KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Jeda pertandingan untuk melihat teater II


__ADS_3

Jing Yiran yang sedang mendengarkan dengan serius, langsung mendesah nafas mengengar Xian Zi yang tidak berhenti untuk mencibir, jadi dia segera menegurnya. "Dengarkan ceritanya sampai selesai jangan buat keributan."


Mendapat peringatan dari Jing Yiran, mereka kemudian melanjutkan mendengar cerita tentang pengembala pangsit..


"Setelah Yan Su menjadi buruh gandum, mereka mendapatkan gaji dua kali lipat dan mampu membeli dua porsi roti. Tapi rasa puas itu tidak berlangsung lama untuk Yan Su.


Ibunya di serang penyakit dan harus dirawat oleh tabib ahli, karena mereka tidak mempunyai uang jadi ibunya hanya bisa berbaring sambil menjalani hari-hari dengan setengah sekarat. Sedangkan ladang gandum yang di rawat Yan Su tiba-tiba terbakar, hampir tidak ada yang bisa di panen karena semuanya sudah habis menjadi abu yang membuat Yan Su berhenti dari buruh gandum dan dia mulai menjadi pelayan dapur di rumah seorang bangsawan.


Hasil yang dia dapatkan tidak dia belikan untuk makanan dia sendiri, melainkan Yan Su menyimpannya untuk membeli obat ibunya dan kebetulan juga setiap seminggu sekali dia akan mendapat tugas membuang gandum yang sudah basi, karena merasa sangat sayang jika di buang jadi Yan Su menjemurnya lagi untuk dia konsumsi.


Mendapatkan gandum yang basi, dia bisa menggunakan gandumnya untuk meniru pangsit yang di buat koki dapur. Tetapi saat menjemur gandum basi, tuan muda bangsawan itu memarahi Yan Su. Menendangnya hingga membuat gandum kuning dengan jamur hijau tumpah berantakan di tanah.


"Kau pencuri makanan dari dapur ayahku!"


Yan Su panik, dia langsung membanting lututnya di tanah. "Tuan rumah.. aku.. hanya menyimpan gandum yang akan di buang.."


Tuan muda itu mendengus jijik. "Bahkan jika gandum itu akan di buang. Apa aku pernah mengatakan memberikannya padamu?!"


"Ambil kembali gandum-gandum itu lalu berikan pada semut di belakang rumah!"


Yan Su dengan panik mengumpulkan gandum-gandum dari tanah. "Tuan rumah.. bagaimana kalau semut di belakang rumah tidak memakannya.. Apa aku.. boleh memakan sisanya?"


Tuan muda itu pergi, menyibakkan pakaiannya, wajahnya sangat sombong dan juga kikir." Tidak boleh! Kalau begitu kau tunggu sampai semut itu menghabiskan semuanya!"


*

__ADS_1


Cerita oengembala Pangsit sudah selesai, Xian Zi memukul meja mengunakan kertas lipatnya, seolah-olah menggertak langsung pada pembuat cerita. "Sangat tidak masuk akal!"


"Gandum hampir di sebutkan sebanyak enam belas kali! Dan pangsit hanya satu kali! Judul ceritanya sangat tidak masuk akal!"


Jing Yiran sangat terhibur dengan ceritanya, saat pencerita itu lewat dengan kantong dari meja ke meja, Jing Yiran memasukkan beberapa keping uang ke sana sebelum kembali menikmati secangkir minumannya.


Tanpa di ketahui siapapun saat mendengarkan cerita pengembala pangsit Yan Su, Lau Luo mengepalkan tangannya dari balik jubahnya, karena cerita itu hampir mirip dengan apa yang di katakan Ah Jiu-ge sewaktu masa kemiskinan dan kemelaratan mereka.


Sewaktu itu.. nyala lampu lilin keluar dari jendela perumahan, Shu Zi Jiu berjalan tertatih-tatih sambil menggendong seorang anak balita di tangannya. Balita satu tahun itu terlihat demam tinggi karena kelaparan, demamnya juga semakin naik karena malam angin lebih dingin dari biasanya membuat wajahnya sangat pucat, sedikit biru dan sedikit hampir tanpa jejak kehidupan.


Lau Luo yang berumur masih bayi itu tanpa sadar gemetar di gendongan Shu Zi Jiu. Hanya lima suku kata yang di ucapkan dengan susah payah saat dia gendong dan melewati perumahan yang bersalju. "Ah-ge.. apa pangsit.. rasanya enak?"


Shu Zi Jiu tersenyum, mengelus kepala orang di pelukannya dan berkata lembut. "Luo-didi kamu ingin memakannya?"


Karena sangat dingin hawa di malam hari semakin membuat semua udara di sekitaran mereka seperti kabut yang membeku, Lau Luo yang masih bayi itu membenamkan wajahnya di pelukan Shu Zi Jiu dan tangannya mengigil kedinginan lalu menganggukkan kepalanya samar tetapi matanya melirik pangsit hangat yang kebetulan terlihat dari jendela warga yang tidak tertutupi oleh sebuah kain.


