KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Latihan di sebelah danau


__ADS_3

Saat Lau Luo mengetahui jika Jing Yiran mengalami kecacatan inti spiritual yang serius, dia tidak tahan untuk bertanya karena terkejut. "Yiran-shixiong.. kamu?"


Namun remaja yang mengenakan jubah cyan biru langit itu hanya memiliki wajah yang acuh tak acuh yang seakan tersenyum tipis, jadi Lau Luo yang melihatnya segera bertanya. "Ini masalah yang serius Shixiong, apa orang lain mengetahuinya juga?"


Saat mengatakan dia mengalami kecacatan setengah di inti spiritual yang tidak dia ceritakan pada siapapun, Jing Yiran menceritakannya karena ingin mendapatkan kepercayaan Lau Luo dan tidak akan menyembunyikan apapun darinya bahkan hal sekecil apapun. Sampai-sampai Lau Luo tidak akan pernah berfikir bahwa dia akan di hianati oleh orang-orang terdekatnya, konflik apapun dengan mereka di masa depan tidak boleh terjadi, begitu juga ramalan bintang malapetaka yang mengatakan bahwa Lau Luo yang berwarna rambut dan mata hitam itu akan menjadi bencana di dunia beladiri di masa mendatang


Jing Yiran tertawa tipis dan mengangguk sedikit. "Sejauh ini yang mengetahuinya hanya kamu dan shifu."


Melihat mata Jing Yiran yang memiliki sedikit jejak kekhawatiran, dia kemudian tersenyum lembut untuk menghiburnya. Lau Luo tahu jika Jing Yiran akan menempuh jalan dua kali lebih berat dalam berlatih beladiri dari kebanyakan orang. Jika orang normal yang hidup tanpa jantung, maka akan seperti setiap hari dia menginginkan bisa cangkok jantung.


Namun bagaimana dengan kerusakan Inti spiritual, apakah bisa di cangkok? Dan apakah ada seseorang yang suka hati mendonorkan inti spiritual mereka pada Jing Yiran, tapi jawabannya sangat jelas tentu saja itu tidak ada.


Juga bagi Lau Luo, dia tidak akan berpikir sampai sejauh itu untuk mencangkokkan inti spiritualnya sendiri lalu memberikannya pada Jing Yiran. Namun berpikir masalah Jing Yiran adalah masalah senior beladirinya, sebagai seorang shidi atau junior beladiri dia harus berusaha memperbaiki kerusakan inti spiritual Jing Yiran setinggi apapun harganya.


"Shixiong, aku pasti akan membantu untuk memperbaikinya-


Tapi kenyataannya yang ingin di ucapkan Lau Luo masih menyangkut di antara gigi-giginya dan tidak bisa di katakan. Jika dia mengeluarkan upaya sedikit untuk orang lain, sama saja akan mengurangi perhatiannya pada Ah Jiu-ge yang juga bisa berdampak pada perhatiannya untuk melindungi Shu Zi Jiu, dia tidak akan membiarkan Ah Jiu-ge mengalami kematian bahkan jika langit menentangnya sekalipun, maka dia harus menjadi orang yang tidak memperdulikan siapapun.


Lau Luo segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya saja yang ingin ku katakan.. siapa lawan ku besok?"


Jing Yiran sedikit terkejut bahwa masalah ini tidak di bawa serius oleh Lau Luo, melihat shidi-nya yang acuh dan juga tanpa ekspresi apapun, dia menghela nafas lega.


Dia sangat perhatian pada Lau Luo, jika di bandingkan perhatiannya untuk Xian Zi ataupun Deng Lun. Namun jiwa taois menancap di antara tulang-tulangnya, melebur di antara darah dan daging, bentuk kebaikan apapun yang dia berikan, Jing Yiran tidak akan menuntut untuk mendapatkan balasan sedikitpun.


"Lawan yang tidak asing." Setelah jeda sejenak Jing Yiran menjawabnya sambil tersenyum.


"Zhan Chen dari sekte Awan Giok, sekaligus sekte yang berasal dari Kekaisaran Yang benua timur. Bagaimana pendapatmu setelah bertemu dengannya sebelumnya?"

__ADS_1


Lau Luo merasa ingin tertawa dan dia mengangguk kepalanya mengerti. "Aku tahu, Shixiong tidak perlu mengatakannya secara detail siapa lawan ku besok."


Setelah tawanya berhenti Lau Luo akhirnya melanjutkan berkata. "Harus ku akui, Zhan Chen dia lawan yang kuat."


Lau Luo mengingat kembali pertarungannya singkat dengan Zhan Chen sewaktu di kapal apung, dan memperkirakan sejauh mana kemampuan mereka.


Kemampuan berpedang yang di keluarkan Zhan Chen saat itu hanya tujuh atau delapan puluh persen, kemampuan spiritual lima puluh. Bisa di lihat Zhan Chen belum mengeluarkan kemampuannya yang sesungguhnya, sedangkan Lau Luo sudah mengerahkan seratus persen kemampuan berpedangnya untuk mengimbangi Zhan Chen, dan sekarang dia tidak bisa merasa di atas angin dari kemampuan Zhan Chen.


"Shixiong tahu dia hanya mengeluarkan setengah kemampuannya saat itu, tapi Yiran-shixiong tidak perlu khawatir karena akan aku pastikan seratus persen adalah kemenangan nantinya."


