
Jauh dari Zhang Ziyi dan Xian Zi, Deng Lun segera mendatangi seseorang bermarga Nuo yang di sekitarnya. Dia kemudian bertanya. "Apa kau berasal dari keluarga Nuo?"
Qiao Nuo mengangguk pada Deng Lun. "Benar senior, aku juga kemari dengan Nuo jiejie."
Deng Lun melihat Qiao Nuo yang terlihat cukup tenang, dia mengeluarkan jepit rambut berlambang keluarga Nuo dari pakaiannya. "Dia gagal di ujiannya, dan aku hanya menemukan ini. Sepertinya saudarimu di telan hidup-hidup oleh binatang liar sampai tidak tersisa."
Qiao Nuo mengambilnya dan hanya tersenyum. "Terimakasih senior, aku akan menyimpannya."
Deng Lun mengangguk, namun di luar dugaan, Qiao Nuo tidak menunjukkan ekspresi kesedihan karena kehilangan saudarinya dan dia terlihat seolah itu hal yang wajar jika saudarinya akan gagal di dalam ujian. Deng Lun lalu mendatangi Xian Zi yang terlihat kerepotan mengurus seorang gadis.
"Tidak mungkin Tn. Luo gagal di ujian! Senior! Cepat keluarkan semua mayat dari cincin penyimpanan itu! Jika aku melihat mayat Tn. Luo di sana aku akan mencambuk mayatnya sampai dia hidup kembali!" Zhang Ziyi berteriak dengan semua tenaganya dan fitalitas paru-parunya.
Tidak tahu bagaimana, Xian Zi berusaha untuk menghiburnya. "Tidak bisa tanpa seijin Penatua Qing, dan lagi kami akan melakukan penelusuran besok, mungkin saja seseorang yang kamu maksud masih hidup."
Xian Zi hanya mengatakan omong kosong, seorang anak yang berusia enam tahun dan lagi masih ranah forqing qi tingkat satu? Sungguh hal yang luar biasa! Mencari pintu bunuh diri untuk mengikuti ujian sekte ini! Jika di katakan Zhang Ziyi dan Xia Xia bisa lulus, mereka bisa di ibaratkan dengan dua dari sekian yang cukup beruntung.
Deng Lun melihat Chuxi yang menghancurkan pintu dengan sekali pukulan. Deng Lun langsung menarik tangan Chuxi. "Apa yang ingin kamu lakukan?"
"Fu*k! Jangan halangi jalanku!" Chuxi menarik tangannya dan membersihkannya seperti membersihkan debu. "Aku akan masuk ke dalam, belahan jiwaku masih ada di sana."
Deng Lun tersenyum pahit. "Wan'er apa yang kamu maksud?"
Chuxi mendesah malas. "Apa itu penting? Aku ingin masuk dan mencarinya, kau siapa berani menghentikan ku?"
__ADS_1
Dia juga bertanya. "Apa kau kakek ku?"
Deng Lun menggelengkan kepalanya sedikit. "Jangan memaksakan diri."
"Kami masih mencari semuanya besok, itu berbahaya Wan'er. Semua qi milik mu sepertinya sudah habis, dan lihatlah luka-luka yang kamu miliki kamu sendiri harus segera menerima pengobatan."
Chuxi memang masih merasakan efek samping dari Racun Panas setelah dia memakan daging Demonic Beast bersama Cao Tao. Sama-sama telah memakan racun mengerikan, dan sekarang Cao Tao sudah berbaring di ruang perawatan. Chuxi semakin merasakan panas di kepalanya, semua di depannya tiba-tiba terlihat berputar-putar dan semua objek terlihat mengganda juga berkunang-kunang.
Saat dia hampir saja jatuh ke tanah, Chuxi merasakan tangan sudah menopangnya dari belakang, Jing Yiran berkata pada Chuxi. "Kau perlu meredakan efek racun di tubuh itu. Jika kau tidak ingin aku bilang pada Penatua Qing, kau perlu mendatangi tabib di ruang perawatan secepatnya."
Jing Yiran juga kemudian berkata. "Aku yang akan mencari Xiao Luo, kau bisa tenang."
"Kau antarkan dia." Jing Yiran melihat ke arah Deng Lun.
Sebelum Deng Lun bisa menopang lengan Chuxi, gadis itu sudah berjalan terlebih dahulu. "Aku bisa berjalan sendiri!"