Saat enam kali mengetuk pintu, tidak ada tanggapan. Pintu rumah itu kemudian di buka dari dalam yang langsung menampilkan seorang pria berusia tiga puluh tahun. "Hei nak, apa yang kau lakukan menganggu jam malam orang lain?"


Rambut orang itu agak kusut seperti baru bangun tidur, Shu Zi Jiu memberanikan diri berkata. "Tuan adikku sedang demam tinggi karena kelaparan.. adakah kedermawanan memberi kami sepotong pangsit?"


Orang itu terlihat sangat terganggu. "Nak, mendapat makanan sekarang sangat sulit. Jika aku memberikannya untuk mu, lalu apa yang kami makan?"


Shu Zi Jiu mengepalkan jubah yang menutupi Lau Luo. "Aku.. melihat anda membuangnya untuk.. tikus. Bolehkah aku.. meminta rempahnya saja?"


Pintu langsung tertutup keras, orang itu mencibir dari dalam. ''Ck! Anak-anak sekarang mengandalkan belas kasihan untuk mengisi perut! Kau tunggu saja sampai tikus-tikus itu kenyang! Kau bisa mengambil sisanya!"

__ADS_1


Sudah sangat lama Shu Zi Jiu menunggu tikus untuk memakan pangsit yang sudah di buang oleh orang itu dan saat dia menunggu lama tapi tidak ada tikus yang memakannya, maka dia tidak mendapat rempah sisanya dan .ereka tidak bisa memakan pangsit.


Melihat Lau Luo diam cukup lama, Jing Yiran menaruh minumannya kemudian bertanya. "Luo-shidi kamu tidak suka cerita 'pengembala pangsit'?"


Lau Luo tersenyum tapi bukan menunjukan sebuah senyuman. "Kau sangat antusias Yiran-shixiong, apa kau penasaran dengan lanjutan Yan Su?"


Xian Zi cukup terkejut. "Aku sudah menonton drama ini ratusan kali sampai hafal dialognya! Tidak ada lanjutannya dan berakhir di sini, apa kamu pernah mendengar 'pengembala pangsit' dari pendongeng lain? Lalu bagaimana akhirnya?"


"Akhirnya, setelah Yan Su membawa gandum itu ke belakang rumah. Dia tidak bisa mendapatkan gandumnya sama sekali karena setelah menunggu seharian, tidak ada semut yang datang untuk memakannya."


Mendengar cerita Lau Luo, Xian Zi kembali memukul meja. "Mereka sangat pelit! Kenapa suka membuang makanan basi dari pada memberikannya pada orang lain?! Kalau aku Yan Su, aku akan mencurinya dari pada menunggu barang sisa! Bahkan memakan air sisa keledai lebih baik daripada memakan sisa orang sombong!"


Jing Yiran juga sangat kesal dengan sikap tuan rumah yang ada di dalam cerita. "Benar, tapi sewaktu itu Yan Su hanyalah anak kecil. Kalau dia mencuri gandum itu dan ketahuan, dia pasti di usir dari dapur. Maka dia tidak akan mendapatkan uang, tidak bisa membeli obat untuk ibunya, tidak apa-apa menahan lapar sedikit lebih lama asal dia masih bisa bekerja."


"Bukan hanya ada satu Yan Su di dunia, banyak orang miskin yang memiliki nasib yang sama seperti Yan Su."


Jing Yiran bertanya. "Bukankah begitu?"


Xian Zi membuka kipasnya. "Benar yang di katakan Yiranshixiong! Ada banyak Yan Su di dunia ini! Kalau aku bertemu dengan mereka aku akan memberi gandum, maksud ku memberikan mereka makanan agar mereka tidak kekurangan nutrisi yang membuat mereka kurus seperti segelondongan kayu!"


Dari cerita 'pengembala pangsit' ada orang yang mengemis untuk makan, orang kenyang lalu membuang makanan, dan juga ada sisi kekurangan namun tanpa pikir panjang memberikan makanannya untuk orang lain. Ada banyak jenis orang di dunia ini, jika melihat satu Yan Su di depan mata maka ada banyak Yan Su lain di belakang punggung. Yang di jual di rumah pelacuran, yang hidup di bawah jembatan atau yang berbaur di jalanan mengandalkan tangan untuk mengemis.


"Bagaimana Luo-shidi setelah mendengar cerita 'Pengembala Pangsit'?"


Lau Luo berkata dengan suara rendah. "Sangat memprihatikan. Jika aku Yan Su, aku akan mengingat siapa saja wajah yang pernah menggertakku dan suatu hari aku akan membuat mulut mereka menjilat kotoran di bawah sepatuku sampai kering."

__ADS_1


Mendengar itu, Jing Yiran tidak tahan untuk terkejut. "Luo-shidi apa kau sungguh-sungguh mengatakan seperti itu?"


Lau Luo tersenyum sedikit dan dia menggelengkan kepalanya. "Tentu saja, shixiong aku hanya bercanda."


__ADS_2