Laras Dan Nabil

Laras Dan Nabil
acara penyambutan


__ADS_3

Laras enggan untuk turun dari mobil ketika tiba didepan rumah Nabil. Pintu rumah itu terbuka lebar dan terlihat agak ramai.


Vina menyongsong mereka kedepan dengan dandanan yang heboh.


"Cucu oma sudah pulang? sini sama oma?"


Alan melirik ke Laras mungkin bocah itu ingin bertanya. Wanita yang di panggil oma itu habis kerasukan apa. Kemaren-kemaren jutek bangat tapi sekarang baik sekali.


"Pantas saja cucu oma mirip papanya waktu kecil, ternyata anak papanya toh" Vina mengusel pipi Alan dengan gemas


"Ayo Bil, ajak Laras kedalam"


"Tidak tante, aku disini saja" tolak Laras.


"Mama sudah menyiapkan acaranya"


Laras tidak tau acara apa yang disediakan Vina. Yang pasti Laras enggan untuk kedalam. Lagipula ia adalah tamu tak diundang.


"Alan sama oma ya, papa bawa ibu kedalam kasihan ibu Alan mungkin kakinya sakit" Nabil memindahkan Alan kegendongan mamanya.


Vina dengan senang hati menggendong Alan. Bocah itu tampak takut-takut pada Vina mungkin dia mengira Vina akan sama dengan nenek sihir yang hendak mencelakakannya.


"Aku bisa sendiri" Laras turun dari mobil karena Nabil tidak main-main dengan apa yang ia katakan. Ia jongkok didekat Laras padahal ada Vina disana.


"Ayo Laras" ajak Vina "Nabil kamu bareng Laras saja, mama dan Alan kedalam dulu"


"Jangan tante...." Laras melambaikan tangannya melarang membawa Alan masuk kedalam.


"Ada acara Alan didalam, dia tidak bisa tidak hadir disana" Vina buru-buru membawa Alan masuk duluan seperti takut direbut oleh Laras.


"Capek?" tanya Nabil.


"Ngapain nanya?"


"Marah lagi? gak capek marah terus? sekali-kali senyum dong biar hati ini adem" Nabil meraih tangan Laras dan menariknya kedalam rumah. Laras menepis tangan itu tapi tidak kunjung dilepaskan. Dalam satu kesempatan ia mengecup tangan itu singkat. Wajah Laras memerah seperti kepiting rebus. Ia menarik-narik tangannya agar dilepaskan.


"Acara apaan sih?" tanya Laras ketika ia masuk kerumah Nabil disana ada banyak orang. Didinding ruangan paling ujung terdapat balon dan rangkaian pita, dia atasnya bertuliskan 'selamat datang Alan'


"Ini ada apasih? kalian ingin mengambil anak aku?" Laras sangat ketakutan kalau mereka mengambil Alan darinya.


"Tidak mungkinlah kita merebut Alan dari kamu, Alan dibawa kesini karena ini rumahnya"


"Itu sama saja, kalian ingin menjauhkan dia dari aku"


Laras meradang marah. Ia menerobos masuk kedalam rumah untuk mengambil Alan kembali. Nabil mengejar Laras untuk mencegah.


"Laras!! dengarkan aku dulu!"


Laras tidak mau mendengar apapun. Nabil licik ingin merebut anaknya darinya. Ia mengambil Alan yang sedang sudah didandani kilat oleh pelayan Nabil dan sekarang sedang digendong oleh Hendra.

__ADS_1


"Ayo nak, kita pergi dari sini"


"Laras...!!


Laras menggendong Alan untuk pergi dari sana. Tidak peduli Vina berteriak memanggilnya dan Nabil yang terus mengejarnya. Ia berpapasan dengan Airin didepan. Wanita itu baru tiba dirumah. Airin menahan senyum melihat muka Laras yang sangat tersiksa.


"Laras, dengar dulu"


Nabil berhasil memegang bahu Laras menyuruh wanita itu untuk berhenti.


"Kamu salah paham, aku tidak akan mengambil Alan dari kamu, sumpah!"


"Aku tidak percaya sama kamu, kamu pembohong! lepaskan aku!"


"Aku akan lepaskan setelah kamu dengar aku!"


"Aku tidak ingin mendengar apapun" Laras bicara dengan geraham terkatup dan mata melotot. Alan baru saja menjalani ketakutan yang sangat panjang. Takutnya anaknya sekarang kembali di hinggapi ketakutan lagi.


"Laras!!"


Nabil sadar, cara ini salah. Mamanya yang menyiapkan semua itu pasti mamanya tidak bermaksud demikian. Mamanya mengadakan acara itu untuk menyambut kedatangan Alan untuk pertama kalinya. Tapi Laras salah paham. Kesalahahaman Laras juga wajar, ibu mana yang mau anaknya diambil.


