
Dua hari penuh Lau Luo bertarung dengan Kera Beast, dia sudah mengalami berbagai cidera parah di kaki dan lengannya. Sedangkan untuk Kera Beast sendiri hanya mengalami cidera kecil dari dampak serangan yang biasa dia lakukan.
Melompat ke arah pohon dan mengambil jarak untuk mencari kelemahan Kera Beast. Lau Luo merajut alisnya dan menyipitkan mata hitamnya saat dia memberikan kepalan dan pukulan ke kera itu yang kulit serta dagingnya sangat keras, tubuh tinggi dan besar. Dia tidak bisa melukainya hanya dengan tangan kosong tanpa senjata apapun.
Jika itu Holy Beast jenis lain, Lau Luo tidak akan kesulitan mendaratkan serangan. Tapi Kera Beast memiliki tangan selayaknya manusia dan itu bisa mencengkram nya dengan sangat mudah jadi dia harus mewaspadai tangannya.
Lau Luo kembali berayun dari pohon, menekuk seluruh tubuhnya seperti batang panah dan langsung melesat untuk mengincar kepala Kera Beast. Meskipun kepalanya keras, dia tidak bisa mengincar jantung yang di dukung daging dan tubuh setinggi lima meter.
Satu tendangan mendarat dan menghindar untuk serangan selanjutnya, kera itu langsung meraung keras, memukul dadanya dan berteriak nyaring, tangannya langsung menarik kaki Lau Luo lalu meremukkannya dalam sekali lempar.
Lau Luo mengetatkan giginya saat kesakitan luar biasa kembali merambat di tulang kakinya, dia terbanting menyedihkan ke tanah dan dia tidak tahan untuk memegangi kakinya yang sudah berubah remuk, dia kemudian menyalurkan qi di sana untuk meredakan rasa sakitnya sedikit tapi karena dia memaksakan berlatih di luar batas kemampuannya, dia terlihat sangat pucat dan kuyu kemudahan Lau Luo benar-benar jatuh pingsan karena kehilangan tenaga yang sudah menguras habis semua batasannya.
Selain penderitaan karena kehilangan tenaga, luka mengerikan merambat ke sekujur tubuhnya karena pelatihan. Semua jenis luka itu sangat perih yang membuatnya kembali dari setengah pingsan, juga karena melawan kera itu selama dua hari tanpa istirahat, semua luka-luka kecil di kulitnya sudah berubah menjadi berkopeng dan memborok, dan beberapa kulit mati juga perlahan terkelupas.
Melihat kera itu hampir mendaratkan serangan mematikan lagi, Immortal Shangya langsung menekan menggunakan auranya, walaupun dia hanya mengeluarkan aura yang sedikit tapi sudah sukses membuat Kera Beast itu kehilangan kesadarannya.
Immortal Shangya lalu membopongnya dan tertawa sakit. "Tujuh tulang rusuk patah, sisanya retak semua, tangan terpelintir hebat dan sekarang kakimu remuk. Kau lebih baik pingsan dari pada tetap sadar, bocah."
Immortal Shangya memberi beberapa totokan untuk membuat Lau Luo yang berada dalam keadaan setengah pingsan membuatnya agar kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Setelah Lau Luo pingsan total, Immortal Shangya membaringkannya dan segera memberikan perawatan.
Saat dia ingin menerapkan obat, Immortal Shangya di kejutkan dengan berbagai bekas luka hampir menyeluruh di seluruh punggung, depan dada dan perut Lau Luo, meskipun hanya tinggal bekas luka jahitan lebar, itu pasti adalah jenis kesakitan yang dalam, yang tidak bisa di tanggung oleh seseorang yang baru seusia Lau Luo yang belum lebih dari sepuluh tahun.
Selain bekas luka lama, Immortal Shangya melihat dua jenis bekas jahitan yang masih baru di perut dan di bagian dada belakang. Bekas jahitan silang yang besar dan mencolok serta bernganga lebar.
Immortal Shangya tersenyum kecil. "Baru berusia enam tahun, dia sudah memiliki bekas luka sebanyak ini.."
Saat melihat kondisi Lau Luo ada kabut kesedihan melayang di matanya, Immortal Shangya kembali tersenyum pahit karena baginya akan sangat ironis jika orang yang pingsan di depannya setelah dewasa hidup Lau Luo hanya akan di penuhi dengan rasa sakit yang tidak berkesudahan.
__ADS_1
Dan penderitaan tidak berujung.
*
Di dalam lab ramuan, Guo Qilin mendentingkan tabung reaksinya yang berwarna menyala, saat berbalik dan ingin mengestraknya mata tajam mengincarnya dari belakang.
Guo Qilin melirik Immortal Shangya. "Kakak, kenapa kau kemari?"
"Kau bisa memberiku salep penghilang luka?" Immortal Shangya melihat ke orang berperawakan tidak jauh dengannya.
Karena Immortal Shangya tidak pernah sekalipun ke lab ramuan Guo Qilin. Ini adalah hal pertama kali, jadi Guo Qilin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Apa kau terluka?" Kultivator manapun tidak akan bisa memberi goresan kecil pada Immortal Shangya ataupun Guo Qilin. Tapi jika itu dari serangan sesama musuh yang sudah berada di tahap abadi, Guo Qilin tidak bisa berpura-pura menutup mata lagi.
