KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Sumpah guru murid


__ADS_3

Berita kekalahan Chuxi yang di umumkan Penatua Qing seperti angin lalu bagi pemimpin sekte, dia mengendus dingin dengan matanya yang acuh ketika dia melihat cucunya itu.


Di sisi lain Chuxi mengepalkan tangannya untuk mengejek dirinya sendiri, dan dia tidak tahan untuk tersenyum tipis dan mencibir betapa lemahnya dia. Dia lalu memandang ke arah Qiao Nuo dengan mata gelap yang dalam dan saat itu juga dia berbatuk mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya. Namun seberapa parah luka yang dia terima, Chuxi tidak pernah menaruh dendam untuk setiap pertarungannya yang adil bersama Qiao Nuo.


Qiao Nuo menatap tenang meskipun di dalam hati pikirannya berkecamuk, dia sudah menyerang secara fatal. Mengetahui gadis itu masih mampu berdiri dengan kesadaran, itu membuktikan seberapa tangguhnya kultivasi Chuxi di samping umurnya yang jauh lebih muda, matanya semakin berkabut dan dia diam-diam mengumpulkan semua energi yang tersisa untuk serangan terakhir, dan matanya menunjukkan ekspresi ambisius.


Saat merasakan ambisi besar Qiao Nuo, Penatua Qing segera melompat dan menghentikan serangan Qiao Nuo yang hampir mendarat, dia mencengkram tangannya dan memadamkan serangannya, yang serangan itu bukanlah serangan biasa ketika melihat seberapa besar energi yang di kumpulkan Qiao Nuo itu jelas sekali bertujuan untuk langsung membunuh siapapun lawannya.


Penatua Qing berkata dengan penindasan, suaranya berat dan matanya terlihat memendam amarah. "Aku sudah mengumumkan kemenangan mu, kamu masih berniat untuk menyerangnya?"


Qiao Nuo terkejut melihat tangan yang lebih besar menghentikan tangannya, dia segera menarik dan memandang Penatua Qing. "Maafkan murid ini, karena bentrokan pertarungan yang keras murid ini tidak begitu jelas mendengar suara anda."


Penatua Qing melihat bakat Qiao Nuo lebih tinggi dari kesepuluh peserta lainnya, di umurnya yang muda dia sudah memiliki kultivasi yang tinggi. Dalam hal kemampuan dia tidak di ragukan untuk memasuki Puncak Erlang Xiao, tapi kepribadiannya..


"Benar-benar murid yang jelek untuk memukul orang yang akan menjadi saudara seperguruannya." Bu Qi Qi tidak tahan untuk mencibir pelan dan dia melirik Ma Dao seorang tetua puncak kedua Erlang Xiao.


Ma Dao, adalah pemilik Puncak Erlang Xiao yang memiliki visi yang ambisius dia pasti akan menerima Qiao Nuo memasuki Puncak Erlang Xiao, ketika dia memikirkan pasangan yang akan menjadi guru dan murid dengan keinginan ekstrem Bu Qi Qi meneguk air liurnya yang tiba-tiba ngeri. "Anda pasti menjadikan dia sebagai murid kan?"


"Ya." Ma Dao hanya menjawabnya sebentar untuk selebihnya sama sekali tidak peduli bahkan lebih acuh dari interaksi Bu Qi Qi dengan Shao Yi Chen.


Bu Qi Qi bahkan berpikir jika Shao Yi Chen jauh lebih baik, setidaknya Shao Yi Chen menghargai Bu Qi Qi sebagai saudara sesama pemilik Puncak.


Mata Ma Dao menunju target pandangan Shao Yi Chen, seorang bocah lelaki yang terlihat seperti bangsawan yang paling muda sekaligus memiliki praktisi terlemah.


Ma Dao membuka mulutnya dan bertanya. "Dewa puncak Shao, anda benar-benar memandang murid itu?"


Shao Yi Chen berdehem, dia mengaitkan sudut matanya kemudian beralih ke murid kesayangannya di antara kerumunan. Meskipun Jing Yiran menyuruh memasukkan murid tanpa kualifikasi yang jelas, dia harus mewujudkan keinginan muridnya itu..

__ADS_1


"Puncak Yilin sedikit sepi, maka aku ingin menambahnya satu."


*


Keesokan harinya Chuxi masih tertidur pucat di tempat tidur, wajahnya yang putih seperti kehilangan warnanya dan bahkan lebih pucat dari selembar kertas minyak dan seolah-olah pingsannya membuat Chuxi terlihat seperti perempuan desa biasa, perempuan yang lemah meskipun sebenarnya dia adalah seorang perempuan yang kuat.


Ketika melihatnya Deng Lun tidak bisa membantu apapun dan hanya memperhatikan gadis itu dari jauh setelah mendapatkan perawatan, dia melihat orang lain melintas di sebelahnya.


Deng Lun merasakan hembusan angin dingin, kemudian sosok itu mengulurkan tangannya dengan lembut ke dahi Chuxi untuk memeriksa suhunya, tindakannya sangat dekat tapi wajah tanpa ekspresi itu tidak bisa mengungkapkan pikiran yang ada di dalamnya.


Setelah memastikan keadaan Chuxi dengan suhu stabil, Lau Luo memperbaiki selimut yang menyelimuti Chuxi. Melihat nafas teratur gadis itu, dia bisa menjadi lebih tenang dan mendesah nafas lega. Meskipun Lau Luo tidak mengatakan sepatah katapun, tetapi Chuxi masih menempati posisi yang berarti baginya.


