KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
tetua puncak pertama Jie Yanling, Sekte Awan Giok


__ADS_3

Sebelum remaja berpenampilan mencolok yang tidak lain adalah Xian Zi itu berubah pikiran, pegawai loket itu langsung berkata. "Tuan pelanggan sangat berpikiran terbuka! Aku akan mencatat nama anda dan jumlah uang taruhan anda!"


Saat mengatakannya pegawai loket itu juga langsung buru-buru ke belakang mengambil dua kantong emas Xian Zi untuk langsung dia simpan. Dengan seribu keping emas, rumah perjudiannya pasti bisa balik modal bahkan jika nama Zhan Chen dari Sekte Awan Giok adalah pemenangnya. Sedangkan jika nama Lau Luo dari puncak Yilin adalah pemenang di Konferensi Pedang Tunggal, maka Jurang Emas akan untung besar karena sudah ada banyak orang yang bertaruh di nama Zhan Chen.


Pemilih Zhan Chen dari Sekte Awan Giok jika di total sudah mencapai tujuh ratus keping emas dan tiga ribu perak dari empat ratus pejudi yang sudah bertaruh di Jurang Emas. Dan untuk hari berikutnya, jumlah ini akan terus bertambah.


Untuk siapapun pemenangnya nanti Jurang Emas bisa balik modal atau untung. Namun yang pasti sekarang, dengan seribu keping emas uang taruhan Xian Zi yang setara pendapatan Jurang Emas selama lima tahun penuh! Mereka tidak akan rugi!


Karena perbedaan umur yang tidak terlalu jauh, pria terpelajar tadi memulai obrolan dengan Xian Zi. "Saudara, memang bagus jika berpikiran positif. Tapi alangkah bagus jika bisa memikirkan segi kekalahan, bagaimanapun.."


"Bagaimanapun seribu keping emas bukan jumlah uang yang bisa di lempar secara percuma dengan mudah."


Xian Zi membuka kipas lipatnya. "Sama sekali bukan hal yang percuma, apa kamu mendengar apa yang di katakan pegawai loket tadi? Dia sangat yakin dengan kemenangan Yilin, begitu juga aku!"


Pria terpelajar itu menghela nafas. "Aku tahu saudara adalah seorang yang kaya pasti dengan nama terpandang dan keluarga yang sulit untuk di singgung. Tapi bagaimanapun dengan sifat terlalu foya-foya saudara, yang aku takutkan kamu bisa bangkrut satu hari nanti itu akan menjadi kenyataan!"


Xian Zi tersenyum dan berkata dengan percaya diri. "Terimakasih untuk rasa simpatinya. Tapi yang aku katakan sekarang rasa takutmu itu akan percuma saja, karena margaku adalah Xian dan orang yang memiliki semuanya!"

__ADS_1


Pria terpelajar itu sempat tertegun sejenak kemudian hilang tanpa bekas, dia pernah mendengar nama marga Xian adalah keluarga mendominasi yang berasal dari luar Kekaisaran Yin. Tapi begitu melihat penampilan Xian Zi yang mencolok sama sekali tidak berwibawa yang bahkan terkesan glamor seperti merak yang memamerkan ekornya, pasti perkataannya hanyalah sebuah bulan sombong belaka.


Dia samasekali tidak percaya, dan masih tersenyum. "Benarkah? Mungkin ini kebetulan besar, bahwa aku bertemu salah satu dari marga Xian yang terkenal dengan wibawanya yang mulia serta tinggi untuk bisa bertemu di sini."


Mendapat pujian, Xian Zi juga merasa senang. "Itu benar! Yang kamu katakan sangat benar! Orang-orang akan kesulitan untuk bisa bertemu dengan ku! Jika mereka bisa bertemu dengan ku, mereka harus menunggu lama hanya untuk melihat bayangan ku saja! Apa kau ingin tanda tangan ku?"


"...."


Pria terpelajar itu tersenyum kering. "Aku sangat ingin, tapi waktu untuk aku di Jurang Emas sudah hampir habis dan aku juga memiliki kepentingan yang perlu di urus. Jadi meminta tanda tangan itu tidak akan sempat karena aku harus pergi sekarang."


Setelah pria terpelajar itu pergi, tidak ada urusan apapun lagi bagi Xian Zi untuk tetap berada di Jurang Emas. Dia lalu kembali ke dongfu sewaan di Danau Ye. Dengan sedikit ilmu meringankan tubuh, dia sudah sampai di sana hanya dalam beberapa hitungan menit.


