KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Pertandingan menentukan puncak II


__ADS_3

"Bahkan jika Zhang Ziyi kali ini menang bukankah langit terlalu bias?"


Beberapa saat kemudian setelah Jing Yiran mengatakannya..


Lawan Zhang Ziyi yang berdiri di atas platform. "Akh! Sakit! Sakit! Tanganku sakit! Penatua beri kami jeda sebentar ini terlalu menyakitkan! Aku kalah.. kalah! ampun!"


Penatua Qing, "...."


Jing Yiran, "...."


Zhang Ziyi sangat syok dengan lawan di depannya, saat lawannya tanpa ampun menargetkan serangan ke wajahnya dia berjongkok menutup mata karena takut. Tapi siapa yang bisa menyangka lawannya akan terkejut sampai terpeleset dan tangannya patah, mendengar pengumuman Penatua Qing menyebutkan namanya sebagai pemenang, Zhang Ziyi membusungkan dadanya dengan angkuh dan mengangkat tinggi dagunya.


"Hahah.. bahkan surga tidak akan memaafkan seorang pria yang akan memukul wajah wanita!" Zhang Ziyi tertawa nyengir. Matanya tidak sengaja menyapu Lau Luo di tengah kerumunan, dia langsung melompat dan mendarat ke arah mereka. Meskipun Zhang Ziyi memiliki praktisi lemah, tapi ilmu qigongnya dan ilmu meringankan tubuhnya masih tergolong sangat ringan.


"Kamu.. Tn. Luo?" Zhang Ziyi menilai Lau Luo yang sudah beberapa hari tidak di temuinya. Dia menilai dari setiap sudut Lau Luo dan dia memicingkan sebelah matanya. "Perubahan apa ini yang menjadikan tuanku semakin tampan?"


Hanya dengan sekali lihat Lau Luo memang sangat tampan, hanya saja ketampanan yang mengeluarkan aura dingin bukanlah tipe Zhang Ziyi. Dia lebih suka dengan lesung pria dengan wajah yang menggemaskan seperti sebelumnya yang sudah hilang.. Zhang Ziyi tidak kesulitan berkedip, tidak seperti Can Sua yang diam-diam terpana saat melihat Lau Luo.


"Tn. Luo, hati-hati sekaranglah giliran mu." Zhang Ziyi memberi dukungan dengan menepuk pundak Lau Luo. Dia menyalurkan senyuman ceria. Terlepas dari Lau Luo memiliki belati yang di carinya apa tidak, Zhang Ziyi masih menganggap Lau Luo menjadi tuan miliknya. "Ngomong-ngomong dari awal kau tidak memegang Belati Petir Mutan?"


"Tidak." Kata Lau Luo pada Zhang Ziyi sambil melihat lawannya yang sudah berdiri di platform terlebih dahulu, dia tidak menggunakan ilmu qigong atau lompatan untuk ke sana, tetapi dia hanya berjalan ringan ke atas platform, dan setelah beberapa saat dia berdiri dengan jarak beberapa langkah memisahkan mereka.


Lawannya lebih besar dari Lau Luo dan memiliki kultivasi yang lebih tinggi, wajahnya sedikit kekar. Jika di bandingkan dengan Lau Luo, dan lagi terlepas dari aura wajah Lau Luo yang dingin, dia seperti tahu yang mudah di kalahkan karena tubuhnya sangat mungil jika di bandingkan tinggi tubuh lawannya yang sekarang. Tapi wajah Lau Luo adalah wajah orang yang belum puber, dan pola-pola merah alami di pipinya itu masih memenuhi seperti bayi yang cantik. Saat melihatnya, pria berotot itu menggertakkan semua gigi-giginya.

__ADS_1


"Hmmph!!! Bertarung dengan bocah laki-laki yang terlihat cantik?! Ini menghancurkan harga diriku!!!" Lawan Lau Luo itu langsung meraung keras karena dirinya yang berotot besar dan tidak enak di pandang memiliki lawan yang memiliki penampilan sempurna untuk menarik semua perhatian, membuat keberadaannya menjadi seperti tidak kasat mata.


"Hmmph! Seorang pria tidak di ukur dari wajah! Tapi dari otot dan kekuatan mereka!" Palu besar itu berayun ganas memukul Lau Luo di setiap ritme pukulan pria berotot itu, Lau Luo menghindarinya dengan mulus tanpa kesulitan.


Pria berotot itu terkejut, palu miliknya adalah senjata spiritual yang memiliki level dan di sisi lain lawannya menghindari seperti menghindari ayunan kertas. "Kau!! Jangan selalu menghindar!"


Bagi pria berotot lawannya hanya memiliki tubuh yang mungil dan praktisi yang lebih rendah bahkan kultivasinya jauh di bawahnya. Asalkan pria berotot itu bisa mendaratkan satu pukulan pasti kemenangan ada di tangannya, karena senjatanya adalah sebuah palu spiritual yang mampu meretakkan gunung, jika palunya bisa mengenai orang di depannya pasti akan merubah siapapun menjadi tumpukan daging dan tulang hingga hancur berkeping-keping.


