
Setelah memastikan Mo Ouyang tidur, Mo Yiyang masih duduk di samping ranjangnya selama hampir dua jam. Mo Yiyang mendengar suara kicauan burung yang terjepit, dia membuka jendela dan menemukan sayap burung itu telah patah.
Mo Yiyang lalu membawanya untuk di obati, dia memperban sayap burung itu perlahan dan menyalurkan tenaga dalamnya dari telapak tangan. Setelah beberapa saat burung itu kembali lebih gesit, beberapa kali mengepakkan sayapnya dan juga memakan makanan yang di berikannya.
Mo Yiyang membelainya lembut dan dia tersenyum.
Dia mengangkat tangannya yang sebagai tenggeran burung itu. "Aku sudah menyelamatkan hidupmu, apa kau bisa mengabulkan satu permohonan ku?"
Lei Sai keluar dari bawah jendela, yang seketika memperlihatkan wajahnya di depan Mo Yiyang. "Itu hanya cerita yang di buat para pedagang, jangan bilang anda mempercayainya, pangeran?"
Pelayan istana pernah bercerita dan tidak sengaja di dengar Mo Yiyang. Para pedagang bilang jika seseorang menyelamatkan burung yang terluka, maka burung itu bisa mengabulkan permohonan penyelamatnya.
"Aku mempercayainya." Kata Mo Yiyang.
Lei Sai melihat burung itu yang memiliki ukuran yang lumayan besar. "Aku bisa memanggangnya untuk anda dan mengubahnya menjadi daging yang lezat. Itu lebih bagus, dari pada anda membuat permohonan yang tidak akan terkabul."
Burung itu mengepakkan sayapnya untuk terbang, awalnya terbangnya sedikit kesulitan, kemudian bisa terbang dengan stabil. Begitu burung itu terbang dan menjauh, Mo Yiyang menyatukan kedua tangannya kemudian menutup sepasang mata hitamnya, dia membuat permohonan untuk orang yang baru dia kenal beberapa waktu ini.
"Wah, sepertinya burung itu akan segera mati sebelum mewujudkan permohonan anda pangeran." kata Lei Sai.
*
Burung itu terbang ke arah jam dua melewati gerbang pembatas Kekaisaran Yin. Saat bertengger di salah satu pohon tertinggi, satu buah panah melesat cepat menusuknya, dan hanya dalam kedipan mata saja burung itu langsung jatuh ke tanah.
Seorang bocah laki-laki berumur empat tahun, yang memiliki mata legam datang menghampirinya. Mencabut panah, kemudian tersenyum puas sambil menatap buruannya dengan air yang sedikit berliur di bibirnya.
Rambut hitam yang tidak pendek itu berkibar liar saat angin menerpanya, cuaca terik membuat keningnya berkeringat, dia menyekanya kasar dan membawa hasil buruannya itu di pundak.
__ADS_1
"Ah, ini akan menjadi makan malam yang enak, aku akan memberikannya pada Ah Jiu-ge."
Dia berniat menyerahkan tugas memasak pada Shu Zi Jiu. Dia berteriak di kejauhan pada seorang bocah yang sedikit lebih dewasa darinya setengah kepala. "Sudah cukup, aku mendapat burung yang besar. Kita bisa pulang sekarang dan mengolahnya."
Yuan Yi bersembunyi rapat untuk memanah seekor kelinci, tanpa di duga suara Lau Luo terlalu keras dan membuat kelinci itu kabur cepat, panah itu melesat dan hanya bisa menancap ke tanah. Yuan Yi mengambilnya dengan mendengus kesal, "Kau membuat buruan ku kabur! Itu hanya seekor apa cukup untuk di makan empat orang!"
"Tidak buruk, kita bisa memakannya." Kata Yuan Yi saat melihat buruan Lau Luo, yang memang besar dan gemuk.
Tapi untuk satu burung di makan empat orang tidak akan cukup, Lau Luo kemudian berkata. "Aku akan mencari lagi beberapa, sepertinya ini masih kurang."
Awalnya mereka tidak pernah berburu, namun setelah Lau Luo belajar sedikit qi serta pengalaman bertarungnya melawan kelelawar dan belalang Chi, itu menjadi pengalaman yang cukup bagi dia untuk berburu beberapa binatang di hutan belantara liar.
Tentu saja ini pilihan Lau Luo agar mereka tidak lagi mengais gunungan sampah, terutama agar Shu Zi Jiu bisa makan makanan lezat, Lau Luo ingin melihat para saudaranya bisa memakan makanan hasil usahanya dan memastikan mereka tumbuh dengan cukup, setidaknya tidak terlihat seperti seseorang yang mengalami busung lapar.
