
Chuxi sama sekali tidak sepenuhnya pingsan saat dalam proses perawatan, kesepuluh jarinya yang terbuka sudah di perban dan di tutup oleh kain kasa. Dan saat dia merasakan tangan dingin menyentuh dahinya dengan lembut, Chuxi benar-benar merasa bahagia tempramen Lau Luo sudah berubah menjadi lebih dewasa. Chuxi juga mengetahui dia juga mempunyai tempat di hati Lau Luo dan dia juga sadar bahwa dia juga menjadi salah satu orang yang berharga bagi Lau Luo namun hanya sebatas keluarga sebagai kakak perempuan.
Chuxi mengigit bibir bawahnya dengan sedikit kesal. "Ah, Luo-didi.. Kamu benar-benar.."
Luka-luka Chuxi sudah pulih saat setengah bulan sekarang. Dia menerima kabar jika Chuxi bisa memasuki Puncak Erlang Xiao, wajahnya berubah antara pucat menahan kemarahan. Dia memang tidak menyukai ketua puncak kedua Ma Dao yang tabiatnya sedikit ekstrim, tapi yang membuat dia tidak tahan adalah harus sepuncak dengan orang yang pernah mengalahkannya
"Puncak Erlang Xiao? Kenapa harus satu atap dengan b*jingan Qiao Nuo itu.."
Chuxi hanya menghembuskan nafasnya dan menendang kakinya ke tanah dan dengan cemberut dia tidak berjalan ke arah selatan tempat Puncak Erlang Xiao berada, melainkan ke Pegunungan Yiling.
Jika Lau Luo berada di dongfu bagian atas pegunungan sedangkan Chuxi di dongfu bawah pegunungan, mereka akan sulit bertemu. Jadi Chuxi membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk memanjatnya. Untungnya array pertahanan Puncak Yilin juga menerima anggota murid sesama Sekte Pedang Patah Kalau tidak, dia di pastikan tidak akan bisa masuk.
Ketika dia sampai di sana, Chuxi bisa melihat Xian Zi yang sedang berlatih. Xian Zi lalu berhenti sejenak dan bertanya. "Nona Wan'er kenapa kau repot-repot memanjat Pegunungan kami?"
Xian Zi kebetulan sedang berlatih pedang, dia menyimpitkan matanya melihat Chuxi yang sudah basah kuyup karena keringat, dan terengah-engah karena kelelahan. "Kau terlihat begitu menderita saat sampai ke sini seperti hampir kehabisan nafas."
Chuxi dengan satu tangan mengelap keringat di wajahnya karena dia memanjat pegunungan selama dua hari jelas saja dia sangat menderita. "Kemana Dewa puncak Shao?"
Xian Zi masih sibuk berlatih pedang, tapi dia masih memasang telinganya untuk mendengarkan Chuxi. "Shifu? Beliau sedang sibuk, kau perlu urusan apa dengannya? Shifu sedang tidak ada di dalam sini dia akan segera kembali setelah tiga hari, kau bisa kembali nanti."
"Apa kau ingin membuat dua hari ini aku memanjat menjadi sia-sia?" Akan merepotkan jika Chuxi harus naik turun gunung dan turun gunung lagi. "Bukankah rumah bambu ini luas? Kamu bisa menyiapkan satu kamar untuk ku, aku akan menunggu Dewa puncak Shao di sini dan aku ingin menjadi muridnya juga!"
Xian Zi yang mendengar Chuxi ingin menjadi murid Shao Yi Chen selanjutnya, dia terkejut dan tanpa senjata menjatuhkan pedangnya ke tanah. "Kau sinting, Shifu sedang dalam keadaan marah apa kau ingin membuatnya bertambah marah lagi?"
Dia juga samar-samar mendengar suara ledakan keras di puncak Yilin beberapa hari yang lalu, jadi Chuxi tidak tahan untuk bertanya. "Apa yang bisa membuat seorang dewa puncak Shao bisa marah.."
__ADS_1
Xian Zi mengibaskan tangannya. "Lupakan, kau ingin dongfu sementara kan di sini?"
"Tapi jangan salah ke kamar, aku akan merekomendasikan untuk mu di dongfu paling utara adalah milik Luo-shidi, jika kau ingin datang dan menyapanya ku rasa.."
Chuxi tidak tahu niat tersembunyi Xian Zi, dia lalu berjalan ke utara dengan sedikit lemas, ingin cepat istirahat dan kemudian langsung berbaring malas-malasan. Chuxi membuka pintu rumah bambu untuk melihat seorang yang mengenakan jubah biru yang bersulam, dari belakang memang tidak asing tapi lebih tinggi satu kepala dari Lau Luo, Chuxi segera tahu jika dia di permainkan oleh Xian Zi.
Ketika tahu dia di permainkan oleh Xian Zi, Chuxi ingin sekali mencibir orang itu.
