
Seperti angin tanpa ancaman, dalam sekejap Lau Luo dalam mimpi itu telah menarik pedangnya dan langsung melemparkannya pada Jing Yiran. Embun Beku Mengambang di tarik tepat waktu untuk membelokirnya, dan untuk helaan nafas kemudian pedang pedang itu saling berbentrokan hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring yang di susul dengan suara berat yang dingin, suara kekelaman dari pedagang kegelapan Duka Surgawi.
''Jika kau tetap menghalangi ku membalaskan dendam kematian Ah Jiu-ge, aku akan membunuhmu Yiran-shixiong lalu membunuh tetua puncak itu juga." Pedang hitam itu kembali ke tangan Lau Luo dengan mulus dan dia bergumam dengan suara tipis. "Jika tidak, aku akan menghancurkan sekte, membakar pegunungan Yiling dan membunuh orang-orang dari Sete Pedang Patah dan meminum darah mereka semua sampai kering!"
Pedang hitam itu kemudian menyalakan cahaya merah, nama yang tiba-tiba muncul begitu dia merindukan Ah Jiu-ge yang sudah mati dan seolah-olah rasa kehilangan seperti itu seakan memberikan kesedihan dan duka yang berkepanjangan tanpa akhir.
Saat mengelus pedang itu, Lau Luo kemudian bergumam. "Pedang Duka Surgawi.."
Setelah membelokir satu serangan, Jing Yiran tiba-tiba merasa pusing, dia kemudian menggunakan Embun Beku Mengambang untuk membantunya tetap berdiri. Kaki satunya menekuk ke tanah dan matanya menelusuri setiap lekuk wajah Lau Luo yang sudah sangat berubah di dalam mimpinya itu. Sosok yang dulunya hampir menjadi remaja itu sekarang menjadi lebih dewasa dan menjadi lebih dingin, dia memejamkan matanya seolah-olah ingin mengatur setiap nafas yang terasa berat, yaitu perasaan yang membuatnya kesulitan untuk bernafas.
Setelah memejamkan matanya sejenak, tidak lama kemudian dia kembali membuka matanya..
Saat itu seseorang memanggilnya dengan suara khawatir. "Yiran-Shixiong, kau sudah bangun?"
Entah kenapa rasa pusing itu masih ada yang membuat semua kepalanya pening dan sakit, Jing Yiran bergumam sedikit saat kepalanya sudah menyandar di tangan orang lain. "Luo-shidi?"
"Yiran-shixiong.." Lau Luo merajut alisnya dan mata hitamnya tidak berbohong jika dia sedang khawatir dengan keadaan Jing Yiran yang tiba-tiba pingsan, begitu melihat Jing Yiran yang sadar dan membuka matanya dia segera bertanya. "Saat tiba di dermaga kau tiba-tiba saja pingsan, apa ada sesuatu yang mengganggu mu sampai membuat mu kelelahan dan kehilangan stamina akhir-akhir ini?"
"Hanya sedikit kelelahan.." Jing Yiran mengangguk melihat Lau Luo di depannya masih lebih pendek darinya, tanpa sadar dia langsung menghela nafas setelah mengetahui jika yang terjadi tadi bukanlah kenyataan.
"Sebagai seorang pendamping, aku harus mengurus semua murid-murid yang mengikuti kompetisi. Sudah sewajarnya aku merasa lelah." Jing Yiran mengatakannya dengan suara lelah kamudian dia melanjutkan berkata. "Apalagi tetua puncak Ma Dao, dia tidak akan banyak membantu. Aku harus mengurus pekerjaan sedikit lebih banyak dan mengurus semuanya, mungkin aku pingsan karena kelelahan."
"Shixiong kau keterlaluan memaksakan dirimu sendiri sampai tidak bisa beristirahat dengan baik." Lau Luo segera meraih lengan Jing Yiran dan meletakkan di pundaknya kemudian dia membantunya untuk berjalan dan menopangnya juga. "Aku akan mengantarmu beristirahat ke kamar."
Setelah sampai di kamar dia lalu mengambil selimut tebal berwarna putih dan langsung menyelimuti Jing Yiran yang terlihat menderita karena wajahnya sangat pucat dan semua kulit-kulitnya terasa lebih dingin.
Melihat Lau Luo pergi setelah mengambilkan selimut untuknya, Jing Yiran segera bertanya. "Luo-shidi, kau mau kemana?"
__ADS_1
"Mengambil makanan di dapur."
Karena gejala pingsan Jing Yiran berlangsung selama enam jam membuat Lau Luo ketakutan karena terlalu khawatir, jadi meskipun dapur sekarang sudah tutup, dia masih bisa memperoleh bahan-bahan di dapur untuk membuatkan makanan.
Lau Luo hanya keluar selama setengah jam begitu dia kembali, di tangannya sudah ada semangkuk pangsit panas.
Secara alami setelah pingsan Jing Yiran tidak bernafsu untuk makan selain duduk untuk mengumpulkan kesadarannya. Tapi sebagai seorang murid pelantaran inti di ouncak Yilin yang terkenal jenius dengan sikap dewasa, dia menatap pangsit di tangan Lau Luo dengan alis yang mengeryit.
