
Shao Yi Chen langsung meninggalkan reruntuhan rumah bambu dengan kemarahan karena dia tidak bisa memukul murid barunya itu, jadi dia memendam semua energi yang ingin keluar dengan kabut yang luar biasa tebal di wajahnya.
Dia mengendus dingin, wajahnya lalu berubah memutih dan memerah kemudianendapat menghilang di hadapan Lau Luo sebelum Shao Yi Chen menarik ujung jubah di lengannya.
Deng Lun yang menyaksikannya luar biasa terkejut dengan kelancangan Lau Luo karena ini baru pertemuan pertama sebagai guru dan murid tapi bocah itu langsung membuat Shao Yi Chen semarah ini. "Shidi, apa kau tidak bisa hanya memilih satu Shifu kita saja?"
"Shixiong, jangan mengucapkan perkataan yang sia-sia untuk ku." Lau Luo dengan kesadaran diri menyingkirkan puing-puing rumah bambu yang di hancur Shao Yi Chen. Wajahnya benar-benar tanpa ekspreksi, sulit untuk menebak apa yang di pikirkan Lau Luo saat mengatakan dia memiliki Shifu dua di hadapan Shao Yi Chen secara langsung dan tepat di bawah hidungnya.
Setelah saat itu hari-hari telah berlalu, Shao Yi Chen sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengajarinya semenjak mereka mengucapkan sumpah guru dan murid, mungkin saja sumpah seperti itu hanya ampas tahu yang keluar karena sepertinya keduanya tidak menganggap guru dan murid satu sama lain dengan sungguh-sungguh.
Shao Yi Chen hanya menerimanya karena permintaan murid kesanyangannya Jing Yiran, dan Lau Luo bisa berguru ke siapapun asalkan tetua puncak dari Sekte Pedang Patah adalah karena dia melihat masa depan Shu Zi Jiu akan meninggal di bawah kendali salah satu tetua puncak di sini, jadi karena alasan itu, siapapun gurunya di Sekte Pedang Patah.. Lau Luo tidak akan menaruh hormat yang sebenarnya pada mereka sedikitpun.
Semenjak kemarahan Shao Yi Chen kemarin, Lau Luo sama sekali belum bertemu dengannya sampai sekarang dan dia tidak terlalu memikirkannya. Saat dia berada di dalam dongfu, Lau Luo duduk bersila di tempat tidur rumah bambu miliknya untuk melatih menyamarkan qi iblis yang ada di dalam dirinya sendiri.
/dongfu : ruangan yang terbuat dari bambu.
Saat ketika dia melatih qi yang menurut kultivator taois adalah qi yang sesat, dia tiba-tiba merajut alisnya menjadi satu karena ada ketukan pintu dari luar kamarnya.
Setelah mengenali perawakan tubuh ramping yang di kenalinya, Lau Luo membukakan pintu lebih lebar. Saat dia melihat Jing Yiran, dia menyapanya. "Shixiong?"
Setelah jeda sejenak Lau Luo kemudian bertanya. "Yiran-shixiong apa yang membawamu kemari?"
Jing Yiran mengangguk sedikit dan dia melihat sekelilingnya. "Apa kamarmu kurang nyaman? Dongfu ini mempunyai beberapa blok, jika kau tidak menyukainya kita bisa menggantinya."
"Ku kira tidak perlu." Lau Luo menggelengkan kepalanya dan menunjukkan ketidaksetujuan. "Jika terlalu sering berpindah tempat, akan merepotkan orang lain."
Dekat dengan hutan terlarang dan array pertahanan, Lau Luo kira tidak ada posisi yang lebih sempurna dari dongfunya sekarang. Karena dekat dengan array pertahanan, dia bisa keluar masuk ke Puncak Yilin tanpa ketahuan siapapun. Menurutnya tidak ada dongfu yang lebih strategis daripada yang ini meskipun agak terisolasi dan agak jauh dari aula utama.
"Xiao Luo, apa kau benar-benar mempunyai Shifu yang lain?" Setelah banyak pemikiran, Jing Yiran tidak bisa untuk tidak mengatakannya.