Laras berjalan menyusuri trotoar dengan hening. Tidak ada lagi suara pria itu terdengar disekitarnya. Mungkin pria itu sudah capek berurusan dengannya. Yah, hanya segitu doang. Akhirnya menyerah juga pada seorang Laras yang keras kepala.


"Om mau kemana?" tanya Alan.


Laras melihat kebelakang, pria yang disangkanya lelah tersenyum padanya. Tingkah pria itu membuat Laras jengkel. Untuk apa dia mengikutinya dan Alan.


"Gak ada apa-apa, aku hanya ngikut kemana kamu pergi"


Pria ini sangat menguji kesabaran, untuk apa Laras mengajak orang yang selalu membuat masalah dalam hidupnya.


"Kamu capek? sini aku gendong Alan"


"Kamu adalah orang yang paling membuat hidup saya ribet"


Lagi Nabil tersenyum. Kalau begini Laras akan capek sendiri.


"Mama yang mengadakan acara itu untuk menyambut kedatangan Alan untuk pertama kalinya, aku rasa itu wajar, orang tua mana yang tidak senang menyambut cucunya"


"Biasanya mama kamu tidak suka anak aku'


"Bukan tidak suka Laras, mama pernah bilang sama aku kalau Alan itu mirip aku"


"Iyalah mirip, sama-sama berjenis laki-laki"


"Kamu sekarang suka marah ya Ras, padahal dulu manis bangat memanggil aku dengan sebutan kakak"


"Ngapain baik pada orang yang jahat"

__ADS_1


"Iya aku tau aku salah kan sudah minta maaf"


"Aku maafin, puas?"


"Gak ikhlas kedengarannya"


Laras berhenti melangkah dan memperlihatkan giginya "ini aku senyum" ujarnya kesal.


"Sudah puaskan? pulang sana! urus wanita kamu jangan campuri kehidupan aku!"


"Wanita yang mana?"


"Pura-pura bodoh"


"Apa Airin?"


"Itu tau"


"Waktu itu aku tidak sengaja menabrak Kirana, dia terluka dan aku membawanya kerumah lagi pula Airin tidak punya tempat tinggal"


"Mengapa tidak menikah saja? apa menikah semacam phobia? dan lebih senang menjalani kehidupan tanpa ikatan"


"Aku dan Airin mempunyai masa lalu yang sangat pahit, tidak mungkin aku menikah dengannya"


Laras tertawa miris, apa karena itu Nabil kembali berputar haluan. Apa stok perempuan didunia ini sudah habis untuk seorang Nabil. Pria itu tidak tau kalau dirinya akan makin terluka karena didekati.


"Apa kamu merasa terganggu dengan adanya Airin? baiklah aku akan suruh dia pergi"


"Jangan! tidak usah! lagi pula apa urusannya dengan aku"


"Prioritas aku untuk membuat kamu nyaman"


Laras melihat ke Nabil. pria itu tersenyum "jangan bilang kamu nyaman kalau gak ada aku"


Nabil seperti peramal tau saja apa yang mau dikatakan Laras.


Sebuah mobil berhenti dekat mereka. Vina turun dari sana bersama Hendra.


"Apa Laras terganggu oleh sikap mama?" tanya Vina. Perempuan itu menangis dan sangat terluka. Ia sadar, kadang apa yang dilakukan oleh para orang tua belum tentu di sukai oleh anak- mantan menantunya walaupun tujuannya baik.


"Bukan tante" meskipun hati Laras keras tapi melihat air mata seseorang ia tidak tega.


"Mama tidak bermaksud tidak baik Ras, mama hanya ingin menyambut kedatangan Alan, itu saja"


"Aku mengerti kok tante, mungkin aku terlalu berlebihan saja"


"Kamu tidak berlebihan Laras, itu sewajarnya, aku melihat bagaimana kamu demi Alan, kamu sanggup jadi apa saja, jadi mana berani kami menjauhkan Alan dari kamu" Hendra juga angkat bicara.


"Kamu pulang dulu ke rumah ya, selesaikan masalah kamu dengan Nabil" bujuk Vina.

__ADS_1


Bagi Laras masalahnya dengan Nabil itu tidak ada karena semuanya adalah masa lalu tidak ada yang perlu dibahas lagi. Tapi karena Vina menangis dihadapannya maka ia melunak dan ikut Vina untuk pulang kembali kerumah Nabil.


Pria yang ada disebelah Laras itu sangat senang. Mungkin setelah ini ia akan memeluk mamanya untuk berterima kasih.


__ADS_2