
Ketika Jing Yiran pertama kali mendapatkan pedangnya kembali, sekarang muncul skema kecil yang baru di pikirkan Jing Yiran, apakah selama ini pedangnya Embun Beku Mengambang tidak mau di tarik oleh nya dan setiap kali Jing Yiran mencobanya akan selalu menunjukkan penolakan, apa ini karena pedang Embun Beku Mengambang sudah merasa bosan dengannya dan kebosanan itu meluap karena memiliki tuan sepertinya? Yang dia hanya seseorang yang kaku dan sering dalam kelumpuhan wajah tanpa bisa berekspresi apapun?
Memikirkan ini Jing Yiran merasa wajar karena dia hanya menganggap pedangnya sebatas seonggok besi tua yang sedikit lebih tajam daripada pisau dapur, dia juga bahkan hampir tidak pernah menggunakan pedang Embun Beku Mengambang dalam pertempuran apapun, sampai-sampai di bilah pedang itu mungkin sudah mulai berkarat dan tumpul.
Setelah menerima kembali pedangnya, Jing Yiran berkata pada Lau Luo dan dia kemudian bertanya dengan suara rendah. "Luo-shidi, apa kau ingin tetap menyimpannya saja sampai kau ikut berpartisipasi dalam pertandingan konferensi nanti?"
Jika seseorang mempunyai pedang, dan ketika seseorang sudah meneteskan darah untuk di akui oleh sebuah pedang sebagai tuannya maka orang lain tidak dapat menarik mereka. Seperti Xian Zi dan Deng Lun yang tidak akan bisa menarik pedang yang lain, dan juga para kultivator yang tidak dapat menarik pedang orang lain.
Meskipun tanpa sebab yang di ketahui dengan jelas kenapa Lau Luo menjadi jenis yang pengecualian dan kenapa dia bisa menggunakan pedang bertuan milik Jing Yiran, mendengar perkataan Jing Yiran tadi, Xian Zi benar-benar di buat sangat tertegun!
Karena sebagai murid kesayangan di puncak Yilin, jika kau mendapatkannya dari Shao Yi Chen! Kau tidak bisa memberikannya secara mudah pada orang lain! Jikapun Shao Yi Chen memberimu sebuah batu, kau harus menyimpannya dengan sungguh-sungguh untuk menghormati kebaikan shifu-mu!
Memikirkan itu Xian Zi tidak tahan untuk bergumam pelan. "Yiran-shixiong, kamu sinting.."
Lau Luo sendiri juga tahu jika pedang seseorang tidak bisa di berikan pada orang lain dengan begitu mudahnya seolah seperti membuang ampas tahu, jadi ketika Jing Yiran menawarinya untuk menggunakan Embun Beku Mengambang dalam pertarungannya untuk mengikuti Konferensi Pedang Tunggal nantinya, dia menggelengkan kepalanya.
Dia kemudian berkata pada Jing Yiran. "Kemampuan berpedangku sangat kaku, aku takutnya tidak bisa memunculkan semua potensi pedang milik shixiong dan hanya bisa melakukannya secara setengah. Maka tetap ada di tangan Yiran-shixiong itu akan jauh lebih berguna."
Dia lalu membantu meletakkan tangan Jing Yiran ke bilah Embun Beku Mengambang, ketika dia juga menyapu pedang keperakan yang memiliki rasa kedinginan yang tinggi seolah bisa membekukan seperti bongkahan es, Lau Luo kemudian berkata dengan suara pelan.
"Kau memilikinya dengan baik, jadi shixiong simpan saja pedangmu sendiri."
__ADS_1
*
Saat ini kapal apung sudah bergerak lama dan hari sudah menjadi senja. Orang bisa melihat sinar keorenan dengan warna emas sedikit kemerahan melapisi sepuluh ribu jangkauan penglihatan di langit saat matahari terbenam. Ketika burung-burung laut putih berterbangan sinar bertabrakan dari laut, menciptakan garis tipis yang menyilaukan penglihatan, seseorang harus menyimpitkan mata mereka untuk melihat dengan lebih jelas apa yang ada di depan mereka.
Di depan mata mereka, bukan gelombang badai yang menunggu. Tetapi momentumnya sama luar biasanya, seolah-olah sekawanan burung berwarna-warni mengelilingi kapal mereka. Jika di lihat secara sekilas, gerombolan itu akan tampak seperti burung. Tapi itu adalah kapal-kapal dari sekolah beladiri yang ikut berpartisipasi menghadiri kompetisi di Cang'Su.
Ada sekitar seratus kapal apung yang telah mewakili seratus sekolah beladiri, bukan hanya dari benua timur di Kekaisaran Yin dan Yang. Namun juga para ahli beladiri di benua lain dan dari daerah lain yang akan ikut serta dalam Konferensi Pedang Tunggal nantinya.
Setelah kapal mereka mendarat dan berhenti di dermaga, lengan jubah Lau Luo yang lebih lebar akan tertiup angin. Di lihat dari seberapa hitam mata legam itu, seseorang yang melihatnya pasti akan takut untuk mendekat. Namun wajahnya yang menuju garis-garis ketampanan seperti seorang remaja pasti menarik seseorang untuk mendekat ke arahnya bukan menjadi hal yang mustahil, dan seseorang yang melihatnya tidak tahan untuk berdecak kagum.