Jing Yiran tahu sedikit bagaimana kemampuan Zhan Chen, jadi dia memberikan sedikit gambaran. "Kemampuannya setara Deng Lun, kamu tahu seberapa kuat itu?"


Setelah jeda Jing Yiran juga bertanya. "Apa kau pernah berlatih dengan Deng Lun sebelumnya, apa kau bisa menang darinya untuk bisa memperkirakan kekuatan Zhan Chen."


Lau Luo berkata dengan yakin. "Aku tidak menang."


"Kenapa?" Jing Yiran tiba-tiba merasa kesal bahwa Lau Luo menjawabnya dengan ringan tanpa pertimbangan sedikitpun bahwa dia akan kalah. Jadi dia segera mendesis. "Jika begitu kau tidak bisa menang! Itu bukan seratus persen kemenangan, tapi kekalahan!"


Lau Luo, "...."


Dia melihat Jing Yiran berubah kesal, alis yang merajut marah membuatnya sempat tertawa. "Tadi omong kosong.. Shixiong aku hanya bercanda."


Lau Luo kemudian mengambil satu langkah ke depan, mata hitamnya tanpa berkedip dan dia mengatakan dengan kesungguhan yang luar biasa. "Aku tidak bisa menang melawan Yiran-shixiong, jika aku bertarung dengan salah satu dari tiga Shixiong di puncak Yilin apa aku perlu menang? Itu akan menjadikan aku terlihat buruk.. adik beladiri junior yang durhaka."


"Lalu jika aku melawan Yiran-Shixiong, aku juga tidak perlu menang."


Jing Yiran yang mendengarnya ingin sekali tertawa mencibir, kalu kenapa kau di dalam mimpinya menghunus pedang Duka Surgawi tanpa ragu melawan Jing Yiran jika tidak perlu untuk menang?

__ADS_1


Mengingat mimpi yang mungkin tidak pernah terjadi, Jing Yiran menggelengkan kepalanya dan berkata sedikit marah "Jangan bermain-main, katakan dengan jelas. Luo-shidi ke tingkat ranah berapa praktisi mu sekarang?"


Senyum yang sempat melengkung di wajah Lau Luo perlahan turun, dia berkata dengan suara berat. "Tidak ada peningkatan apapun, masih tingkat pertama tahap pertama."


Lau Luo tertawa sumbang, sejauh apapun dia berlatih maka praktisinya tidak akan naik sedikit pun.


Dia sempat berpikir bahwa dia sama sekali tidak cocok dengan kultivasi, tapi jika dia tidak menjadi kultivator lalu kekuatan dari mana yang bisa dia dapatkan untuk melindungi orang yang ingin dia lindungi terutama Shu Zi Jiu?


Jing Yiran memang mengalami cacat di inti spiritual, meskipun demikian Jing Yiran mampu menaikkan tingkat praktisinya seperti kebanyakan ahli beladiri berinti lengkap, tanpa kesulitan bahkan tidak menghambat bakatnya menjadi murid pelantaran inti di puncak Yilin. Sedangkan dia berinti lengkap, tapi kesulitan untuk meningkatkan praktisinya sejauh apapun dia telah berusaha keras, saat membandingkan mereka berdua Lau Luo merasa bahwa langit sangat tidak adil untuk mereka berdua.


"Meskipun begitu, Luo-Shidi kau sangat kuat. Kau mampu mengalahkan Zhang Zihan waktu itu. Anggap saja ini sama, kau pasti bisa menang melawan Zhan Chen."


Setelah di pikirkan lagi, Jing Yiran tertawa renyah. Berandalan bandit gunung Zhang Zihan, dengan Zhan Chen murid dari sekte beladiri terkemuka Sekte Awan Giok! Tentu saja tidak sama!


"Ya.. maksud ku nama marga mereka hampir sama."


Lau Luo mengangguk ringan. "Yakinlah Yiran-shixiong tidak perlu mencemaskan apapun.


Pedang di pinggangnya masih tersarung, dia mengklik ujung pedangnya sebentar. "Shixiong, apa kita bisa bertukar beberapa pukulan sebentar dengan ku? Aku akan belajar."


"Kau bilang tidak ingin bertarung dengan aku karena menghormati senior mu sendiri, kemana kata-kata itu pergi? Padahal ini belum satu hari tapi kau sudah melupakannya.''


Meskipun begitu Jing Yiran mematahkan dua ranting dari pohon millow di dekat Danau Ye sebelah mereka berdiri dan kemudian dia lalu memberikannya satu pada Lau Luo sebagai ganti pedang mereka.


Mereka kemudian berlatih menggunakan ranting karena hanya ada satu pedang yang di bawa Lau Luo dan juga karena Jing Yiran tidak bisa menggunakan Embun Beku Mengambang, maka tidak ada cara lain selain menggunakan kayu.


Setelah melapisi qi, ranting itu lebih tajam dari pedang di pinggangnya, gerakan mereka tanpa suara seperti angin yang berhembus.

__ADS_1


Di pukulan pertama mereka, Lau Luo tersenyum murahan. "Kita sedang berlatih, meskipun hanya latihan, aku juga tidak mencoba untuk menang dari Yiran-shixiong."


__ADS_2