
Sudah tujuh hari ujian Sekte Pedang Patah di laksanakan dan sekarang terlihat Penatua Qing sedang memerintahkan Deng Lun dan Xian Zi dari puncak pertama Yilin itu untuk masuk ke gua iblis tersembunyi dan mengecek keadaan murid-murid yang selamat dari ujian.
Penatua Qing berkata pada mereka berdua. "Deng Lun, Xian Zi, kalian masuklah ke dalam dan bawa semua mayat yang tersisa."
Meskipun banyak anggota murid yang gagal dan berakhir teragis, tapi bagian tubuh mereka masih di nantikan orang-orang terdekat mereka. Seperti tulang, atau barang-barang peninggalan orang yang gagal di sini, banyak keluarga mereka bisa membakar dupa dan uang untuk melepaskan kepergian mereka.
Deng Lun dan Xian Zi langsung membungkuk hormat pada Penatua Qing. "Baik, Penatua."
Sekte Pedang Patah hanya memiliki tiga murid Pelantaran Inti paling berbakat di puncak Yilin, yaitu Jing Yiran 12th, Deng Lun 14th dan Xian Zi 14th. Mereka sudah menjalani dua tahun sebagai murid Pelantaran Inti di bawah bimbingan Shao Yi Chen, dan selama dua tahun itu tidak ada seorang murid yang bisa masuk untuk menambah jumlah mereka.
Xian Zi menyilangkan tangannya di belakang kepala dan membuat eskpresi lesu. "Kenapa murid Pelantaran Inti hanya tiga orang? Aku sudah bosan setiap tugas harus sepasang dengan mu."
Deng Lun tertawa sumbang ke arah Xian Zi. "Kamu kira aku bahagia ini itu dengan mu? Lebih menyenangkan aku bersama Yiran-Shixiong. Ku harap ada satu murid yang mampu menjadi murid Pelantaran Inti yang ke-empat nantinya."
Mereka lalu memasuki ke gua iblis tersembunyi, begitu mereka melangkah ke satu pintu, mereka langsung melihat tulang belulang yang habis di makan binatang liar. Banyak juga mayat yang tergeletak akibat pertarungan, dan kebanyakan mereka yang gagal adalah mereka yang hanya sampai di tahap forqing qi tingkat dua.
Xian Zi mulai mengangkat satu dua mayat dan menumpuknya menjadi pegunungan. "Kenapa kita repot-repot membawa mayat ini keluar setiap tahunnya? Lebih baik kita jadikan satu dan kita bakar menjadi abu untuk penghormatan kepada alam!"
Deng Lun mengambil penjepit rambut yang tidak jauh dari bercak darah. Penjepit rambut yang melambangkan keluarga Nuo dan dia lalu menyimpan di saku pakaiannya. "Mereka mempunyai keluarga untuk menunggu mereka pulang."
"Meskipun hanya mayat?" Xian Zi melenyapkan gunungan mayat itu menggunakan cincin penyimpanan khusus miliknya.
Deng Lun mengangguk. "Berapa yang sudah kamu kumpulkan?"
"Sekitar dua puluhan."
"Kita harus masuk lebih dalam, masih ada seratusan mayat menunggu kita."
Xian Zi menghela nafas. "Ugh! Aku mual, kebanyakan mereka meninggal sekitar tiga sampai lima hari yang lalu dan.. gua ini sudah di penuhi bau busuk. Ini sama seperti, tidak akan ada yang selamat lebih dari sepuluh orang."
Deng Lun melihat ke arah Xian Zi. "Bagaimana kau tahu?"
__ADS_1
Xian Zi mengipasi lehernya yang gerah. "Ini hanya firasat, firasat dari seorang pria tampan tidak akan meleset."
Deng Lun, "...."
Xian Zi menggerai rambutnya. "Baik, baik.. Da-shixiong jauh lebih tampan dari ku, dan aku mengakuinya. Aku adalah si nomor dua jika di nilai dari wajah ketika di puncak Yilin."
Meskipun Jing Yiran lebih muda dua tahun dari mereka sekalipun, Xian Zi selalu memanggilnya dengan sebutan Da-shixiong yang berarti senior paling pertama.
Saat mereka berjalan semakin dalam tidak jauh dengan mereka, mereka kemudian melihat seorang gadis yang berdiri seperti patung. Gadis itu terlihat tidak berani bergerak bahkan seinci pun. Xian Zi mendatanginya dan bertanya. "Permisi, apa kamu masih hidup? Atau mati kering berdiri karena darahmu tersedot habis?"
Bulu mata Xia Xia bergetar dan dia membuka matanya, dia langsung menjerit begitu melihat Xian Zi dan Deng Lun. "Oh! Keluarkan aku dari sini! Aku tidak bisa bergerak, di bawah kakiku ada pemicu jebakan, ini sangat menyeramkan dan aku bisa mati!"
