
Ketika menghabiskan waktu lima tahun ini untuk kultivasi tertutup, saat kembali ke puncak Yilin hari sudah mulai gelap dan juga kabut awan sudah mulai tidak mudah terlihat. Bertepatan dengan itu air hujan mulai tumpah dengan sangat deras di Pegunungan Yiling. Bukan hanya perjalanannya akan menjadi sangat terjal jalanan di Pegunungan Yiling juga sangat licin saat hujan, namun tidak membuat langkah Lau Luo berjalan lambat sedikitpun.
Tubuhnya yang tidak lagi terbilang kecil, seperti di sembunyikan oleh ribuan pohon yang menjulang ke langit. Dia berteduh sebentar sambil duduk di ranting yang memiliki ukuran lumayan tebal, di samping tempat lain juga ada seorang gadis yang dengan patuh berdiri di bawah daun pohon millow. Di bawahnya gadis itu mendongak ke arah ranting yang melengkung, matanya menyimpit untuk menangkap seseorang yang duduk di sana, yaitu sosok yang hampir mendekati seorang remaja dan di lihat dari ketinggian laki-laki itu ataupun jika di lihat dari kulit putih kepucatan yang hampir tidak pernah menyentuh cahaya matahari dalam kurun waktu lima tahun, membuatnya seolah tampak lebih pucat dari orang-orang yang seharusnya.
"Kakak Luo, kau benar akan kembali sekarang ke puncak Yilin?" Liu Qingge bertanya pada orang yang hampir menginjak lebih dari umur dua belas tahun itu.
"Ayo kita masuk ke dalam, udara di luar sangat dingin. Sudah ada orang yang membuat api di gua, kau bisa menghangatkan di dekat perapian juga."
Sekilas Lau Luo hanya menengok ke arah Liu Qingge lalu melihat cahaya kuning menyala dari perapian yang ada di dalam gua sebelum matanya kembali menangkap lagi air dari atas yang sedikit demi sedikit jatuh ke kulit wajahnya. Satu tangannya menagkupkan dadanya sendiri dan dia bisa menemukan gemetar di sana dengan detak jantung yang terpacu, dengan perasaan takut kehilangan seseorang.
Jika di nilai dari mimpinya kematian Shu Zi Jiu dengan penikaman pedang seharusnya akan terjadi dalam waktu dekat ini dan Lau Luo memutuskan untuk menjalani kultivasi tertutup selama lima tahun agar kultivasinya dapat meningkat secara pesat dan dia bisa menghindari kematian Shu Zi Jiu di kemudian hari dengan kekuatannya.
Lau Luo melihat ke arah Liu Qingge yang berbicara padanya, dia tersenyum, namun tidak mengucapkan sepatah kata apapun.
Liu Qingge, "...."
"Kamu panggilkan Soh Jinhong kemari." Lau Luo masih duduk di antara ranting millow, saat mengatakannya dia bahkan tidak berniat melirik ke arah Liu Qingge selain pandangan matanya menyimpit dengan acuh.
Begitu perintah Lau Luo jatuh, Liu Qingge segera masuk ke dalam gua. Setelah beberapa saat, seorang laki-laki berumur sekitar empat puluhan tahun keluar dari mulut gua. Meskipun udara sekarang dingin, bisa di lihat dari bibir Lau Luo yang menggigil kebiruan dan memucat tapi lelaki itu terlihat segar, bahkan pakaiannya juga kering.
"Tuan muda, anda harus segera turun." Soh Jinhong melihat ke arah Lau Luo, dia lumayan tinggi jadi tidak perlu mendongak melainkan hanya sedikit menyipitkan mata. "Anda harus masuk ke dalam dan segera menghangatkan diri."
Lau Luo hanya berdehem sedikit sebagai tanggapan, dia lalu membuka mulutnya dan berkata. "Kirim orang untuk menjaga ke perbatasan desa kumuh, kau bisa mengetahuinya setelah sampai di sana. Maka akan ada gubuk jerami yang hanya di diami dua remaja laki-laki dan mereka adalah kakak ku. Soh Jinhong, ini perintah ku sebagai tuan mu sekarang, jika terjadi sesuatu dengannya kau tidak perlu mengharapkan nyawamu lagi."