Immortal Shangya menggelengkan kepalanya. "Adik, kau terlalu berpikiran liar." Immortal Shangya mengibaskan tangannya. "Jangan berbicara permasalahan dua ribu tahun yang lalu, jangan sekalipun membahas permasalahan kaisar iblis Mobei-jun dan Huangfu Ji, sekarang sudah berganti era baru."
Guo Qilin bisa saja langsung memberikan ramuan secara cuma-cuma pada Immortal Shangya, tapi tidak bisa semudah itu. "Kakak, kau perlu membantuku selama seharian dan carikan bahan-bahan yang belum aku temukan setelah itu aku bisa membuatkannya untuk mu."
Immortal Shangya segera mencatat bahan-bahan yang di katakan Guo Qilin, di antaranya Liur Seribu Naga berusia tiga hari, Sisik Kura-Kura seribu tahun dan Darah Nyamuk Ilahi seratus tahun.
"Kau sedang tidak mengerjaiku kan?" Immortal Shangya tersenyum gentir.
"Liur Seribu Naga berusia tiga hari? Qilin apa kau menyuruhku berjongkok di bawah hidungnya sambil menunggu para naga itu meneteskan liur?"
Immortal Shangya harus menunggunya saat menetes, kurang dari tiga hari. "Aku bisa mendapat yang berusia seratus tahun atau seribu tahun, tapi tiga hari itu...."
"Kau jangan menghinaku adik." Membuat Immortal Shangya berjongkok untuk menunggu momentum memalukan ini adalah penghinaan dari Guo Qilin.
__ADS_1
Guo Qilin hanya berekspresi datar. "Benar, liur para naga sangat mujarab untuk menyembuhkan luka dan bekasnya. Jika kakak tidak mau mendapatkannya aku tidak berani memaksa mu, tapi yang aku takutkan aku tidak bisa memberikan ramuan yang kamu inginkan."
Immortal Shangya mengacak rambutnya dia, kemudian duduk di sebelah meja eksperimen Guo Qilin, ini mempertaruhkan harga dirinya saat mendapatkan ramuan dari Guo Qilin.
"Sepertinya hanya lelucon kamu di sebut nenek moyang para apoteker." kata Immortal Shangya sinis.
Guo Qilin menggelengkan kepalanya. "Kakak, kau tidak melihat diriku yang masih berperawakan dua puluhan tahun? Bagaimana bisa kau menyebutku seorang nenek moyang? Dan lagi aku seorang pria, kau juga tidak bisa menyebutku kakek moyang para apoteker."
"Aku tidak setua itu kau tahu, tapi kita memang hidup abadi kerena sudah menjadi Immortal."
Guo Qilin tersenyum masam saat membandingkan tubuh Immortal Shangya adalah remaja tampan berusia tujuh belas tahun sedangkan dia terlihat seperti dua puluh tahunan akhir.
Immortal Shangya segera pergi mencari bahan yang di katakan Guo Qilin. Dia berhenti di rawa-rawa tempat nyamuk Ilahi berusia seratus tahun, dan berniat mencarinya karena nyamuk Ilahi mempunyai bentuk yang kecil namun mematikan jika terkena darahnya jadi dia harus mencarinya dengan hati-hati.
Setelah mendapatkannya dia lalu berdiri di aliran yang deras, memandangi monster setinggi tiga puluh meter yang memiliki tempurung luar biasa keras sebagai pertahanan.
Immortal Shangya tertawa. "Aku sedikit ragu kura-kura mempunyai sisik.."
Immortal Shangya segera memberinya pukulan kecil untuk memastikan usia kura-kura di hadapannya, setelah hampir mencapai usia seribu tahun, Immortal Shangya langsung melayang di hadapannya.
"Hei, kura-kura apa kau mempunyai sisik di tempurung mu?" Meskipun Immortal Shangya mengatakannya dengan halus dan menenangkan telinga, kura-kura seribu tahun itu segera menenggelamkan diri sampai ke dasar.
Melihat reaksinya, Immortal Shangya tertawa sinis. "Oh, pasti kau memilikinya di balik tempurung mu. Jangan katakan jika keturunan jauh mu sebenarnya adalah jenis Ikan Ilahi."
Immortal Shangya langsung menciptakan petir berwarna kuning menyala di tangan kirinya, petir yang menggeliat seperti cambuk yang sanggup untuk merobek langit, tapi saat situasi sekarang target petir ganas itu hanyalah seekor kura-kura berusia seribu tahun.
Air setinggi seratus meter langsung tercipta dari dampak serangan Immortal Shangya yang membuat hujan dadakan, sekaligus berubahnya langit menjadi basah dan kilatan petir terus menyala-nyala tanpa akhir dengan cahaya yang meledak terang.
__ADS_1
Kekuatan yang terkesan indah namun mematikan, itulah petir yang berasal dari kekuatan seseorang yang sudah naik ke langit dan menjadi Immortal setelah langkah keabadian.