
Meskipun Nagong Yi tidak mengatakan apapun, tapi melihat kejanggalan yang ada di matanya yang tidak bisa di sembunyikan, Nonya Wei segera mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apa yang ingin kamu katakan yang sebenarnya Yi'er?"
Karena tidak ingin memberitahukan sifat sebenarnya ayah angkatnya itu, Nagong Yi kembali mengelegkan kepalanya. "Aku dengar ibu mengatakan pernikahan ku dengan kakak Zao, apa itu bisa di percepat?"
Meskipun menentangnya Nagong Wei sudah kehabisan cara untuk menghentikan pernikahan Nagong Yi dengan Zao Tian. Apalagi keluarga Zao memiliki status yang lebih tinggi dari keluarga Nagong, jika keluarga Nagong adalah keluarga nomor tiga sedangkan keluarga Zao adalah keluarga bangsawan nomor dua. Jika Nagong Wei bersikeras menentang pernikahan Zao Tian, dia secara langsung akan menyinggung keluarga yang lebih tinggi.
Dengan persetujuan Nyonya Wei, hari baik pernikahan Nagong Yi dan Zao Tian sudah di tentukan satu bulan sekarang pada bulan Ba Yue.
Nagong Yi memang telah menjadi putri keluarga nomor tiga, dalam hal keuangan keluarga Nagong tidak kekurangan apapun. Meskipun demikian Nagong Yi sudah lama hidup mandiri, mengambil sayuran yang dia tanam sendiri kemudian menjualnya ke pasar lalu memberikannya pada Nagong Wei. Tepatnya agar Nagong Yi tidak terlalu merasa berhutang pada Nagong Wei karena telah memberikannya tempat bernaung dan membesarkannya selama ini.
Sekarang Nagong Yi dalam suasana hati yang baik karena Zao Tian mengunjunginya dan menemaninya selama hampir seharian. "Kakak Zao sekarang hampir petang kamu pulanglah terlebih dahulu."
Zao Tian terlihat kecewa meskipun dia tekan. "Yi'er kamu tidak membiarkan ku menginap malam ini?"
Nagong Yi menyerahkan kue yang dia kukus pada Zao Tian, dia tersenyum. "Kita akan menikah besok bulan Ba Yue, malam ini pulanglah terlebih dahulu bukan berarti cinta mu padaku akan berkurang jika aku menyurumu pulang sekarang kan kakak Zao?"
"Aku khawatir padamu." Zao Tian merasa tidak enak, terutama malam ini dia ingin di samping Nagong Yi untuk memastikan keselamatan gadis itu. "Aku merasa tidak enak meninggalkan mu sekarang, hanya malam ini biarkan aku menginap Yi'er."
Nagong Yi kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Hal bahaya apa yang akan terjadi padaku, kakak Zao tidak perlu khawatir. Aku hanya akan beristirahat di rumah yang selalu aku tinggalin tidak ada hal bahaya apapun di sini."
"Kakak Zao.. aku bersyukur orang yang di cintai kakak Zao adalah Yi'er." Nagong Yi tersenyum dan mengusap kepala Zao Tian dan dia mencoba mengusap wajah Zao Tian.
Mata Nagong Yi berkilat dan eksperesinya sangat sulit untuk di baca. Jika Zao Tian mampu membacanya dia akan menemukan ada hal yang Nagong Yi ingin katakan, hal yang rahasia atau pertolongan. Hanya saja Zao Tian mudah melunak atau karena Nagong Yi yang terlalu lihai untuk menyembunyikannya.
Nagong Yi memberikan bingkisan roti. "Kakak Zao.. Yi'er menyukai mu, segera pulanglah dan besok Yi'er akan mengupaskan buah melon untuk mu."
__ADS_1
Malam itu Zao Tian tidak jadi menginap di keluarga Nagong, sambil meremas bingkisan kue di tangannya Zao Tian berjalan pergi. Dia meremas bingkisan itu sangat kuat seolah-olah malam ini menjadi malam yang akan di sesali oleh Zao Tian.
Nagong Yi menutup pintu kemudian mematikan lentera lampu, setelah menarik selimut dia mendengar ketukan pintu. Dia membukanya dan mengira itu adalah Zao Tian.
"Kakak Zao, mengapa kau kembali-
"Yi'er kau sangat dekat dengan Zao Tian ya?"
"Tuan Wei?" Tapi orang yang di lihatnya adalah ayah angkatnya itu.
Nagong Wei tersenyum. "Panggil aku ayah!"
Nagong Yi langsung terkejut, dia mencengkram erat sudut pakaiannya tanpa sadar dia juga mundur selangkah ke belakang. "Tuan Wei, ayah mana yang bersikap seperti ini pada putrinya?"