Mengingat waktu sebelumnya, Lau Luo pernah bertarung dengan sekawanan bandit dan pencuri yang di tunjukkan oleh Liu Qingge saat dia baru masuk ke puncak Yilin, dia bertarung dengan para bandit dan perampok dengan niatan sebenarnya orang-orang yang di lepaskan Lau Luo sebenarnya tidak pernah lepas, karena mereka telah melakukan kontrak darah sebagai budak. Kemudian budak-budak itu terkumpul menjadi organisasi kecil, yang di urus oleh Soh Jinhong dan juga Liu Qingge sebagai ketua cabangnya.
Awalnya Liu Qingge bertentangan dengan Lau Luo yang mengumpulkan sekawanan orang jahat untuk mendirikan organisasi. Tapi Liu Qingge bisa menumpang hidup pada organisasi ini, jadi dia secara alami menjadi akan menerimanya dan bergabung menjadi rekan. Bisa di lihat bahwa Liu Qingge dalam waktu kurun lima tahun ini, tidak sekurus dulu, pakaian yang di kenaknnya bagus dan yang paling penting tulangnya yang menonjol yang terlihat memprihatinkan sekarang sudah tidak ada, sebagai gantinya Liu Qingge terlihat lebih terawat.
Sedangkan Soh Jinhong adalah seorang pencuri yang kebetulan melatih seni beladiri dari buku yang tidak sengaja dia curi dari kuil. Bisa di bilang Soh Jinhong adalah lawan paling sulit yang pernah di kalahkan oleh Lau Luo sampai sekarang yang memiliki tingkatan praktisi melebihi pemimpin bandit Zhang Zihan atupun lawan Holy Beast, yang tidak ada bandingannya dengan Soh Jinhong. Jika bukan karena qi Soh Jinhong sudah lebih dulu habis pasti pedangnya sudah menancap pada jantung Lau Luo, menjadikan Soh Jinhong tidak akan tunduk pada orang yang berusia dua belas tahun seperti sekarang.
Bagi Soh Jinhong kekalahan adalah kekalahan, bagaimana cara dia kalah itu tidak akan mengubah fakta bahwa dia sudah melakukan kontrak darah untuk melayani Lau Luo sebagai tuannya.
Tetapi untuk kemenangan Lau Luo, dia bisa melakukannya hanya karena qinya meluap di dalam tubuhnya, dia memiliki qi ekstrem yaitu sejenis qi iblis yang di yakini sebagai qi curang dari seorang kultivator sesat. Jika dia tidak berpotensi memiliki qi iblis, mungkin Lau Luo hanya akan menjadi sampah yang tidak akan bisa membunuh seekor keledai.
Soh Jinhong langsung mengerti siapa yang di maksud oleh Lau Luo, dia menekuk satu tangannya dan dia berkata dengan suara hormat. "Baik tuan muda, aku akan segera mengirim orang ke perbatasan."
Soh Jinhong hampir pergi, tapi Lau Luo kemudian membuka suaranya. "Ada satu hal lagi."
__ADS_1
"Siapapun yang tidak puas dengan kekalahan mereka, mereka bisa bertarung lagi dengan ku. Jika kali itu ada yang bisa menang melawan ku, aku akan menghapus kontrak budak kalian."
"Termasuk untuk mu." Lau Luo berkata dengan dingin, seperti hawa dingin di sekitar mereka yang seolah-olah membuat siapapun yang mendengarnya akan mengigil kedinginan seperti di guyur oleh air es ke kepala mereka.
Tidak ada yang tahu apa di pikiran Soh Jinhong, dia hanya menarik mulutnya untuk menciptakan senyuman sebelum dia akhirnya menghilang dengan ilmu meringankan tubuh. "Yakinlah tuan muda.."
Sebagian besar orang memang menghargai nyawa mereka, kemudian mereka tidak berani untuk tidak patuh karena kontrak kutukan darah. Namun ada juga tujuan seseorang yang lebih penting dari nyawa mereka, dan orang-orang seperti itu tidak akan bisa tunduk hanya dengan sebuah kontrak darah saja.
Perkataan Lau Luo jelas di tunjukkan untuk memberi peringatan pada Soh Jinhong, sederhananya Lau Luo tidak ragu membuang orang yang memiliki potensi untuk menjadi akar masalah di masa depan nantinya.
Lebih baik membuang sedini mungkin sebelum menjadi bencana, atau memanfaatkan mereka lalu membuangnya begitu tidak di butuhkan lagi.
Lau Luo sudah memejamkan matanya, tapi langsung terganggu oleh Liu Qingge. "Kakak Luo, bukankah tadi kau ingin kembali ke puncak Yilin? Jika tidak kau bisa masuk ke gua sekarang! Atau kita bisa bersama-sama kehujanan kemudian kita lihat siapa yang masuk angin lebih dulu!"
