh, jadi dia pergi dengan cepat?"
Di lihat dari jejaknya, mungkin orang tua itu akan pergi untuk waktu yang lama.
*
Chuxi menarik tangan Mo Yiyang, dan mereka berlari menuju ke gerbang Kekaisaran Yin. Chuxi menoleh ke sana kemari setelah dia menemukan sesuatu yang telah menunggu mereka, dia langsung berkata padanya.
"Kau pergilah dari sini dalam semalam dan jangan pernah kembali lagi!" Kata Chuxi sambil menunjuk ke arah benda yang agak jauh bergerak mendekat, benda itu seperti kereta bergerak dan di depannya ada kuda yang berlari kencang.
Mo Yiyang menyimpitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya, dia akhirnya bisa melihat arah yang di tunjuk Chuxi adalah sebuah dokar yang di kendarai seorang pria tua.
__ADS_1
Chuxi menghampiri pria tua itu, "Kakek Shang! Bawa dia pergi dari sini karena dia adalah orang dari kekaisaran!"
Kakek Shang melihat ke Mo Yiyang dengan tidak suka seperti ekspresi yang tertanam di wajah Chuxi. "Jadi dia seorang putra mahkota kekaisaran Yin?"
Mo Yiyang menundukkan kepalanya dan mengangguk. "Terimakasih, telah menyelamatkan saya sebelumnya."
"Tidak butuh terimakasih mu." Kakek Shang segera menyuruh Mo Yiyang masuk ke dalam dokar. "Masuk, aku akan membawamu pulang."
Tanpa sempat bereaksi Mo Yiyang sudah di tarik Chuxi ke dalam dokar yang memiliki satu kuda.
"Jangan memikirkan apa-apa atau menyesalkan sesuatu, kau hanya perlu kembali ke rumahmu dengan tenang." Kata Chuxi, dia juga tidak lupa berbisik pelan di telinganya. "Jadilah gadis yang penurut, dan putra mahkota yang baik untuk masa depan. Kau hanya perlu memikirkan dua hal itu."
Chuxi tersenyum untuk Mo Yiyang, kemudian berkata pada Kakek Shang. "Kakek Shang, apa yang mau kau cari di dalam Kekaisaran Yin? Apa benar kau akan pergi dari desa ini?"
Kakek Shang melirik tiket emas di depannya, yaitu bocah berparas lelaki berusia tujuh tahun. "Tidak ada kesempatan lain jika aku melewatkannya kali ini."
Sebenarnya dia selalu ingin ke dalam Kekaisaran Yin untuk mencari seorang, dia berkali-kali melakukan penerobosan namun selalu berakhir gagal karena penjaga gerbang Kekaisaran. Penjagaan yang ketat hanya untuk membatasi desa sampah dengan Kekaisaran yang megah.
Dia berkata pada Chuxi. "Gubuk mu agak jauh, untuk sementara kau bisa tinggal di gubuk ku, kauu hanya perlu membersihkannya setiap hari."
Chuxi tidak menolaknya. "Terimakasih, aku akan tinggal di sana mulai sekarang."
Kakek Shang mengangguk dan langsung memecut kuda jantan itu agar segera berlari. Mo Yiyang di dalam dokar semakin was-was, dia tidak ingin pergi dengan cara seperti ini. Setidaknya berikan dia kesempatan untuk bertemu dengan tiga bocah lainnya, setidaknya dia ingin berpamitan dengan mereka juga.
"Kakek Shang."
Mo Yiyang ingin meminta Kakek Shang agar berhenti sejenak, tapi setelah melihat raut muka pria tua itu yang sepertinya tidak akan mendengarkan satu ucapannya, dia hanya bisa menelan perkataanya dengan senyuman tipis.
Mata Mo Yiyang melihat ke arah gubuk yang akrab dengannya selama beberapa hari ini, dia tidak bisa melihatnya dengan jelas karena pepohonan semakin banyak menghalangi arah pandangnya.
Dia mencengkram erat pakaiannya dan dalam sekejap saja matanya menjadi basah. Sepertinya surga tidak mengijinkan Mo Yiyang untuk berlama-lama di pemukiman primitif..
__ADS_1