KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Dalam mimpinya, Shu Zi Jiu mati?


__ADS_3

Lau Luo sangat tertegun, tidak tahu harus berkata apa karena tidak tahu letak kesalahannya ada di mana. Kemudian dia ingat pepatah mengatakan jika perempuan mengatakan 'pergi' maka artinya tetaplah 'tinggal'. Itu hanya masalah kebalikan yang sederhana, 'lepaskan' maka artinya 'jangan lepaskan'.


Setelah pertempuran dengan otaknya, semua yang ingin dia tanyakan terasa menyangkut di tenggorokannya hingga berubah singkat dan menjadi sangat dingin. "Kenapa kau tiba-tiba marah karena masalah sepele?"


Chuxi tertawa sedikit.. "Ya! Sepele!"


"Luo-didi apa kau sadar kau sudah agak.. terlalu berubah?"


Di dekat Danau Ye terlihat sebuah pohon millow yang berukuran kecil dengan ringan mulai tertiup dan tepat di atasnya duduk seseorang yang mengenakan jubah putih polos yang bahkan tidak ada sulaman sedikit pun.


Saat mengingat perselisihannya dengan Chuxi, kepalanya kembali berdenyut. Oleh karena itu Lau Luo ingin bermeditasi untuk menenangkan pikirannya dan meskipun di tepi danau itu sepi bahkan suara kebisingan di kota Chang'Su tidak bisa di terdengar, tapi secara mental dia kesulitan melakukan gerakan agar pikirannya kembali menjadi lebih tenang.


Setelah membaca laporan dari Soh Jinhong dari organisasi Yama yang berisikan para perampok dan bandit Lau Luo mengkerutkan keningnya, dan meremas kertas di tangannya.


Sebenarnya, selama berhari-hari ini dan selama lima tahun ini tidak sedetik pun dia bernafas tenang karena dalam mimpinya, Shu Zi Jiu akan mati dengan pedang yang menembus dadanya.


Lau Luo kemudian memejamkan mata untuk mengingat-ngingat mimpi itu secara jelas.


Saat itu di dalam mimpinya semua murid di puncak Yilin mendapatkan tugas dari Shao Yi Chen untuk menjaga keselamatan desa dari kasus para mayat berjalan dan roh-roh ganas.


Para mayat itu seperti badai, atau palu berton-ton yang memukuli tabir yang di gunakan untuk melingkari desa sampai pecah berantakan hingga gerombolan mayat masuk dari segala arah, mayat dan roh ganas itu kemudian melumpuhkan puluhan puluhan kultivator menggunakan taring cakar, mengigit dan merobek, suara-suara melengking dari para mayat yang mengamuk membuat semua tempat itu terlihat sangat menyeramkan, saat itu Lau Luo melihat ke arah Shu Zi Jiu.


Karena melihat Shu Zhi Jiu yang tidak dia temui selama bertahun-tahun datang ke tempat kacau balau seperti ini, senang dan kecemasan datang bersamaan, senang karena dia bisa melihat Shu Zi Jiu untuk waktu yang lama dan cemas karena tubuh lemah tanpa kultivasi Shu Zi Jiu seperti roti yang siap tercabik, tergigit di antara mayat berjalan menjadikan orang ringkih itu sebagai incaran bahkan lebih menggiurkan daripada bayi yang belum bisa merangkak.


Lau Luo membuka mulutnya dan bertanya tergagap. "Ah Jiu-ge.. kenapa kau bisa berada di sini?"

__ADS_1


Shu Zi Jiu mendatanginya, dan Yuan Yi mengikutinya dari belakang. Sama seperti sebelumnya Shu Zi Jiu tidak pernah berubah, dan jika ada perubahan di wajahnya maka senyumannya terlihat semakin hangat dan lembut.


"Kami kebetulan bertemu seorang dari puncak Xia Hua yang sedang bertugas di sekitaran tempat kami, aku bertanya pada mereka apakah mengenal Luo-didi? Kemudian mereka mengatakan kalau kau akan mendapatkan tugas di sini, jadi kami segera menyewa kereta untuk menyusul mu kemari karena khawatir."


Lau Luo sangat senang mengetahui Shu Zi Jiu mengkhawatirkannya sampai dia lupa sekarang mereka berada di tengah-tengah kekacauan sengit karena Formasi Tigram Zeng-Tai telah di aktifkan.


Dia tersenyum hangat dan berkata sangat khawatir. "Di sini berbahaya."


"Kalian ikut dengan ku." Lau Luo lalu membawa mereka ke tempat yang aman, setelah memastikan tempat itu tidak ada satupun mayat dia berkata pada Shu Zi Jiu. "Tetaplah di sini, jangan kemanapun, apa kamu mengerti?"


Melihat punggung Lau Luo pergi untuk melawan para mayat dan roh ganas, Shu Zi Jiu segera berkata. "Luo-didi.."


Lau Luo masih menatapnya. "Ada apa?"


Shu Zi Jiu ingin mengatakan bahwa hari ini adalah hari ketika dia menemukan Lau Luo dulu di antara puing-puing keluarga Luo, untuk itu dia menyusul Lau Luo kesini untuk memperingatinya sebagai hari kelahiran Lau Luo. Namun setelah melihat situasi yang hiruk-pikuk dan langit mengeluarkan larva roh ganas seperti laut yang membeludak, tentu saja ini bukanlah tempat yang tepat untuk mengatakan kabar baik.


Lau Luo tersenyum sedikit sebagai tanggapan dan dia kemudian berkata pada Yuan Yi. "Lindungi Ah Jiu-ge, aku pergi dulu menyusul Yiran-shixiong untuk membereskan beberapa mayat."


