
Hari berikutnya adalah hari paling ramai dan padat di kota Chang'Su. Bisa di katakan kemeriahan Konferensi Pedang Tunggal yang telah di tunggu-tunggu semua orang sekarang hampir di laksanakan, oleh karena itu banyak para kultivator murid-murid beladiri dari berbagai sekte ada di sepanjang jalan kota Chang'Su sambil mengenakan jubah sekte mereka.
Murid-murid dari Sekte Pedang Patah juga memulai kultivasi mereka untuk persiapan sebelum kompetisi, baik itu murid puncak Yilin, Erlang Xiao, San Bian, Si Hua, Wu Hua, Liu Hua dan juga Xia Hua sedang berlatih seni berpedang mereka.
Meskipun sebagai pendamping sekte adalah dua orang yaitu Jing Yiran dan Ma Dao. Bisa di katakan semua tugas hanya di pikul oleh satu orang. Seperti sehari kemarin, Jing Yiran mendatangi sendiri sebagai perwakilan untuk mengambil undian setiap murid yang ikut berpartisipasi dari ke tujuh puncak. Dia harus mencatat nama-nama murid dan mengambil nomor seri mereka.
Dari seratus sekolah beladiri, maka jumlah semua murid yang mengikuti Konferensi Pedang Tunggal hampir mencapai seribu. Lima ratus peserta lalu di undi untuk menentukan lawan mereka, dan untuk murid yang gagal mereka di pastikan tidak bisa mengikuti babak kedua.
Dan untungnya Perguruan atau Sekte mereka mendapatkan undian pertama untuk bertanding, yaitu melawan seratus orang pertama.
Lampu di ruangan masih menyala karena kesibukannya hari ini, Jing Yiran mulai menafsirkan kekuatan lawan perorangan, mana kemungkinan yang akan menjadi lawan terberat dan mana yang kemungkinan mereka akan menang. Setelah melihat semuanya, Zhan Chen adalah lawan yang akan sulit untuk di hadapi oleh para saudara beladiri juniornya.
Bisa di katakan kekuatan Zhan Chen akan menyamai kekuatan Deng Lun sebagai murid pelantaran Inti di puncak Yilin, Jing Yiran tahu seberapa jauh kemampuan Zhan Chen karena Zhan Chen adalah saudara sedarah dari orang berbakat yang pernah dia temui, Zhan Fething yang sudah menjadi seorang tetua puncak meskipun umurnya masih mud,.
Dia melihat lawan Zhan Chen di pengumuman dan tidak ada cara untuk mengubah pasangan lawan keduanya, jadi Jing Yiran mulai merajut alisnya khawatir.
Saat dia mengeryitkan keningnya tiba-tiba pintu ruangannya terketuk dari luar, dan suara samar terdengar. "Yiran-shixiong. Apakah kamu di dalam, jika iya aku ingin melihat jadwal pertandingan untuk besok."
Cao Tao masih berdiri di dekat pintu karena takut menganggu waktu Jing Yiran, jadi dia tidak masuk ke dalam ruangan. Apalagi juga Jing Yiran terlihat tidak suka melihat orang lain keluar masuk dari ruangannya seenaknya, jadi keduanya hanya mengobrol di luar.
"Kamu..?" Tentu saja dari ketujuh puncak adik beladiri juniornya, Jing Yiran tidak bisa menghafal satu-persatu wajah mereka.
"Cao Tao, dari puncak San Bian." Cao Tao mulai memperkenalkan diri.
Jing Yiran mencari nama Cao Tao di tumpukan kertas dan mulai berkata. "Lawan mu adalah orang dari Sekte Bambu Hitam, Xing Jiang. Dia berada di tahap enam tingkat pertama. Apakah kau bisa melawannya?"
Sewaktu memasuki ujian di Gua Pembantai Iblis, Cao Tao berada di tahap empat tingkat pertama. Setelah beberapa tahun di puncak San Bian, kultivasi Cao Tao mengalami kenaikan di tahap kelima secara pesat.
__ADS_1
"Aku akan berusaha, aku masih berada di tahap kelima tingkat pertama. Meskipun lebih rendah satu tingkat dengan Xing Jiang, aku akan tetap melawannya dengan sungguh-sungguh."
Jing Yiran terlihat puas, dia menepuk pundak Cao Tao sebelum pergi. "Berusaha yang keras."
"Lalu, Yiran-shixiong siapa lawan ku besok?" Xian Zi yang melihat Cao Tao pergi juga ingin tahu lawannya, dia langsung menerima tumpukan kertas di tangannya.
Jing Yiran memberikannya. "Kamu cari sendiri, dan beritahu juga pada yang lainnya."
"Ah? Baiklah." Xian Zi lalu pergi membawa catatan ke ruangan yang biasanya digunakan Deng Lun untuk bermeditasi.
Berdiri di dekat pohon millow, seseorang terlihat seperti pohon millow yang ramping, jubah biru langitnya tertutupi sempurna.