Pangsit? Itu makanan kesukaan anak kecil!
"Aku tidak memakan makanan pangsit."
Setelah meletakkan meja makan kecil di depan Jing Yiran, Lau Luo meletakkan mangkuk di atasnya memperlihatkan bentuk adonan pangsit.
Dia kemudian berkata dengan suara lembut. "Yiran-shixiong siapa yang membuat pangsit? lihatlah baik-baik, aku membuat bunga yang berbentuk belladona."
Saat ini dia ingin sekali berteriak karena itu masih pangsit! Kau hanya mengubah bentuknya!
"Lalu, kenapa kau membawakan ku susu kedelai manis?"
Lau Luo menggelengkan kepalanya, seolah-olah merasa iba. "Sungguh bodoh sekarang kau Yiran-shixiong. Apa kamu mengira dirimu sendiri anak kecil yang perlu di rawat dan aku membawakan mu susu kedelai manis? Lihatlah baik-baik ini hanyalah air kedelai yang sudah di fermentasi."
"...."
Jadi Jing Yiran makan malam dengan menghabiskan semangkuk pangsit belladona dan juga susu kedelai manis yang sudah di fermentasi.
Setelah menghabiskan semua makanannya tidak lama kemudian mereka telah mendarat di pelabuhan setelah waktu tujuh hari berlayar menggunakan kapal apung. Jika mereka tidak menaikinya saat menghadiri jompetisi, melainkan melakukan perjalanan darat bisa di pastikan waktu yang mereka habiskan bisa mencapai satu bulan sebelum sampai di kota Chang'Su karena harus melakukan perjalanan merepotkan dengan melewati bukit.
__ADS_1
Sama seperti dermaga pada umumnya, tempat itu sangat ramai dengan kebisingan, teriakan dan salam dari orang-orang yang baru mendarat di pelabuhan. Untuk tukang kapal apung, mereka akan bernyanyi saat memindahkan barang-barang, dan juga karena tempat itu ramai orang-orang bisa berpapasan dengan kerabat yang di kenal, kegembiraan bercampur kebisingan semuanya menjadi satu.
Kebisingan seperti itu tidak bisa membuat fokus Deng Lun untuk berkultivasi, jadi dia keluar. Saat dia ingin menemui Jing Yiran bahwa kabarnya telah pingsan beberapa waktu yang lalu dia secara tidak sengaja berpapasan dengan Chuxi.
Entah kenapa gadis itu hanya mengigit bibir bawahnya kesal dan masih berdiri di depan pintu.
Setelah setengah kolom waktu dupa untuk keberanian, Deng Lun bertanya terlebih dahulu. "Su Wan'er kenapa kau masih di sana?"
Chuxi menengok, dan dia tiba-tiba tersenyum. "Apa kau ingin menemui Yiran? Tak perlu khawatir, meskipun kulitnya sangat tips tapi kekebalan tubuhnya sangat tebal dan dia sudah membaik segera."
Jadi Deng Lun hanya berdehem sedikit, karena tidak ada masalah yang serius dengan Jing Yiran dia tidak perlu masuk dan memeriksanya lagi.
"Hanya begitu-begitu saja sudah mau pergi lagi, kau sebagai manusia sangat terlalu hambar. Bahkan garam di lautan lebih enak daripada berbicara dengan mu." Saat mengetahui tujuan utama Deng Lun untuk kembali bermeditasi, Chuxi ingin mencibir lebih jauh.
"Baik-baik kau sangat kaku, apalah! Apakah itu?! Apa dengan bermeditasi terus dan bermeditasi akan mengubahmu menjadi kuat cepat?!"
Chuxi tertawa. "Daripada bermeditasi dan berkultivasi aku sarankan kau harus melatih mulutmu untuk berbicara lebih banyak."
Meskipun perkataan Chuxi berisi cibiran dan ejekan, tapi perasaannya jauh lebih baik karena ini adalah pembicaraan Deng Lun dan Chuxi untuk durasi yang sedikit lebih lama. Sedangkan di masaa lalu dia akan kesulitan untuk mencari topik pembicaraan kemudian Deng Lun hanya bisa berbicara sedikit, di sisi lain Chuxi akan mengembungkan pipinya membuang muka dan bersikap acuh.
Untuk sekarang Deng Lun benar-benar merasa ini adalah pembicaraan terlama mereka. "Kenapa kau hanya di sini?"
Karena Chuxi tidak puas dengan puncak Erlang Xiao, jadi dia jarang bersosialisasi dengan saudara beladirinya di sana. Dan juga di karenakan Zhang Ziyi dan Xia Xia tidak ada, secara otomatis tidak ada juga orang yang berani untuk memulai berbicara dengannya terlebih dahulu. Jadi Chuxi tidak ada teman untuk bercerita karena bosan.
Dan selama ini dia hanya menghabiskan waktu perjalanan selama tujuh hari ini.. dengan sangat bermalas-malasan seperti ikan kering.
"Kau bertanya? Tentu saja itu karena aku bosan!"
__ADS_1