Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
pengantin pengganti


__ADS_3

Gadis dua puluh tahun itu berlari kesana kemari memeriksa setiap kamar yang ada dihotel itu tanpa alas kaki karena high heelnya ia buang begitu saja agar bisa berjalan cepat tanpa terganggu. Ia memeriksa dari lantai satu sampai lantai lima saat ini dengan bantuan para petugas hotel.


Dres chiffon warna putihnya nyaris kotor dan wajahnya mengalir keringat menganak sungai. Mike upnya tidak berbentuk. Sekarang wajahnya seperti topeng monyet.


Ia mencari sang kakak yang menghilang begitu saja sebelum pernikahannya dimulai. Padahal tadi sang kakak sudah selesai di mike up dan bersiap menjadi seorang pengantin.


"Kak Airin!! kakak mana?'" ia sudah putus asa dan kelelahan disuruh mencari kakaknya sedari tadi.


Ponselnya berbunyi. Dari mamanya.


"Ya ma!"


"Kamu sudah menemukan Airin?"


"Belum ma"


"gimana kalau dia diculik?" mamanya berkata sedih dan panik.


"Kak Airin udah gede ma, masa dia diculik!" bantah Laras. Ia juga panik karena kehilangan kakaknya. Ini adalah hari yang bersejarah bagi sang kakak tapi tidak mungkin juga kakaknya diculik. hotel itu punya penjaga yang ketat, penculiknya lewat mana. Di setiap sudut juga ada kamera acctvnya tapi kakaknya tidak juga ditemukan.


Akhirnya Laras menyerah, kakinya sudah pegal. Sudah dua jam ia lari-larian dan semuanya sudah ia periksa. Ia nyaris pingsan.


Diruangan sempit dekat tangga darurat ia mendengar suara desah aneh. Seperti dua orang dewasa yang sedang becumbu dan pria nya menyebut nama Airin.


Laras mencari sumber suara dan alangkah kagetnya dirinya melihat semua itu. Sang kakak bersama seorang pria nyaris tanpa busana. Ia memundurkan langkah tidak jadi memanggil sang kakak dan pergi dari sana.


Ia tidak menyangka sang kakak sedemikian rupa. Tega membuat seorang pria lainnya menjadi terluka. Mungkin lebih baik pernikahan itu tidak berlangsung. Kasihan calon kakak iparnya jika tau kakaknya seperti apa.


Ketika ia kembali, para tamu sudah gelisah menunggu acara. Nabil, calon kakak iparnya juga tampak putus asa. Pria dua puluh delapan tahun itu tidak henti- hentinya melihat kepintu berharap mempelai wanitanya segera tiba.


"Bagaimana ini? Airin tidak ditemukan, mau ditaruh dimana wajah kita?" mama Nabil menuding mama Airin"dimana putri kalian itu?"


"Sudah, kita cari jalan keluarnya! Airin harus ditemukan! minta tamu menunggu sebentar lagi" Hendra papa Nabail menengkan suasana.


"Mau menunggu sampai kapan? seluruh ruangan digedung ini sudah digeledah! papa lihat sendirikan?" suara Vina meninggi pada Hendra suaminya.


Orang tua Airin dan Laras tidak berdaya karena ini adalah kesalahan dari pihak mereka.

__ADS_1


Maya, mama Laras melihat ke anaknya. Tiba-tiba ia dapat ide.


"Untuk menyelamatkan wajah kita, gantikan saja Laras untuk sementara sampai Airin ketemu" usul Maya. Semuanya yang tidak punya pilihan lain setuju dengan usulan itu.


"Tidak ma, jangan!!!" tolak Laras.


"Ini demi nama baik keluarga kita Ras'


"Kalau kak Airin gak mau nikah ya sudah ma, batalkan saja!!"


"Kamu enak bicara demikian!! kamu tidak memikirkan keluarga saya? keluarga kamu bikin malu keluarga saya" tuding Vina kasar pada Laras. Wanita itu menarik bahu Laras ke seorang perempuan tukang rias sembari berkata "cepat urus dia!"


Laras memberontak ingin lari dari sana tapi para perempuan disana rame-rame memegang tangannya untuk didandani.


Laras meronta.


"Lepaskan , aku bukan calon istri kak Nabil!!"