Karena jarak Lau Luo sekarang sudah mencapai setengah perjalanan Pegununungan Yiling, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke puncak Yilin serta menembus array pertahanannya akan menjadi hal yang lebih mudah. Saat dia kembali kebetulan Zhang Ziyi dan Xia Xia sudah tidak ada, ini sama seperti sebelumnya bahwa dia tidak bisa berpapasan dengan Chuxi saat berkunjung. Jadi dia hanya bermeditasi di rumah bambu miliknya sampai fajar.
Keesokan paginya, ada suara langkah kaki dan kemudian ketukan pintu terdengar dari luar.
"Luo-shidi, apa kau ada di dalam?"
Lau Luo segera membuka pintu untuk melihat Xian Zi, Xian Zi melihat ke arahnya dan dia berkata lagi.
"Yiran-shixiong?" Lau Luo tidak terlalu terkejut jika kebanyakan kegiatan tidak di lakukan oleh Shao Yi Chen sendiri, pemilik Puncak itu bahkan membebankan semua urusan pada Jing Yiran yang merupakan muridnya yang pertama.
Saat mereka sampai di sana Jing Yiran melihat mereka datang dia kemudian tersenyum. "Bagus, semuanya sudah berkumpul di sini."
Jing Yiran juga mulai menjelaskan alsan mereka berkumpul. "Satu bulan kemudian sekte kita akan mengikuti Konferensi Pedang Tunggal, bukan hanya sekte-sekte kecil tapi semua sekolahan beladiri akan mengikutinya. Pemenang konferensi ini akan di beri kesempatan untuk memasuki Mansion tua klan Chan. Aku harap kalian semua berlatih keras untuk memenangkannya dan mendapatkan barang bagus dari sana."
Seperti biasa Deng Lun tidak banyak bicara, Xian Zi yang terlalu antusias, sedangkan Lau Luo terlihat kurang berminat.
"...." Jing Yiran tidak bisa menahan sudut mulutnya untuk berkedut.
Dia kemudian berbicara pada Lau Luo. "Luo-shidi, aku sudah lama sekali tidak melihat mu menggunakan pedang. Apa kau menghilangkannya saat kultivasi tertutup?"
"Itu di bawa orang lain." Lau Luo berkata jujur, saat dia berlatih dengan Immortal Shangya, pedangnya di ambil oleh Immortal Shangya dan sampai sekarang belum di kembalikan.
Jing Yiran tidak bertanya lebih jauh, dia mengelus gagang pedang Embun Beku Mengambang yang menggantung di pinggang sebelah kanan kemudian bertanya pada Lau Luo dengan suara rendah.
__ADS_1
"Jika kau tidak memilikinya sekarang, terpaksa kau harus bertarung tangan kosong di Konferensi Pedang Tunggal nantinya. Tapi apa kau membutuhkan aku untuk meminjamkan pedang Embun Beku Mengambang?"
Jing Yiran tersenyum ke arahnya. "Aku akan meminjamkannya jika kau tidak keberatan."
__
Jing Yiran
Nama kedewasaan : Rongyi
Senjata : Embun Beku Mengambang
Teknik : Hujan Musim Semi, pembuat tabir dan kertas mantra
Sebenarnya ini dari novel aku yang udah tamat E-book pertama, jadi ada pembaca sy dulu yang nungguin kelanjutannya di sini sekitar 200an chapter nantinya, (tp dulu novel sy kurang terkenal T_T)
↪️
↪️
Ingat ya, artikulasi mereka cuma kasih sayang tanpa harap, (misalnya nnti mc LL mengalami kesesatan, maka Jing Yiran adalah orang pertama yang akan menghalangi jalannya dan dia g mengharapkan imbalan atau harapan apapun.)
sy blur judul novel saya sebelumnya..
Kalian juga bisa mengeluh memberikan kritikan untuk saya, sebenarnya kritikan seperti ini yang membuat saya tetap bertahan d akun lama saya, dan sebenarnya merekalah yang membuat sy membuka lembaran baru dan memulai lagi dari awal, dan membuat saya tetap semangat bahwa semuanya tidak ada yang instan dan tidak ada yang tiba-tiba karena apapun itu, pasti semuanya butuh usaha dan kerja keras. (mereka pandai bnget berpuitis yaa.. pribahasa yang bagus)
__ADS_1