Dia memperhatikan seni berpedang dan teknik Angin Meniup Awan saat melihat permainan Lau Luo semakin bagus, Jing Yiran kemudian tersenyum dan menarik sudut bibirnya ke atas sebelum dia bertanya. "Apakah kamu tidak lelah? Kenapa tidak beristirahat terlebih dahulu."
Lau Luo yang diam-diam mempelajari teknik dari Immortal Shangya, merasa seseorang mengawasinya kemudian beralih menjadi teknik Angin Meniup Awan yang menjadi teknik paling dasar dari Sekte Pedang Patah
Jing Yiran tahu betul bahwa Shao Yi Chen belum mengajari Lau Luo apapun, satu teknik yang paling sederhana dari sekte juga tidak, selain hanya memberi manual beladiri untuk di pelajari sendiri.
"Apa kamu tidak mempunyai satu pun teknik untuk mengalahkan lawanmu selain teknik Angin Meniup Awan?"
Lau Luo berbalik bertanya. "Bagaimana menurut Shixiong, coba tebak?"
Jing Yiran, "...."
Setelah berpikir lumayan lama. "Ku rasa tidak."
"Kamu benar."
__ADS_1
"...."
Jing Yiran mengambil alih pedang perak di tangan Lau Luo, sebelum dia berkata untuk memperkenalkan teknik berpedangnya. "Kalau begitu aku akan merepotkan Luo-shidi untuk melihat Hujan Musim Semi."
Pedang itu baru di beli dan bilahnya juga tanpa merek, terlihat begitu sederhana hanya ada satu kristal di bagian gagang pedangnya. Ketika tutup pedang itu terbuka, melalui spiritual Jing Yiran pedang itu memancarkan sinar keperakan, bersinar seolah-olah sinar pelangi membentang saat hujan, setiap tarian gerakan yang di lakukan Jing Yiran sangat halus seperti hujan salju yang tiba-tiba datang di atas belladona perak, menguyur tanpa henti.
Pada saat Hujan Musim Semi pada momentum yang luar biasa, Embun Beku Mengambang di pinggangnya mulai merasakan sedikit emosinya dan mulai sedikit bergetar.
Setiap kali Jing Yiran melakukan gerakan Hujan Musim Semi, seolah-olah angin dan air di Danau Ye mulai menderu-deru. Danau Ye yang sangat dingin perlahan berubah menjadi hangat, setara musim semi di mana bunga belladona kristal es mulai mekar perlahan.
Untuk sekarang Lau Luo benar-benar merasa takjub, takjub dengan keindahan seni berpedang Jing Yiran. Dia harus merasa beruntung bisa melihat seni berpedang terbaik dari puncak Yilin itu, yaitu Hujan Musim Semi.
"Shixiong sangat luar biasa." Lau Luo menerima kembali pedangnya setelah di sarungkan, dia tidak sengaja melihat pinggang ramping Jing Yiran yang menggantung Embun Beku Mengambang, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Kenapa Shixiong tidak menggunakan pedang mu sendiri? Aku kira Hujan Musim Semi akan terlihat lebih bagus jika Shixiong menggunakan Embun Beku Mengambang dari pada menggunakan pedang tanpa merek seperti sekarang."
Saat mengatakannya dia mulai teringat cerita Xian Zi ketika keduanya meminum teh, hingga langit berubah menjadi sinar kemerahan, dia mengingat cerita Xian Zi dengan jelas bahwa Jing Yiran tidak pernah sekalipun menarik pedangnya apapun yang terjadi.
Begitu mengingatnya, Lau Luo tidak tahan untuk bertanya, "Apa ada masalah yang terjadi? Masalah yang memaksa Yiran-shixiong tidak bisa menggunakan pedang Shixiong sendiri?"
Jing Yiran tiba-tiba diam seperti pohon pinus yang kaku, tertangkap basah seperti air telah menguyurnya dari atas kepala dan alisnya merajut, kemudian terpisah dengan lemas seperti kedinginan.
Dia akhirnya tidak tahan untuk membuka mulutnya dan berkata. "Luo-shidi sebenarnya.. Inti spiritual ku cacat."
Jing Yiran tersenyum kecil tapi perkataannya sangat tenang sekolah cacat di inti spiritual adalah hal yang biasa bagi Jing Yiran, namun kenyataannya inti spiritual seperti jantung beladirinya. Seperti manusia yang memiliki jantung untuk hidupnya.
Kecacatan inti spiritual adalah masalah yang serius, orang manapun yang inti spiritualnya cacat walaupun sedikit tidak akan mengatakannya dengan ekspreksi wajah yang tenang.
__ADS_1
Namun dia, Jing Yiran mengatakannya dengan ekspreksi wajah yang acuh tak acuh. "Ini sudah lama sekali terjadi dan aku mulai terbiasa dengan inti spiritual setengah, jadi kamu juga tidak perlu khawatir."