
Chuxi langsung tertawa begitu keluar dari toko Can Zao. "Aku suka nama pedangmu.."
Lau Luo menutup pedang itu ke tutupnya nya lalu menyimpan di pinggang, membiarkan pedangnya menggantung di sana kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Sekte Pedang Patah.
Saat mereka sampai di beberapa jarak tiba-tiba pendengaran Lau Luo berubah sangat tajam, dia bisa mendengar suara samar di kejauhan seperti derapan kuda, lalu matanya menyipit ke arah pegunungan yang berubah gemuruh dan berkabut. Orang lain bisa melihatnya sebagai tanah longsor, tapi mata hitamnya yang seperti giok gelap itu, dia melihatnya sebagai segerombolan orang yang menunggang kuda untuk menuruni gunung.
"Ada apa?" Chuxi melihat ke arah pandangan Lau Luo. "Apakah tanah di pegunungan mengalami longsor?"
"Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana." Lau Luo semakin jelas, sekitar tiga puluhan orang menunggang kuda mulai turun dari gunung. Jumlahnya sangat banyak sampai menimbulkan debu yang berterbangan dan awan debu yang besar di sepanjang jarak yang di lalui orang-orang itu.
Hanya berselang sebentar mereka langsung memasuki desa dan mulai menjarah beberapa warga untuk mengumpulkan mereka di satu tempat. Para wanita langsung berlarian panik begitu puluhan pria berotot menunggang kuda sambil membawa senjata di tangan mereka dan busur serta panah di punggung.
Seseorang berteriak dan berlari, wajahnya berubah ketakutan. "Mereka bandit gunung!"
Bandit-bandit itu segera mengepung semuanya dari segala arah, tidak membiarkan satupun warga yang lolos dari penglihatan mereka.
Salah satunya pemimpin bandit melihat alat di tangannya, sebelum dia mulai bergumam. "Posisinya berada di desa ini."
Beberapa bandit gunung itu juga berteriak. "Jangan biarkan siapapun lolos! Keluarkan semua warga desa yang bersembunyi di dalam rumah mereka dan segera kumpulkan menjadi satu!"
Semua bandit itu langsung masuk ke rumah warga dan mengumpulkan mereka di satu tempat, termasuk juga toko senjata milik Can Zao juga tidak luput dari mereka.
Can Zao mengangkat tangannya, beberapa bandit langsung memborgol tangan Can Zao dan Can Sua.
Semua warga desa sangat panik, Can Zao berkata pelan pada putrinya itu. "Sepertinya kedatangan para bandit ini ada hubungannya dengan bocah tengik itu."
Butuh waktu sedikit lama bagi Can Sua menyadari siapa yang di maksud Can Zao. "Tenang saja ayah, saudara Luo dan saudari Chu mungkin sudah pergi. Bandit-bandit ini pasti akan melepaskan kita begitu mereka tidak menemukan jejak apapun.."
Seperti yang di katakan Can Sua, para bandit tidak merampok harta berharga para warga dan tidak menjarah benda apapun, Mereka mengumpulkan semuanya di satu tempat untuk memberi intograsi.
Semua kelompok langsung di buat berhenti ketika pemimpin bandit gunung mengambil alih kendali. Pemimpin bandit itu terlihat berusia dua puluh tahun dan terlihat lumayan tampan, pakainya yang megah seperti pria terkemuka.
Senyuman melengkung licik ke arah kerumunan membuat orang biasa di sana langsung bergidik.
__ADS_1
Seorang bandit bertubuh kekar dan kasar berteriak. "Dengarkan! Pria ini adalah Zhang Zihan, dia pemimpin kami! Kami datang ke sini untuk mengajukan pertanyaan, seseorang yang tidak terlibat bisa pergi! Kami akan melepaskan kalian setelah kalian mengatakan informasi yang kami butuhkan!"
"Jika kalian tidak ingin menyerahkan apa yang kami cari, jangan salahkan kami jika bertindak tanpa ampun!"
Zhang Zihan mengeluarkan kristal spiritual, dia membuka tangannya kemudian cahaya merah menyala dari kristal keluar di antara tangannya. "Ini hanya masalah kecil, kami datang ke sini untuk mengambil kembali barang kami yang di curi."
Seorang bandit yang memiliki cidera parah di tangannya bernama Qiangdau, kemudian berdiri di sebelahnya Zhang Zihan.
Zhang Zihan menunjuknya. "Aku memberinya misi untuk mengantar pusaka Belati Petir Mutan, tapi begitu mereka di perjalanan mereka di pukuli b*jingan. Siapapun yang melakukannya cepat kemari dan serahkan belatinya kembali!"
"Cari orang yang memukulimu dan seret dia kemari!" kata Zhang Zihan pada Qiangdau.