Karena dua murid adalah sama-sama murid langsung dari ketua puncak, pasti pertarungan mereka akan menjadi luar biasa sampai menimbulkan kehebohan yang besar. Bisa di lihat jumlah penonton lebih besar dari penonton sebelumnya, banyak yang mengambil satu tempat duduk agar bisa di tempati tiga orang sampai beberapa penonton sudah menerobos batas untuk tempat para murid beladiri yang juga sedang menonton pertandingan.


Seseorang yang mengenakan jubah berwarna hitam agak putih yang berdiri di antara murid-murid dari Sekte Bambu Hitam itu mulai membuka mulutnya, wajahnya terlihat sangat antusias. "Pertandingan ini akan menjadi yang paling menarik! Bagaimana tidak?! Bertarung dengan murid langsung dari Shao Yi Chen dan yang lainnya murid langsung Jie Yanling! Aku sangat berharap bisa melihat pertarungan yang menakjubkan seperti ini di kehidupan ku!"


Orang yang berada di sebelahnya kemudian angkat bicara, menempatkan tangannya di dekat telinga pihak lain sambil berkata pelan. "Pertarungan ini pasti juga akan melibatkan dendam antara Shifu mereka, apa kalian tahu jika Tetua Jie Yanling selalu mencari-cari Dewa puncak Shao ke segala penjuru selama bertahun-tahun ini? Bukan untuk memberi sekuntum bunga mawar, melainkan pedang ganas dengan aura membunuh!"

__ADS_1


Orang yang baru mendengar itu terkejut. "Benarkah?! Di kejar-kejar seorang wanita untuk di bunuh! Ini pasti dendam yang rumit!"


Orang itu mengangguk-ngangguk. "Aku hanya mendengarnya, aku tidak tahu kebenaran rumor itu. Tapi aku pernah melihat sendiri pertarungan keduanya! Oh, saat aku melihatnya aku baru tahu seberapa menakutkannya jika seorang perempuan marah! Aku harap Dewa puncak Shao memiliki sembilan nyawa kucing agar tetap hidup setelah di kejar-kejar Tetua Jie Yanling!"


"Tapi Dewa puncak Shao tidak pernah menarik pedangnya, selain hanya menghindari setiap serangan. Dia pasti mencari-cari kesempatan untuk kabur dari Tetua Jie Yanling."


Dia mengelus kulitnya yang tiba-tiba merinding. "Ini pasti neraka menjadi target pembunuhan seorang pada tahap duo king setiap waktu!"


Untuk bisa selamat dari kejaran seseorang yang telah mencapai tahap duo king, pasti kemampuan Shao Yi Chen lebih tinggi dari Jie Yanling. Tiba-tiba dua orang itu yang sedang berbicara tidak tahan berdecak kagum untuk kemampuan melarikan diri Dewa puncak Shao.


Orang berpakaian hitam agak putih itu merasa sependapat. "Benar, Itu pasti neraka! Sangat menyeramkan!"


Saat Zhan Chen naik ke atas panggung, murid-murid dari Jie Yanling segera mengerumuni di sekitarnya. Hingga tempat paling sempurna untuk menikmati pertandingan sudah penuh dengan deretan jubah hijau terang di sekitar panggung. Seakan gurun rumput tiba-tiba ada di sana, mendominasi orang-orang dengan jubah biru langit. Seolah-olah danau kecil berwarna biru, di telan oleh hamparan pohon besar berwarna hijau.


Salah satu murid dari ouncak Wu Hua itu terpukul mundur ke barisan belakang oleh murid dari Sekte Awan Giok. Karena kalah jumlah, murid puncak Wu Hua itu hanya bisa mundur.


Jun Shao yang kebetulan lengannya di tabrak tidak sengaja oleh murid puncak Wu Hua itu, mengangkat tangannya untuk membantu berdiri sambil mencibir pada orang-orang dari Sekte Awan Giok di depan mereka.

__ADS_1


Melihat murid sekte lain yang berbuat semena-mena, Jun Shao tidak tahan untuk mencibir. "Beginilah cara kalian mendominasi dengan jumlah huh? Zhan Chen atau siapalah itu bahkan belum tentu bisa menang, sikap kalian seperti dialah pemenangnya dan tanpa malu menguasai seluruh tempat di sini seperti rumah mu sendiri?"


Dia menarik alisnya ke atas dan bertanya. "Apa kalian segerombolan orang-orang idiot yang otak kalian jarang di amplas?"


__ADS_2