"Deng Lun.. kenapa kau berada di dongfu milik Luo-didi?" Chuxi tahu jika dongfu ini adalah milik Deng Lun, dia masih berpura-pura.
"Ini milikku." Kata Deng Lun.
Deng Lun langsung tersenyum lembut pada Chuxi dan berkata ramah. "Dongfu Luo-shidi berada di dekat array dan hutan terlarang."
"Tentu, terimakasih jika kau benar-benar pergi sekarang." Chuxi dengan tidak peduli mengatakannya dan hanya melihat Deng Lun menutup bukunya kemudian meletakkannya di atas meja, lalu berjalan keluar.
Ini seperti Chuxi pendatang baru yang mengusir pemilik rumah, tapi Deng Lun tetap mematuhinya. Chuxi bergumam pelan dengan dirinya sendiri. "Anak yang baik! Bagaimana jika aku menjodohkan dia dengan Ziyi?"
Dengan kultivasi Deng Lun yang tinggi dia bisa mendengarnya dengan jelas, dia tersenyum sakit sebelum keluar dari dongfunya itu.
"Su Wan'er.. Kamu benar-benar.." Dengan lembut Deng Lun mengatakannya, seperti helaan nafas yang mengalir ringan tidak memiliki jejak kemarahan namun penuh kelembutan.
Selama Chuxi mendiami tempatnya, dia akan berkultivasi di dalam gua dengan aura spiritual yang pekat untuk persiapan penerobosan.
Keesokan harinya Chuxi sudah seharian di puncak Yilin tapi dia belum pernah bertemu dengan Lau Luo, setiap kali Chuxi mendatangi kamarnya itu pasti kosong dan senyap seperti tanpa penghuni. Dia merucutkan bibirnya, dan melempar kerikil ke batang pohon dengan lemas kuyu.
__ADS_1
Xian Zi mengerutkan alisnya, setiap kali benturan benturan yang melubangi pohon itu menimbulkan suara keras yang pasti akan menganggu konsentrasinya berlatih seni pedang, karena pecah konsentrasi dia bahkan sampai melupakan beberapa gerakan pedangnya. "Bisakah kau berhenti melemparnya?"
Chuxi dengan bosan menjawab. "Aku juga sedang berlatih."
"...." Xian Zi memegang gagang pedangnya semakin erat.
Chuxi sama sekali tidak berlatih, dia hanya gabut untuk mengisi waktu senggang yang membosankan. "Terserah padamu, tapi bisakah kau tidak menimbulkan suara sekecil pun? Atau pergi ke tempat lain, jangan di sini."
"Tidak." Chuxi masih fokus dengan permainan melempar di tangannya. "Apa kau tahu ke mana Luo-didi pergi, kenapa dongfunya selalu sepi?"
"Kenapa aku harus tahu kemana dia pergi? Aku tidak mencampuri permasalahan orang lain, permasalahan ku sendiri sudah terlalu banyak." Xian Zi berkata dengan kejujuran di matanya.
Saat Xian Zi diam beberapa saat, dia akhirnya membuka mulutnya dan berkata. "Hubungan Luo-shidi dan Shifu tidak terlalu baik sekarang, Shifu sama sekali belum mengajarinya apapun. Jika Luo-shidi tidak ada di ruangannya, pasti dia tidak akan jauh dari puncak Yilin jadi kau cari saja di beberapa bagian tempat ini untuk menemukannya."
Xian Zi mengatakan dengan tenang, rumah bambu puncak Yilin sangat besar karena terlalu besar rumah bambu itu bahkan bisa membuat orang tersesat selama tiga hari. Xian Zi juga mengetahui jika Lau Luo selalu menghilang, terutama di jam malam. Dia tidak memikirkannya dengan serius karena puncak Yilin memiliki array pertahanan yang bahkan tidak bisa dia lewati, apalagi kelinci forqing qi tingkat satu? Mungkin orang itu pasti tersesat, sampai sekarang Xian Zi tidak tahu alasan kenapa Shao Yi Chen menerima murid seperti itu.
Chuxi memandang Xian Zi dengan ekspresi merendahkan, setelah diam-diam menyebarkan aura spiritual di Puncak Yilin dia tidak merasakan keberadaan Lau Luo di manapun, ini juga alasan kenapa Chuxi terlihat lemah padahal dia hanya bermain melempar batu.
"Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan." Kata Chuxi.
Xian Zi tertegun mendengar suara tanpa tenaga dari Chuxi, dia kembali menutup pedangnya kemudian menepuk pundak Chuxi dengan energi spiritual yang hangat. "Kau terlihat menderita sekarang, apa Deng Lun tadi malam memaksa mu?"
"...." Seorang pertapa seperti sage yang hanya peduli dengan kultivasi tertutup kenapa memaksanya?
Chuxi berkata sinis. "Aku bahkan menendangnya keluar, bagaimana dia bisa memaksa ku?"
__ADS_1