KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Bandit gunung


__ADS_3

"Bagaimana rasanya daging kambing gunung?"


Can Sua menikmati sup iga kambing dan berkata pada Chuxi. "Ini enak."


Dia masih melirik ke pria berumur tiga puluhan tahun yang memandangnya intens. Can Sua beralih ke dua orang di depannya, karena dia bisa menggunakan Lau Luo dan Chuxi untuk menghindari mereka.


"Jika enak kau yang membayar tagihan kami." kata Chuxi.


Can Sua sedikit berbatuk. "Baiklah, tapi temani aku mengantar barang ke pelanggan ku."


Chuxi ingin menolak karena hal itu tidak perlu dan sedikit merepotkan mereka, tapi Lau Luo tidak suka berhutang pada orang asing.


Lau Luo melihat ke arah Can Sua. "Kami akan mengantar mu, setelah itu kami akan langsung pergi."


Can Sua memanggil pemilik Tong untuk membayar tagihan, dia sedikit menghela lega karena Chuxi memiliki beberapa tambahan keping uang di kantong hitamnya. Setidaknya Can Sua tidak terlalu mengeluarkan biaya banyak untuk mereka.


Dia tersenyum lalu memandu Lau Luo dan Chuxi untuk mengikutinya, dua bocah itu terlihat berantakan tapi wajahnya sangat ceria sedangkan Can Sua sedikit cemas.


"Kau terlihat tegang sekali, apa karena ada orang yang mengikuti mu?" tanya Chuxi.


Can Sua sedikit terkejut dengan Chuxi yang mengetahui terlalu banyak dan lagi gadis itu terlihat begitu tenang meski sangat tahu situasi mereka, Can Sua memainkan kain pakaiannya dengan gugup.


"Kau tenang sekali saudara Chu, apa kau tidak takut jik kita tertangkap kemudian di jual sebagai budak?"


"Mereka hanya beberapa bandit gunung, tidak perlu takut." kata Chuxi kemudian melanjutkan. "Aku sedikit menyesal kau membayar pengawalan nyawamu hanya dengan harga murah."


Chuxi baru sadar jika mereka di ikuti saat keluar dari kedai, jika dia tahu lebih awal dia akan meminta bayaran lebih mahal dari Can Sua. Chuxi menghela berat, "Harga sup iga kambing itu terlalu murah."


Can Sua semakin gugup melihat gang sepi di depan mereka, dia mendengar suara samar kemudian dia terbanting ke sisi gang saat sesuatu yang keras dan dingin menyentuh lehernya.


"Nak, jangan bergerak atau pisau ku memotong lehermu." kata bandit gunung yang sudah menyergap Can Sua.


Pria berumur tiga puluhan tahun itu sangat tinggi dan kurus dia memegang pisau dan berdiri di sebelah pria gemuk yang pendek dan memegang sebuah pedang.

__ADS_1


Pria yang pendek lebih tertarik pada Chuxi, dan mendekat ke gadis itu membiarkan tangannya bergerak di tubuh Chuxi.


Chuxi mengertakkan giginya untuk menahan marah dan membiarkan tangan itu mencari sesuatu, tapi begitu tangan itu mengelus dan mencubit pantatnya dia langsung melonjak emosi dan dia langsung terbakar amarah, wajahnya langsung berubah menghitam dan merah.


Pria pendek itu tertawa dan berkata. "Pantat gadis muda tidak kalah dari pantat perempuan dewasa, bukankah wajah ini lebih cantik dari pada gadis yang memegang kapak?"


Fu*k! Chuxi mengepalkan tangannya sangat marah.


"Dasar tua bangka b*jingan!" Chuxi memukul keras dagu pria pendek itu. "Kelakuan sampah!"


Pria tua itu lebih buruk dari binatang buas! keinginan mengerikan pada perempuan yang masih anak-anak untuk melecehkan mereka, Chuxi masih belum puas dan ingin menendang pria b*jingan itu dengan kakinya!


Tapi Chuxi berhenti, dan tersenyum senang melihat Lau Luo sudah lebih dulu memukul pria gemuk yang pendek itu.


"Kau seorang bandit gunung?" tanya Lau Luo pada pria yang dia pukul.


Bandit itu sedikit meringis kemudian tertawa. "Nak, kau seharusnya lari saat berada di situasi ini daripada melawan kami."


Dia melirik ke wajah Chuxi. "Dan biarkan aku bermain dengan gadis itu, maka aku akan membiarkan mu tetap hidup bagaimana?"