Saat dia sudah selesai memastikan keadaan gadis itu, dia berbalik kemudian berbicara pada Deng Lun yang kebetulan ada di ruangan itu. "Shixiong, kemana arah Puncak Yilin.."


Sehari kemarin tepatnya saat pertandingan berakhir, Shao Yi Chen sudah mengatakan secara pribadi jika dia menunggunya di Puncak Yilin, tepatnya di dongfu berbentuk rumah bambu yang berada di pegunungan Yiling.


Dia masih bertanya. "Apa kamu bisa menunjukkan jalannya kepada ku?"


Lau Luo mengangguk dan tersenyum.


Karena Deng Lun sudah beberapa kali merasakan tekanan dari senyuman dingin Lau Luo jadi dia mengerti sedikit mengapa Shao Yi Chen menerimanya, namun dia tidak mengetahui alasan Shao Yi Chen menerimanya karena permintaan senior pertama mereka yang acuh tak acuhnya dalam kabut keramahan, dan siapa lagi kalau bukan Jing Yiran.


Jarak antara tempat pengobatan dan puncak Yilin masih tergolong sangat jauh, jadi Deng Lun membawa Lau Luo menuju puncak Yilin dengan menggunakan pedang terbangnya.


Begitu mereka tiba di rumah bambu yang luas, Lau Luo bisa melihat dengan jelas seorang pria berkisaran usia dua puluhan duduk sambil menegak minuman, dan sosok pemilik puncak itu mengenakan jubah mengesankan yang terlihat mendominasi, sulaman perak biru menghiasi pakaiannya, dan membuatnya semakin menawan.


Lau Luo melihatnya tanpa ekspresi sebelum menundukkan kepalanya untuk berkata. "Shifu, murid ini akan mengabdikan hidupnya untuk bimbingan anda. Bahkan jika murid ini melanggar janjinya, jiwanya akan tercerai menyakitkan bahkan seribu cambukan dari neraka itu tidak sepadan."

__ADS_1


Shao Yi Chen mengaitkan sudut sudut mulutnya mendengar sumpah sakral muridnya, sumpah yang apabila itu di langgar akan sangat beresiko untuk Lau Luo.


"Bagus, aku suka tempramen mu." Shao Yi Chen melihat matanya yang sepertinya tidak bermain-main.


Dia diam selama dua detik sebelum melanjutkan berbicara. "Praktisi mu sangat rendah, puncak Yilin ku tidak menerimanya. Tetapi aku akan memberimu sumber daya untuk meningkatkannya segera."


Kas penyimpanan Shao Yi Chen sangat luar biasa tidak terbatas dengan tumpukan sumber daya tinggi yang langka, dia tidak pernah bersikap kikir untuk ketiga muridnya. Dan untuk Lau Luo, dia juga akan bersikap sangat dermawan. Tidak ada hal yang lebih besar ketika melihat muridnya mencapai puncak dengan bimbingan tangannya sendiri.


"Shifu, murid ini sudah mengatakan sumpahnya. Bagaimana dengan anda?"


Dengan sekali tarikan nafas Lau Luo mengatakannya, membuat wajah Shao Yi Chen berubah menjadi gelap. Shao Yi Chen tidak mengatakan sumpah untuk murid lainnya begitu pula sebaliknya, jika sumpah berdiri di salah satu pihak itu membuat Shao Yi Chen seperti seorang penindas.


"Tentu." Shao Yi Chen mengulangi sumpah jiwa Lau Luo, mulutnya mencoba tetap tersenyum. "Aku akan menjadi guru dan membimbing mu, jika aku melanggarnya jiwaku akan tercerai bahkan seribu cambukan dari neraka tidak akan sepadan."


Namun sumpah sakral antara murid dan guru seperti ini akan menguap seketika saat keduanya tidak lagi menganggap guru dan murid satu sama lain.


Lau Luo terlihat puas, dia langsung mengatakan secara ringan tanpa menyembunyikan apapun. "Shifu, sebenarnya aku memiliki Shifu yang lain sebelum anda. Aku tidak bisa melepaskan Shifu yang lain, dia sangat berarti untuk murid ini."


Shao Yi Chen langsung berubah marah, wajahnya menjadi berat dengan kabut hitam. "Lancang!"


Dia masih berusaha bersikap tenang, namun penghinaan memiliki guru lain saat ada di bawah bimbingannya adalah sebuah aib baginya, jadi Shao Yi Chen tidak tahan untuk berteriak. "Sangat lancang! Saat kau memiliki aku sebagai gurumu kau tidak bisa memiliki Shifu lain!"


Itu seperti kau tidak puas dengan satu Shifu hingga mengambil Shifu lain, ini seperti menghina keagungan Shao Yi Chen dan menjadi penghinaan besar saat muridnya berguru ke orang lain.


Meskipun ada beberapa orang yang memiliki banyak guru, tapi menurut Shao Yi Chen itu adalah pantangan yang membuatnya tidak kompeten untuk melatih empat murid. Shao Yi Chen tidak bisa menarik perkataannya dengan sumpah yang baru saja dia katakan, wajahnya sangat tertekan dan tanpa sadar aura yang di keluarkannya langsung menghancurkan rumah bambu mereka menjadi berkeping-keping.


"Untuk selebihnya.."

__ADS_1


Ketika rumah bambu itu meledak, Lau Luo mengangkat satu tangannya untuk memblokir reruntuhan, dia berkata dengan sangat pelan yang menyenangkan di telinga orang lain yaitu suara yang tidak terlalu rendah juga tidak terlalu tinggi.


"Shifu, kau tidak bisa mengambil perkataan mu kembali karena suka atau tidak anda harus membimbing murid ini."


__ADS_2