
Mo Yiyang membiarkannya memberi kotak kayu, saat dia membukanya itu adalah potongan dua kepala yang terlihat menyeramkan, darahnya masih segar dan menetes dari celah kayu.
"Kalian semua keluar dari sini."
Begitu para pelayan dan penjaga keluar, Mo Yiyang langsung menutup pintunya serapat mungkin. Tangannya langsung mendekap kuat mulut yang hampir mengeluarkan isi di dalam perutnya, dia juga langsung merasa pusing dan mual saat melihat irisan kepala manusia di tangannya.
Saat tidak kuat Mo Yiyang berlari keluar dari jendela, melirik ke sana kemari dengan tergesa kemudian memuntahkan cairan perutnya yang sudah tidak bisa dia tahan. Dia mencengkram erat rumput di tanah.
Tangannya gemetar hebat, bahkan organ di dalam perutnya seperti melilit dan ingin muntah lagi. Ini pertama kalinya dia menjatuhi hukuman mati pada seseorang, sama saja dia adalah orang yang telah membunuh kedua orang itu.
Dia melihat kedua tangannya, matanya terbuka lebar. Mayat kepala itu adalah hal pertama kali bagi Mo Yiyang melihat orang yang mati, sangat menyeramkan, dia sampai tidak bisa berhenti gemetar untuk meredakan ketakutannya sendiri.
Dia berjalan ringan, setelah menemukan tempat yang cocok untuk duduk dia lalu bersandar. Wajahnya benar-benar pucat, hanya melihat mayat dia menjadi seperti ini. Sebagai seorang putra mahkota dia di wajibkan menjadi kuat, pasti hari di mana dia membunuh dengan pedangnya akan datang, dia harus terbiasa dengan semua ini.
Tapi dia tidak bisa untuk melihat kengerian ini lebih lanjut. Dia bahkan tidak pernah membunuh binatang, menurutnya semua nyawa pantas untuk hidup. Dia merasakan perasaannya sendiri, hanya karena kemarahan sesaat dia menjatuhi hukuman mati pada orang lain.
Dia mengepalkan erat tangannya di atas tanah. Mulai sekarang, untuk selanjutnya dan yang terakhir. Dia tidak akan membunuh siapapun, atau membuat nyawa orang lain hilang. Dia telah kecewa dengan dirinya untuk sesaat.
Dia kembali meremas perutnya yang serasa mual dan ingin muntah serta batuk yang dia tahan kuat. Ekspresinya pucat, begitu dia melihat orang menghampirinya dia langsung mengambil nafas dengan wajah yang datar.
"Pangeran, anda disini ternyata." Kata seorang bocah laki-laki berusia dua belas tahun.
Mo Yiyang melihat ke arah bocah itu dan dia berkata, "Lei Sai..?"
Lei Sai tersenyum dan mengulurkan tangannya membantu Mo Yiyang berdiri. "Ada jamuan makan malam, kenapa anda keluar saat hampir petang?"
Mo Yiyang tidak menyambut tangan itu, berdiri dengan tenaganya sendiri, kemudian dia berkata datar. "Apa ini urusan mu?"
__ADS_1
Lei Sai membuka mulutnya dengan senyuman masam. "Bukan urusan ku."
Kemudian dia melanjutkan. "Namun cepat atau lambat ini akan menjadi urusan ku. Apa anda lupa? Jika hanya aku yang menerima anda apa adanya."
Mo Yiyang mengepalkan tangannya kuat, dan berjalan pergi. Menerima apa adanya? Itu ucapan paling tidak tahu malu yang pernah dia dengar.
Hanya keluarganya dan Lei Sai yang tahu jika Mo Yiyang menyembunyikan identitas dan gendernya sebagai perempuan, bisa di bilang Lei Sai adalah orang pertama sebelum Chuxi. Dan kebenaran dirinya, tidak boleh ada orang lain lagi yang tahu.
Lei Sai melihatnya dan tersenyum, karena sekarang adalah kepulangan Mo Yiyang setelah beberapa hari terakhir ini mereka tidak bertemu.
*
Malam harinya, di jamuan makan malam. Mo Yiyang hanya memandang makanan di atas meja, dia mengambil satu suap, namun tangannya berhenti sebelum menyentuh mulutnya.
Melihat sup daging perutnya kembali terasa mual, ingatannya kembali membayangkan potongan kepala yang hampir dia lupakan. Dia menahan mual nya, seorang putra mahkota haruslah kuat itu yang selalu di tekankan padanya.
"Kenapa belum makan? Mo'er tidak menyukai makanannya?" Tanya permaisuri Yuwen.
