KULTIVASI SURGAWI.

KULTIVASI SURGAWI.
Membeli senjata


__ADS_3

Kemarin Chuxi berkata marah padanya tanpa alasan. "Luo-didi apa kau sadar kau sudah agak.. terlalu berubah?"


Sekarang perkataan Chuxi pada waktu itu kembali berputar di otaknya, seperti peringatan datang tanpa jeda mendorong kepalanya untuk berdenyut lebih keras karena setelah Lau Luo mengalami mimpi seperti itu tentang kematian Shu Zi Jiu bagaimana mungkin dia tidak berubah?


Mimpi kematian Ah Jiu-ge karena sebuah pedang yang menembus ke tengah-tengah dada, bagaimana mungkin dia tidak berubah?


Lau Luo hanya ingin menjadi lebih kuat untuk melindungi Shu Zi Jiu dengan baik, agar itu tidak pernah terjadi jadi dia memutuskan untuk berkultivasi selama lima tahun. Tapi karena mimpi yang paling membuatnya ketakutan berulang lagi dan di dalam mimpinya itu pasti dia akan menyalahkan Shao Yi Chen yang mengirimnya ke desa dengan ujung-ujung kematian Shu Zi Jiu, menyalahkan Xian Zi yang mencoba menghentikannya, menyalahkan Jing Yiran dan Deng Lun yang tidak melindungi semua orang dengan pecus, atau menyalahkan seluruh warga desa karena melindungi mereka sampai Lau Luo tidak memiliki waktu untuk melindungi Ah Jiu-ge.


Tapi sebenarnya orang yang dia salahkan adalah dirinya sendiri karena lemah. Lalu pertanyaan ini kembali berulang-ulang di pikirkannya, bagaimana mungkin dia tidak berubah?


Meskipun semua kengerian itu dan yang paling membuatnya ketakutan hanya terjadi dalam mimpi, tapi jika mimpi kematian Shu Zi Jiu menjadi kenyataan suatu hari nanti, bagaimana mungkin dia tidak berubah?


"Semuanya aman, anda tidak perlu khawatir tuan muda." Itu adalah tulisan yang di kirimkan Soh Jinhong padanya dan setelah membacanya, Lau Luo sama sekali tidak bisa menghela lega karena sekarang wajahnya tanpa ekspresi dan terlihat dingin seperti air dingin yang ada di Danau Ye.


Orang-orang yang mengikuti Konferensi Pedang Tunggal pasti di siapkan untuk memperoleh tempat beristirahat, karena itu Jing Yiran tidak perlu mengatur mencarikan penginapan untuk mereka bermalam. Kemudian keesokan paginya, Jing Yiran mendatangi salah satu ruangan di dekat Danau Ye untuk mencari Lau Luo.


Dia mengetuk pintunya, setelah beberapa kali tidak ada jawaban dia bertanya. "Luo-shidi, apa kau ada di dalam?"


Masih sepi, jadi Jing Yiran membuka pintu tapi tidak menemukan siapapun. Di lihat dari selimut di kasur masih tertata rapi dan juga terasa dingin, jelas sekali pasti seseorang semalaman tidak menempatinya sedikitpun. Jadi dia langsung keluar, dan ketika dia keluar dan berjalan ringan di sebrang danau, Jing Yiran melihat jubah cyan putih berkibar di pohon millow dan di atasnya terlihat sosok yang duduk di atasnya.


Jing Yiran bertanya. "Aku mencarimu ke kamarmu tapi tidak menemukan mu di sana dan kebetulan kau ada di sini."


Karena sudah menemukan seseorang yang di carinya itu, Jing Yiran kembali bertanya. "Luo-shidi apa kau bisa menemani ku sebentar?"


Lau Luo melihat ke arahnya dan dia mengangguk sebagai tanggapan.


Sekarang untuk mengikuti Konferensi Pedang Tunggal posisi Jing Yiran adalah seorang pendamping, dan sekarang ini dia pasti mengurus semua kebutuhan yang di perlukan untuk kompetisi dan dia akan menjadi orang yang jauh lebih sibuk. Jadi setelah mereka membeli barang yang di perlukan, Jing Yiran lalu membawa Lau Luo memasuki toko pedang untuk bisa di gunakan dalam pertandingan nantinya.

__ADS_1


Saat memasuki sebuah toko pedang dan senjata, Jing Yiran tiba-tiba berkata. "Itu karena kau tidak ingin menggunakan Embun Beku Mengambang maka kita harus mencarikanmu pedang untuk sementara ini."


Mereka kemudian melihat-lihat pedang yang sudah tertata di toko. Toko itu hampir sama seperti toko Chan Zao yang memiliki segala bentuk peralatan beladiri dengan ukuran yang besar dan kecil. Tapi toko ini terlihat jauh lebih lengkap, melihat harganya memiliki tambahan nol yang banyak di belakangnya pasti harganya juga sangat mahal.


Melihat seberapa mahalnya membeli barang-barang di sini, Lau Luo menggelengkan kepalanya. "Yiran-shixiong tidak perlu memberikan ku pedang. Aku bisa melihat barang-barang di sini tidak lebih dari kualitas di toko Chan Zao namun harganya sangat mahal, hanya untuk bertukar beberapa serangan aku takutnya itu akan patah dan membuang uang shixiong secara percuma."


Setelah melihat kualitas pedang yang di miliki Lau Luo sebelumnya dari Chan Zao, apa yang di katakan Lau Luo memang ada benarnya.