Karena Yuan Yi berlatih beladiri dan kemampuan berpedangnya cukup untuk melindungi seseorang maka dia bisa mempercayakan keselamatan Shu Zi Jiu pada Yuan Yi, dan Yuan Yi segera mengangguk. "Tanpa kamu suruh sekalipun aku akan melindunginya, apa kau berpikir lebih tua dari kami dan menyuruhku ini itu?"


Lau Luo bisa bernafas lega, dia lalu melanjutkan pembantaian mayat karena Formasi Tigram Zeng-Tai telah di aktifkan oleh orang yang tidak di ketahui. Formasi Tigram Zheng-Tai adalah teknik yang menempuh jalan sesat untuk mengendalikan lautan mayat maka beberapa beladiri juga datang dari sekte lain untuk melindungi desa, bertambahnya sisi pelindung bertambah pula jumlah gerombolan mayat lebih banyak tiga kali lipat dari sebelumnya.


Di tengah-tengah mengawal untuk rakyat biasa ke kota aman. Lau Luo tidak bisa untuk tidak khawatir setelah melihat jumlah mayat yang seperti lautan bertambah semakin banyak.


"Luo-shidi kau mau kemana?" Xian Zi bertanya setelah melihat Lau Luo yang ingin langsung pergi, seolah mengkhawatirkan sesuatu.

__ADS_1


Lau Luo menatap arah selatan desa dan dia berkata dengan Xian Zi. "Ada kenalanku di sana, aku menghawatirkan mereka."


Melihat seberapa cemasnya Lau Luo, Xian Zi berkata menghibur. "Jangan khawatir, apakah temanmu berada di perbatasan selatan desa? Di perbatasan selatan sudah ada Yiran-shixiong dan Shixiong-kedua menjaganya, mereka pasti bisa menjaga temanmu itu jadi tidak perlu khawatir."


Setelah tugasnya sebagai pengawal untuk keselamatan rakyat biasa selesai, Lau Luo langsung menuju ke perbatasan selatan. Dia mencari di bangunan yang hampir runtuh namun tidak menemukan siapapun, dan itu adalah tempat di mana dia meninggalkan Shu Zi Jiu untuk berlindung.


"Ah Jiu-ge? Kalian di mana.."


Dia menelusuri sampai ke tempat yang sedikit bising, kebisingan lolongan mayat seperti tombol yang menghentikan jantungnya untuk berhenti berdetak seolah-olah dunia perlahan-lahan mulai runtuh di hadapannya..


Shu Zi Jiu.. dengan tikaman pedang panjang.


Lau Luo langsung mengambilnya ke pelukan, memeriksa nafasnya yang lemah menggunakan jarinya, wajah Shu Zi Jiu sangat pucat, terlalu pucat sampai membuat suaranya gemetar dan semua kulitnya berubah berkali-kali lebih pucat dan mendingin.


"Ah Jiu-ge.."


Mendengar suara serak yang di kenalinya, bulu mata Shu Zi Jiu tiba-tiba bergetar kesakitan. Dia melihat Lau Luo yang di liputi kecemasan, dengan sangat susah Shu Zi Jiu ingin mengatakan sesuatu, mencoba membuka mulutnya namun yang keluar adalah seteguk darah yang langsung mengotori pakaian Lau Luo seperti bunga plum merah yang jatuh di tumpukan salju membuat darah kental itu semakin mencolok.


"Bertahanlah Ah Jiu-ge, aku akan mencarikan tenaga medis untuk mengobatimu!" Perkataan Lau Luo bergetar, seperti kehabisan tenaga untuk melanjutkan satu patah kata lagi selain menyangkut di bibirnya di antara gigi-giginya dan tidak bisa di katakan. "Akan aku panggilkan tabib, aku akan mengobati mu."


Shu Zi Jiu paling tahu bahwa pedang yang menembus dadanya telah menghancurkan jantungnya, sekalipun medis datang itu tidak akan ada kesempatan dan dia menggelengkan kepalanya masih mencoba tersenyum. "Luo-didi.. tidak apa-apa, aku baik-baik saja."


Dia tersenyum di wajahnya yang sudah pucat dan terlihat memilukan di mata Lau Luo seolah-olah kabut tebal menghalangi mereka satu sama lain. "Kau mengatakan bahwa nama mu seperti anak kecil dan kamu kurang menyukainya. Saat ini ulang tahun mu, aku akan memberimu panggilan kedewasaan. Nama yang aku berikan adalah Luo Zhi Jue.."


Karena itu adalah pembicaraan yang panjang untuk menghabiskan semua tenaganya, Shu Zi Jiu kembali memaksakan diri untuk tersenyum pada Lau Luo setelah kembali memutahkan seteguk darah dan berbatuk-batuk. Shu Zi Jiu kembali berbatuk seteguk darah dan dia mencoba bertanya. "Apa kau menyukainya?"

__ADS_1


Di dalam mimpi yang menyedihkan itu Shu Zi Jiu terlihat sangat memilukan, wajahnya yang terbiasa pucat kini semakin kehilangan kehidupannya seperti mayat yang tidak bisa lagi di tolong, pakaiannya yang tebal dan berlapis-lapis seolah-olah tidak ada gunanya membuat semua kulitnya masih membeku dan terasa sangat dingin seperti balok es, darah yang keluar dari dadanya karena sebilah pedang langsung mengering membuat penampilannya sangat berantakan dan tidak enak untuk di lihat.


"Luo Zhi Jue, aku memikirkan nama itu berkali-kali dan aku harap kau akan menyukainya.." Saat itu Shu Zi Jiu kembali berakata. "Jika aku sudah tidak ada, pasti ada orang lain yang akan tetap di sisimu."


__ADS_2