Mo Jing Wei melihat Mo Yiyang, dia tersenyum senang dan berkata. "Aku dengar kau menjatuhi hukuman mati seseorang? Bagus! itu baru putraku yang pertama! Mo'er sekarang sudah tumbuh dewasa!"
Mo Yiyang menenggelamkan wajahnya, melihat Mo Jing Wei yang sepertinya tidak terlalu peduli dengannya yang menghilang ataupun tidak, kembali ataupun tidak. Dia bahkan hampir mati dua kali di desa orang lain.
"Fuqin benar." Mo Yiyang mengangguk kecil, apanya yang harus di beri ucapan selamat setelah membuat orang mati. Mo Jing Wei selalu memandang kecewa ke arah Mo Yiyang yang seorang perempuan karena rasa malu besar waktu melihat adik laki-laki Mo Yiyang ataupun melihatnya. Hanya kali ini Mo Jing Wei memberinya ucapan 'bagus!'
/Fuqin : ayah kaisar.
Mo Jing Wei merasa marah waktu mengingat latihan memanah Mo Yiyang. Saat itu Mo Yiyang menargetkan puluhan burung yang terbang tapi tidak ada satupun yang terkena karena menurut Mo Yiyang 'Mereka adalah makhluk yang hidup aku tidak mau membunuhnya.' Tapi untuk kali ini Mo Yiyang menjatuhi hukuman mati tanpa peduli, bukankah ini telah menunjukkan perubahan sikap dewasa?
__ADS_1
"Aku akan memberimu hadiah untuk ini, apa yang kau inginkan? Aku akan memberikan semuanya." Kata Mo Jing Wei.
Mo Yiyang mencengkram erat tangan yang tersembunyi di bawah meja makan. "Baiklah, jika di perbolehkan aku ingin menemui adikku."
Mo Jing Wei diam sejenak lalu membiarkannya, Mo Yiyang membungkukkan badannya dan berkata. "Terimakasih, Fuqin."
Setelah jamuan makan malam berakhir, Mo Yiyang mendatangi kediaman yang cukup terisolasi dari bagian Kekaisaran hanya memiliki pelayan yang paling sedikit. Pasti Yuwen dan Mo Jing Wei tidak pernah mengunjungi anak yang memiliki gangguan mental ini, dan sepertinya tidak peduli dengan hidup dan matinya.
Begitu Mo Yiyang masuk, dia di beri hormat beberapa pelayan, dia kemudian melihat seberapa kotornya ruangan ini bisa di katakan jika beberapa pelayan mengerjakan tugas mereka dengan setengah hati, Mo Yiyang melirik pelayan wanita.
Mo Yiyang kemudian menuju kamar, dia diam sejenak sebelum membuka pintunya perlahan. Matanya langsung melihat seorang bocah yang sama persis dengan dirinya, wajahnya sangat lungsut, dan tidak terurus dengan benar.
Bocah itu membalik dan melihat ke arah Mo Yiyang.
Mo Yiyang membuat senyuman dan berjalan mendekatinya. "Apa kau sudah makan?"
Dia lalu melirik makanan di dekat pintu yang sudah dingin pada pelayan. "Buatkan makanan yang baru untuk pangeran kedua."
Seorang pelayan langsung mengambil makanan yang sudah dingin. "Baik pangeran pertama."
Mo Yiyang kembali fokus pada bocah di depannya. "Aku kesini untuk menemani mu makan."
Saat Mo Yiyang berjalan mendekat dengan hati-hati, bocah itu mundur waspada dengan gusar. dia mengambil pecahan kaca di atas meja. Mengangkatnya ke atas, seperti sedang memegang sebuah belati tajam. "Jangan mendekat! Aku bisa membunuhmu jika mendekat!"
Dengan ilmu bela diri yang sudah di latih, Mo Yiyang dengan mudah menahan serangan yang dia arahkan. Dia mencengkram kuat lengan itu, yang sangat kurus.
Saat dia menyentuh tangan itu untuk mencoba menahan serangan, ini sangat mengganggunya. Seberapa kurusnya adiknya yang di hadapannya. Bukan hanya tubuh yang bergetar, tapi tulang di dalamnya juga ikutan bergetar takut.
__ADS_1
Ini pasti berat menjalani kehidupan yang tidak di harapkan Yuwen dan Mo Jing Wei, menjadi bocah yang terkurung di dalam sangkar untuk menunggu hari kematiannya, sepasang matanya kemudian menatap lemas adik laki-lakinya.
Mo Yiyang berkata lembut. "Tenanglah Mo Ouyang, ini aku.. kakakmu."