KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
penempa logam Can Zao


__ADS_3

Lau Luo memberikan kantongnya uang pada Chuxi yang langsung membuat gadis itu terlihat kesal melihat jumlah uang yang lebih sedikit dari apa yang dia dapatkan.


Dia kemudian mengambil pedang milik bandit untuk menggantikan parangnya yang sudah hancur, karena parangnya cuma menggunakan tulang binatang yang tajam untuk membuatnya senjata.


Lau Luo melepaskan pedang dari tutupnya dan mengusap ujung runcing pedang itu yang sangat tajam sampai jarinya tergores, dia baru kali ini melihat pedang asli, jadi dia tidak tahan untuk sedikit berdecak kagum.


"Aku akan menyimpannya, ini akan sangat berguna." Lau Luo memasukkan kembali pedang ke tutupnya, dan mengikat bagian atas bawah pedang menggunakan kain kemudian menyimpannya di punggung.


Can Sua yang dari tadi terkejut melihat kemampuan dua bocah di depannya berhasil membuat dia sendiri menelan ludah gugup. Lau Luo dan Chuxi mengalahkan dua bandit itu sangat mudah tanpa luka serius apapun, padahal mereka hanya bocah yang belum menginjak usia sepuluh tahun ketika melawan bandit dewasa yang di persenjatai pisau dan pedang tajam.


Dia lalu berjalan ke arah Lau Luo yang sibuk mengambil beberapa rampasan yang berguna. "Kau harus meninggalkan pedang itu.."


Can Sua melanjutkan perkataannya melihat Lau Luo yang sepertinya tidak mau meninggalkan pedang rampasan.


''Kau hati-hatilah saat membawa senjata yang kau rampas dari para bandit, mereka bisa mengetahui ukiran lambang di senjata. Mereka akan mengenali orang yang mengalahkan salah satu para anggota bandit gunung, maka bandit dengan jumlah lebih banyak atau kuat akan datang melawan mu nantinya."


Can Sua mengambil pedang itu dari pundak Lau Luo dia kemudian membungkus pedang menggunakan kain hitam, setelah selesai dia langsung memberikannya kembali.


Lau Luo menerimanya kemudian menyimpannya kembali di punggung.


Can Sua berkata padanya. "Karena kau telah menolong ku, aku akan meminta ayah untuk merombak pedangmu nanti."


Lau Luo tidak terlalu memikirkan pedangnya akan di rombak atau bukan, dia hanya mengangguk kecil ke arah Can Sua.


Chuxi melempar gula-gula ke atas dan menangkapnya menggunakan mulut lalu mengunyahnya, dia berkata pada Lau Luo. "Apa kau mau?"


Lau Luo mengambilnya sedikit. "Kau mendapatkan ini dari mana?"


Chuxi menunjuk salah satu pedagang kecil. "Aku mendapatkan darinya.. setelah aku membantunya mengambil barang dagangannya yang jatuh, lalu dia memberikan ku sebagian."


Lau Luo melihatnya, kemudian beralih ke Chuxi. Dia tersenyum kecil mengetahui Chuxi baru saja membantu orang lain, karena gadis itu jenis tipikal yang menghitung keuntungan daripada perbuatan baik yang sia-sia.


"Kau selalu memikirkan dirimu sendiri dan tidak peduli dengan orang lain, apa kau sedang kerasukan patung budha?"


Chuxi berubah merah kesal, dia mendecakkan giginya saat mengunyah gula-gula di mulutnya. "Jika untuk nenek tua aku melakukannya dengan ikhlas! Seratus persen ikhlas tanpa pamrih!!!"


Ketika Lau Luo melirik makanan di tangan Chuxi, Chuxi langsung membela dirinya sendiri.

__ADS_1


"Benar! Kali ini aku menolongnya tanpa pamrih! Nenek itu yang memberikannya sendiri padaku!"


Can Sua yang menyaksikan perdebatan akrab itu hanya menggeleng pelan, tidak butuh waktu lama mereka kemudian sampai di depan rumah pelanggan Can Sua.


Can Sua mengetuk pintu itu beberapa kali, setelah percobaan ke empat pintu baru terbuka dan memperlihatkan pria berumur empat puluh tahunan dengan wajah yang marah.


Pria itu membentak keras. "Keterlambatan! Sesuai kesepakatan aku hanya perlu membayar setengah harga!"


Can Sua sedikit menelan perkataanya, dia berkata dengan hati-hati. "Tapi.. ini hanya terlambat setengah Yike."


/Yike :15 mnt.


