KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Hukuman mati untuk pejaga yang semena-mena


__ADS_3

Sampainya di sana mereka langsung di sambut dengan bangunan yang megah, gerbang raksasa pembatas kekaisaran itu perlahan terbuka dan mempersilakan satu dokar lusut untuk masuk. Begitu masuk, mereka langsung di sambut beberapa penjaga kekaisaran yang sudah berbaris.


Mo Yiyang melihat beberapa perajurit dari balik jendela kecil, matanya langsung mengunci dua wajah prajurit yang di hafalnya dan dia langsung menyuruh dokar itu untuk berhenti.


"Berhenti."


Begitu dokar itu berhenti berjalan, Mo Yiyang langsung turun.


Ketua Dong berkata padanya. "Pangeran Pertama, apa ada yang menganggu anda?"


Mo Yiyang tidak begitu peduli dengan perkataan Ketua Dong, dia berjalan tenang ke arah dua prajurit yang langsung membuat wajahnya marah, tapi dia menyembunyikan geramnya datar sealami mungkin. Begitu dia berada di antara keduanya, dia berkata pada Ketua Dong. "Hukum penggal mereka."


Semua orang mendengarkan pendengarannya, apa telinga mereka salah mendengar? Pangeran pertama yang tidak tega membunuh binatang yang pernah menyerangnya, kini tanpa peduli menjatuhi hukuman mati manusia ?!


Dua prajurit itu memucat takut, mereka gemetar hebat mendengar perintah pangeran pertama Mo untuk menghukum mati mereka. Mereka tidak melakukan apapun untuk menyinggung pangeran pertama Mo! Apa mereka pernah menyinggungnya?


Dua prajurit itu berkata gagap. "Sebenarnya kesalahan apa yang telah kami perbuat pangeran?"


Mo Yiyang memalingkan wajahnya dan berjalan kembali ke dokar.


"Tidak ada kesalahan apapun, hanya saja wajah kalian mengesalkan untuk di lihat." Kata Mo Yiyang sambil memegang mata kirinya pelan.


Meski dia seorang gadis, tapi sekarang dia seperti pria yang mendominasi para bawahannya. Benar-benar tanpa ampun!


Seorang penjaga menyeret seorang bocah laki-laki yang memakai aksesoris perempuan, dari wajahnya di penuhi berbagai bedak dan riasan. Dia menekukkan pria banci itu di hadapan Mo Yiyang. "Pangeran, dengan lancangnya bocah ini mengaku sebagai anda!"


Mo Yiyang menghampiri bocah itu yang gemetar ketakutan, dia ingat itu adalah bocah yang mengaku sebagai pangeran pertama Mo di desa primitif dan menghancurkan harga dirinya di sana.


"Lepaskan saja."


Prajurit itu sedikit menyanggah. "Tapi, tolong hukum bocah ini berat pangeran. Dia telah banyak mempermalukan nama anggota kekaisaran."

__ADS_1


Mo Yiyang sekali lagi melihat ke bocah itu, keringat dingin sudah mengucur dan melunturkan riasan di wajah bocah banci itu. Dia memang telah menghancurkan wibawanya, tapi tidak melukai siapapun. "Ku bilang lepaskan saja."


Kemudian Mo Yiyang mengedarkan matanya ke arah dua penjaga yang tadi, hanya sekilas lalu matanya beralih ke Ketua Dong. "Jangan lupa memberi potongan kepala mereka padaku, itu akan sebagai bukti kau menjalankan perintah ku dengan benar apa tidak ketua Dong."


Dia kembali menekankan pada Ketua Dong. "Hukum pancung mereka di tengah kota. Jika tidak, kepalamu yang akan menggantikan kepala mereka."


Ketua Dong menelan ludah ngeri, dia berkata dengan gemetar, namun dua prajurit yang mendapat jaminan mati lebih gemetar hebat dari pada Ketua Dong. "Baik pangeran."


Telinga ketua Dong mendengar kekesalan pria kecil dari balik dalam dokar, yang pasti langsung membuat dua penjaga itu merinding.


Suara kuda di pacu melengking keras saat kakek Shang memukul kuda itu menggunakan cambuk. Begitu dokar itu berjalan, kakek Shang membuka suaranya untuk berbicara pada Mo Yiyang.


"Tidak ku sangka bocah, kau mengatakan kalimat hidup dan mati nyawa orang dengan mudahnya." Kata kakek Shang dengan sinis.


Mo Yiyang berkata pelan. "Kau pasti tahu Kakek Shang, dua orang tadi pasti pernah memukul anda."