Ia terus berteriak nyaring diruangan itu. Menyesal ia tidak memanggil Airin tadinya. Sekarang kakaknya itu pasti sedang bahagia bersama selingkuhannya.


"Selesai! bawa dia kedepan!!" perintah Vina. Para perempuan menyeret Laras untuk kedepan dan setelah sampai ia menyuruh Laras untuk duduk disebelah Nabil. Para fotografer menyambut Laras dengan jepretan dan menyuruh Laras untuk senyum. Gadis itu tidak mau tau ia tetap memasang wajah tidak sukanya bahkan ia mendelikkan mata pada mereka agar jangan lagi memotret.


Ia tidak suka karena ini bukan acaranya. Ia adalah pengantin pengganti. Bukan dia yang harusnya berada disini. Ia jadi korban karena sang kakak yang tidak bertanggung jawab dengan keputusannya.


Para tamu yang tadinya gelisah sudah mulai duduk tenang. Ia ingin bangkit untuk lari tapi tangan Nabil meraihnya dan mencengkeram dengan kuat untuk menyuruhnya kembali duduk.


"Jangan coba-coba pergi dari sini"


Cengkeraman itu sangat menyakitkan. Tangan Laras mungkin saat ini sudah memerah karenanya. Beberapa kali bertemu dengan Nabil ia tidak pernah berinteraksi dengan pria itu secara dekat tapi yang ia tau pria itu sangat baik terutama pada kakaknya Airin. Tiap datang, Nabil membawakan bunga, coklat atau boneka untuk kakaknya. Nabil pria yang romantis dan murah senyum. Tapi kali ini pria itu tanpa diduga-duga berbuat kasar pada Laras.


Rasanya Laras ingin menangis atas apa yang dialaminya sekarang.


-


-


-

__ADS_1


Akad itu berjalan dengan sukses. Para tamu satu persatu pada pulang. Yang tertinggal adalah keluarga intinya yang menyarankan untuk memakai saja kamar yang sudah dipesan dan dekorasi dihotel itu.


Nabil menolak, ia memilih untuk langsung pulang kerumah kediamannya dan Laras juga sudah duduk didalam mobil keluarganya.


Vina dan Hendra menghampiri Laras menyuruh gadis itu turun.


"Ada apa tante?"


"Ada apa, ada apa,...kamu mau kemana ha?"


"Pulang" jawab Laras pendek. Acara sudah selesai maka tentu saja ia akan pulang. Tidak mungkin ia jadi satpam dihotel itu kecuali gajinya gede.


"Kamu pulang sama Nabil sana!"


"Ooh jadi kak Nabil juga pulang kerumah Laras?"


Vina dan Hendra tidak menjawab. Vina tersungut kemobilnya sedangkan orang tua Laras yang tadinya sempat panik sekarang berubah menjadi kasihan pada Laras.


"Sayang, mama pulang dulu ya! kamu hati-hati dijalan kalau ada apa-apa kabari mama"


"Kenapa aku gak pulang bareng mama saja sih, kak Nabilkan sudah tau rumah kita dimana"


Riyanto mengusap kepala anaknya lembut tanpa berkata-kata setelah itu ikut masuk kedalam mobil duduk dibelakang setir.


Laras memandangi kedua mobil yang berlalu itu dengan mata berkaca- kaca. ia bagai anak yang dibuang begitu saja oleh kedua orang tuanya. Ini bagai mimpi baginya, hal yang tidak pernah ada dalam bayangannya membuat hidupnya tiba- tiba berubah.


"Silahkan masuk nona pria " pria asisten Nabil membukakan pintu untuk Laras.


"Gak mau aku pengen pulang"


Laras nyaris menangis kalau bukan saja si nyonya calon mertua Airin melihat tajam padanya.


Gadis itu menurut dan duduk dibangku paling belakang dan sudut. Pria yang bernama Nabil itu yang tadi mencengkeram tangannya kasar sekarang terlihat seperti patung hidup didepannya. Pakaiannya pun sudah diganti dengan pakaian biasa, stelan celana bahan dan kemeja hitam. Berbeda dengan Laras yang masih memakai gaun pengantin warna pink.


Mungkin pria itu terguncang. Sorot mata pria sangat menakutkan.


"Stop!!!!!!"

__ADS_1


__ADS_2