Deng Lun bertanya setelah melihat pola yang terkesan di lukis terburu-buru di bawah kaki Xia Xia. "Pemicu jebakan? Ujian kami tidak membuat pola seperti ini, dan bergerak saja itu tidak akan memicu jebakan apapun."
Xia Xia segera berganti posisi dan bergerak, benar saja itu tidak terjadi apapun. Kemudian, apa yang dia takuti saat berdiri di sana selama berhari-hari, oh mana orang yang mengatakan itu adalah pemicu jebakan yang berbahaya? Tapi sayangnya Xia Xia tidak tahu nama orang yang telah menipunya itu untuk sedekar mengumpat keras atau meludah di depan wajahnya untuk mencibir.
Xia Xia menghela nafasnya. "Terimakasih senior, apakah aku sudah lulus untuk ujiannya?"
Xia Xia segera mengambil langkah, dia sudah tidak tahan di dalam gua terlalu lama. Satu kakinya memicu jebakan lain, satu panah yang melesat ke arahnya nyaris menembus lehernya, dan hanya menimbulkan goresan ringan.
Xia Xia menelan gugup. "Ah, bisakah aku sementara ini ikut dengan senior? Aku yakin jika kalian mengajakku aku akan sedikit berguna.."
Xian Zi segera menarik Xia Xia. "Kau tidak bisa menarik perkataan mu lagi."
Xia Xia semakin menelan gugup. "Ti-tidak akan.."
Saat sampai di sana Xia Xia mengusap pelipisnya yang berkeringat dan menjepit hidungnya dengan dua jari. Perutnya merasa berputar, dan dia hampir mengeluarkan semua cairan di dalam perutnya sendiri.
Xia Xia segera menutup mulutnya yang tiba-tiba ada cairan pahit yang naik. "Ugh! Aku hampir muntah!"
Dia mengumpulkan puluhan mayat seperti yang di lakukan Xian Zi, mayat yang kehilangan tangan, kepala dan hanya mayat yang menyisakan tulang. Xia Xia baru memasuki umur sepuluh tahun, dan dia sudah mengalami lautan mayat berusia sebaya dengannya membuat Xia Xia berulang kali menahan rasa mual.
__ADS_1
Deng Lun bertugas memeriksa kualitas tulang semua mayat, sekitar hampir dua ratus tulang berbeda yang menandakan mereka telah mengumpulkan ratusan murid yang gagal dalam ujian Sekte Pedang Patah, dia segera berkata pada mereka berdua.
"Baiklah sudah cukup jika di luar masih ada jumlah murid yang kurang, kita akan mencarinya besok."
Xia Xia mengikuti dengan sangat lemas Xian Zi dan Deng Lun, mereka kemudian memasuki pintu keluar. Di sana sekitar delapan murid sudah ada terlebih dahulu berkumpul dan beristirahat.
Salah satu murid yang berhasil itu menatap Xia Xia. "Hei kamu nomor sembilan! Kamu cukup di senangi dewa rupanya! Hanya forging qi tingkat dua berhasil selamat, apa kau keluar tapi tidak membawa Batu Inti spirit beast?"
Xia Xia menghela nafas. "Aku memilikinya, tapi itu tidak ada hubungannya dengan mu."
Bin He mengepalkan tangannya. "Kau harus memanggil ku senior! Aku nomor tiga!"
"Apa peduliku?" Xia Xia langsung duduk tepat di sebelah Zhang Ziyi, mereka berdua berbalik bersamaan. Karena tingkat praktisi mereka setara, suasana di sekeliling Xia Xia dan Zhang Ziyi sedikit canggung.
Zhang Ziyi menghela nafasnya dan berbicara dengan Chuxi. "Saudari Chu aku belum melihat Tn. Luo di antara mereka, apa dia belum keluar dari sana?"
Chuxi melipat kakinya dan menyandarkan tangannya. "Diamlah, dia orang yang kuat." Chuxi menunjuk ke arah Xia Xia. "Jika cupu sepertinya berhasil, Luo-didi jauh lebih berhasil."
Zhang Ziyi, "...."
"Saudari Chu, kamu tidak bermaksud mengataiku kan? Karena praktisi ku setara dengan orang yang kamu tunjuk itu.." Zhang Ziyi tertawa pahit, dia masih melihat ke arah pintu keluar yang hanya terlihat dua murid pelantaran inti dari Puncak Yilin yang berjaga di depan gua.
Saat semuanya sudah selesai Deng Lun dan Xian Zi berusaha menutup pintu keluar gua iblis tersembunyi, Zhang Ziyi langsung berlari ke arah mereka. "Senior! Kenapa kalian menutup pintunya?! Tn. Luo masih di dalam!"
Xian Zi memperlihatkan cincin penyimpanannya. "Semuanya hanya tersisa mayat, jika kau mencari seseorang. Mungkin dia adalah salah satu dari sekian tumpukan tulang di sini."
Zhang Ziyi menjerit panik, bagaimana itu mungkin?!
Jika Lau Luo tidak selamat..
"Tidak!! Belati Petir Mutan milik Zihan-ge!!!"
__ADS_1