
Rantai spiritual itu mengikat arwah Nagong Yi dan menyeretnya secara paksa. Nagong Yi meronta dan meraung menggunakan cakar-cakar tajam serta gigi untuk berusaha melepaskan rantai dan berteriak-teriak menyeramkan, terlihat sangat menakutkan dan jeritannya seperti binatang liar.
Nyonya Wei langsung menutup matanya karena sudah tidak kuat melihat lebih jauh putrinya teraniaya. Dia langsung membenamkan dirinya ke Nagong Wei. "Suami, itu.. putri kita, bagaimana bisa.."
Mata Nagong Wei bergetar dan bulu matanya turun, Nagong Wei menutup erat matanya sampai tidak terlihat jelas ekspresinya seperti apa karena wajahnya tertunduk, saat itu dia menenangkan istrinya.
"Tenanglah, setelah ini, dia.. tidak akan lagi menganggu mu."
Tanpa di duga mantra yang mengikat arwah Nagong Yi terlepas, rantai spiritual langsung terputus. Secara cepat Nagong Yi menuju ke tubuh terdekatnya, ke arah Lau Luo.
Seperti warna mata Nagong Yi yang hitam tanpa warna putih, sekarang mata Lau Luo berubah hitam kabut, terbuka lebar dan dia langsung jatuh ke tanah.
Melihat Lau Luo yang tiba-tiba pingsan, Xian Zi tidak tahan untuk berteriak panik. "Luo-shidi!"
Saat mengetahui bahwa Lau Luo tidak mampu mengatasi formasi mereka dengan baik, Jing Yiran menjentikkan ujung jari kakinya dan dengan ringan melompat ke arahnya.
Setelah Lau Luo di baringkan di dalam rumah, Nyonya Wei bertanya khawatir. "Yiran-xianjun bagaimana keadaannya?"
Jing Yiran mengangguk. "Tidak apa-apa, selain Luo-shidi kerasukan mayat semuanya masih terkendali."
Meskipun situasi cukup terkendali namun Nyonya Wei masih merasa cemas, apalagi satu Xianjun mengalami kerasukan mayat oleh putrinya yang sudah meninggal. Dia langsung mengerahkan bantuan sebisa mungkin, dia ingin mencari Nagong Wei tapi tidak ada.
Setelah membaringkan Lau Luo, tubuhnya akan mengalami kaku dan juga dingin seperti arwah Nagong Yi itulah gejala dari kerasukan mayat. Jika kasus kerasukan mayat tidak mengamuk, maka arwah hanya ingin menyampaikan pesan.
Jing Yiran mengambil nampan air dari nyonya Wei kemudian mulai menyeka keringat dingin dari dahi Lau Luo dan dia berkata dengan suara rendah. "Ini hanya kasus kerasukan ringan biasa, arwah Nagong Yi sepertinya ingin mengatakan sesuatu lewat Luo-shidi. Jadi kita hanya perlu mendengarkannya dengan baik."
Saat mengatakannyaDeng Lun dan Xian Zi baru masuk setelah mengamankan situasi di luar, Deng Lun menyerahkan kertas yang di temuinya pada Jing Yiran. "Shixiong kertas penangkal arwah ini sedikit berbeda dari kertas penangkal arwah yang biasa."
Deng Lun juga melanjutkan berkata. "Jika di lihat sekilas ini memang kertas penangkal arwah, tapi di atasnya ada tiga huruf terbalik. Aku curiga ini bukan kertas penangkal, namun mantra pengikat arwah."
Jing Yiran mengangguk. "Aku akan menyimpannya sementara." Sambil memastikan agar tidak terdengar di telinga Nyonya Wei, Jing Yiran berkata pelan. "Apa Nagong Wei sudah tahu soal ini?"
"Aku rasa dia tidak mengetahuinya." Deng Lun merasa aneh bila Nagong Wei yang jauh lebih ketakutan, dia juga membutuhkan istrinya untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Aku merasa Nagong Wei menyembunyikan sesuatu dari kita."
