KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
permainan kontrak kutukan darah III


__ADS_3

Klang!


Lau Luo mencabutnya dan melemparkannya ke sembarang arah hingga jarum itu membentur batu dan dia bisa menghela nafas lega karena cukup beruntung jarum sepanjang lima belas sentimeter itu tidak menembus tulang bagian belakangnya.


Ketika dia mencabut jarum itu, pakaian putihnya kini sudah berganti basah dan berubah warna merah darah yang kental, seolah-olah darah di pakainya seperti hamparan salju yang terkena bunga krisan warna darah yang terlihat begitu mencolok.


Dia berbatuk untuk mengeluarkan cairan lengket dari mulutnya sebelum dia mengusap ujung bibirnya, matanya kembali fokus dan bersiap dengan lemparan belati yang ketiga di permainan mereka.


Zhang Zihan melihatnya tidak percaya. Jika itu dirinya, dia tidak berani menerima serangan itu begitu saja atau menerima luka fatal secara percuma.


"Kau pasti tidak peduli jika kehilangan beberapa bagian tubuhmu untuk menang kan?" Matanya melihat ke bagian perut Lau Luo, perut itu sudah mengucur menyedihkan.


Lau Luo tidak berniat menyanggahnya karena hal itu memang benar.


Saat Lau Luo terlibat pertarungan dia harus melakukan segala cara untuk menang, jika dia mengalami kekalahan, dia tidak cukup percaya diri untuk melindungi Shu Zi jiu, Yuan Yi dan juga Chuxi karena sekarang dia merasa seolah-olah sangat lemah, tidak memiliki kekuatan apapun untuk melindungi siapapun.


Karena dia terlalu lemah, maka dari itu Lau Luo juga tidak khawatir jika harus kehilangan satu atau dua tangannya dalam pertarungan. Baginya, kekalahan adalah hal yang tidak boleh dia dapatkan karena jika dia mengalami kekalahan sekali, dia tidak akan merasa cukup untuk melindungi Shu Zi Jiu di masa depan.


"Aku akui dia melakukan pertarungan dengan agak sinting, tapi mentalnya.." Jing Yiran mulai memahami apa yang maksud dari perkataan Chuxi, dia sempat merasa bersalah ke arahnya.


"Mentalnya seperti baja, siapapun bisa menyerah ataupun kabur saat bertemu lawan kuat. Tapi dia tidak sudi melakukannya."


"Aku takjub dengan tekad seperti itu, jika ada kesempatan aku akan meminta Shifu untuk menerimanya ke puncak Yilin."


Chuxi merapatkan giginya hingga terdengar suara yang menggelegak keras, dia tidak menyangka jika belati yang di curinya karena sedikit bagus itu membawa masalah untuk mereka. Untuk kali ini Chuxi tidak mengumpati orang lain, melainkan untuk kebodohannya sendiri.


Can Sua yang dari tadi mengamati tanpa mengalihkan matanya dari Lau Luo kini tersentak saat melihat keadaan perut Lau Luo dan dia berulang kali menjerit dengan sangat khawatir, tapi suaranya sama sekali tidak terdengar di telinga Lau Luo dan hanya mengaum di udara sebelum habis tanpa jejak.

__ADS_1


"Saudara Luo.."


Kepalanya tertunduk ke bawah dengan beberapa tetesan basah yang jatuh ke tanah, dia memang baru mengenal Lau Luo, tapi begitu melihat bocah lelaki itu terluka, dia tidak bisa tidak merasa khawatir.


Lau Luo melihat Jing Yiran yang dari tadi tidak melemparkan belatinya untuk kembali lagi memulai permainan mereka dan dia segera berkata. "Sekarang masih di lanjutkan apa tidak?"


Jing Yiran mulai mengangkat tangannya dan menerbangkan belati biasa untuk ketiga kalinya, saat belati itu melayang dengan cepat, kedua orang tadi kembali beradu serangan, kali ini perbedaan kekuatan keduanya jauh lebih kontras dan terlihat jelas jika Lau Luo memaksakan fisiknya di setiap pukulannya dengan Zhang Zihan.


Ketika Lau Luo memukul dan menyerang, darah itu semakin keluar lebih banyak dan membuat lukanya semakin sobek. Lau Luo menahan kesakitannya di setiap gerakan tapi sebelum itu dia sudah lebih dulu mengubahnya menjadi ekspresi yang tenang di wajahnya.


"Kau sangat menarik nak, apa kau tidak merasakan sakit?"


Zhang Zihan tidak bisa menahan penasaran karena orang di depannya tidak menunjukkan reaksi lain selain sikap tenang dan datar, namun kenyataannya tanpa di ketahui orang lain, Lau Luo menahan tubuhnya yang hampir mati rasa dan kesakitan tidak tertahankan menjalar dari setiap lukanya.