Bukan salah Lau Luo jika dia memiliki beberapa Shifu, lagipula praktisi Lau Luo yang rendah tapi bisa mengalahkan lawan dengan praktisi yang lebih tinggi pasti seseorang telah mengajarinya. Saat memikirkannya Jing Yiran merasa bersalah pada Shao Yi Chen ketika mengetahui ini. Bagaimanapun berguru dengan orang lain, saat memiliki Shifu Shao Yi Chen ini adalah pantangan dan Jing Yiran tahu betul sifat Shao Yi Chen itu bagaimana.
__ADS_1
Jing Yiran melihat senyum yang seperti bukan senyuman di wajahnya Lau Luo dan perkataan orang yang masih pendek darinya sedikit dingin. "Yiran-shixiong, panggil aku shidi seperti yang lainnya."
/Shidi : junior.
Mengetahui Lau Luo tidak ingin mencoba akrab dengannya seperti membangun tembok besar dan tebal untuk orang asing, Jing Yiran masih mencoba tersenyum dan menampilkan ekspresi hangat. Dia memang tidak mengenal Lau Luo dengan lama, dan juga tidak mengetahuinya lebih jauh.
Meskipun mencoba tersenyum ramah dan hangat sekalipun, wajah Jing Yiran masih sama seperti balok kayu yang dalam kelumpuhan wajah dan tidak berubah sedikitpun. "Baiklah."
Jing Yiran mengangkat pakaian di lengannya yang berwarna biru langit, dia kemudian mengeluarkan satu set buku yang lumayan tebal, dia meletakkannya di atas meja. "Ini adalah manual beladiri dari Shifu yang harus kamu kuasai."
Saat menerima manual beladiri dari Shao Yi Chen, Lau Luo masih menampilkan tanpa ekspresi, jadi gurunya sedang bingung antara mengajarinya atau melanggar sumpah jiwa. Meskipun demikian dia tidak terlalu peduli, jika dia keterima di Puncak Yilin itu sudah cukup jadi tidak ada yang akan membatasinya untuk melakukan apapun, hubungannya dengan Shao Yi Chen harus tetap renggang seperti ini. Karena tidak ada yang dia utamakan sekalipun selain ketiga teman hidupnya, Yuan Yi dan Chuxi dan yang terutama Shu Zhi Jiu.
Orang-orang dari Sekte Pedang Patah, gurunya yang sekarang, Shao Yi Chen dan para shixiong-nya di puncak Yilin, sekalipun Jing Yiran yang pernah mengobati luka jahitnya, baginya, dia tidak terlalu peduli.
Lau Luo menatap manual beladiri itu dan sesekali mendesah ringan, dia hanya mempunyai waktu setengah malam untuk membaca semuanya. Termasuk pelajaran di dalamnya, karena dia sudah mengetahui cara yang lebih baik dari Immortal Shangya, jadi tidak perlu waktu lama bagi Lau Luo untuk segera menguasainya.
Manual yang harus di pelajari dalam waktu satu tahun itu, menjadi hanya setengah malam.
Saat memutuskan akan membuat organisasi kecil, dia berjalan keluar dari rumah bambu, kemudian berjalan ke array pertahanan Puncak Yilin. Meskipun array itu tergolong sangat rumit, dengan kemampuan yang di ajarkan oleh Immortal Shangya dia bisa melewatinya tanpa di deteksi.
Ketika dia keluar dari sana, Lau Luo langsung di sambut pepohonan yang curam dan jalan setapak. Dan saat dia berjalan tiba-tiba ada seorang gadis pendek mendekatinya, pipinya agak tembam dan putih, nada suaranya juga masih terdengar lemah.
"Tuan, apa kau seorang pejalan kaki yang tersesat?"
Gadis itu melihatnya dari atas sampai ke bawah kemudian berkata. "Anda bisa bertanya pada ku jika anda punya permasalahan jalan."