Xian Zi mengangguk. "Aku juga merasa seperti itu, coba kita lihat apa yang ingin di sampaikan arwah Nagong Yi."
Kerasukan mayat Lau Luo hanya mengajaknya melihat masa lalu Nagong Yi. Lau Luo memperhatikan kejadian masa lalu Nagong Yi di depannya, terutama gadis yang mengenakan pakaian hijau dengan dua sanggul kecil di kepalanya.
Nagong Yi sedang mencuci sayuran saat semua sayuran itu sudah bersih, dia kemudian masukannya ke dalam keranjang dan mengangkatnya di atas kepala. Nagong Yi terlihat bahagia, sewaktu itu umurnya masih terlihat sekitar berusia enam belas tahun.
"Lobak segar, dan juga rumput laut kering. Sangat murah, satu koin tembaga untuk persediaan rumput laut kering selama satu minggu." Nagong Yi kemudian mulai berjalan ke pasar dan untuk menjual sayurannya, dia meletakkan keranjang di emperan toko yang sudah tutup dan berjualan sayuran di pinggiran jalan.
Saat dia menawarkan dagangannya, seorang pelanggan tetap menghampirinya. "Nak, berapa semua lobak di keranjang mu?"
Nagong Yi segera berkata. "Aku mempunyai dua puluh lobak segar. Sepuluh lobak satu koin tembaga, jika semuanya.. tuan bisa membayar dua koin tembaga untuk dua puluh lobak segar."
Sambil menyerahkan dua tembaga pada Nagong Yi, pelanggan itu bertanya. "Ku beli semuanya, rumahku ada jamuan makan malam dan sekarang aku butuh banyak bahan makanan. Apa kau masih menjual lainnya juga selain lobak?"
Nagong Yi mengangguk, dia kemudian mengambil satu bungkus rumput laut kering. "Rumput laut kering untuk para vegetarian, tuan bisa menambahkannya ke atas makanan untuk toping terutama sup rumput laut."
"Berapa yang kau punya?"
Nagong Yi menerima lima koin tembaga. "Tu-tuan, ini kelebihan.." Nagong Yi segera tahu dagangannya di jual habis, dan dia juga di beri uang saku. Nagong Yi langsung membungkuk di sebelah anyaman bambu yang sudah kosong melompong karena sudah di borong.
Dia segera membungkukkan setengah badannya. "Terimakasih banyak tuan!"
Hari ini menjadi hari terlaris bagi Nagong Yi, dia sudah mendapatkan tujuh koin tembaga untuk jualannya. Nagong Yi segera memasukkan semua koin tembaga ke dalam saku lalu membawa keranjang anyaman bambu itu kembali.
Rumah keluarga Nagong cukup berada, di tandai dengan rumahnya yang sangat luas. Marga Nagong juga termasuk keluarga bangsawan di kalangan rakyat biasa, namun hal ini menjadi sedikit tidak masuk akal jika putri pertama mereka harus berjualan sayuran untuk mendapatkan uang.
Lau Luo mengikuti Nagong Yi dari belakang, dari jarak samping pintu terlihat seorang laki-laki berumur empat puluh tahunan dia adalah Nagong Wei.
Nagong Wei melambaikan tangannya. "Yi'er kau pulang lebih cepat hari ini?"
Dia menarik Nagong Yi, memeluknya dan mengusap kepalanya. "Apa kau ingin makan terlebih dahulu?"
__ADS_1
"Aku sudah membeli roti tadi." Memperhatikan ekspresi Nagong Wei itu bukanlah ekspresi seorang ayah untuk putri mereka, melainkan ekspresi seorang pria pada seorang perempuan.
Nagong Yi merasa sesak dan dia segera melepaskan diri dari Nagong Wei, karena dia seorang putri angkat jadi rasanya tidak enak jika Nagong Wei memeluknya.