Jing Yiran tidak menggunakan ramalan Ruan Mingchuan sebagai tolak ukur, namun sekarang dia sangat memperhatikan bahwa aura yang mengelilingi Lau Luo telah perlahan-lahan berubah menjadi sedikit lebih suram dan lebih gelap. Mau tidak mau perubahan itu pasti mampu memaksanya untuk percaya bahwa bintang malapetaka tidak lain adalah Luo-shidi yaitu adik beladiri junior dari puncak Yilin yang ada dalam sekte taois terkemuka di bawah langit, Sekte Pedang Patah.
Jing Yiran bermimpi dia tembali di dalam kamar saat cahaya kuning lilin menyala-nyala yang telah merabunkan penglihatan, namun di dalam mimpinya itu adalah waktu yang pas bagi seseorang untuk mengatakan sesuatu yang serius.
Seolah-olah ini akan menjadi pelajaran hidup yang serius, Jing Yiran mengatakan pada Lau Luo saat nyala penerangan lilin di tangannya tidak bisa padam. "Aku selalu mengingat kalimat ini yang akan mencegahku dari hati yang buruk, 'Setiap tindakan yang jujur di lakukan tidak melewati batas.' Adalah alasan kenapa aku selalu merasa ringan."
Lau Luo tiba-tiba melihat ke arahnya, mengeryitkan kening dan tersenyum. "Apa yang coba kamu kamu katakan?"
"Memang tidak ada hubungannya." Jing Yiran mendesah nafas dan mulai merajut alisnya sendiri. "Tapi aku membahasmu Luo-shidi, sekalipun kau terpaksa mengalami kekecewaan di masa depan yang tidak bisa kamu bendung lagi, tapi kamu tidak bisa mengambil jalan kesesatan apa kamu mengerti?!"
Mendengar nada tinggi Jing Yiran pertamakalinya, Lau Luo sempat terkejut sejenak sebelum dia bertanya. "Kenapa aku tidak boleh tersesat, semisal aku berkultivasi di jalan kultivator iblis kenapa itu tidak boleh?"
__ADS_1
"Tapi betapa aku telah tersesat sekarang?" Lau Luo di dalam mimpinya memiliki keperawakan yang sama sekali berbeda, kulitnya putih pucat hampir seperti mayat dan udara gelap di sekitarnya terasa sangat pekat membuat penampilan Lau Luo yang menguasai qi iblis terlihat sangat mengerikan.
Di mimpi itu Lau Luo bertanya mengejek. "Yiran-shixiong, kau sangat suka mencampuri urusan orang lain dan orang yang sangat perhatian! Tidak akan membiarkan orang lain memanipulasi ku, dan kau juga orang yang sangat mengerti aku begitu?"
Jing Yiran menatap tidak percaya dengan remaja yang sudah lebih tinggi darinya, seringaian yang mengancam dan juga kabut yang menyesakkan, setelah melihatnya secara jelas seperti sebuah beban berat telah menindih hatinya. Seolah-olah gunung abadi telah meletus menyelimuti seluruh tubuhnya dengan hawa panas. Dia gemetar, juga sama halnya dengan Embun Beku Mengambang di pinggangnya gemetar hebat seperti akan terbang kapan saja.
Dia menggenggam gagang Embun Beku Mengambang yang terasa sangat dingin yang seolah-olah mampu membekukan kabut apapun, tapi tidak akan sebanding dengan ekspresi dingin wajah remaja di depannya itu.
Jing Yiran berkata dengan suara rendah. "Luo-shidi, aku hanya ingin menyelamatkan mu."
Lau Luo sekali lagi terkekeh keras ekspresi wajahnya berubah gila. Dia tertawa geli dengan cibiran seperti pisau tumpul yang langsung menyayat ke jantung Jing Yiran dan semua tendonnya sampai pecah yang membuat Jing Yiran menyadari, ternyata kematian Shu Zi Jiu adalah pemicu Lau Luo mengalami kesengsaraan.
Orang itu sekali lagi bertanya mengejek ke arahnya. "Menyelamatkan ku? Menyelamatkan ku dari apa?"
"Kau begitu ingin menyelamatkan ku kan? Lalu kenapa kau mengalagi semua upayaku?! Terutama menghalangi ku untuk membunuh penatua dari Sekte Pedang Patah yang sudah membunuh Ah Jiu-ge! Yiran-shixiong aku katakan apa semua orang bahkan keledai sekalipun lebih berharga dari pada aku, dan aku hanyalah seonggok kotoran di bawah sepatumu?"
Pedang hitam di pinggang Lau Luo bergetar, bergerak ingin segera meneteskan darah dan seolah-olah kegelapan di warna pedangnya menggambarkan kedukaan yang tidak berujung dan tidak terbatas. "Aku ingin membunuhnya dan membalaskan dendam kematian Ah Jiu-ge! Aku akan menghancurkan semua tulang dan meminum darahnya karena dia yang telah membunuh Ah Jiu-ge, kenapa aku tidak boleh membalaskan dendam?!"
Setelah perkataannya jatuh, qi iblis mulai merambat ke lehernya sampai menyelimuti wajahnya hingga berubah menggelap dan memucat sebelum kemudian pedang kegelapan itu terbang dengan kecepatan tercepat ke arah Jing Yiran dan Jing Yiran segera memblokir pedang itu yang juga sebuah pedang yang di gunakan untuk menyegel raja iblis sebelumnya.
Pedang Duka Surgawi.
__ADS_1