Setelah beberapa hari, Lau Luo semakin mahir melompat ke ranting pohon, lompatannya sangat halus dan tenang seperti kapas yang berhembus.
Yuan Yi menerimanya, tapi hatinya terbesit rasa kecewanya. Lau Luo paling kecil di antara mereka, namun akhir akhir ini dia bersikap lebih dewasa dari yang lain. Selalu melakukan beberapa hal yang berbahaya dan paling berat, padahal Yuan Yi lebih dewasa dari Lau Luo tapi dari segi kemampuan dia jauh tertinggal.
"Huh! Sebenarnya apa yang dia pelajari sampai dia berubah seperti ini, dia dulu hanya anak bau kencur yang cuma bisa bertingkah!"
Mungkin saja dia yang lemah, dia harus belajar lebih keras. Apa yang di tunjukkan Lau Luo dan Chuxi pasti orang-orang menyebut mereka sebagai bakat dalam dunia kultivasi..
Yuan Yi memasang ekspresi kecewa untuk dirinya sendiri karena dia tidak memiliki apa yang di harapkan orang, dia tidak memiliki bakat!
Sebelum Yuan Yi kembali ke gubuk, dia bergumam. "Aku akan berusaha lebih keras! Aku tidak ingin menjadi beban hidup untuk Luo-didi dan Jiu ge."
Lau Luo bergerak gesit mengincar kelinci yang lolos dari target Yuan Yi, kelinci itu bergerak tidak kalah gesit dari Lao Luo. Setiap kali Lau Luo memanahnya kelinci itu seperti memiliki mata di belakang kepala dan mulus menghindari semua panahnya.
__ADS_1
Lau Luo berdecak kesal, dia menaikkan kecepatannya dan berhenti mulus di depan kelinci itu. Kelinci itu terkejut melihat pemangsanya di depannya sambil tersenyum sarkastik.
"Aku akan memakan mu, kau sebaiknya tidak lari lagi." Kata Lau Luo.
Seperti memahami apa yang di katakan Lau Luo, kelinci itu melompat lebih tinggi dan lebih cepat dari sebelumnya, dia berlari sekuat tenaga karena tidak ingin berakhir menjadi daging yang terpanggang dengan berbagai bumbu milik Shu Zi Jiu.
Lau Luo membidiknya, mata hitam legam itu fokus di titik ujung panah kayu, tangan kecilnya menarik busur dengan mantap dan melepaskannya ringan, rambut hitamnya ikut bergerak liar seirama lesatan panah Lau Luo dan rambutnya seperti sungai yang mengalir, jernih dan berkibar.
Sampai akhirnya..
-Jlep!
Itu masih meleset, Lau Luo semakin berdecak kesal, baiklah! Kemudian dia lalu mencoba menyalurkan qi di ujung panah itu.
Mata Lau Luo kembali terpejam fokus, dan tidak di sangka di dalam tubuhnya ada sesuatu yang berkobar, dia langsung merasa sesak seperti kehabisan nafas. Dia terengah-engah kemudian menghirup nafas secara rakus dan menghembuskannya kasar.
Itu berbeda dari qi, namun juga seolah-olah itu adalah qi, seperti energi spiritual yang ada di dalam dirinya, dan tertimbun jauh di dalam daging-daging dan kulitnya. Energi itu terasa agak menggelap dan kelabu juga sangat sulit di kendalikan sampai beberapa kali mengambil alih kesadarannya saat bertarung dengan beberapa hewan Chi sebelumnya.
Dia perlahan memejamkan matanya, merasakan bagaimana dirinya. Saat dia melihat qinya sendiri jauh di dalam sana, itu terlihat seperti ada semacam hal yang mencoba mengambil tubuhnya, jauh di dalam tulang dan dagingnya, seakan mencoba merobek ke alam bawah sadarnya.
Sampai membuat semua pernafasannya sesak, dan dia terengah-engah.. yang dia sendiri tidak menyadari bahwa qi iblis sudah menempel ke energi spiritualnya.
Mata legam itu menatap lemas, Lau Luo menyandarkan punggungnya untuk bersandar di sisi pohon. Dia menghembuskan nafas berkali-kali sampai ketenangan kembali menguasai dirinya. Setelah di rasa cukup untuk menjernihkan pikirannya, Lau Luo menghela pasrah sekali.
Ketika dia memungut Mo Yiyang, Lau Luo tahu jika ada awal pertemuan pasti akan ada perpisahan. Kemudian orang yang awalnya asing, kembali menjadi asing.
Ada yang pergi dan ada yang datang.
__ADS_1
Menurutnya, orang lain bukan berarti apa-apa, selain Shu Zi Jiu.