Jadi Jing Yiran berbicara. "Jika Shixiong mu mengatakan akan membelikan mu sesuatu yang perlu kau lakukan hanyalah menerimanya, apa kamu mengerti?"


Dia segera memenuhi tangan Lau Luo dengan tumpukan besi. "Pilih salah satunya!"


Lau Luo melihat pedang yang di pilihkan Jing Yiran yang semuanya hampir berwarna perak dan terlihat sangat menyilaukan mata, saat warna perak di bawah sinar matahari akan jauh lebih menyilaukan. Jadi dia bergumam tipis. "Yiran-shixiong bisakah aku memilih yang hitam saja?"


Jing Yiran terkejut, dia lalu mengingat mimpinya saat Embun Beku Mengambang berbentrokan dengan pedang warna hitam yaitu Duka Surgawi karena di mimpinya dia bertarung dengan Lau Luo dan berselisih, jadi dia tanpa sadar agak takut dan langsung berbicara membentak.


Baru kali ini Jing Yiran meninggikan suaranya, Lau Luo sempat tertegun karena bagaimanapun Jing Yiran selalu memberinya perhatian dengan halus dan lembut di samping perkataan yang tinggi ada juga kecemasan yang melayang di antara mata Jing Yiran, tapi kecemasan itu ada hanya dalam sekejap mata.


Jing Yiran kembali sadar, dia menurunkan alisnya lemas dan kembali berkata lembut. "Aku tidak bermaksud membentak mu. Hanya saja jangan pilih warna hitam, apa kamu mengerti?"


Lau Luo juga tidak mau terlalu ribut, jadi dia segera mengangguk. "Aku mengerti."


Karena hanya mempermasalahkan warna pedang yang semuanya juga di buat dari besi yang sama, tidak perlu di perselisihkan untuk hal-hal yang kecil. Jadi Lau Luo mengambilnya secara acak. "Baiklah, aku pilih saja yang ini."


"Kawan, jika kau memilihnya itu tidak akan bisa bertahan lebih dari tiga serangan sebelum benar-benar patah." Orang lain tiba-tiba datang di samping Lau Luo dan memberikan pendapatnya. Orang yang melihatnya pasti merasa bahwa dia orang yang ramah dan pandai bergaul.


Jing Yiran menoleh untuk melihat ke arahnya, dan sepersekian detik kemudian dia bertanya. "Saudara beladiri ini.."

__ADS_1


Orang itu berpenampilan rapi, wajahnya juga sangat tampan. Tapi jika di bandingkan dengan penampilan Jing Yiran yang akan terlihat yang enak di pandang hingga membuat orang kehabisan kata-kata, atau di bandingkan dengan wajah Lau Luo yang memiliki fitur dingin namun tampan, penampilan orang itu akan turun ke standar biasa.


Dia tersenyum. "Aku Duan Yanyue."


Duan Yanyue mengenakan jubah merah agak tua, pedang di pinggangnya mengantung liontin bulan jatuh juga rambutnya yang hitam panjang di ikat dengan rapi. Duan Yanyue kemudian berkata dan dia tersenyum sopan. "Aku selalu mendengar-dengar bahwa murid puncak Yilin sangat luar biasa. Setelah melihat kalian secara langsung aku sadar bahwa kabar itu bukan rumor belaka.."


Jing Yiran memiliki kesan yang bagus untuk Duan Yanyue karena orang asing pasti tidak mudah memberikan pendapatnya. Bukan hanya itu juga, jika di lihat dari senyuman cerah Duan Yanyue. Duan Yanyue bersikap seolah-olah mereka adalah kawan lama yang baru bisa bertemu setelah bertahun-tahun berpisah.


Jing Yiran berkata ramah. "Saudara beladiri Duan terlalu menyanjung."


Setelah jeda sejenak dia kemudian bertanya. "Apakah kamu punya alasan mengapa pedang yang kami pilih mudah patah?"


Duan Yanyue mengambil pedang yang di pilih Lau Luo dan dia mulai menjelaskan. "Keluarga Duan kami memiliki pelelangan di benua selatan. Karena setiap kali ada pedang yang akan di lelang aku akan memperhatikan kualitas barang yang di jual mereka, jadi aku sudah terbiasa menilai barang hanya dengan melihatnya saja. Jika kau tidak percaya perkataan ku kau bisa memilikinya dan membuktikan bahwa ini akan menjadi barang yang tidak akan berguna nantinya."


"Kamu mengatakan hal yang benar." Karena Lau Luo mengambilnya secara acak, dia tidak memperhatikan bagaimana kualitas pedang-pedang itu saat mengambilnya, jadi jika kualitas pedang yang di ambilnya buruk dia juga tidak akan terlalu terkejut.


"Bisakah kamu membantu ku untuk memilihkannya?" Setelah melirik Jing Yiran, Lau Luo berkata pada Duan Yanyue. "Harus yang berwarna perak."


"Itu mudah." Duan Yanyue menanggapi dengan senang. "Tapi aku rasa pedang yang sedikit gelap akan lebih cocok untuk mu..."


Saat mengatakannya Duan Yanyue lalu melihat tatapan Jing Yiran yang entah bagaimana membuatnya merasa tidak nyaman.


Apa dia mengatakan kesalahan?


Dia tiba-tiba mengetahui alasan Lau Luo mengambil pedangnya secara acak tanpa memperhatikan kualitas dan terlihat tidak berminat.


Itu karena harus.. memilih dengan selera Jing Yiran yang harus berpedang dengan warna perak.

__ADS_1


Duan Yanyue tertawa kecil. "Ah! Iya iya, tentu! Harus memilih dengan warna perak!"


__ADS_2