Qiangdau mengamati setiap wajah orang satu persatu, warga yang lolos dari target Qiangdau menghela lega. Tapi tidak untuk Can Sua, bandit itu sudah mengenali wajahnya! Meskipun Can Sua tidak ikut campur pemukulan Lau Luo dan Chuxi, pasti Qiangdou tidak akan melepaskannya.
Keringat Can Sua mengucur panik, dia menutupi wajahnya menggunakan rambut dan mengusapkan beberapa lumpur di tanah ke wajahnya agar tidak di kenali.
Can Zao menggenggam tangannya. "Apa bandit itu?"
Can Sua mengangguk takut dan tumbuhnya sudah gemetar. "Benar ayah."
Zhang Zihan menghitung waktu hampir setengah jam namun tidak ada seorangpun yang mengaku. "Aku akan melepaskan kalian meskipun telah menghancurkan lengan bawahan ku dan meremukkan leher bawahan ku sampai mati. Tapi, ketahuilah jika kalian tidak keluar aku punya alternatif untuk menemukan kalian."
Can Sua mencoba tetap tenang saat Qiangdau tidak lagi mencarinya di antara kerumunan warga dan ketika kristal spiritual di tangan Zhang Zihan semakin menyala, semua orang melihat ke arah Zang Zihan.
Kristal spiritual itu semakin memancar merah, perlahan namun pasti mulai membentuk gambar seorang bocah perempuan, Can Sua semakin menyusut melihatnya saat gambar itu semakin jelas memperlihatkan wajah Chuxi.
Dia mulai menyadari Chuxi seorang gadis yang tamak, tidak heran jika Chuxi mengambil benda berharga dan memancing beberapa masalah untuk banyak orang.
Sebelum kristal spiritual berbentuk sempurna tiga dimensi dari Chuxi untuk bisa di kenali semua orang, kristal itu langsung hancur oleh panah yang melesat ke arahnya.
-Prak!
Semua orang melihat ke sumber ulah, mereka langsung mengenali seorang remaja tampan yang mengenakan pakaian biru langit dari Sekte Pedang Patah juga orang yang berasal dari puncak pertama, Puncak Yilin.
__ADS_1
Salah satu warga berteriak kagum. " Dia murid dewa puncak Shao, Jing Yiran!"
Beberapa orang juga segera mengangguk. "Benar, itu.. Yiran-xianjun!!"
/Xianjun : sebutan untuk kehormatan.
Jing Yiran menurunkan busurnya, dan mengembalikan pada pemiliknya. Jing Yiran tersenyum canggung melihat Lau Luo dan Chuxi, tapi perasaannya mendorongnya untuk segera menghancurkan kristal itu.
Dia berkata pada Lau Luo. "Adik kecil maaf aku sudah mengambil panah dan busur mu, aku melihat kristal itu hampir melukis cucu pemimpin sekte jadi aku menghancurkannya."
Lau Luo menerimanya. "Tidak apa, maksudmu kakak perempuan Chuxi?"
Jing Yiran mendapatkan tatapan tajam dari Chuxi, dia ingin berbatuk pelan. "Tentu saja tidak."
Chuxi berkata pada Jing Yiran. "Karena kau yang menghancurkannya kau yang mengurusnya!"
Jing Yiran hanya mengangguk tipis sebagai tanggapan, meskipun matanya melihat dengan cara acuh tak acuh namun jubah biru langitnya yang bersih yang sebagai penanda dia berasal dari sekte taois terbesar di bawah langit itu segera menarik perhatian semua orang.
Jing Yiran melihat ke kerumunan bandit yang berjumlah puluhan orang itu dan ekspereksinya di wajahnya sedikit tidak bisa di baca.
Meskipun kristal spiritual sudah di hancurkan untuk menghilangkan petunjuk, Zang Zihan terlihat masih tenang.
"Oh, kau kah kebanggaan dari Yilin sekaligus murid kesayangan dewa puncak Shao?" Zhang Zihan berkata sinis setelah melihat arah Jing Yiran.
Jing Yiran tidak mengangguk dan juga tidak menggelengkan kepalanya, tidak bergerak sedikitpun seolah dia tidak tersentuh oleh masalah di sekitarnya dan bahkan dia terkesan acuh seperti membatasi dirinya dengan orang lain.
Dia berdiri di sana seperti yang seharusnya, seorang Xianjun terhormat yang tidak bisa di sentuh.
Zhang Zihan melepaskan kipas dan membukanya, matanya menilai tubuh Jing Yiran. Setelah menilai dia menemukan bahwa remaja itu terlihat elegan yang tunduk pada aturan Sekte Pedang Patah, jadi pasti orang itu tidak berani terlibat dengan urusan mereka.
Dia segera bertanya. "Kau sepertinya tidak memiliki urusan apapun di sini kenapa kau ikut campur?"
Jing Yiran tersenyum kesopanan sebelum dia berkata. "Aku tidak berniat ikut campur, tapi kebetulan sekali aku mengenal orang yang kalian cari."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita mempermainkan satu permainan?"