Lau Luo bisa melihat meskipun pipi gadis kecil itu agak tembam, beberapa tulang terlihat menonjol di tubuhnya. pakaiannya lungsut, di beberapa tempat itu ada bekas jahitan dan tambalan. Dan dia bisa melihat keadaan kurus gadis itu tidak berbeda dengannya saat di pemukiman primitif, melihat kurusnya gadis kecil itu karena kekurangan gizi mengingatkan pada kehidupan kumuhnya, tapi matanya masih acuh tak acuh.
"Apa kau mengetahui aliran sungai di dekat sini?"
Gadis itu termenung sebelum berpikir, setelah jeda panjang dia akhirnya menunjukkan sungai terdekat pada Lau Luo.
__ADS_1
"Apa kau tidak suka ikan, kenapa kau hanya berdiri menonton?" Lau Luo kemudian bertanya. "Siapa namamu?"
Gadis itu hanya menyaksikan Lau Luo menangkap ikan dan membakarnya, tapi dia masih menjawab pertanyaannya. "Liu Qingge.."
Liu Qingge tidak tahu harus bagaimana, alisnya yang seperti bulan itu mengkerut. Dia mencoba mendekati Lau Luo yang terlihat bersih dan dia berpikir orang yang terurus dan terawat seperti itu pasti punya beberapa keping uang untuk dia curi, Liu Qingge langsung duduk di tanah menekuk lututnya dan kemudian memakan ikan yang sudah selesai di bakar.
Dia merasakan perutnya yang kosong selama dua hari kini mendapat jatahnya, Liu Qingge tidak sempat memikirkan pandangan mata orang lain saat dia memasukkan dua ikan matang ke mulutnya.
"Tuan, kau sepertinya orang yang sangat baik." Liu Qingge belum pernah merasakan makanan yang masih hangat apalagi selezat ini, dia tidur terlentang di tanah terlihat kelelahan dan duduk dengan perut yang sudah membuncit.
Lau Luo menarik sudut bibirnya dengan tipis, dia tidak tahu dia termasuk baik ataukah yang tersesat. Siapa yang tahu kelak dia akan menyelamatkan dunia atau menghancurkan dunia dengan segala upaya putus asa yang dia miliki, dia tidak terlalu peduli asalkan Ah Jiu-ge nya selalu di sisinya dan terus hidup sebelum dia sendiri mati.
Dia tersenyum dingin.
Bagaimana Shu Zi Jiu akan mengalami kematian kelak, Lau Luo pasti tidak akan membiarkannya seberapapun taruhannya dan seberapa besar harga yang harus dia bayar.
"Kamu harus ingat, aku bukan orang yang baik."
"...."
Liu Qingge tidak tahu arti dingin di wajah Lau Luo, dia tidak memperhatikannya dengan jelas karena Liu Qingge belum pernah merasakan orang yang memberinya makanan yang masih hangat seperti ini sebelumnya, jadi dia sedikit merasakan perasaannya telah berubah.
"Kamu sudah tahu namaku, kalau boleh tahu siapa namamu? Kamu bukan bangsawan yang lari dari rumah kemudian salah jalan di sini dan tersesat?"
"Aku hanya pejalan biasa." Lau Luo tidak mengenakan seragam Puncak Yilin karena Shao Yi Chen belum sepenuhnya menerimanya, dan dia masih mengenakan pakaian putih biasa seperti seorang pejalan kaki yang kebetulan lewat.
Dia kemudian bertanya. "Apa kamu tahu orang terkuat di sini?"
Liu Qingge berpikir sangat lama, bahkan ekspresinya menunjukkan ketakutan, tangannya tidak bisa untuk berhenti mengigil saat dia mengingat seorang perampok yang menghancurkan desanya, menjadikan desanya hancur sampai tidak tersisa.
"Aku tahu seorang yang sangat kuat, tapi bagaimana dengan itu apa kamu ingin mencari gara-gara dengan mereka?"
__ADS_1
Liu Qingge mengangkat matanya dan bertanya. "Kamu.. ingin melawan mereka?"