Orang salah satu murid pelantaran inti di Puncak Yilin itu menceritakan semuanya ketika dia melihat Chuxi, Xian Zi sempat tidak mengira apakah itu memang Su Wan'er karena wajahnya sedikit berubah dari terakhir kali. Tapi begitu melihat sikap Deng Lun dan Jing Yiran, yang tidak terlalu terkejut dia tidak salah lagi jika gadis itu adalah cucu pemilik Sekte Pedang Patah, Gu Hangjun yang bernama Su Wan'er.
Pemimpin sekte Gu Hangjun mengelus jenggotnya yang masih hitam dan wajahnya sedikit menyombong. "Hahaha.. itulah cucuku! Bukan hanya menempati posisi pertama dia bahkan bisa menaklukkan Racun Panas Demonic Beast? Xian Zi, kamu bilang cucuku kemari menggunakan nama lain? Oh, bukan itu yang terpenting dia ada di mana sekarang?!"
Xian Zi mengangguk. "Dia ada di ruangan perawatan dengan nomor dua, Cao Tao."
Begitu mendengarkannya Pemimpin sekte Gu Hangjun langsung ke ruang perawatan, melihat Deng Lun berjaga di luar dia juga langsung tersenyum puas. Dia lalu mendatangi Chuxi yang masih tertidur dengan selimut, Gu Hanjun berkata dengan cucunya itu.
__ADS_1
Melihat Chuxi yang melihat ke arahnya, Pemimpim sekte Gu Hangjun langsung mendekatinya dan berteriak. "Cucuku Wan'er! Su Wan'er?!"
Chuxi memalingkan wajahnya dan dia tidak tahan untuk tersenyum pahit. Sewaktu dia meninggalkan rumah selama bertahun-tahun di desa kumuh, apakah kakeknya yang di hormati di seluruh sekte taois terkemuka pernah mencarinya dengan sungguh-sungguh?
Chuxi langsung melihat ke arah pemimpin sekte itu. "Kakek, jika aku memberi mu pusaka tingkat tinggi yang selama ini kamu cari. Apa kau bisa membatalkan pertunangan ku dengan orang bermarga Deng itu?"
Sewaktu itu Chuxi masih belum lahir saat pemimpin sekte menjodohkannya dengan Deng Lun. Jikapun Chuxi terlahir sebagai laki-laki, pemimpin sekte tetap akan menjodohkan mereka? Ini gila! Saat dewasa dia akan di nikahkan dengan orang yang tidak dia sukai, untuk itu Chuxi berlari ke dalam desa kumuh dan primitif untuk menolaknya.
Sebagai pemimpin sekte, Gu Hangjun terlihat tertarik. "Wan'er kamu mendapatkan pusaka yang selalu kakek cari selama ini? Tapi bukan itu, perjodohan mu bukan hanya kakek yang putuskan melainkan juga para petinggi marga Deng."
Chuxi sudah memperkirakan apa yang akan di katakan kakeknya itu, jadi dia akan berusaha menjadi kuat sampai tidak ada seorangpun yang bisa memaksanya untuk menikah saat dewasa. "Jika seperti itu, Belati Petir Mutan yang selama ini kamu cari tidak akan menjadi milikmu! Dan bermimpilah!"
Senjata tingkat tinggi memang di incar incar para kultivator untuk meningkatkan kemampuan bertarung mereka. Tapi seorang pemimpin dari sekte besar, tentu saja kekuatannya tidak perlu di pertanyakan karena mereka bisa menggunakan ranting sebagai pedang yang tajam dan kebanyakan mereka ahli bertarung dengan tangan kosong tanpa senjata apapun.
Gu Hangjun langsung mengendus marah, dia lalu berbalik dan pergi. Saat dia bertemu dengan cucu perempuannya, mereka tidak pernah bisa akur satu sama lain atau saling mengigit dan mencibir satu sama lain.
Mendengar pembicaraan Chuxi dengan pemimpin sekte, Deng Lun lebih memilih untuk menjaga jarak. Dia mendatangi Cao Tao yang kebetulan sudah sadar, dia lalu meletakkan satu porsi ikan panggang sewaktu-waktu Cao Tao saat dia siuman.
Dia bertanya. "Apa kau baik-baik saja?"
Cao Tao bergumam sendiri dan mengelus perutnya. "Aku seperti keracunan makanan dan.."
Dia tersenyum ngeri melihat makanan yang di letakkan Deng Lun, karena makanan itu mengingatkan saat Cao Tao memakan panggangan ikan yang di bakar Chuxi sewaktu dia di gua iblis tersembunyi kemarin.
__ADS_1
"Dan aku sedikit fobia dengan ikan sekarang.. senior, tiba-tiba aku menyadari kenyataan bahwa ikan terlihat seratus kali lebih mengerikan dan menyeramkan."
"Jangan suruh aku makan ikan lagi, perut ku sakit."