Nagong Yi menyerahkan semua uangnya. "A-ayah aku mendapatkan tujuh koin tembaga hari ini."
Nagong Wei tidak mengambil kantong berisi uang itu, melainkan menarik tangan Nagong Yi dan mengusapnya. "Kau mempunyai tangan yang cantik, bahkan wajahmu lebih cantik dari ibumu."
Nagong Yi langsung merasa merinding sekaligus jijik, bukan sekali dua kali Nagong Wei memperlakukannya seperti ini apalagi sewaktu Nonya Wei tidak ada, karena tidak ingin hal-hal yang terjadi, dia segera menepis tangannya.
Tanpa terasa hari sudah hampir gelap, Nagong Yi berjalan sambil membawa lentera berisi lilin untuk penerangan. Dia berjalan dekat dengan jendela dan tidak sengaja mendengar percakapan antara Nyonya Wei dengan Nagong Wei.
Saat itu Nonya Wei menemukan balita yang kurus berusia sekitar dua tahunan sedang mengemis makanan di jalan, dia kemudian membawa balita itu ke rumah lalu mengangkatnya sebagai anak. Karena Nagong Wei belum mempunyai anak setelah sepuluh tahun pernikahan dia sangat senang menemukan balita, meskipun kurus tapi wajah balita itu sangat cantik, dia lalu mengangkatnya sebagai putrinya, Nyonya Wei lalu menamainya dengan marga Nagong karena sebagai anak pertama kemudian dia di beri nama Yi.
Tanpa terasa Nagong Yi sudah berusia enam belas tahun dan tumbuh semakin cantik, apalagi Zao Tian sudah menyukai Nagong Yi sejak lama. Saat memikirkan Zao Tian ingin menjalin hubungan serius dengan putrinya, Nyonya berbicara. "Suami, Yi'er sudah cukup usia untuk menikah, apalagi Zao'er sepertinya mencintainya dan juga Yi'er. Ku rasa kita perlu menikahkan mereka secepatnya."
Nyonya Wei memandang Nagong Wei, dia terlihat seperti putrinya tidak bisa di ambil oleh orang lain. "Aku tahu kasih sayang mu pada Yi'er sangat besar. Ah, sudah berapa lama kita mengambilnya sebagai anak? Apa empat belas tahun yang lalu?"
"Tunggu sampai Yi'er berusia dewasa, baru kita bisa melepaskannya." Nagong Wei mengeryit tidak suka, dia duduk di sebelah Nyonya Wei dan memijit kepalanya. "Jangan ganggu aku, aku ingin tidur."
Nyonya Wei sedikit terkejut, perlakuan Nagong Wei seperti bosan dengannya. Dia berkata lembut. "Baiklah, aku tidak berani."
Nonya Wei menutup pintu kamar kebetulan melihat Nagong Yi berdiri di sebelah pintu. "Yi'er apa yang kamu lakukan malam-malam begini di sini?"
"Ibu, aku sedang menyalakan lampu." Nagong Yi terlihat melamun, dia lalu bertanya. "Aku bukan anak kalian?"
"Apa Yi'er mendengar ucapan kami tadi?" Nyonya Wei mengelus kepala Nagong Yi.
Nagong Yi mengangguk meskipun dia sendiri sudah tahu jika menilai perlakuan Nagong Wei tiba-tiba semakin aneh setiap harinya. "Aku.. tidak sengaja mendengar."
Nyonya Wei langsung tersenyum dan berkata ramah. "Benar, kamu bukan darah daging kami meski begitu apa Yi'er tidak senang punya ibu seperti ku?"
"Aku senang." Nagong Yi menggelengkan kepalanya. "Ibu ada yang ingin Yi'er katakan.. tuan Wei itu..."
__ADS_1
Nyonya Wei merajut alisnya, dia sedikit terkejut. "Apa yang ingin kamu katakan Yi'er?"
Saat memikirkannya, Nagong Yi kembali mengelegkan kepalanya. "Bukan apa-apa."