Nagong Yi tersenyum lebar, semakin Nagong Yi mengambil langkah untuk mundur dia juga mengambil selangkah untuk maju. Nagong Wei menyibak rambut Nagong Yi ke belakang telinganya, sampai gadis itu gemetar dan menggigil karena ketakutan. "Yi'er aku ayahmu, kenapa kau tidak memeluk ayah?"
Dorongan itu terlalu keras sampai membuat Nagong Wei terbentur ujung pintu, dia memutahkan seteguk darah. Mata Nagong Wei langsung berwarna merah karena marah dia membentak. "Yi'er!"
Nagong Yi gemetar ketakutan. "Aku aku.. aku tidak bermaksud melukai-
Belum selesai dengan ucapannya, Nagong Wei langsung mencengkram kedua tangannya, mendorongnya ke tembok, merobek pakaiannya. Nagong Yi gemetar mencoba melawan, dengan perlawanan yang keras Nagong Yi melepaskan tangannya, mengambil benda di dekatnya kemudian melemparkannya ke wajah Nagong Wei.
Nagong Wei dengan cepat memblokir tangan Nagong Yi yang memegang lampu, tanpa sengaja minyak lampu yang masih panas itu tumpah ke wajah Nagong Yi terutama di matanya dan membakar kedua matanya.
Nagong Yi langsung memegang wajahnya dia gemetar, minyak panas itu sudah masuk ke matanya seperti tertusuk dan terbakar sangat perih.
Nagong Wei langsung pergi sebelum ada seseorang melihatnya, para pelayan rumah tangga terutama istrinya Nyonya Wei jangan sampai ada orang yang tahu jika dia terlibat kecelakaan Nagong Yi. "Jika kau memberitahukan pada orang lain, aku akan memberi perhitungan pada Zao Tian. Ingat itu baik-baik!"
__ADS_1
Keesokan harinya Nyonya Wei terlihat cemas karena dia belum melihat putrinya selama seharian, biasanya Nagong Yi akan membuat sarapan pagi sebelum jualan sayur, tapi hari ini Nagong Yi sama sekali belum keluar. jadi Nyonya Wei mengambil beberapa makanan untuk di berikan pada Nagong Yi.
Dia mengerutkan keningnya karena kamar Nagong Yi terkunci. "Yi'er apa kamu masih di dalam? Kenapa kamu tidak keluar, bukalah pintunya ibu membawakan mu makanan."
Masih hening sesaat sebelum ada suara benda-benda jatuh, suara orang tertabrak dan suara derap-derap langkah. Saat pintu itu terbuka dia di buat tercengang begitu Nyonya Wei melihat luka bakar yang merambat dan melikuk-likuk di sekujur wajah Nagong Yi, dia gemetar dan makanan di tangannya langsung terjatuh.
"Yi'er.. apa yang terjadi dengan wajahmu?"
Nagong Yi mencoba tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tadi malam aku tersandung meja saat ingin mematikan lampu, aku terjatuh ke lantai dan.. minyak lampu itu tidak sengaja menimpa wajahku."
"Apakah itu sakit?" Nyonya Wei langsung cemas, dia mengusap wajah Nagong Yi. "Yi'er wajahmu terbakar, bagaimana dengan besok kalian menikah? Bagaimana dengan Zao Tian?"
Nyonya Wei sangat khawatir karena wajah Nagong Yi sudah rusak. Wajah Nagong Yi sudah tidak lagi cantik, bahkan luka di wajahnya terlihat menyeramkan berwarna hitam dan merah sebagian kulit wajahnya terkelupas, menghitam gosong, bernanah dan beberapa bagian sudah hampir membusuk
Untuk kali ini ekspresi kesedihan tidak mampu di sembunyikan Nagong Yi, matanya tidak bisa berair, tidak bisa berkedip.
Dia menunduk dan berkata lemas setelah tahu sendiri wajahnya berubah sangat menyeramkan. "Apakah kakak Zao masih akan menerima ku?"
Nyonya Wei tidak tahan untuk memeluknya, dia mengusap punggung Nagong Yi. "Tidak, ibu akan mencari cara untuk menyembuhkan wajahmu dan ibu berjanji."
Dia melihat Nagong Yi, mata Nagong Yi sedikit terlihat aneh dan tidak pernah berkedip. Nyonya Wei mengangkat tangannya dan jelas mata Nagong Yi tidak pernah merespon kibasan tangan,. Dia langsung berteriak panik, "Ada apa dengan matamu Yi'er?! Apa kamu bisa melihat?! Apa kamu masih bisa melihat?!"
Ekspresi Nagong Yi masih tidak bisa terbaca, dia mencoba tersenyum dan meraba wajah Nonya Wei mengunakan tangannya.
"Hanya gelap, tidak ada yang lain." Nagong Yi menelusuri wajah Nyonya Wei, mengusap air mata Nyonya Wei menggunakan tangannya yang gemetar.
"Aku sudah buta."
__ADS_1