Kakek Shang diam, memang benar para penjaga itu yang pernah memukulinya. Tapi sepertinya bukan itu yang membuat Mo Yiyang marah.


Mo Yiyang, "...."


Bukan hanya memukuli Lau Luo, pasti penjaga itu sudah memukuli banyak orang dan mendekriminasi orang-orang di kalangan bawah, juga berbuat semena-mena di pemukiman primitif, dan dia hukuman penggal kepala untuk menghapus orang seperti itu dari akarnya.


Kakek Shang mendengus pelan. "Itu hukuman yang berat untuk mereka."


"Anda salah Kakek Shang, itu hukuman yang pantas untuk mereka. Mereka memukuli semua orang hampir setengah mati dan berbuat seenaknya."


Tidak berselang lama dokar itu kembali melaju setelah melewati gerbang pembatas raksasa, mereka kembali di hadapi gerbang utama Kekaisaran Yin. Meski gerbang utama lebih kecil dari gerbang pembatas, namun kemewahannya jauh lebih tinggi dengan ukiran pola naga menghiasi sisi kanan dan kirinya.


Rakyat Kekaisaran Yin biasa menyebutnya sebagai Gerbang Tiga Loteng.


Kakek Shang mengamati Gerbang Tiga Loteng yang terlihat sepi, tidak ada warga Kekaisaran Yin yang melebihi jumlah sepuluh orang di sana, dia terus memacukan dokarnya dan memecut kuda. Saat mereka memasuki bagian dalam, keramaian kekaisaran Yin langsung menyambut mereka.

__ADS_1


Para rakyat yang melihat dokar lusut itu memandang jijik, namun puluhan penjaga kekaisaran mengikutinya dari belakang membuat para rakyat memandang penasaran siapa yang ada di dalam dokar itu.


Banyaknya orang yang mengerumuni jalan, ketua Dong berteriak. "Beri jalan untuk pangeran pertama!"


Bukan kereta kuda yang mewah untuk anggota keluarga kaisar, tapi sebuah dokar yang rusak. "Apa pangeran Mo Yiyang?"


Begitu dokar itu menghilang dari pandangan, beberapa penjaga membawa dua orang yang telah di jatuhi hukuman mati oleh Mo Yiyang, para penjaga itu langsung memasung mereka di tengah kota. Para rakyat semakin mengerumuni tengah kota dan menyaksikan bagaimana ketua Dong akan menghukum penggal dua orang tadi.


Sangat jarang sekali hukuman seperti ini di adakan di kekaisaran Yin, para rakyat tidak bisa berhenti bertanya pada ketua Dong. "Apa yang di lakukan mereka sampai di jatuhi hukuman mati?"


Bukan hanya sekali dua kali pertanyaan itu di katakan beberapa rakyat, ketua Dong tidak terlalu menggubrisnya dia mengambil pedang lalu menebas dua kepala.


"Ini perintah dari pangeran pertama." Darah langsung menetes di bilah pedang Ketua Dong, dan dua kepala langsung terpisah dari tempat mereka.


Selesai dari ucapan ketua Dong, jerit syok dari seorang warga wanita yang menyaksikan penghukuman yang kejam, dia langsung menutup sepasang mata anak kecilnya.


Seorang warga yang lain gemetar takut. "Tidak mungkin ini perintah pangeran Mo Yiyang. Dia hanyalah pangeran kecil yang sebelumnya tidak tega menyakiti seekor binatang pun!"


*


Para mama pelayan langsung mengurus keperluan Mo Yiyang, begitu pangeran kecil itu sampai di kediamannya. Mama pelayan juga mengatur pakaian yang di kenakan Mo Yiyang, dia bisa melihat orang yang di layaninya mengalami penurunan berat badan.


Mama pelayan itu berkata sedih. "Anda terlihat semakin kurus pangeran."


Mo Yiyang melihat tangannya yang sekarang memiliki beberapa tulang terlihat menonjol dan memang terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya. Dia hanya memandangnya sebentar, kemudian memalingkan wajahnya acuh.


"Saya akan membuatkan hidangan daging untuk anda." Kata mama pelayan itu, hidangan daging berguna untuk menaikkan berat badan dengan cepat.


Saat pakaiannya sudah rapi, dia luar suara seorang prajurit mulai terdengar, dan berteriak. "Salam pangeran, saya membawakan apa yang anda minta dari ketua Dong."


Mo Yiyang membiarkannya memberi kotak kayu, saat dia membukanya itu adalah potongan dua kepala yang terlihat menyeramkan, darahnya masih segar dan menetes dari celah kayu.

__ADS_1


"Kalian semua keluar dari sini."


__ADS_2