Lau Luo mengertakkan giginya lalu membuang dua gagang parang ke arah dua kaki bandit. Seharusnya dia tahu parang itu mudah hancur, dia lupa untuk menyalurkan qi karena marah dengan ucapan pria tua itu untuk bermain dengan Chuxi.


Mata bandit itu melebar, dan menyerang Lau Luo menggunakan pedangnya. Dia sangat marah mengetahui bocah yang berani menyerangnya, dia melompat beberapa kaki ke arah Lau Luo dan memberikan tebasan dengan senjatanya.


Rahangnya mengertak marah saat nyeri di kedua kakinya sudah lembab dan sobek, mendapatkan nyeri luka seperti itu dia memutuskan untuk mengurus bocah laki-laki yang berambut legam dan mengupas kulit dari dagingnya terlebih dahulu sebelum bermain dengan bocah perempuan yang lainnya.


Dalam sekejap mata Lau Luo menendang pergelangan tangannya yang memegang pedang, pedang itu terpental dari tangannya saat dia merasakan tubuhnya sudah jatuh ke tanah hanya dengan beberapa langkah serangan.


Dia memandang dengan keringat dingin saat bocah laki-laki itu membuka mulutnya.


"Tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuhnya tadi?" tanya Lau Luo.


Bandit itu menelan nanar, tentu saja dia tidak berani berkata untuk menjaga tangannya tetap aman. Dia melihat hati-hati wajah bocah laki-laki itu yang lebih dingin dari pada tadi.

__ADS_1


Dia merasakan kerah pakaiannya di raih, dan tubuh beratnya terseret ke pojok gang. Bandit itu melebar takut melihat mata tajam bocah berambut hitam yang memberinya sensasi ngeri.


Semua bulu kuduknya berdiri mendengar bocah laki-laki itu berkata. "Jadi kau tidak ingin mengatakannya?"


Lau Luo menginjak salah satu tangannya, dan bertanya. "Tangan kiri atau kanan yang kau gunakan untuk menyentuh tadi?"


Lau Luo menginjaknya keras, beberapa tulang tergesek dan hancur terdengar. Bandit itu menjerit sakit dan melihat gugup sesak ke arahnya, karena di injak dengan keras tangan bandit itu sudah agak miring dan jari-jarinya patah


"Kau tidak mengatakannya, jadi ku hancurkan keduanya.."


Bandit itu memasang wajah menderita, dia buru-buru berteriak. "Kiri! Aku melakukan dengan tangan kiri! Jangan pukul lagi!"


Kemudian suara patah tulang yang lebih menderita kembali terdengar, dia menahan marah ke arah Lau Luo ketika bocah itu mematahkan tangan kanannya.


Dia menjerit sedih. "Aku melakukannya dengan tangan kiri, kau malah mengincar tangan kanan ku!"


Lau Luo mengangkat kakinya kemudian beralih mematahkan tangan kiri bandit. "Aku tidak tahu mana yang kiri dan kanan karena aku kurang pendidikan, jadi ku hancurkan saja keduanya."


Bandit itu sudah tidak memiliki tenaga untuk berteriak, mata Lau Luo kemudian beralih ke bandit gunung yang lain. Pria yang berumur tiga puluhan dan di persenjatai pisau tajam.


"...." Dia terdiam waktu Chuxi sudah lebih dulu mengalahkannya.


Lau Luo memandang ngeri melihat Chuxi yang sudah melumpuhkan lawan dan duduk di atas tubuh bandit yang terbengkalai sambil menghitung rampasan uangnya.


"Hmmm? Lumayan.. lumayan cukup untuk membeli pakaian baru dan masker wajah bunga begonia.." kata Chuxi melihat kantung penyimpanan bandit itu, dia berlambai ke arah Lau Luo dan tertawa keras.


"Haha.. kau sudah selesai di sana Luo-didi? Rampas uang bandit yang kau kalahkan! Mereka punya uang yang lumayan banyak!"


Can Sua, "...."


Dia lemas kepayang karena takut di jual menjadi budak sampai kedua kakinya tanpa tenaga menjadi jeli, tapi di situasi sekarang Chuxi lebih di untungkan bisa membeli masker wajah baru!


Lau Luo kemudian mencari katong uang di pakaian bandit yang dia kalahkan, setelah mendapatkannya, dia lalu berjalan ke bandit yang di kalahkan Chuxi untuk mengetahui leher bandit itu sudah remuk dan hampir patah hanya dengan sekali luka serangan.

__ADS_1


Chuxi, gadis itu baru menginjak sembilan tahun tapi sudah berani membuat leher orang sekarat hampir setengah mati..?


Lau Luo, "...."


__ADS_2