Mungkin luka yang di sebabkan benda tajam tadi, karena pergerakannya yang memaksakan, luka itu perlahan menjadi sejenis luka dalam yang mulai berkopeng.


Dia lalu menghirup udara pelan dan mengembuskannya secara pelan. Matanya kini tidak beralih dari Zhang Zihan, Lau Luo lebih memilih menunggu serangan Zhang Zihan dan mengambil peluang untuk mengindari gerakan yang akan membuat lukanya semakin parah.


Zhang Zihan tidak memulai melepaskan gelombang angin seperti sebelumnya dan dia kemudian menghilangkan pedang beratnya ke dalam cincin penyimpanan, dia akan mengandalkan jarum karena bisa membelokkan arah serangan seperti keinginannya hanya dengan menarik beberapa senar.


Dia mulai mengabur senar dan jarum ke arah Lau Luo, kali ini senar yang datang lebih tipis dan semakin tidak terlihat.


Lau Luo melakukan beberapa gerakan yang lain, bukan hanya menangkis tapi juga memotong senar itu mengunakan pedang.


Pedang itu sangat ringan, membuatnya lebih mudah di setiap gerakan. Dia menepis jarum itu, beberapa kali membuat benturan dan menggunakan serangannya untuk menyerang Zhang Zihan.


Lau Luo menyalurkan qi ke pedagangnya sebelum dia melesatkannya ke arah tubuh Zhang Zihan, pedang itu bergetar dan berhenti lalu jatuh ke tanah dengan keras.

__ADS_1


Zhang Zihan tersenyum sarkas, ketika aura pembunuhnya menekan Lau Luo dan membuat bocah laki-laki itu tersungkur ke tanah dia lalu menghindari pedang Lau Luo dan membiarkan beberapa senarnya terpotong.


Itu sangat mengejutkan Zhang Zihan, meskipun lawannya belum memberikan luka goresan apapun namun jika sekarang di lihat umurnya, tidak di pungkiri lagi Lau Luo bisa menjadi kultivator yang hebat di masa mendatang.


Saat Zhang Zihan mengeluarkan aura pembunuhnya, Lau Luo kesulitan bergerak seperti tertindih atmosfer yang berat, dia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya yang gemetar dan meremang karena mengigil, tapi untungnya senar itu terpotong ke arahnya. Dia lalu memfokuskan qi hanya pada jari tangannya dan meraih senar itu, menariknya serta mengubah arah jarum ke jantung Zhang Zihan.


Zhang Zihan tersentak tidak percaya, mengetahui jarumnya di ambil alih orang lain, dia kehilangan fokus untuk memblokir serangan. Lau Luo memanfaatkannya langsung melompat ke punggung Zhang Zihan, dia juga mengambil pedang di tangannya dan langsung mengarahkan pedang itu ke leher Zhang Zihan.


Kejadian itu berlangsung sangat cepat, keduanya diam cukup lama hanya nafas tersengal-sengal yang kontras. Orang-orang yang melihatnya seakan tidak percaya kejadian yang mereka lihat memberikan perhatian yang luar biasa dan hanya berlangsung selama sekejap mata.


Zhang Zihan tertegun, nafasnya juga tersengal-sengal namun lebih ringan dari nafas Lau Luo, dia kembali tersenyum.


"Apa kau tidak tahu kemana belati itu menuju?"


Zhang Zihan melilitkan senar ke belati itu, namun dia tidak bisa mengambilnya karena pergerakan dan tangannya di kunci oleh kaki Lau Luo, dia melepaskan belati itu ke jantung Lau Luo agar bocah itu menyingkir darinya.


Lau Luo tersenyum melebihi senyuman Zhang Zihan bahkan tersenyum mengambang lebar, Zhang Zihan tanpa sadar menelan ludah melihatnya.


"Terimakasih mengarahkan belati itu ke arahku, aku tidak perlu repot-repot untuk mengambilnya."


Lau Luo melihat belati itu yang datang dengan cepat dan langsung menusuk punggungnya dari belakang. Meskipun cara memperolehnya terkesan ekstrem, tapi dia mendapatkan belati ketiga dan dia orang yang memenangkan pertandingan mereka.


"Kamu kalah."


Zhang Zihan di buat tidak percaya dengan kejadian yang berlangsung sekejap mata itu, dia membuka rahangnya yang hampir terbanting ke tanah.


Hanya untuk menenang kau menerima lagi semua luka fatal, apa kau tidak takut mati?

__ADS_1


Zhang Zihan berdesis. "Kau sinting!"


__ADS_2