Pria berotot itu tidak bisa menahan tawa yang membara. "Haha.. Kau takut terkena serangan ku? Kenapa kita tidak mengakhirinya dengan pasti, asalkan kamu tahu. Jika kau menyerah aku akan membiarkan mu pergi tanpa luka apapun!"


Lau Luo menghela nafas, mata hitam phoenixnya masih tanpa ekspresi yang bisa di baca dengan jelas. "Kau? Kenapa kau lulus kualifikasi Ujian di umur tiga puluh tahun?"


"....."


Pria berotot itu kehilangan kata-katanya, wajahnya langsung berubah hitam dan merah. "Aku masih lima belas tahun!!!"


Sebagian gadis langsung mendengus jijik, dengan penampilan paman bagaimana pria berotot itu akan menikah kelak? Tidak perlu di pikirkan!


Pria berotot itu memperhatikan tatapan gadis yang dilayangkan ke arahnya kemudian membandingkan ke lawan, mendengar helaan dan dengusan mengejek langsung membuat perasaannya tenggelam.


Dia menyerang palunya ke arah Lau Luo dengan kekuatan penuh, begitu kulit dan besi beradu suaranya langsung meredam. Hingga timbul beberapa retakan seperti ular yang merambat di palunya, pria berotot itu terkejut dengan kerusakan senjata spiritual miliknya. Namun yang membuat teori pria berotot itu patah dan sekaligus melayang adalah kulit bocah laki-laki itu sama sekali tidak ada goresan.


Pria berotot itu langsung meraung, bukan hanya senjatanya yang mengalami retakan tapi..

__ADS_1


"Bagaimana bisa senjata spiritual tingkat tiga yang mampu menghancurkan gunung bahkan tidak bisa melukai mu?!"


Di kursi tertinggi yang memiliki lambang puncak Yilin, Shao Yi Chen menyimpitkan matanya dan menarik mulutnya hingga membentuk kurva bulan. Murid-murid baru memang mempunyai banyak bakat dan keberuntungan yang tidak berujung, seorang murid baru yang sudah bisa mengendalikan senjata spiritual yang memiliki level adalah hal yang langka namun tidak bisa menarik perhatian Shao Yi Chen.


Shao Yi Chen berpikir ujian kali ini akan sama membosankan seperti tahun-tahun sebelumnya dan dia tidak berniat menarik murid ke puncak Yilin, tapi ada beberapa yang sekarang menarik perhatiannya. Tubuh dan tulang yang lebih kuat dari senjata spiritual tingkat tiga, sedangkan murid itu hanya forqing qi tingkat satu ini jelas menarik perhatian Shao Yi Chen untuk mengamatinya lebih jauh.


"Hanya memiliki tubuh yang keras, jika dia tidak memiliki kemampuan lain dia masih tidak pantas untuk memasuki Puncak Yilin." Shao Yi Chen seolah-olah seperti menunggu sesuatu yang lebih menarik.


Saat dia tanpa sengaja melirik muridnya di tengah kerumunan, Shao Yi Chen kemudian berkata pada Jing Yiran yang berjarak jauh darinya menggunakan transmisi suara. "Apa murid yang berambut hitam itu menarik perhatian mu?"


Jing Yiran dari tadi berfokus pada pertandingan Lau Luo, dia tidak tahan untuk terkejut ketika Shao Yi Chen tiba-tiba berbicara padanya dari jarak jauh, Jing Yiran menjawabnya dengan hormat dan mengangguk samar. "Shifu, murid ini mengakui jika dia di jadikan Shidi yang baru di bawah ajaran anda, dia akan jauh berkembang dengan bakat yang tidak biasa."


/Shidi : adik beladiri junior.


Shao Yi Chen masih terlihat acuh meskipun tidak percaya dengan Jing Yiran yang mengubah sikapnya. Selama bertahun-tahun di Puncak Yilin untuk kali ini Jing Yiran mengusulkan seseorang padanya secara pribadi, Jing Yiran tidak pernah memperhatikan pertarungan antar murid sebegitu teliti seperti sekarang.


Shao Yi Chen tersenyum. "Saat kau mengatakannya aku akan memperhatikan kualifikasi nya apakah dia layak dengan Puncak Yilin apa tidak."


Shao Yi Chen seperti memahami sesuatu pada perubahan Jing Yiran, orang yang tidak pernah memperhatikan orang lain dan selalu bersikap acuh dalam keramahan.


"Jika kau menginginkan Shidi laki-laki yang baru, bagaimana Shifu ini bisa menolak permintaan pertama muridnya?"


"Baik."

__ADS_1


Jing Yiran sedikit menundukkan alisnya yang seperti pedang, sepasang alis yang terbiasa tegas sekarang sedikit menurun karena kesopanan.


"Baik, murid ini berterimakasih pada Shifu."


__ADS_2