"Omong kosong! Bilang saja pekerjaan pandai besi ayahmu tidak kompeten! Jika terlambat sesuai kesepakatan turun menjadi setengah harga!" Kata pria itu saat mendobrak pintunya kencang.


Can Sua terkejut dan sedikit gemetar. "Tapi.. tapi.."


"Lama." Chuxi mengorek-ngoreknya lobang telinganya, sebelum memutar matanya jenggal dan langsung menendang pintu itu hingga terbelah karena menurutnya tidak ada negosiasi saat kekerasan lebih di dengar ke telinga.


Sepasang matanya menatap dingin ke arah pria itu. "Dalam setengah Yike bayar dua kali lipat atau aku merobohkan rumah mu!"


"Kau berani!"


Chuxi sedikit memainkan melodinya. "Oh.. jadi kau berpikir aku tidak berani? Kau bisa melihatku mencobanya.."


Saat Chuxi mengambil ancang-ancang dengan kakinya bersiap untuk menendang, pria tua itu menghentikannya.


"Baik! Sudah cukup menghancurkan rumahku!"


"Ingat setengah Yike, jika lebih.. rumahmu kuratakan dengan tanah." kata Chuxi sambil menyembunyikan senyumannya dengan cara mengancam.


Tidak sampai dua menit pria itu mengambil nafas memburu, dia langsung melemparkannya pada Chuxi dan langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Can Sua meletakkan kapak pesanan yang lupa di bawa pria itu ke sebelah pintu.


Can Sua kemudian berkata pada Chuxi. "Terimakasih saudari Chu, tapi sepertinya dia tidak lagi mau memesan senjata dari toko kami setelah ini.."


Chuxi memberi bayaran kapak pada Can Sua, sebelum mengibaskan lehernya dengan uang. "Oh, jadi kau tidak yakin dengan kemampuan menempa besi ayahmu?"


Can Sua terkejut. "Tidak! Ayahku seorang pandai besi terhebat di Kekaisaran Yin!"

__ADS_1


"Jika ayahmu penempa besi yang hebat kau tidak perlu khawatir kehilangan satu pelanggan."


Chuxi menghitung uang kelebihannya dan memasukkannya bersama hasil rampasan. Dia bergumam sendiri. "Hmm, cukup untuk biaya hidup satu minggu.. buat beli makanan."


Can Sua berkata pada mereka. "Ikut dengan ku, aku ingin mengenalkan kalian berdua dengan ayahku."


Untuk saat ini Lau Luo dan Chuxi seperti memiliki pemikiran sama.


"Tidak perlu."


"Merepotkan!" Chuxi.


Can Sua menarik keduanya. "Saudari Chu, sebagai perempuan kita harus mandi air hangat untuk melepas lelah dan bukannya kita perlu maskeran juga untuk memperbaiki dan mencerahkan kulit?"


"Sedangkan saudara Luo, aku takut pedang yang kau miliki sekarang akan hancur dalam tiga serangan saat melawan senjata yang lebih kuat.. ayahku penempa besi bisa memperbaikinya."


Lau Luo berpikir itu ada benarnya, dia lalu mengikuti Can Sua karena dia juga sedikit penasaran dengan cara pembuatan senjata.


"Baiklah."


Chuxi segera bersiap-siap. "Aku ikut!"


Can Sua. "...."


Mereka lalu sampai di toko yang tidak terlalu besar, berbagai macam senjata menggantung di sisi dinding. Ada juga tombak yang tingginya mencapai toko, dan bermacam belati dan juga pedang tertata rapi di dalam meja.


Can Sua mulai menjelaskan senjata yang berada di dalam. "Itu hanya terlihat mewah dan bagus, tapi itu mudah rusak."


"Aku butuh senjata yang kuat." kata Lau Luo.


Can Sua mengambil pedang rampasan Lau Luo. "Jika untuk membeli senjata baru itu perlu biaya mahal saudara Luo, jadi aku hanya bisa meminta ayah merombak sedikit pedang ini."


Can Sua memanggil ayahnya, pria itu bernama Can Zao tubuhnya lumayan kekar dan berotot di kedua lengannya. Can Zao awalnya menolak memperbaiki senjata secara gratis, tapi saat Can Sua mengatakan Lau Luo menyelamatkan nyawanya dari bandit gunung, Can Zao tidak ada pilihan untuk menolak.


Dia mengambil pedang rampasan itu. Can Zao menilai Lau Luo dari atas sampai ke bawah dengan segala pertimbangan, lalu berkata dingin pada orang di depannya.


"Aku tidak pernah melihat Can'er membawa pulang seorang pria pun sebelumnya.."

__ADS_1


__ADS_2